Stasiun Semut. Menyebut namanya saja, dulu membuat saya malu. Tanpa saya tahu, dalam sejarahnya, tempat yang kini dikenal sebagai Stasiun Surabaya Kota ini menjadi saksi penting perkembangan perkeretaapian di Jawa Timur, sekaligus penyelamat keluarga saya saat mudik.
***
Sebelum masa liburan sekolah tiba, ibu dan bapak saya pasti sudah sibuk bolak-balik ke Stasiun Semut untuk membeli tiket untuk mudik. Maklum, pemesanan tiket kereta api dulu tidak mudah seperti sekarang yang tiketnya bisa dibeli lewat aplikasi Access by KAI.
Bahkan untuk mendapatkan kursi saja sulitnya bukan main. Saya sempat bertanya ke ibu, kenapa kami harus membeli tiket di Stasiun Semut padahal teman-teman saya banyak yang membeli tiket di Stasiun Gubeng, tapi jawaban ibu saya cukup singkat: karena dekat rumah.
Jujur saja, saya yang masih duduk di bangku sekolah dasar rasanya masih tidak puas dengan jawaban tersebut, sebab yang saya tahu sebagian orang justru mengenal Stasiun Gubeng sebagai moda transportasi favorit di Surabaya.
Setelah pulang mudik dan masuk sekolah seperti biasa, teman-teman saya sering menceritakan perjalanannya dari Stasiun Gubeng, sementara saya merasa malu karena harus menyebut Stasiun Semut, yang kini lebih dikenal dengan Stasiun Surabaya Kota.
Sudah namanya aneh, tidak terkenal, dan tampak seperti bangunan horor dari depan. Namun setelah saya dewasa, saya jadi memahami kenapa orang tua saya dulu lebih memilih Stasiun Semut dibanding Stasiun Gubeng.
Strategi keluarga saat mudik lebaran
Berdasarkan ingatan saya semasa kecil, keluarga kami selalu membeli tiket dengan keberangkatan paling awal. Setidaknya, pukul 04.00 WIB, ibu sudah membangunkan saya untuk siap-siap menuju Stasiun Semut.
Setelah tiba dan melewati pintu masuk, kami akan menunggu di bangku panjang berbahan kayu sambil menikmati live musik. Alih-alih melihat penampilan musik tersebut, saya malah terpaku dengan suasana Stasiun Semut yang remang-remang, tapi dipenuhi oleh berbagai aktivitas manusia.
Saya pun sering diajak bapak untuk melihat kolam ikan yang tak jauh dari ujung jalur rel kereta api. Berbeda dengan pemandangan stasiun lain yang memiliki jalur terusan, di Stasiun Semut saya bisa melihat pantat-pantat gerbong kereta api yang masih dipanasi.
Setelah dewasa saya baru mengetahui sejarah ini, bahwa Stasiun Semut merupakan stasiun kereta api tertua di Jawa Timur yang memiliki ujung rel buntu. Ia juga menjadi titik awal kereta api sebelum berangkat ke Stasiun Surabaya Gubeng, Surabaya Pasar Turi, maupun KA lokal.
Alasan ini membuat saya paham, mengapa ibu dan bapak lebih suka war tiket di Stasiun Semut. Karena menjadi titik awal keberangkatan, gerbong kereta masih kosong sehingga bapak dan ibu saya selalu bisa memastikan kami mendapat tempat duduk.
Peran vital Stasiun Semut bagi Kota Pahlawan
Di balik perannya sebagai penyelamat mudik keluarga kami, Stasiun Semut menyimpan sejarah ekonomi yang besar. Pada masa lampau, stasiun ini berfungsi sebagai sarana transportasi untuk mengirim gula yang diproduksi di pabrik Pasuruan.
Dengan kata lain, Stasiun Semut menjadi titik pemberhentian dalam pengantar barang paling mewah pada zaman dulu, karena gula dianggap sebagai komoditas eksklusif dengan julukan emas putih di masa itu.
Manajer Humas PT KAI Daop 8 Surabaya Luqman Arif menjelaskan, stasiun yang diresmikan pada tahun 1878 ini pertama kali membangun jalur Surabaya-Pasuruan-Malang atau dikenal dengan nama lintas timur (Oosterlijnen).
Stasiun yang memiliki arsitektur Neo-Klasik ala Yunani Kuno ini, kata Luqman, sempat direnovasi tahun 1881. Empat tahun setelahnya, Staatssporowegen (SS)—perusahaan kereta api negara milik pemerintah kolonial Belanda, membangun jalur baru dari Stasiun Semut menuju Kalimas, tepatnya di area Pelabuhan Surabaya.
“Keberadaan jalur tersebut menopang eksistensi Surabaya sebagai penghasil ekspor (hasil bumi dan perkebunan, khususnya gula) serta daerah industri maupun perdagangan,” kata Luqman dikutip dari Detik, Jumat (23/10/2026).
Transformasi Stasiun Semut sebagai wajah baru Kota Surabaya
Seiring berjalannya waktu, Stasiun Semut beralih fungsi melayani penumpang. Pemerhati sejarah Kota Surabaya, Chrisyandi Tri Kartika mengatakan perubahan itu terjadi karena minat masyarakat makin tinggi untuk melakukan perjalanan menggunakan kereta api.
“Meski saat itu sudah ada pesawat, kereta api adalah alternatif transportasi massal yang relatif cepat dan murah,” jelas Chrisyandi dikutip dari laman resmi Universitas Ciputra, Jumat (23/10/2026).
Selain menjadi tempat naik dan turun penumpang, Stasiun Semut kini juga berfungsi untuk mengangkut barang, lokasi langsiran sekaligus merangkai gerbong kereta. Namanya juga lebih dikenal sebagai Stasiun Surabaya Kota.
Menurut ibu saya, suasana Stasiun Surabaya Kota sekarang lebih tertata.
“Kalau dulu, antrean tiketnya luar biasa panjang sampai ke tempat parkir tapi sekarang ruang tunggunya lebih nyaman,” kata ibu saya yang masih sering naik-turun di Stasiun Surabaya Kota sambil menikmati arsitektur bangunan lamanya hingga ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya secara nasional pada tahun 2007.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Sisi Gelap Stasiun Gubeng yang Merupakan Jantungnya Perkeretaapian di Jawa Timur atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan