Keunikan Kedai Titilaras di Solo berhasil memikat pelancong dari berbagai daerah untuk menikmati kopi maupun teh berkualitas, sekaligus menjadi tempat hangat yang mampu menjaga kewarasan dari rutinitas melelahkan.
***
Tak semua gen Z relate dengan ungkapan “akan kuhadapi semuanya asal ada kopi”. Saya sendiri termasuk orang yang pantang meminum kopi karena punya riwayat asam lambung. Untungnya, saya masih bisa menikmati minuman lain seperti teh, karena kandungan kafeinnya yang lebih rendah.
Sayangnya, bagi penikmat teh seperti saya, keberadaan kedai khusus teh di berbagai wilayah terbilang sedikit. Beruntung, saya masih menemukan kedai kopi sekaligus teh yang memiliki model pelayanan unik di Solo.
Namanya, Kedai Titilaras, tepatnya di Baluwarti. Kedai yang dulunya terletak di Pasar Gede Solo itu memiliki menu dan jam buka yang tidak pasti. Biasanya, si tea sommelier sekaligus pemilik kedai tersebut akan menjelaskan jenis teh dan kopi apa saja yang tersedia termasuk kandungannya.
Namun, bukannya terlihat kikuk seperti saya saat memesan teh untuk pertama kali, salah seorang pelanggan di samping saya justru menyebutkan keinginannya tanpa ragu. Perempuan yang kemudian baru saya tahu namanya Lana itu berujar, ia memang pengoleksi teh dan tak sekali ini berkunjung ke Kedai Titilaras.
Keunikan Kedai Titilaras yang memikat pengunjung dari luar Solo

Salah satu alasan Lana jauh-jauh pergi ke Solo khusus untuk mengunjungi Kedai Titilaras ialah rindu dengan geliat coffee shop di tempat lahirnya, Bandung. Sebagai pekerja yang saat ini tinggal di Jogja, Lana berujar, kedai kopi di Bandung punya menu kopi dan teh yang lebih variatif dan seimbang.
“Di kota lain, aku sering menjumpai kafe yang menjual banyak variasi kopi tapi menu untuk tehnya hanya 3 misalnya. Sedangkan di Bandung, jumlah bahkan rasanya bisa 50 persen banding 50 persen. Jadi kualitas tehnya pun nggak kalah dengan kopi yang dijual,” ujar Lana sembari menunggu pesanannya pada Sabtu (31/10/2026).
Setelah mencari berbagai informasi lewat media sosial, akhirnya Lana menemukan kedai idamannya yang bahkan memiliki konsep slow bar. Oleh karena itu, Lana tak hanya bisa menikmati teh maupun kopi di Kedai Titilaras, tapi juga berinteraksi langsung dengan Arkha Tri Maryanto selaku pemilik kedai dengan berbagai macam topik, mulai dari minatnya terhadap teh hingga cerita receh.
“Konsepnya itu memang seperti main ke rumah teman. Aku membangun bagaimana ruang interaksi itu terjadi,” ujar Arkha yang sama sekali tak merasa terganggu saat meracik pesanan kami sambil mengobrol dengan pelanggan.
“Karena ternyata semakin lama yang aku teliti, manusia sebagai makhluk hidup sosial itu semakin kehilangan skill pribadi mereka, skill paling basic yaitu sebuah interaksi,” lanjutnya.
Cara menjaga kewarasan dari rutinitas harian

Interaksi itu pula yang menyebabkan Lana betah dan rela datang ke Solo saat weekend. Menurutnya, kegiatan itu dapat menjadi cara terbaik untuk mengisi kembali energinya dari rutinitas hariannya sebagai pekerja di Jogja, sekaligus menambah ilmunya tentang racikan teh.
Saking cintanya dengan teh, Lana bahkan selalu menyimpan setidaknya 5 bungkus plastik teh rosella sampai chamomile untuk diracik sendiri di kosan. Pemilihan teh yang akan dia minum pun menyesuaikan dengan kata hatinya.
“Ini sugesti aku aja sih, tapi aku merasa masing-masing teh itu menghasilkan mood yang beda,” ujarnya.
Jika ia ingin pergi jalan-jalan sendiri misalnya, ia terbiasa memesan teh dengan rasa yang kuat, seperti teh bercampur dengan rempah-rempah. Namun saat sedang di kos, Lana justru menyukai teh dengan rasa yang lebih menenangkan.
Sebagai informasi, teh rosella maupun chamomile sam-sama tergolong sebaga tisane alias teh herbal yang bebas kafein. Jika teh rosella menghasilkan seduhan berwarna merah terang dengan rasa yang asam dan menyegarkan, teh chamomile menghasilkan seduhan berwarna kuning keemasan dengan rasa dan aroma yang lembut, floral, serta sedikit manis.
“Kalau teh chamomile biasanya bantu aku buat tidur lebih nyenyak,” kata Lana.
Jika teh chamomile ala anak kos saja bisa membuatnya lebih nyaman, Lana sepakat jika obrolan santai layaknya di rumah teman seperti di Kedai Titilaras mampu memberikannya tempat singgah yang hangat untuk menjaga kewarasan.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Bersemedi di Keraton Solo: Jauh dari Klenik meski Bau Dupa hingga Bermandikan Air Bunga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan