Kisah Watchmaker, Sang Penjaga Waktu di Kauman Solo yang Menolak Tunduk pada Era Digital

Reparasi Jam di Kampung Kauman Solo. MOJOK.CO

Di antara deretan rumah di Kampung Batik Kauman Solo, sebuah toko reparasi jam yang sudah berdiri sejak tahun 80-an masih eksis dikunjungi pelanggan. Toko ini bernama “Amin Reparasi Jam Segala Merk”.

***

ADVERTISEMENT

Dua orang ibu keluar dari rumah bergaya campuran arsitektur Jawa dan kolonial di Kampung Batik Kauman, Solo. Bukan untuk belajar maupun belanja, tapi memperbaiki jam tangannya yang sudah rusak.

Ya, di antara toko batik, kafe estetik, dan studio klasik, saya menemukan tempat servis jam legendaris berkat ibu-ibu tadi. Sebenarnya, tak cukup sulit menemukan toko ini karena ada papan nama bertuliskan “Amin Reparasi Jam Segala Merk” yang terpampang jelas saat melewati Jalan Wijaya Kusuma.

Meski papan namanya terpampang jelas, fisik toko ini tampak terhimpit di antara rumah-rumah warga, sehingga saya harus mengintip dari balik pintunya yang setengah terbuka. Guna menonjolkan toko kecilnya, Amin menambahkan beberapa jam dinding klasik di pintu berbahan kayu tersebut.

Saat saya menyapanya, ia tampak sibuk mengganti komponen jam tangan milik pelanggan. Di usianya yang sudah lansia, Amin masih bisa fokus memperbaiki jam.

Jasa reparasi jam yang bernilai cuan

Toko "Amin Reparasi Jam Segala Merk" di Kauman Batik Solo. MOJOK.CO
Toko “Amin Reparasi Jam Segala Merk” di Jalan Wijaya Kusuma. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Amin tak ingat pasti berapa usianya sekarang, tapi setidaknya ia sudah hidup selama 75 tahun lebih. Selama setengah abad hidupnya, Amin mengaku tak pernah berpindah-pindah profesi sebagai tukang servis jam.

Menurut Amin, jasa reparasi jam pada zaman dulu sangatlah ramai terutama sebelum era ponsel pintar dan jam digital, sebab orang-orang masih menggunakan jam tangan mekanik atau analog serta jam dinding sebagai alat penunjuk utama.

Terlebih, jam tangan saat itu juga dianggap sebagai barang mewah, investasi, atau hadiah berharga. Sehingga, alih-alih membeli jam baru atau membuangnya saat rusak, orang-orang lebih memilih memperbaikinya.

“Ya kalau dulu itu ramai, tapi sekarang berkurang soalnya sudah ada banyak jam yang bagus-bagus (teknologi tinggi),” kata Amin di reparasi jam miliknya, Kauman Batik Solo pada Jumat (30/10/2026).

ADVERTISEMENT

Tak lekang oleh waktu

Kompenen jam. MOJOK.CO
Komponen yang digunakan untuk reparasi jam. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Meski begitu, Amin mengaku usahanya tak pernah gulung tikar. Jasa reparasi jam, kata dia, tak akan lekang seiring dengan perkembangan zaman. Buktinya sampai dengan hari ini, ia masih mendapat pelanggan.

“Saya masih sering betulin jam merek Rolex sampai Patek Philippe,” kata Amin menyebutkan dua merek jam tangan mewah asal Swiss.

Rolex dan Patek Phillippe sendiri adalah dua merek jam tangan legendaris yang terkenal di kalangan menengah ke atas hingga orang kaya baru, sebab kualitas materialnya yang premium.

Amin bilang banyak komponen mesinnya berukuran sangat kecil dan dirakit secara manual oleh pengrajin ahli. Karena kerumitan ini dan tak bisa sembarang orang menanganinya, jasa reparasi ahli seperti Amin di era sekarang masih sangat dibutuhkan.

“Harga (jasanya) ya macam-macam, kalau jam biasa sekitar Rp75 ribu, ada yang jam mewah saya patok harga sampai Rp1 juta. Tergantung kerusakannya,” kata Amin. 

Hasil dari dedikasi buka jasa reparasi jam

Reparasi Jam di Kampung Kauman Solo. MOJOK.CO
Amin sosok legendaris yang memperbaiki jam di Kampung Batik Kauman Solo. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Berkat pengalamannya mengotak-atik jam selama hampir 50 tahun, jasa Amin begitu dipercaya oleh orang-orang sekitar. Tak jarang, banyak juga pelanggan dari luar Solo yang sengaja mampir ke tokonya untuk menyervis jam.

Amin juga memiliki beberapa pelanggan tetap. Toh, sejak tahun 1980-an, ia tidak pernah pindah-pindah rumah lagi dan menjadikan tempat itu sebagai toko reparasi jam di Kampung Batik Kauman.

Toko Amin pun dibuka setiap hari, mulai pukul 9.00 WIB hingga 21.00 WIB.

“Coba Mbak lihat beberapa jam kuno ini,” kata Amin sembari menunjuk tangannya ke arah dinding, “itu beberapa punya pelanggan dan sudah lama di sana karena saya masih kesulitan cari komponennya,” lanjutnya.

Lewat keahliannya tersebut, Amin dapat menghidupi 4 orang anaknya dan tinggal bersama 5 orang cucunya. Kini, ia turut dibantu anaknya untuk memperbaiki jam di rumah. 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Juru Selamat “Walkman” di Bantul yang Menolak Punah Musik Analog atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 5 November 2026 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.