Siapa sangka orang yang awalnya kena PHK oleh perusahaan, berjualan es teh jumbo, malah nekat menghabiskan tabungan untuk membuka bisnis rumahan es batu kristal. Dari bisnisnya tersebut, ia berhasil meraup pendapatan bersih Rp10 juta per bulan, jauh lebih banyak dari gajinya ketika menjadi operator mesin.
***
Pandemi Covid-19 pada 2020 membuat Hendrawan (45) kehilangan pekerjaan sebagai operator mesin di sebuah perusahaan pembuat traktor di Yogyakarta. Setelah perusahaan merumahkannya, ia harus memutar otak agar dapur keluarganya tetap mengepul. Ia kemudian menghabiskan tabungan Rp60 juta untuk membuka bisnis rumahan yakni produksi es batu kristal. Kini, usaha yang ia rintis selama lima tahun itu menghasilkan untung bersih Rp10 juta per bulan.
Dari kena PHK, lalu buka usaha es teh jumbo
Hendrawan awalnya tidak pernah membayangkan bakal menjalankan bisnis es batu kristal. Setelah kehilangan pekerjaan, ia mencoba berjualan es teh jumbo melalui sebuah booth kecil. Ia berharap usaha sederhana itu bisa menjadi sumber penghasilan baru bagi keluarganya.
“Awalnya karena pandemi 2020 itu saya dirumahkan oleh perusahaan. Saat itu pekerjaan saya sebagai operator mesin di sebuah perusahaan pembuat traktor di daerah Jogja. Setelah dirumahkan itulah saya memutar otak untuk tetap membuat dapur ngebul. Awalnya tidak kepikiran mau buka bisnis es batu kristal. Malah awalnya saya buka booth kecil jualan es teh jumbo,” jelas Hendrawan kepada saya, Jumat (16/10/2026).
Namun, selama beberapa bulan berjualan, ia justru menghadapi masalah yang terus berulang: sulit mendapatkan pemasok es batu. Pengalaman itu membuatnya melihat peluang bisnis rumahan yang sebelumnya tidak pernah ia pertimbangkan.
Menguras tabungan Rp60 juta untuk bisnis es batu
Hendrawan melihat banyak pedagang minuman kecil membutuhkan es batu kristal, tetapi tidak semuanya mudah mendapatkan pasokan. Menurutnya, pemasok besar kerap memprioritaskan kafe dan restoran yang mampu mengambil barang dalam jumlah lebih besar.
“Menjamurnya usaha UMKM jualan es, ditambah iklim panas di daerah saya yang mendukung konsumsi es dalam skala lumayan besar. Ironisnya, pedagang es kecil-kecilan di pinggir jalan sulit mendapatkan akses es batu kristal dari supplier besar yang sering mendahulukan klien kafe atau restoran yang lebih bonafide,” ujarnya.
Hendrawan kemudian memutuskan memproduksi es batu kristal sendiri. Ia mengeluarkan sekitar Rp60 juta dari tabungan untuk merintis bisnis rumahan tersebut “modalnya untuk beli mesin pembuat es, tangki air, mesin penyaring air reverse osmosis (RO), instalasi listrik, dan freezer bekas, mas,” jelasnya.
Keputusan itu membuatnya mempertaruhkan tabungan yang ia kumpulkan sebelum terkena PHK. Namun, ia memilih menjalankan bisnis yang menurutnya memiliki pasar jelas: pedagang minuman yang membutuhkan pasokan es setiap hari.
Setahun pertama pontang-panting mengejar keuntungan
Bisnis es batu kristal Hendrawan tidak langsung menghasilkan keuntungan besar. Pada tahun pertama, ia hanya memperoleh pendapatan sekitar Rp5 juta hingga Rp6 juta per bulan. Sementara itu, biaya listrik, perawatan mesin, dan kebutuhan operasional lainnya mencapai sekitar Rp3,5 juta.
“Satu tahun pertama jelas pontang-panting, Mas. Pendapatannya hanya Rp5 sampai 6 juta, sedangkan saat itu maintenance mesin, bayar listrik, hingga memastikan es batu kristal laku saja sudah sekitar Rp3,5 juta. Secara logika bisnis jelas margin keuntungan sangatlah tipis, namun saya tidak patah semangat karena saya merasa bahwa bisnis ini tidak akan mati. Toh, air kan nggak bisa basi, ya, Mas,” katanya sambil tertawa.
Pada masa awal, Hendrawan menjalankan hampir seluruh pekerjaan bersama istri dan adiknya. Mereka memproduksi, mengemas, hingga mengantarkan es batu menggunakan sepeda motor yang ia lengkapi dengan krombong besi. Pasarnya pun tidak terbentuk dalam semalam. Ia harus menjaga ketersediaan barang dan mempertahankan pelanggan agar usahanya terus berjalan.
Dari krombong motor hingga untung bersih Rp10 juta dari bisnis rumahan es batu kristal
Setelah empat tahun menjalankan bisnis, Hendrawan mulai menambah tenaga kerja. Ia merekrut seorang karyawan untuk membantu pengantaran dan membeli mobil boks agar distribusi es batu lebih terjaga.
Kini, Hendrawan masih menangani produksi bersama istrinya, sedangkan adik dan seorang karyawan membantu pengiriman. Perubahan itu membuatnya bisa membagi pekerjaan sekaligus memikirkan pengembangan usaha.
Dari bisnis es batu kristal tersebut, Hendrawan mengaku memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp10 juta per bulan. Ia juga berencana menambah mesin produksi agar kapasitas usahanya meningkat.
“Rencananya ini juga mau tambah mesin lagi, Mas, biar makin besar dan menambah lapangan kerja buat tetangga yang masih menganggur,” jelasnya.
Peluang bisnis ini berkaitan dengan besarnya ekosistem usaha makanan dan minuman di Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat terdapat 5,28 juta usaha penyediaan makanan dan minuman pada 2024. Angka tersebut menunjukkan luasnya sektor usaha yang membutuhkan bahan baku dan dukungan operasional.
Setiap hari, Hendrawan memproduksi sekitar 250 kilogram es batu kristal. Ia memasok dagangannya kepada pedagang minuman di sepanjang Jalan Kabupaten, mulai dari Kronggahan hingga Jalan Godean. Sejumlah pelanggan lain tersebar di Mlati dan Seyegan, Sleman. Jangkauan distribusi tersebut menunjukkan bahwa bisnis rumahan Hendrawan tidak hanya mengandalkan pembeli di sekitar tempat produksinya, tetapi juga melayani kebutuhan pedagang di beberapa wilayah.
Dengan kapasitas produksi sekitar 250 kilogram sehari, Hendrawan bisa menghasilkan hingga 7,5 ton es batu dalam 30 hari apabila ia berproduksi setiap hari. Angka tersebut menggambarkan skala operasional usahanya, meski jumlah produksi belum tentu sama dengan jumlah es batu yang terjual.
Memilih pedagang kecil daripada kafe besar
Meski sudah memperoleh keuntungan yang cukup menjanjikan, Hendrawan belum tertarik menjadikan kafe dan restoran besar sebagai pelanggan utama. Ia memilih mempertahankan pedagang minuman kecil di pinggir jalan yang selama ini menjadi pasar bisnisnya.
“Saya sengaja, Mas, belum menerima pesanan dari kafe atau resto besar karena memang saya fokus di UMKM pinggir jalan. Saya pernah merasakan susahnya mencari pasokan es batu kristal. Namun, belum tahu kalau nanti sudah semakin besar, maka akan saya perhitungkan untuk melebarkan sayap bisnis saya. Tapi sementara saya fokus di UMKM kecil-kecil dulu,” ujarnya.
Bagi Hendrawan, pelanggan kecil tetap memiliki arti penting selama mereka membeli secara konsisten. Ia merasa lebih nyaman menjalankan usaha bersama pedagang yang memahami kebutuhan pasokan sehari-hari.
“Kalau kata orang, saya ini aneh karena malah fokus di UMKM kecil. Tapi saya ya luweh saja. Saya pernah ada di posisi mereka dan saya malah senang berbisnis dengan mereka, tidak banyak nawar tapi konsisten ambil es batu di tempat saya,” tutupnya.
Lima tahun setelah kehilangan pekerjaannya, Hendrawan memang belum berhenti mengembangkan bisnisnya. Ia masih ingin menambah mesin dan membuka kesempatan kerja bagi warga sekitar. Baginya, pengalaman kesulitan mencari pemasok es batu saat berjualan es teh jumbo telah memberinya jalan untuk membangun usaha sendiri.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan