Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Sikap-sikap Sederhana ke Pelayan Rumah Makan atau Restoran yang Kita Abaikan karena Ego, Padahal Bermakna Memanusiakan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
20 Agustus 2026
A A
Sikap-sikap sederhana ke pelayan rumah makan atau restoran yang seharusnya jadi kewajaran MOJOK.CO

Ilustrasi - Sikap-sikap sederhana ke pelayan rumah makan atau restoran yang seharusnya jadi kewajaran. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sering kali karena tingginya ego sebagai konsumen maupun ego personal, pengunjung rumah makan/restoran kerap mengabaikan sikap-sikap sederhana yang seharusnya menjadi kewajaran. Padahal dari hal-hal sederhana tersebut lahirlah sebuah relasi indah: saling memanusiakan. 

Tak jadikan salah pesanan jadi gegeran

Saat makan di rumah makan/restoran maupun melihat konten di media sosial, saya kerap mendapati bagaimana pembeli bisa berubah tantrum karena pelayan salah menyuguhkan pesanan. Dan sering kali hanya kesalahan-kesalahan minor. 

Iklan

Misalnya, pesan es tape tapi yang datang es teh. Intinya pesannya apa, yang datang apa. 

Bagian ini sangat bisa diperdebatkan. Tapi saya pribadi sejak kecil dididik ibu agar tidak membesar-besarkan kesalahan pesanan yang sifatnya se-minor itu. Bagi kami pesan es tape tapi yang datang es jeruk sebenarnya masih bisa diwajari. 

Contoh paling dekat adalah pada Selasa (18/8/2026) sore lalu saat saya mengajak ibu, adik, dan istri saya yang tengah berkumpul di Jogja untuk makan di sebuah warung sate legend di Ngaglik, Sleman. 

Di meja pemesanan jelas-jelas saya memesan tiga es timun serut dan satu es jeruk. Tapi yang datang sebaliknya. Tapi belum juga saya memprotes pesanan yang salah itu, ibu dan istri saya menyergah, “Udah, nggak apa-apa. Pesanan lagi banyak, maklum kalau ketuker-tuker. Toh masih bisa diminum.” 

Loh bukankah hak konsumen protes jika ada pesanan yang keliru? Iya kalau kelirunya minor, kalau fatal? 

Suatu kali saya pernah iseng menanyakan hal tersebut pada ibu, saat di sebuah rumah makan di Rembang, Jawa Tengah, kami melihat ada ibu-ibu marah-marah karena pesanannya sudahlah datangnya lama, eh salah pula. Kata ibu, sah-sah saja mengajukan ganti atas kekeliuran, tapi alangkah lebih baik jika tidak menjadikannya gegeran. 

“Karena kita tidak tahu. Gara-gara bikin konsumen marah, bisa jadi dia (pelayan) bakal potong gaji atau malah dipecat. Kasihan. Kalau caranya baik-baik, pastinya penyelesaiannya juga baik-baik,” begitu keyakinan ibu yang entah kenapa saya pegang betul sampai sekarang. 

Menumpuk piring setelah makan, memanusiakan pelayan rumah makan/restoran

Tidak jauh berbeda, Zamratus (24), seorang pekerja swasta, juga mengaku mendapat pelajaran berharga dari orang tuanya perihal mewajarkan hal-hal sederhana tapi bernilai memanusiakan manusia dari orang tuanya. Yakni dari sesederhana membiasakan menumpuk piring bekas makan setelah menandaskan isinya. 

Saat masih kuliah di Jogja, Zamratus yang memang kuliah di sebuah PTN terkenal berteman dengan sejumlah cewek dari keluarga kaya dan manja. Sering kali tiap habis makan di rumah makan/restoran, teman-teman cewek Zamratus membiarkan piring-piringnya berserakan begitu saja. 

Zamratus memang tidak mengimbau mereka agar menumpuk piring-piring tersebut. Ia dengan kesadaran penuh dan tanpa berisik berinisiatif menumpuk piring-piring kotor menjadi satu tumpukan. 

“Mereka heran, ngapain sih, itu kan tugas pelayan. Jadi cara mikirnya memang begitu. Nggak sepenuhnya salah. Tapi kalau kata bapak dan ibuku, itu untuk memudahkan si pelayan,” ujar Zamratus. 

“Ibuku lebih sentimentil, baginya pelayan tetap manusia. Ada capeknya juga. Jadi kalau kita terbiasa ringan tangan membantu orang lain, memanusiakan si pelayan, insyaallah kita juga akan dimanusiakan orang lain. Keluarga kami percaya hukum karma itu,” sambungnya. 

Tapi memang begitu yang dirasakan oleh Indra (24), seorang pelayan di sebuah rumah makan olahan daging sapi di Jogja. Sebagai pelayan, Indra kerap merasa miris karena seolah-olah ia adalah babu hina saat harus membereskan piring-piring kotor berserakan di meja, sementara si konsumen sibuk bercanda-canda dan bahkan menyuruh-nyuruh dengan lagak seperti juragan. 

Maka dari itu, ketika ada orang yang dengan ringan tangan menumpukkan piring-piring kotor menjadi satu tumpukan, Indra merasa benar-benar dimanusiakan. Ia pun bisa sangat terharu saat tubuhnya merasakan lelah luar bisa usai sepanjang shift mengantarkan pesanan, membereskan meja, hingga mendapat komplain jahat dari konsumen. 

Mengucapkan terima kasih ke pelayan, hal sederhana tapi ternyata memberi makna

Dari kacamata pelayan rumah makan/restoran seperti Indra, bahkan ada satu sikap konsumen yang sebenarnya sangat berharga tapi memberi makna besar bagi Indra: mengucapkan terimakasih. 

“Misalnya aku waktu lagi nganter pesanan, atau membereskan meja, terus ada orang yang bilang, ‘Makasih ya, Mas,’ wah itu rasanya hangat sekali di hati,” ucap Indra. 

Iklan

Semula Indra yang sudah kepayahan dengan ritme kerja cepat dan melelahkan di rumah makan, mendadak memiliki semangat lagi untuk memberi pelayanan terbaik. Lebih dari itu, ia merasa sangat dimanusiakan, bukan sebatas orang yang bisa disuruh-suruh dengan sembarangan. 

“Sikap sederhana itu juga membuatku masih percaya, masih ada orang baik kok, di antara konsumen-konsumen lain yang jutek, jahat, dan sering kali berlagak sok juragan, utamanya kalau si konsumen adalah orang kaya yang selalu merasa berhak menginjak orang karena mereka pegang uang,” pungkasnya. 

Dampak serius jika mengabaikan

Ya, sikap-sikap sederhana saja memang. Tapi menurut Zamratus dan Indra, sangat patut diwajarkan. Sebab ternyata bisa sangat berdampak bagi hidup seseorang. 

Bertemu dengan orang-orang yang mewajarkan sikap-sikap sederhana tadi membuat Indra menemukan semangat lagi. Sementara sebaliknya, ketika ia berhadapan dengan konsumen yang komplain dengan amat jahat, Indra bisa merasa jatuh dan tidak berharga. 

Masalahnya, jika situasi batin itu berlanjut, pikiran Indra bisa ngglambyar ke mana-mana: membuat ia semakin putus asa dengan hidup yang ia jalani karena terasa begitu berat. Ujung dari keputusasaan itu adalah bayangan mengakhiri hidup.

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Melarisi Pedagang Lansia Sepi Pembeli meski Tak Selera: Harga Recehan Tak bikin Saya Rugi tapi Bagi Mereka Sangat Berarti atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan



Terakhir diperbarui pada 20 Agustus 2026 oleh

Tags: etika di restoranetika di rumah makanetika ke pelayanmenumpuk piring setelah makan di restoranpelayan salah antar pesanan di restorenpelayan salah antar pesanan di rumah makanrumah makan di jogja
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Kencan Pertama dan Upaya Merawat Nostalgia di RM Moerni 78

Kenangan Kencan Pertama yang Tertinggal di Semangkok Es Krim RM Moerni 78

21 Agustus 2021
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Telat 3 Hari Perpanjang SIM, Pak Guru Ahmad Melawan Aturan yang Tak Kenal Ampun MOJOK.CO

Telat 3 Hari Perpanjang SIM, Pak Guru Ahmad Melawan Aturan yang Tak Kenal Ampun

14 Agustus 2026
Agustusan momen bikin mahasiswa KKN kelihatan jadi orang bingung, kalah pamor dengan anak muda Karang Taruna desa MOJOK.CO

Momen Agustusan bikin Mahasiswa KKN di Desa Jadi Orang Bingung, Lebih Sigap Karang Taruna

17 Agustus 2026
Ide bisnis sewa HP flagship, ide aneh raup omzet 20 juta per bulan MOJOK.CO

Ide bisnis sewa HP flagship ternyata begitu menguntungkan, modal 3 HP bisa raup omzet 20 juta per bulan

20 Agustus 2026
Lansia menjual aksesori kemerdekaan di Malioboro, Yogyakarta. MOJOK.CO

Kisah Istri Pensiunan BPN Turun ke Jalanan untuk Jual Aksesori Kemerdekaan di Masa Tua demi Hadiahkan Cucu

18 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.