Banyak pekerja tak memiliki tabungan di usia 30 bukan karena malas, tetapi gajinya kecil, biaya hidup makin besar, ditambah statusnya sebagai sandwich generation. Menjalani prinsip hidup YOLO, adalah cara sederhana buat bahagia.
***
Rivan (31) sering merasa muak, meski di sisi lain juga kasihan, setiap kali ikut nongkrong bersama teman-temannya. Obrolan di warung kopi itu nyaris selalu berputar di topik yang sama.
Teman-temannya, kata Rivan, kerap mengeluh, iri, dan merasa tertinggal melihat pencapaian kawan lain. Ada saja teman yang pusing memikirkan kenapa di usia 30 ini mereka belum punya mobil bagus, gaji dua digit, atau kondisi keuangan yang mapan dengan tabungan banyak.
Pernah di posisi yang sama, ingin punya tabungan besar di usia 30
Rivan sebenarnya tidak asal menghakimi keluhan teman-temannya. Ia mengaku pernah berada di fase yang persis sama.
Dulu, ia sering membandingkan pencapaiannya dengan orang-orang di sekitarnya. Ia bahkan sempat membuat target ekstrem di kepalanya.
“Aku pernah bikin semacam sumpah gitu, di usia 30 sudah harus punya 100 juta pertama dalam tabungan,” ujarnya, Rabu (7/10/2026).
Demi mengejar target itu, Rivan bekerja keras tanpa kenal waktu. Ia memforsir badannya supaya bisa menabung banyak. Ia menekan pengeluaran pribadinya habis-habisan.
“Banyak kemauan aku tahan, nggak beli ini itu. Biar ngirit, sangat ngirit,” imbuhnya.
Namun, hasilnya tetap saja nihil. Seberapa keras pun ia bekerja dan berhemat, uang tabungannya selalu ludes seketika saat ada kebutuhan mendesak dari keluarga. Dari rentetan pengalaman pahit itu, Rivan sadar kalau mematok target memakai standard orang lain cuma bikin badannya hancur dan pikirannya berantakan.
Realitas pahit sandwich generation
Bagi Rivan, tidak punya tabungan di usia 30 tahun–seperti yang ia “sumpah”kan– bukanlah sebuah aib, apalagi tanda kemalasan. Kondisinya memang tidak memungkinkan.
Sebagai generasi sandwich, Rivan merasa tidak pernah hidup hanya untuk dirinya sendiri. Sejak lulus SMA dan pertama kali bekerja, ia langsung memikul peran sebagai tulang punggung keluarga.
Ia harus menanggung biaya hidup harian ayah dan ibunya, sekaligus membiayai sekolah adiknya sampai mandiri nanti.
“Jadi nggak pernah benar-benar yang kalau gajian itu untuk kesenangan aku sendiri,” kata dia.
Menurut hitungan Rivan, gajinya terbilang kecil dan kenaikan tiap tahunnya sangat tipis. Di sisi lain, harga bahan pokok dan biaya hidup terus meroket.
Buat Rivan, bisa bertahan hidup dan memastikan piring keluarganya terisi sampai akhir bulan saja sudah jadi prestasi. Ia pun merasa wajar kalau sampai detik ini tidak ada sisa uang yang bisa ditabung.
Sayangnya, kata Rivan, banyak “pakar” keuangan di internet yang sering menyalahkan kelas pekerja seperti dirinya, menuduh mereka terlalu boros jajan kopi. Padahal, uang Rivan habis untuk memastikan keluarganya tak kelaparan dan adiknya tak putus sekolah.
“Kadang suka gemes sama yang bilang, ‘usia 30 harus sudah punya tabungan segini’, apalagi yang bilang kami nggak bisa nabung karena kebanyakan ngopi.”
Punya tabungan di usia 30 bukan standard mutlak, garis awal tiap orang berbeda
Dari situ, Rivan mendapat satu kesimpulan. Ia sadar betul kalau garis awal kehidupan setiap orang itu berbeda-beda.
Rivan sering mengingatkan teman-temannya di tongkrongan, orang-orang yang terlihat sukses di usia muda itu mungkin saja memang tidak berangkat dari nol. Mereka mungkin sudah punya privilese, entah itu mendapat modal dari orang tua, mewarisi relasi keluarga yang bagus, atau setidaknya tidak punya tanggungan utang keluarga.
“Tidak punya tanggungan itu priviliese lho. Setidaknya dia nggak perlu lagi mulai start dari nol,” kata dia. “Apalagi punya standard sukses harus punya tabungan ratusan juta di usia 30, itu nggak masuk akal.”
Sementara Rivan dan mungkin jutaan pekerja lainnya, harus memulai semuanya dari nol. Bahkan, banyak pekerja yang harus mulai dari minus karena harus mencicil utang masa lalu orang tuanya.
Haram mencampuri “dapur” orang lain
Keresahan soal standard sukses ini juga dirasakan oleh Aida (32). Sebagai perempuan yang belum menikah di usia kepala tiga, Aida mendapat porsi tuntutan sosial yang tak kalah berat.
Lingkungannya, terutama saat kumpul keluarga, terus-terusan mendikte hidupnya. Ia selalu ditanya kapan menikah, kapan bisa mengangkat derajat keluarga, punya tabungan berapa, sampai cecaran pertanyaan soal kapan hidupnya bisa mapan.
“Namanya tetangga, banyak bacot doang. Dipikir kita belum berhasil gini karena nggak pernah usaha kali ya,” kata Aida.
Namun, Aida memilih tutup telinga. Menurut Aida, kalau ia terus melihat standard orang lain, ia hanya akan merasa kerdil dan gagal. Ia sadar, menjadikan teman yang sudah menikah atau sudah kaya sebagai patokan hidup adalah hal yang sangat tidak masuk akal.
Aida percaya setiap orang punya “dapur” masing-masing. Proses hidup, rintangan, dan garis awal tiap orang jelas berbeda. Karena sadar nasibnya tidak bisa dibandingkan dengan orang lain, Aida memilih cuek dan pantang mencampuri urusan pencapaian orang lain.
“Prinsipnya sih nggak usah mencampuri dapur orang lain. Itu bikin hidup kita merasa tenang.”
YOLO sebagai cara bertahan hidup
Sikap masa bodoh itu akhirnya membuat Aida menerapkan prinsip YOLO dalam kesehariannya. Namun, YOLO versi Aida bukanlah gaya hidup foya-foya menghabiskan uang dan malas menabung demi kesenangan sesaat–seperti yang sering dilakukan orang kaya.
Bagi Aida, YOLO adalah prinsip hidup untuk hari ini. Sementara urusan besok, ya biarkan dijalani besok.
“Bukan yang yaudah hari ini party, biar besok Tuhan yang atur. Aku berprinsip YOLO, ya maksudnya apa yang ada hari ini dinikmati aja. Untuk mengejar besok, biarlah kita usahakan besok.”
Yang terpenting baginya adalah hari ini ia masih bisa makan cukup dan pikirannya tenang. Aida menegaskan, keputusan untuk memikirkan hari ini saja diambil bukan karena ia malas merencanakan masa depan. Kata dia, keputusan itu karena kondisi gajinya yang pas-pasan memang memaksa Aida untuk fokus bertahan hidup dari satu hari ke hari berikutnya.
“Mau YOLO apa nggak kan duit cuma segini-segini aja, gaji kecil sih. Jadi daripada nggak dinikmati, ya mending dinikmati aja dong.”
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Work Life Balance Cuma Milik Bos, Pekerja Gen Z Tetap Pilih Lembur buat Hidup Layak atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan