ADVERTISEMENT

Kapok Buka Usaha Kantin Kejujuran di Kos, Niat Membantu Mahasiswa Tanggal Tua Malah Dimanfaatkan

kantin kejujuran

Bagi sebagian mahasiswa, tanggal tua berarti mulai menghitung isi dompet sebelum memutuskan membeli makan. Bagi Fira (27), situasi semacam itu justru pernah menjadi peluang usaha untuk membuka usaha kantin kejujuran di kosnya. Namun ternyata malah boncos dan sia-sia.

***

Mahasiswi S2 Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tersebut pernah membuka kantin kejujuran di ruang tamu kosnya di kawasan Deresan, Sleman. Ia menjual jajanan pasar, makanan ringan, hingga mi instan. Penghuni kos tinggal mengambil makanan, melihat harga yang tertera, lalu memasukkan uang ke dalam toples yang sudah disediakan.

Konsepnya sederhana. Tidak ada penjaga. Tidak ada kasir. Hanya makanan, daftar harga, dan kepercayaan. Sayangnya, usaha itu hanya bertahan tiga bulan.

Pada bulan pertama, Fira masih sempat percaya bahwa kantin kejujuran tersebut bisa menjadi usaha yang berjalan baik. Memasuki bulan kedua, makanan mulai beberapa kali diambil tanpa pembayaran. 

Pada bulan ketiga, makanan habis tetapi uang yang terkumpul di toples semakin sedikit. Akhirnya, Fira menyerah.

Hampir tujuh tahun berjualan untuk menyambung hidup

Bagi Fira, berjualan bukan kegiatan yang baru ia lakukan setelah memasuki S2. Sejak masih menjadi mahasiswa S1 UNY, ia sudah terbiasa mencari tambahan uang dari berjualan.

Jajan pasar pernah ia bawa ke kelas untuk ditawarkan kepada teman-temannya. Ia juga pernah menitipkan dagangan ke kantin fakultas. Aktivitas tersebut terus ia lakukan selama hampir tujuh tahun tinggal dan berkuliah di Jogja.

Bagi Fira, berjualan bukan sekadar kegiatan sampingan. Ada kebutuhan hidup yang memang ia tutupi dari hasil dagang.

“Uang dari orang tua ya cukup untuk bayar UKT sama bayar kos. Kalau makan sama kebutuhan sehari-hari ya pakai uang hasil jualan,” ujar Fira ketika saya temui pada Minggu (20/09/2026).

Saya kemudian bertanya kepadanya mengapa sejak S1 ia begitu rajin mencari peluang berjualan.

Fira tertawa. Menurutnya, selama ada kesempatan untuk menjual sesuatu, ia akan mencoba. Dari jajanan pasar sampai makanan yang bisa dititipkan di kantin, hampir semuanya pernah ia jalani.

Karena itu, ketika mendapat kesempatan berjualan di kos, ia merasa tidak ada salahnya mencoba.

Ruang tamu kos disulap menjadi kantin kejujuran

Ide membuka kantin kejujuran muncul ketika saat itu ramai soal ide bisnis yang bisa dijalankan oleh mahasiswa di media sosial. Pun karena kos Fira cukup ramai, ada sekitar 20 kamar. Ibu kos juga memberikan izin jika ruang tamu digunakan untuk berjualan.

“Awalnya niatnya karena ini kosan cukup ramai, terus sama ibu kosnya juga boleh kalau mau buka jualan di ruang tamu. Ya udah saya beranikan diri buka kantin kejujuran,” kata Fira.

Konsepnya bahkan tidak membutuhkan modal besar untuk peralatan. Fira membeli jajanan pasar dari pasar pagi di Condongcatur, kemudian menatanya di ruang tamu kos.

Setiap makanan sudah diberi harga. Di sampingnya tersedia toples untuk memasukkan uang.

Saya membayangkan konsepnya cukup praktis untuk anak kos. Tidak perlu menunggu penjual, tidak perlu mengantre, bahkan tidak perlu keluar dari lingkungan kos.

Pada bulan pertama, perkiraan Fira ternyata tidak meleset.

“Jualannya cukup lengkap, ada arem-arem, risol, pokoknya jajanan pasar deh, sama mi instan biar anak kos tidak perlu keluar ke warung jauh. Alhamdulillahnya sih semua pada bayar, jadi tidak rugi,” ujarnya.

Bulan pertama membuat Fira percaya bahwa kantin kejujuran tersebut bisa menjadi usaha kecil yang lumayan menguntungkan.

Bulan kedua, makanan ludes tapi uang tidak kumpul banyak

Masalah baru muncul ketika memasuki bulan kedua.

Fira mulai menemukan makanan yang berkurang tetapi uang yang masuk ke toples tidak sesuai. Awalnya ia masih mencoba berpikir positif. Mungkin ada yang lupa membayar.

Namun, kejadian serupa terus berulang. Memasuki bulan ketiga, perbedaannya semakin terlihat. Makanan yang ia letakkan di ruang tamu cepat habis, tetapi uang di dalam toples justru hanya sedikit.

“Mulai dari situ saya merasa, selain pejabat negara yang gemar korupsi ternyata sebagian rakyatnya juga suka mengambil hak orang lain dan sulit jujur,” ujar Fira dengan nada dongkol.

Saya kemudian bertanya apakah ia pernah menegur langsung penghuni kos.

Fira mengatakan dirinya sebenarnya bisa mengetahui kejadian tersebut. Kos tersebut memiliki CCTV.

“Saya sudah cek CCTV. Sebenarnya bisa saja kalau tiba-tiba saya labrak gitu,” katanya.

Namun, ia memilih tidak melakukannya.

Menurut Fira, persoalannya bukan sekadar nilai makanan yang hilang. Ia juga tidak ingin membuat suasana kos menjadi tidak nyaman, apalagi ibu kos sudah beberapa kali mengingatkan penghuni melalui grup WhatsApp untuk membayar makanan yang mereka ambil.

“Padahal ibu kos juga sering nyuruh di grup WA kos buat bayar makanan yang diambil. Tapi ya sudah, memang bebal saja orang-orangnya,” ujarnya.

Niat membantu anak kos malah berujung sia-sia dan boncos

Ada alasan lain mengapa Fira sejak awal tertarik membuka kantin kejujuran.

Ia tahu kehidupan mahasiswa tidak selalu mudah. Ketika tanggal tua datang, pilihan makanan bisa semakin terbatas. Menurutnya, menyediakan makanan di kos dapat membantu penghuni yang sedang tidak ingin keluar atau sedang menghemat pengeluaran.

Karena itu, ia tidak pernah membayangkan kantin tersebut akan berakhir karena persoalan pembayaran.

“Niatan hati membantu mereka yang di tanggal tua biar bisa tetap makan malah dimanfaatkan. Dikiranya gratis kali ya,” kata Fira sewot.

Di titik itu, konsep kantin kejujuran yang awalnya ia anggap praktis justru menjadi sumber kerugian.

Saya kemudian menyinggung soal status kos yang mayoritas dihuni perempuan dan dikenal sebagai kos putri muslimah. Fira mengaku sempat memiliki asumsi bahwa lingkungan tersebut akan membuat orang lebih berhati-hati mengambil makanan tanpa membayar.

Ternyata, menurut pengalamannya, asumsi itu tidak terbukti.

Bagi Fira, persoalannya bukan soal siapa yang tinggal di kos tersebut. Ia hanya merasa bahwa makanan yang sudah diberi harga seharusnya dibayar.

Tiga buka usaha kantin kejujuran cukup membuat kapok

Setelah tiga bulan, Fira akhirnya menghentikan kantin kejujuran tersebut. Ruang tamu kos tidak lagi dipenuhi jajanan yang bisa diambil penghuni.

Ia kembali fokus berjualan dengan cara yang selama ini sudah ia jalani: menawarkan makanan di kelas dan menitipkannya ke kantin fakultas.

Model tersebut memang lebih merepotkan karena membutuhkan interaksi langsung dengan pembeli. Namun, setidaknya Fira mengetahui kepada siapa makanan diberikan dan bagaimana pembayarannya.

Saya bertanya apakah setelah kejadian itu ia masih tertarik membuka usaha di kos.

Jawabannya tegas: tidak untuk sementara waktu.

Kantin kejujuran yang awalnya ia bayangkan sebagai usaha kecil untuk membantu penghuni kos melewati tanggal tua justru berakhir dengan kerugian.

Bagi Fira, pengalaman tiga bulan tersebut cukup menjadi pelajaran bahwa usaha tidak selalu gagal karena produknya tidak laku. Kadang makanan justru ludes, tetapi uangnya tidak pernah sampai ke penjual.

Kini ia memilih kembali ke cara berjualan yang sudah ia kenal sejak S1. Bukan karena kehilangan minat berbisnis, melainkan karena ia sudah kapok memberikan kepercayaan dalam bentuk kantin kejujuran.

Setidaknya untuk saat ini, ruang tamu kos Fira kembali menjadi ruang tamu biasa.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Perjuangan Mutiara Belajar Mandiri dan Andalkan Buku Panduan dari Sang Ayah Penjual Tahu hingga Tembus ITB atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 21 September 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.