Film NAZA: Kesaksian 24 Eks Tentara Israel Saat Membantai Warga Gaza dengan Bantuan AI

Poster film dokumenter NAZA. MOJOK.CO

24 eks anggota militer dan intelijen Israel mengungkap cara mereka mengebom gedung yang menewaskan ribuan warga Gaza. Kisah ini terangkum dalam film dokumenter NAZA hingga mendapat standing ovation terlama sepanjang sejarah.

***

ADVERTISEMENT

Auditorium 7 di bioskop CGV Jwalk mal tampak sepi pada Sabtu (17/10/2026) siang. Hanya ada sekitar 5 orang termasuk saya yang menonton film dokumenter NAZA karya jurnalis Israel, Yuval Abraham dan Rachel Szor tersebut.

Meski tak seramai film lainnya, karya ini telah meraih penghargaan Special Jury Prize di Festival Film Internasional Venesia yang ke-83 pada Sabtu (12/9/2026) lalu dan baru tayang perdana di Indonesia pada Jumat (16/10/2026).

Saking fenomenalnya film ini, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahkan mendesak penyelidikan terhadap Yuval dan Rachel selaku sutradara. Ia mengklaim keduanya melakukan pengkhianatan terhadap negara hingga mengancam akan mencabut kewarganegaraan mereka.

Namun, apa yang sebenarnya terjadi di film dokumenter NAZA hingga Israel merasa terancam?

Tragedi di balik keindahan Tel Aviv

Jauh dari ekspektasi saya, 90 persen visual film dokumenter NAZA tak menunjukkan langsung bagaimana perang fisik terjadi di Gaza hingga menyisakan puing-puing bangunan dan korban yang jatuh bergelimpangan.

Atap gedung Tel Aviv. MOJOK.CO
Wawancara dilakukan di atap-atap gedung Tel Aviv. (Sumber: tangkapan layar YouTube/The Guardian)

Sebaliknya, sebagian besar gambar di film dokumenter ini menampilkan pemandangan indah dari Tel Aviv, kota terbesar kedua sekaligus pusat ekonomi serta budaya di Israel. Terletak di pesisir Laut Mediterania, kota ini dikenal dengan suasana kosmopolitan, pantai yang panjang, serta pusat teknologi, bisnis, dan hiburan.

Di sanalah, Yuval Abraham melakukan wawancara dengan 24 orang yang terdiri dari eks anggota Israel Defense Forces (IDF) yang identitasnya dirahasiakan. 

Di antara gemerlap lampu yang berkilauan serta kehidupan warga di dalam gedung-gedung tinggi, mereka menceritakan cara kerja militer Israel untuk membunuh ribuan lebih warga sipil di Gaza menggunakan sistem penargetan berbasis kecerdasan buatan (AI).

ADVERTISEMENT

Dengan gamblangnya, mereka memberikan kesaksian, bagaimana mereka melacak orang yang diduga adalah anggota Hamas, sampai menemukan tempat tinggalnya dan menargetkan gedung tersebut untuk dibom.

Sistem pembantaian massal dengan AI di film NAZA

Wawancara dari atas atap. MOJOK.CO
Wawancara Yuval Abraham bersama salah satu anggota IDF. (Sumber: tangkapan layar YouTube/The Guardian)

Seorang anggota militer Israel bercerita bagaimana ia menyadap ponsel-ponsel milik seluruh keluarga untuk mengetahui, apakah target yang akan dia bom sudah berada di dalam rumah dengan kata kunci sederhana.

“Ketika kau mengintai anak umur 12 tahun yang bilang, ‘ayah pulang’,” kata salah satu informan dalam film NAZA.

Seketika, kabar yang seharusnya membahagiakan itu justru berubah menjadi petaka bagi seluruh gedung. Dengan kalimat itu saja, anggota militer yang sedari tadi memantau peta di balik layar komputer langsung memencet tombol bom di tangannya, seiring dengan perintah dari atasan mereka.

Salah satu narasumber bahkan mengungkap, bahwa untuk menargetkan satu anggota Hamas saja mereka bisa membunuh 500 warga sipil di dalam gedung, termasuk korban yang terdiri dari anak-anak maupun perempuan. 

Begitulah film berdurasi sekitar 80 menit ini memvisualkan tragedi kemanusiaan di Gaza. Bahkan dalam wawancara tersebut, anggota militer maupun intelijen Israel sama sekali tak menunjukkan sikap merasa bersalah.

“Ini tentang teknis, bukan moral. Kematian mereka bukan urusan kami,” begitulah kalimat yang berulang-ulang diucapkan oleh militer Israel sepanjang film.

Alasan film NAZA layak ditonton

Skylight di film NAZA. MOJOK.CO
Skylight di Tel Aviv. (Sumber: tangkapan layar YouTube/The Guardian)

Namun, menurut Rachel Szol selaku salah satu sutradara, pengakuan maaf dan rasa bersalah bukanlah fokus utama yang ingin ia ungkapkan dalam film ini, melainkan penjelasan detail soal sistem pembunuhan massal di Gaza. 

“Ketika melihat bagaimana mereka melakukan pengeboman di Gaza, kita melihat bahwa sistem tersebut dibangun untuk mengebom rumah-rumah warga sipil. Penting bagi kami untuk menunjukkan bahwa ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan, tetapi ini adalah kebijakan dan sistem” kata Rachel dikutip dari Fred.fm, Kamis (22/10/2026).

Dalam penggarapannya sendiri, Yuval Abraham berujar butuh proses yang lama untuk membangun kepercayaan pada narasumber. Alih-alih meyakinkan, Yuval menggunakan metode sederhana untuk mendekati orang dengan maksud bertanya.

Karena proses jurnalisme investigatif yang berisiko, tak heran jika film NAZA ini mendapat standing ovation selama 24,5 hingga 25 menit pada pemutaran perdananya di Venice Film Festival pada Kamis (10/9/2026) lalu, sekaligus mencetak sejarah dengan tepuk tangan terlama.

Saya rasa, alasan di atas sudah cukup menarik perhatian warga dari seluruh dunia untuk menonton film NAZA, sekaligus membuka mata kita sebagaimana kalimat terakhir dalam penutupnya.

“Dan sampai saat ini-pembantaian masih terjadi di Gaza.”

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Film Gohan: Saat Anjing Liar Jadi Saksi Bisu Kejamnya Shelter Abal-abal dan Rumitnya Cinta Manusia atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 22 Oktober 2026 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.