ADVERTISEMENT

Gelar Sarjana di Universitas Terbuka, Antarkan Diaspora asal Indonesia Raih Jabatan Mentereng di Qatar

Kerja di Qatar berkat ijazah S1 dari Universitas Terbuka. MOJOK.CO

Melalui sistem perkuliahan jarak jauh Universitas Terbuka, seorang diaspora asal Indonesia berhasil dapat ijazah S1 di usia 35 tahun, sekaligus mengantarkannya pada posisi mentereng di sebuah perusahaan penerbangan di Qatar.

***

ADVERTISEMENT

Memiliki rumah yang dekat dengan bandara di Jakarta membuat Nurul Hikmah (43) terbiasa melihat pesawat lalu lalang di atas langit saat kecil. Siapa sangka, kebiasaan sederhana itulah yang memotivasinya untuk kerja di dunia penerbangan atau aviation industry saat dewasa.

Bagi Nurul, dunia penerbangan adalah industri yang dinamik dan mencakup semua aspek. Oleh karena itu, alih-alih terpatok pada pilihan pilot atau pramugari, Nurul justru tertarik bekerja sebagai customer service agent.

Nurul yang baru saja menyelesaikan SMA di salah satu pesantren di Jawa Tengah akhirnya mengutarakan mimpinya tersebut kepada sang ayah, tapi tak berjalan mulus. Barangkali, kata Nurul, ayahnya masih terlalu awam dengan pekerjaan tersebut, mengingat tidak ada satu pun dari ke-14 saudaranya yang bekerja di bidang penerbangan.

Meski begitu, Nurul tak menyerah. Ia berusaha keras meyakinkan sang ayah hingga diizinkan kuliah di Jurusan D3 Manajemen Transport Udara. Namun ternyata, gelar pendidikan itu masih belum cukup untuk memenuhi tangga karier Nurul.

Oleh karena itu, dia harus menempuh kuliah kembali guna mendapatkan ijazah S1. Di tengah kebingungannya mencari kampus yang fleksibel, Nurul akhirnya menemukan Universitas Terbuka. Dengan begitu, dia bisa kuliah sambil bekerja di luar negeri.

Kerja di penerbangan domestik sebelum dapat ijazah S1 di UT

Tiga tahun menimba ilmu di Jurusan D3 Manajemen Transport Udara, Nurul akhirnya lulus pada tahun 2005. Berbekal ijazah diploma, ia langsung memilih bekerja di perusahaan penerbangan domestik.

Nurul Hikmah. MOJOK.CO
Nurul Hikmah mengenakan seragam di bidang penerbangan.(dok.istimewa)

“Setelah lulus kuliah, tidak mudah untuk memilih perusahaan bekerja, karena keterbatasan ruang lingkup bidang yang saya ambil, yaitu industri penerbangan yang belum begitu umum di masa itu,” ujar alumnus Universitas Terbuka itu dalam wawancara langsung bersama Mojok.co lewat WhatsApp, Rabu (7/10/2026).

Sampai kemudian, Nurul diterima kerja di perusahaan pengelola bandar udara di Provinsi Bali. Sontak, banyak saudaranya yang kaget terutama kesembilan kakak laki-lakinya. Sebagai anak perempuan terakhir, mereka khawatir dengan jarak dan waktu kerja yang dipilih Nurul.

ADVERTISEMENT

“Tapi, alih-alih melarang atau berada di pihak kakak laki-laki saya, Babeh (sebutan untuk ayah di keluarga Betawi) memilih mendukung,” kata Nurul. Sementara ibunya sudah meninggal saat dia berusia 14 tahun.

Restu ayah jadi jalan Nurul kerja di Qatar

Izin satu-satunya dari sang ayah ternyata cukup untuk menenangkan kekhawatiran dari kakak-kakaknya. Sampai akhirnya, Nurul berangkat ke Bali untuk bekerja dan hanya bertahan hingga 6 bulan.

“Saya si anak pendiam yang hanya belajar dan mengaji harus melihat bagaimana dunia pariwisata dan glamornya dunia asing, membuat saya kehilangan banyak kata-kata dan berada dalam kebingungan,” kata Nurul yang punya pengalaman sekolah di pesantren.

Alhasil, Nurul memilih kembali ke Jakarta untuk berkumpul bersama keluarga. Namun rupanya, tidak mudah untuk mencari pekerjaan baru di ibu kota. Lebih dari 200 surat lamaran kerja dia kirim dan puluhan wawancara yang dilalui. Beruntung, ada satu perusahaan ground handling di Bandara Soekarno-Hatta yang mau menerimanya.

“Saya pun harus meniti lagi dari nol, belajar dan mengasah kemampuan berbahasa asing,” ujarnya.

Doha College. MOJOK.CO
Alumnus Universitas Terbuka saat menjalani ujian kerja di Qatar. (dok.istimewa)

Namun, dari sanalah Nurul justru mendapatkan kesempatan untuk melamar kerja di luar negeri, tepatnya di perusahaan Qatar Aviation Services (QAS). Kesempatan itu datang dari temannya saat mereka baru selesai tugas post-flight di perusahaan penerbangan Timur Tengah. 

Meski Nurul tidak tahu-menahu soal QAS, besok paginya dia tetap berangkat menuju lokasi wawancara. Dalam sesi wawancara kerja, salah satu pewawancara tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang membuat Nurul terkejut.

“Dia bertanya, ‘apakah saya hafal salah satu surah Al-Quran?’ Sontak saya kaget, tapi berhasil menjawab dengan membacakan Surah Al-Baqarah ayat 255,” kata Nurul.

“Setelah saya menyelesaikan bacaan, dia bilang ‘welcome to our company and I will see you in Qatar’. Saya terkejut dan langsung berpikir, kenapa secepat dan semudah ini? Namun, saya hanya menjawab alhamdulillah, ini kuasa Allah,” lanjutnya.

Daftar kuliah di UT untuk dapat ijazah S1

Singkat cerita, Nurul yang sudah bertahun-tahun kerja di Qatar ingin menaikkan level ke tingkat manajerial. Sementara, salah satu syarat yang dibutuhkan adalah gelar S1. Oleh karena itu, Nurul berniat untuk kuliah lagi dan mulai mencari kampus yang memiliki sistem pembelajaran fleksibel. 

“Di Qatar, tidak ada kuliah dengan sistem pembelajaran daring. Semua offline. Sedangkan, saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan ini,” jelas Nurul.

Nurul kemudian menjelajah di internet mengenai referensi kampus apa saja yang memungkinkan dia bisa kuliah sambil kerja di Qatar. Setelah mencari tahu, dia akhirnya menemukan dua opsi kampus yang terbuka untuk diaspora sekaligus sudah terdaftar di Kedutaan Besar Indonesia di Qatar, yakni Binus dan Universitas Terbuka.

“Saya sempat menjalani perkuliahan di Binus tapi karena sistem pembelajarannya tidak fleksibel saya lalu menghubungi pihak UT,” kata Nurul.

Kerja di QAS. MOJOK.CO
Nurul Hikmah saat bekerja di perusahaan Qatar Aviation Services (QAS). (dok.istimewa)

Setelah mendapatkan kontak salah satu humas, Nurul pun diarahkan untuk menghubungi salah satu kontak representatif UT di Qatar. Dari sana, dia mendapatkan informasi seputar sistem pembelajaran, nilai, dan sistem ujian yang cocok dengan jadwal kerjanya.

“Jadi saya memutuskan untuk pindah ke UT Jurusan Manajemen pada tahun 2016,” tegas Nurul.

Ijazah S1 UT untuk naik jabatan

Setelah menjalani seleksi penerimaan mahasiswa baru, Nurul senang bukan kepalang. Melalui jurusan Manajemen di Universitas Terbuka, Nurul belajar soal kemampuan manajerial secara teoretis hingga mampu mengaplikasikannya langsung ke bidang pekerjaannya saat itu.

“Apalagi, kurikulum di UT tidak memberatkan mahasiswa. Price is competitive and affordable, dan tentu saja graduation certificate acceptable by Qatar government authority,” jelasnya.

Kini, Nurul sukses menapaki posisi manajerial tingkat atas dengan menjabat sebagai Senior Integrated Training Center Operations Officer. Ia bertanggung jawab penuh atas keseluruhan operasional pusat pelatihan di perusahaan tempatnya bekerja.

Nurul pun berhasil membuktikan bahwa tekad kuat dan pantang menyerah, serta ilmu yang diserap dengan baik bisa membuahkan hasil yang gemilang. Berkat dukungan sistem pendidikan fleksibel dari UT pula, ia berhasil mencapai puncak karier manajerial di Qatar.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Tidak Ada Drama “Bimbingan Skripsi” di UT, Bisa Lulus Pakai Jalur Lain yang Efisien dan Sesuai Minat Mahasiswa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 15 Oktober 2026 oleh .
Artikel Advertorial

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.