Mendapatkan gaji Rp5 juta sebulan dari menjadi buruh pabrik terasa seperti alasan yang cukup untuk bertahan di sebuah pekerjaan. Apalagi bagi pekerja yang tinggal bersama orang tua dan tidak perlu membayar kos. Namun, bagi Dewi (27), bukan begitu ceritanya.
***
Perempuan asal Bantul, Yogyakarta, ini pernah menjadi buruh pabrik garmen dengan posisi merchandiser. Penghasilannya sempat mencapai Rp5 juta per bulan. Jarak rumah dengan tempat kerja pun hanya sekitar 15 menit menggunakan sepeda motor.
Secara hitungan sederhana, pekerjaannya tampak menjanjikan. Namun, setelah bekerja selama empat tahun, Dewi memilih berhenti. Kini ia menjadi guru kelas 1 di sebuah SD swasta di Bantul. Gajinya sekitar Rp400 ribu per bulan.
Keputusan itu mungkin terdengar aneh jika pekerjaan hanya diukur dari nominal gaji. Bagi Dewi, persoalannya memang bukan sekadar uang.
Gaji Rp5 Juta dari buruh pabrik tidak membuat Dewi punya banyak waktu
Dewi mulai bekerja di pabrik tersebut pada tahun 2022. Ia mengawali pekerjaannya dengan gaji Rp3,5 juta yang kemudian meningkat setiap tahun hingga mencapai sekitar Rp5 juta.
Sebagai merchandiser, pekerjaannya tidak sesederhana memastikan pakaian selesai dibuat. Ia harus berhubungan dengan berbagai bagian agar proses produksi berjalan sesuai jadwal.
“Beban kerja lebih kompleks, semua harus on time. Mulai dari sample approved buyer, lapdip harus pas, terus terutama material juga harus inhouse on time maksimal tiga minggu, jadi sebelum masuk produksi bahan sudah harus ada di gudang,” cerita Dewi kepada saya, Kamis (17/09/2026).
Jam kerjanya dimulai pukul 08.00 hingga 17.30. Namun, pulang pukul 20.00 bukan sesuatu yang aneh.
Pekerjaan itu membuatnya terus berhadapan dengan tenggat, perusahaan, tim internal, sampai customer. Menurut Dewi, tekanan tersebut semakin lama semakin sulit ditanggung.
“Aku keluar karena aku ngerasa sudah cukup, nggak bisa menahan lagi, ya beban kerjanya, ya lingkungannya yang agak toksik,” ujarnya.
Karena hal itu lah setelah hampir empat tahun bekerja, Dewi akhirnya memilih mengakhiri pekerjaannya.
Menjadi buruh pabrik dengan gaji besar tetap ada harga yang harus dibayarkan
Keputusan Dewi terjadi ketika upah minimum di Bantul sebenarnya terus mengalami kenaikan.
Pada 2026, UMK Kabupaten Bantul ditetapkan sebesar Rp2.509.001, naik 6,29 persen dari tahun sebelumnya. Sementara UMP DIY 2026 berada di angka Rp2.417.495.
Dengan penghasilan Rp5 juta, pendapatan Dewi ketika menjadi buruh pabrik memang berada jauh di atas UMK Bantul 2026. Namun, angka tersebut ternyata tidak otomatis membuatnya merasa punya kehidupan yang lebih baik.
“Kalau kerjaan dulu, gaji aku besar tapi aku nggak punya waktu buat pergi atau ke mana yang bikin aku tenang,” katanya.
Di titik ini, Dewi tidak sedang mengatakan bahwa gaji besar tidak penting. Ia hanya sedang bercerita bahwa ada hal lain yang ikut ia pertimbangkan setelah bertahun-tahun bekerja.
Ibunya justru mendorong ia untuk menjadi guru
Setelah resign, Dewi sebenarnya tidak langsung berencana menjadi guru. Ia ingin beristirahat dan tidak bekerja terlebih dahulu.
Namun, keinginan itu kemudian bertemu dengan dorongan ibunya. Dewi didukung untuk mendaftar sebagai guru di sebuah SD swasta.
Pilihan tersebut akhirnya ia jalani.
Ironisnya, pekerjaan baru itu memberikan penghasilan yang bahkan tidak sampai sepersepuluh gajinya ketika menjadi buruh pabrik. Dewi hanya memperoleh sekitar Rp400 ribu per bulan.
Kalau ukuran kesuksesan pekerjaan adalah besarnya pendapatan, keputusan Dewi tentu sulit dipahami. Tetapi Dewi punya ukuran lain.
Gaji turun, namun memiliki waktu yang terus bertambah
Sekarang Dewi mengajar siswa kelas 1 SD. Pekerjaannya tetap melelahkan, hanya bentuk lelahnya berbeda.
Ia lebih banyak menggunakan tenaga karena harus menghadapi anak-anak kecil. Teriakan dan aktivitas kelas menjadi bagian dari kesehariannya.
“Kalau pas jadi guru ini aku lebih punya banyak waktu, liburnya lebih banyak. Kerjanya juga santai, yang nggak terlalu membutuhkan pikiran tapi lebih ke tenaga karena aku kan kelas 1, jadi ya banyak teriak,” katanya.
Bagi Dewi, perbedaan tersebut terasa setelah terbiasa dengan ritme kerja di pabrik.
Ketika menjadi buruh pabrik, pikirannya terus dikejar pekerjaan. Sekarang ia merasa memiliki lebih banyak kesempatan untuk beristirahat dan melakukan hal-hal yang sebelumnya sulit dilakukan.
Saya kemudian bertanya apakah ia menyesal setelah meninggalkan pekerjaan dengan gaji Rp5 juta. Jawabannya sederhana.
“Nggak ada rasa menyesal atau apa pun itu karena emang niat awalku mau istirahat kerja. Saya jauh lebih bisa menikmati hidup,” pungkasnya.
Menjadi bukanlah tujuan akhir
Dewi juga tidak ingin kisah ini dibaca sebagai cerita tentang dirinya yang menemukan pekerjaan impian setelah meninggalkan pabrik.
Menjadi guru bukan tujuan akhirnya.
Ia mengaku masih ingin mencari pekerjaan lain selain menjadi guru. Untuk sementara, pekerjaan tersebut memberinya sesuatu yang sedang ia butuhkan: waktu.
“Kalau buat waktu luang memang better menjadi guru ini,” katanya.
Jadi, keputusan Dewi sebenarnya bukan pertukaran sederhana antara gaji Rp5 juta dan Rp400 ribu. Ia menukar pekerjaan dengan penghasilan lebih besar dan beban kerja yang menurutnya terlalu berat dengan pekerjaan berpenghasilan jauh lebih kecil tetapi memberinya lebih banyak waktu.
Bagi orang lain, pilihan itu mungkin tetap terdengar aneh. Bagi Dewi, setidaknya untuk sekarang, ia justru bersyukur pernah mengambil keputusan tersebut.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Ibu-Ibu Rembang Dipaksa Kerja Pabrik karena Para Suami Tak Bisa Lagi Jadi TKI di Malaysia, Kaget Ternyata Kerja Secapek Itu, Baru 3 Hari Langsung Berhenti atau liputan Muchamad Aly Reza di rubrik Liputan