Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Mantap Kuliah PGSD meski Prospeknya Suram, Buktikan Profesi Guru SD Tak Patut Diremehkan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
11 Maret 2025
A A
Jurusan PGSD diremehkan karena hanya bisa jadi guru SD bergaji mengenaskan MOJOK.CO

Ilustrasi - Jurusan PGSD diremehkan karena hanya bisa jadi guru SD bergaji mengenaskan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Zaman sekarang kuliah di jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) mesti banyak yang meremehkan. Karena dianggap hanya akan jadi guru SD. Lebih-lebih gaji guru teramat kecil. Namun, Binar (18) tidak peduli. Niatnya kelewat tulus untuk kuliah di jurusan ini.

***

Jauh sebelum kuliah jurusan PGSD, pilihan Binar sejak SMK sudah dianggap remeh. Terutama oleh siswa-siswa lain di sekolahnya: sebuah SMK di Jawa Tengah (Binar enggan menyebut nama daerah asal sekolahnya).

Binar mengambil jurusan Tata Busana. Jurusan yang, kata Binar, dianggap tidak sekeren jurusan-jurusan SMK lainnya seperti akuntansi, desain grafis, aneka jenis teknik, dan lain-lain.

“Nanti lulus mau jadi apa? Jahit-jahit begitu, mah, ibu-ibu juga bisa.” Kalimat semacam itu teramat sering Binar terima. Bahkan, situasi di SMK Binar juga tidak begitu supportif. Malah cenderung diskriminatif.

“Sering kami tidak mendapat tempat ketika bazar di sekolah, tidak diagung-agungkan seperti jurusan lain, tidak diberi fasilitas yang memadai seperti jurusan lain. Apalagi jika ada laki-laki di jurusan ini, mereka akan diejek habis-habisan,” ungkap Binar agak emosional, Senin (10/3/2025).

Jurusan diremehkan, tapi bekali banyak keterampilan

Mendapati situasi yang demikian, Binar sempat merasa ciut dengan dirinya sendiri. Akan tetapi, seiring waktu, Binar justru menikmati sekolah di jurusan yang diremehkan tersebut.

“Saya mendapat teman-teman yang supportif, guru-guru penjuruan yang mengajari dengan detail, dan mendapat pembelajaran yang sangat luar biasa,” tutur Binar.

“Saya memiliki kemampuan baru; menjahit, mendesain, merajut, menyulam, membuat bouquet, dan masih banyak lagi,” sambungnya.

Sejumlah produk bisa Binar hasilkan dari menekuni jurusan ini. Satu di antaranya adalah tas yang bahkan habis terjual kala bazar di sekolahnya.

Kuliah jurusan PGSD, kembali diremehkan

Selulus SMK pada 2024, Binar memilih tidak lanjut studi yang berkaitan dengan Tata Busana. Dia malah masuk jurusan PGSD. Tentu saja dia tahu dan sudah menimbang betul risikonya: diremehkan—untuk yang kesekian kalinya.

“Kenapa masuk PGSD? Mau jadi guru SD aja?” Begitu kira-kira pertanyaan yang terlontar pada Binar, mengkerdilkan jurusan yang Binar ambil.

Binar tidak memungkiri kalau pertanyaan tersebut membuatnya berkecil hati. Ditambah realita bahwa profesi sebagai guru di Indonesia saat ini tidak lebih dari upaya bunuh diri, karena gaji yang begitu kecil.

“Saya merasa minder ketika melihat teman-teman saya yang kuliah di jurusan yang lebih ‘bergengsi’ di mata orang banyak. Saya sempat ragu, apa saya akan bertahan di sini?” tutur Binar.

Iklan

Menjadi guru tidak sekadar melihat gaji

Dari Tata Busana, tiba-tiba kuliah jurusan PGSD. Belokan yang menukik tajam. Tapi pilihan kuliah Binar tersebut dia dasarkan pada dorongan nuraninya.

Sejak lama dia meresahkan kondisi pendidikan di Indonesia yang menurutnya tidak merata. Selain itu, sistem pembelajaran di sejumlah sekolah juga terbilang tidak sehat. Karena alih-alih mendampingi siswa, sekolah (oknum guru) justru kerap mengkerdilkan siswanya sendiri. Setidaknya, berkaca pula pada kasus Binar semasa SMK.

“Saya terdorong betul menjadi pendidik yang penuh dedikasi. Lebih dari sekadar mengajar di dalam kelas, saya ingin menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, inspiratif, dan mampu menumbuhkan semangat anak-anak untuk bermimpi lebih tinggi,” beber Binar.

“Saya percaya bahwa pendidikan bukan hanya tentang memberikan ilmu, tetapi juga tentang membentuk karakter, menumbuhkan rasa percaya diri siswa,” imbuhnya.

Binar memang menekankan, kecilnya gaji guru di Indonesia tidak akan membuatnya surut untuk menjadi guru. Akan tetapi, dalam benaknya, pemerintah harusnya memperhatikan betul kesejahteraan guru.

Sebab, Jika ingin menciptakan sistem pendidikan yang lebih baik, maka penghargaan terhadap guru harus lebih ditingkatkan. Baik dalam bentuk gaji yang layak maupun fasilitas kerja yang mendukung.

Berkaca pada lulusan jurusan PGSD yang sukses dengan kariernya

Kala banyak orang meremehkan keputusan Binar kuliah jurusan PGSD, bayangan Binar sempat gelap soal prospek kerja jurusan ini. Dia tidak bisa menyangkal kalau peluang paling nyata adalah “hanya” menjadi guru SD.

Namun, salah satu yang membuatnya tetap teguh di jurusan PGSD adalah karena berkaca dari kakaknya sendiri.

“Kakak saya lulusan jurusan PGSD. Nggak cuma jadi guru SD, jenjang kariernya terlihat. Menjadi kepala sekolah, bahkan terlibat dalam pengembangan kurikulum dan proyek pendidikan lainnya,” ungkap mahasiswa PGSD semester 2 itu.

Pada akhirnya Binar percaya bahwa cara terbaik untuk membuktikan bahwa jurusan ini memiliki nilai dan tidak patut diremehkan adalah dengan menunjukkan hasil nyata dari kerja keras dan dedikasinya kelak. Jalan Binar masih jauh dan panjang.

Guru tak patut diremehkan

Bagi Binar, profesi guru tidak patut diremehkan hanya karena gaji guru kecil. Sebab, guru memiliki peran sangat penting dalam membentuk generasi penerus.

“Tanpa mereka (para guru), tidak akan ada dokter, ilmuwan, atau profesi-profesi hebat lainnya,” tegas Binar dengan nada penuh semangat.

Saya beberapa kali bertemu dan berbincang dengan mahasiswa atau lulusan jurusan PGSD. Rata-rata mereka menyesali keputusannya telah kuliah di jurusan tersebut—apalagi jika akhirnya benar-benar nyemplung menjadi guru.

“PGSD nggak punya peluang lain. Mentok jadi guru SD,” begitu salah satu ucapan mereka yang saya ingat.

Di media sosial, saya kerap menemui banyaknya lulusan PGSD yang mengimbau agar calon mahasiswa baru tidak salah ambil jurusan: ambil PGSD. Karena tidak ada prospek kerjanya. Tidak ada masa depan cerah di sana sepanjang hak-hak dan kesejahteraan mereka masih dikesampingkan pemerintah.

Baru kali ini saya bertemu dengan orang yang percaya diri betul kuliah di PGSD: Binar. Bahkan membawa harapan-harapan luhur. Semoga segalanya dipermudah, Binar.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Suara Hati Lulusan PGSD UNY, Jurusan Favorit Tapi Masa Depan Lulusannya Suram: Sudah Jadi Honorer, Masih Disikut PPPK atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

Terakhir diperbarui pada 12 Maret 2025 oleh

Tags: gaji guruguru sdjurusan pgsdpgsdprospek kerja pgsd
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi
Urban

Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan

29 April 2026
Derita guru CLC di Malaysia. MOJOK.CO
Sekolahan

WNI Jadi Guru di Luar Negeri Dapat Gaji 2 Digit, Pulang ke Indonesia Malah Sulit Kerja

23 April 2026
Guru PPPK Paruh Waktu, guru honorer, pendidikan.MOJOK.CO
Sekolahan

Guru, Profesi yang Dihormati di Desa tapi Hidupnya Sengsara di Kota: Dimuliakan Seperti Nabi, Digaji Lebih Kecil dari Kuli

23 April 2026
Guru CLC di Malaysia sejahtera daripada guru kontrak. MOJOK.CO
Sekolahan

WNI Pilih Jadi Guru di Luar Negeri dengan Gaji 2 Digit daripada Jadi Guru Kontrak di Indonesia yang Hidupnya Nggak Sejahtera

21 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Santri asal Sumatra masuk Jurusan Arsitektur di Universiti Malaya, Malaysia. MOJOK.CO

Kisah Aisyah, Gadis Sumatra yang Nekat Merantau untuk Raih Gelar Sarjana “Jurusan Seni” di Kampus Top Pertama Malaysia

11 Juni 2026
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Gaji 2 juta hasil kerja di Jogja habis buat ngasih makan naga (judi slot) karena ilusi jackpot MOJOK.CO

Gaji 2 Juta Jogja Selalu Lenyap buat Ngasih Makan Naga: Rela Kelaparan dan Susahkan Ortu-Teman demi Jackpot, Tapi Tak Mau Sadar

14 Juni 2026
Hujan Bulan Juni untuk Samadi: Es Krim yang Mencair di tengah Aksi Rakyat Memanggil dan Kenaikan Harga yang Bikin Ngelu MOJOK.CO

Hujan Bulan Juni untuk Samadi: Es Krim yang Mencair di Tengah Aksi Rakyat Memanggil dan Kenaikan Harga yang Bikin Ngelu

14 Juni 2026
5 tips dapat tiket murah untuk liburan keluarga di Pantai Pandawa Bali MOJOK.CO

5 Tips Dapat Tiket Murah untuk Liburan Keluarga di Pantai Pandawa Bali

11 Juni 2026
Meski tanpa sosok ayah (fatherless), tapi tidak hilang arah MOJOK.CO

Hidup Tanpa Sosok dan Peran Ayah Nyatanya Tak bikin Hilang Arah, Bisa Cari Arah Sendiri dan Malah bikin Orang Lain Iri

9 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.