Jalanan juga tak beda jauh dengan Jakarta
Tak sampai di situ. Niat Fajar mencari work-life balance juga hancur lebur di jalan raya. Sebagai karyawan yang terikat jam masuk dan pulang kerja, ia harus berhadapan dengan rutinitas kemacetan Malang.
Apalagi, kantor cabangnya yang berada di sekitar kawasan sibuk membuatnya tua di jalan setiap hari. Pagi dan sore, ia harus ikut berdesakan dengan ribuan mahasiswa dan pekerja lain.
“Apalagi Malang itu jalanannya juga bising, motor-motor pada ugal-ugalan, ampun-ampunan.”
Berbeda dengan pekerja lepas yang bisa langsung pindah kota saat merasa sumpek, Fajar terjebak oleh kontrak kerjanya. Niatnya slow living, malah berubah jadi mode bertahan hidup setiap hari.
Dipenuhi plat luar kota
Penderitaan Fajar makin lengkap di akhir pekan. Niat awalnya, ia ingin melepas penat atau healing ke Kota Batu yang letaknya bersebelahan dengan Malang setiap libur kerja. Kenyataannya, setiap Jumat sore hingga Minggu malam, jalanan Malang dan akses menuju Batu lumpuh total.
Jalanan dikuasai oleh deretan mobil berpelat nomor luar kota, seperti pelat L (Surabaya), W (Sidoarjo), dan B (Jakarta). Fajar yang niatnya lari dari macet ibu kota, justru terjebak dalam kemacetan parah, tapi “versi” Jawa Timur.
Penderitaan Fajar ini bukanlah keluhan tunggal. Keluh kesahnya adalah curhatan massal yang rutin meramaikan linimasa media sosial seperti X (Twitter) atau Threads. Ketik saja kata kunci “Malang macet” atau “Suhat knalpot brong” di kolom pencarian. Kamu bakal langsung menemukan ribuan cuitan bernada kesal dari netizen, baik dari warga lokal maupun pendatang.
Mereka sama-sama mengutuk kemacetan parah setiap akhir pekan akibat “invasi” kendaraan luar kota. Netizen juga rutin memaki para pengendara motor berknalpot bising yang seenaknya merusak jam tidur warga.
“Udah mau setahun di Malang aku akhirnya sadar, ini kota metropolitan. Padat. Jalanannya kayak Margonda di Depok,” kata Fajar. “Slow living di Malang itu cuma akal-akalan.”
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














