Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Berkah Kos Rp200 Ribu di Surabaya, Terlalu Jelek untuk Ditempati tapi Lebih Aman dari Banjir ketimbang Kos Mahal

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
17 Desember 2024
A A
Berkah sewa kos Rp200 ribu di Jemur Wonosari, Surabaya, yang selalu aman dari banjir MOJOK.CO

Ilustrasi - Berkah sewa kos Rp200 ribu di Jemur Wonosari, Surabaya, yang selalu aman dari banjir. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kos murah seharga Rp200 ribu di Jemur Wonosari, Wonocolo, Surabaya, di hari-hari biasa memang menyiksa bagi Haqi (27). Karena relatif hanya bisa ditempati di malam sampai pagi.

Selebihnya, Haqi memilih mengungsi. Entah di warung kopi, pelataran masjid kampusnya (UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA)), atau yang paling sering ya di kos temannya yang lebih adem.

Tidak usah menunggu puncak musim kemarau. Panas Surabaya di hari-hari biasa saja sudah sangat menyengat. Apalagi atap kosnya full asbes. Makin tersiksa lah dia kalau mendiami kosnya tersebut di jam-jam tujuh pagi sampai tiga sore.

Begitulah kenangan Haqi atas kosnya di Jemur Wonosari, Wonocolo, Surabaya.

Namun, kos murah yang Haqu tempati tersebut bukannya tanpa hal baik sama sekali. Di musim hujan, kos murah itu justru membuatnya lebih santai ketimbang penghuni beberapa kos lain.

4,5 tahun di kos murah Rp200 ribu Jemur Wonosari Surabaya

Haqi menempati kos murah di Jemur Wonosari, Surabaya, tersebut sejak 2016. Tahun pertamanya kuliah di UINSA.

“Sejak awal masuk kuliah memang langsung nemu di sana. Karena aku memang carinya yang murah,” ungkapnya, Senin (16/12/2024).

Pemuda asal Bojonegoro, Jawa Timur, itu kemudian bisa bertahan di sana hingga lulus kuliah. Persis empat tahun.

Di titik tertentu, dulu, Haqi sering kali merasa sudah tak betah tinggal di kos murah itu. Dia bahkan beberapa kali diajak oleh temannya untuk ngekos bareng di kos yang lebih adem dan nyaman.

Haqi tentu saja tertarik. Tapi, dia selalu berpikir, kalau masih ada kos di harga Rp200 ribu, dia—karena latar belakang ekonomi pas-pasan—merasa eman saja kalu harus cari yang lebih mahal. Terlebih kiriman orang tuanya juga pas-pasan.

“Aku itu sebulan dapat dari orang tua Rp800 ribu. Paling banter Rp1 juta, tapi ya jarang. Yang jelas nggak pernah lebih dari itu,” akunya. Sementara saat kuliah, Haqi memang tidak nyambi bekerja. Jadi tidak ada pemasukan tambahan.

Menerjang banjir untuk ke kampus

Namun, setiap musim hujan tiba, Haqi justru merasa beruntung karena kosnya menjadi kos murah yang cenderung aman. Tak pernah kebanjiran.

Sejak bertahun-tahun lalu, Jemur Wonosari masuk dalam wilayah di Surabaya yang kerap terendam banjir tiap musim hujan. Dan begitu lah yang Haqi rasakan setidaknya hingga dia lulus kuliah.

“Di sepanjang Gang Lebar sebagai akses utama, itu bisa di atas mata kaki lebih banjirnya. Jadi dulu ngalamin kuliah itu copot sepatu dan nyincing celana,” jelas Haqi.

Iklan

Dan itu, kata Haqi, adalah pemandangan biasa di kalangan mahasiswa-mahasiswa UINSA seangkatannya tiap Jemur Wonosari terendam banjir. Karena memang banyak yang berjalan kaki lewat Gang Dosen yang menghubungkan Gang Lebar dengan “pintu doraemon” UINSA.

“Yang paling tersiksa tentu cewek-cewek. Mereka kan kuliah pakai gamis atau rok panjang. Agak susah kalau mau ke kampus,” ucap Haqi.

“Nggak mungkin kalau nggak basah. Karena walaupun sudah hati-hati, kadang kan kena cipratan pengendara motor juga,” imbuhnya ekspresif. Dia selalu semangat mengenang masa-masa sulit saat menjadi mahasiswa ekonomi pas-pasan.

Menikmati banjir dari kosan

Dalam rentang 2016-2021, kata Haqi, ada beberapa kos murah di Jemur Wonosari, Surabaya. Dari Rp200 ribu-Rp300 ribu. Hanya saja, bukan risiko kenapa sebuah kos disewakan dengan harga sangat murah.

Beberapa teman Haqi yang tinggal di kos murah tersebut sering harus pontang-panting saat musim hujan. Sebab, air dari sungai yang membelah Jemur Wonosari sering kali meluap. Selokan-selokan meluap. Luapannya lantas masuk ke kos-kos murah atau rumah-rumah yang lantainya terlalu datar.

“Kalau kosku kan modelnya berundak. Di atas mata kaki sedikit. Jadi kalau banjir, airnya nggak menyentuh teras kos-kosan,” terang Haqi.

“Jadi kalau musim hujan malah momen aku bersyukur. Karena meski murah, ternyata empat tahun setengah selamatkan aku dari banjir,” sambungnya.

Saat banjir melanda Jemur Wonosari, Surabaya, Haqi yang malas menerjang genangan air kotor di Gang Lebar biasanya akan menggelar banner di teras kosnya. Menyesap rokok, menikmati kopi yang airnya dimasak menggunakan rice cooker, menikmati rintik hujan, sembari memantau status WhatsApp beberapa temannya yang tampak sibuk mengamankan barang-barangnya karena banjir sudah masuk kamar.

“Bahkan ada juga yang kosnya lebih mahal. Rp400 atau Rp500 ribu seingatku. Itu karena nggak berundak, ya tetap jadi korban banjir,” ujar Haqi menceritakan temannya.

Teman Haqi sedang tertidur saat hujan lebat mengguyur Surabaya pada suatu malam 2016 sialm. Lalu tiba-tiba dia merasakan ada air bercampur pasir di bawah punggungnya. Saat dia bangun, ternyata banjir masuk kamarnya. Kasurnya kuyup. Buku-bukunya tak tertolong.

Kejadian itu nyaris berulang. Akhirnya, teman Haqi memutuskan pindah: mencari kos baru. Mahal sedikit tak masalah. Yang penting tidak repot kalau banjir.

Jemur Wonosari Surabaya kian surut

Teman Haqi tersebut kini sudah pulang ke kampung halamannya di Madura. Sementara Haqi, karena sudah bekerja, sudah berani menyewa kos di atas Rp200 ribu. (Atau karena memang sekarang mulai sulit menemukan kos seharga itu di Surabaya?)

“Di Jemur Wonosari saja, kata beberapa adik kelas, sekarang sudah susah cari kos Rp200 ribu,” katanya.

Meski Haqi sudah bekerja dan ngekos di Surabaya Barat, seminggu sekali dia masih main ke Selatan. Ke warkop langganan di Jemur Wonosari. Sebab, Jemur Wonosari sudah menjadi titik kumpul baginya dan teman-teman seangkatannya yang masih bertahan dan mengundi nasib di Kota Pahlawan.

“Jalanan Jemur Wonosari kini sudah berpaving dan ditinggikan. Dari ujung ke ujung. Alhsil, sederas-derasnya, kalau air menggenang, sudah nggak seatas mata kaki,” beber Haqi.

Rp1,3 triliun untuk banjir Surabaya

Sayangnya, tidak semua kampung padat di Surabaya berangsur aman dari banjir seperti Jemur Wonosari. Hingga 2024 ini, masih ada sejumlah kampung yang dibayangi banjir tiap musim hujan.

Oleh karena itu, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menganggarkan Rp1,3 triliun untuk penanganan banjir Surabaya pada 2025.

Anggaran tersebut bakal digunkaan untuk mengkoneksikan saluran pipa. Baik di jalan-jalan protokol maupun perkampungan.

Baru-baru ini Eri menegaskan, penuntasan masalah banjir itu akan menjadi salah satu proyek prioritas Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dengan target pengerjaan 2025-2026.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Nestapa Para Perantau di Kawasan Gubeng Surabaya: Bertahan di Kos Kumuh, Berdamai dengan Bau Busuk dan Segala Kehororannya

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

 

Terakhir diperbarui pada 17 Desember 2024 oleh

Tags: jemur wonosarikos jemur wonosarikos murahkos mursh surabayakos wonocolosurabaya banjirwonocolo
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Kos kamar mandi luar memang murah. Tapi mending cari kamar mandi dalam kalau tidak mau kena mental MOJOK.CO
Urban

Kos Kamar Mandi Luar Memang Lebih Murah, Tapi bikin Repot Sendiri karena Dipakai Bareng Penghuni Lain Tak Tahu Diri (Kemproh dan Pemalas)

14 Mei 2026
Kos di Jogja, kos campur, dapur.MOJOK.CO
Sehari-hari

Kos Induk Semang: Tempat Terbaik buat Mahasiswa Irit dan Kenyang, tapi Menyimpan Sisi Lain yang Bikin Penghuninya Tak Nyaman

13 Mei 2026
kos jogja, pogung, babarsari, kos murah.MOJOK.CO
Urban

Menemukan Ketenangan di Kos Rp500 Ribu Kawasan Pogung, Lebih Nyaman Ketimbang Kos LV Babarsari yang Tak Cocok Buat Mahasiswa Alim

12 Februari 2026
Tinggal di kos murah Taman Siswa (Tamsis) Jogja: Malam-malam ada suara ceplak-ceplok, saling pukul di kamar, hingga terusir gara-gara sengketa warisan MOJOK.CO
Ragam

Sewa Kos Rp350 Ribu Berdinding Triplek di Tamsis Kota Jogja, Bonus Suara “Ceplak-ceplok” Tengah Malam hingga Terusir Gara-gara Sengketa Warisan

6 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

mahasiswa autis Fakultas Peternakan UGM. MOJOK.CO

Mahasiswa Autis UGM Sulit Berinteraksi Sosial, tapi Buktikan Bisa Lulus usai 6 Tahun Lebih dan Buka Usaha Ternak Kambing di Kampung Halaman

20 Mei 2026
Sulap lahan kosong jadi kebun kosong untuk ketahanan pangan mandiri. MOJOK.CO

Ironi Lihat Balita Gizi Buruk di Bogor hingga Oknum Nakes yang Promosikan Sufor, Alumnus UNJ Ini Buka Kebun Sayur di Lahan Mangkrak 

16 Mei 2026
Pesan President Jancukers Sujiwo Tejo untuk Mahasiswa Rojali di Jogja MOJOK.CO

Pesan President Jancukers Sujiwo Tejo untuk Mahasiswa Rojali di Jogja

17 Mei 2026
Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
Ironi jadi orang tunawicara (bisu) di desa, disamakan seperti orang gila MOJOK.CO

Ironi Orang Tunawicara (Bisu) di Desa: Dianggap Gila, Punya Otak Cerdas Tetap Dianggap Tak Bisa Mikir Hanya karena Sulit Bicara

15 Mei 2026
buku remy sylado.MOJOK.CO

Mendobrak Fiksi Sejarah Jawa-sentris lewat Inani Keke dan Trabar Batalla, Harta Karun yang Sempat dianggap “Budaya Rendah”

15 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.