Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Menemukan Ketenangan di Kos Rp500 Ribu Kawasan Pogung, Lebih Nyaman Ketimbang Kos LV Babarsari yang Tak Cocok Buat Mahasiswa Alim

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
12 Februari 2026
A A
kos jogja, pogung, babarsari, kos murah.MOJOK.CO

Ilustrasi - Kos murah di Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi mahasiswa perantau di Jogja, memilih kos-kosan bukan cuma soal mencari tempat tidur. Di Jogja, lokasi kos seringkali menentukan bagaimana caramu menghabiskan malam, dengan siapa kamu bergaul, dan seberapa tenang hidupmu sebagai mahasiswa.

Lian (22), misalnya, seorang mahasiswa UNY angkatan 2022, punya pengalaman yang cukup kontras soal ini. Dalam tiga setengah tahun masa kuliahnya, ia sudah mencicipi dua kutub kehidupan kos yang sangat berbeda: kemewahan yang bebas di Babarsari dan kesederhanaan yang tenang di Pogung.

Iklan

Tergiur label “bebas” di Babarsari

Cerita dimulai pada tahun 2022. Sebagai mahasiswa baru yang sedang semangat-semangatnya mengeksplorasi dunia kampus, Lian tergiur dengan cerita kakak tingkatnya tentang kawasan Babarsari. Di sana, ada sebuah kos berlabel “LV” alias free atau bebas.

Bagi Lian yang saat itu ingin merasakan hidup mandiri tanpa aturan yang mengekang, kos ini terdengar seperti surga. Ia pun menyewa satu kamar dengan harga Rp1,2 juta per bulan. Fasilitasnya tergolong mewah untuk ukuran kantong mahasiswa: kamar mandi dalam, kasur empuk, lemari besar, dan AC yang membuat udara Jogja yang panas jadi tak terasa.

“Dulu alasannya sederhana, pengin bebas saja. Katanya di situ nggak ada jam malam, nggak ada bapak kos yang tinggal bareng, dan bisa bawa teman siapa saja tanpa dipelototi tetangga,” kenang Lian, Rabu (11/2/2026).

Namun, bayangan indah itu cuma bertahan enam bulan. Lian, yang dasarnya mengaku “anak baik-baik saja” dan cukup taat beribadah, mulai merasa ada yang salah dengan pilihannya. Kebebasan di Babarsari ternyata punya sisi gelap yang tidak ia bayangkan sebelumnya.

Sisi lain kos di “Gotham City”

Babarsari memang punya julukan “Gotham City” di kalangan mahasiswa Jogja. Julukan ini muncul bukan tanpa alasan. Kawasan ini dikenal “keras” dengan tingkat kriminalitas dan keributan yang cukup tinggi. Bagi Lian, masalahnya bukan pada keributan di jalan raya, tapi justru di dalam lingkungan kosnya sendiri.

Karena sifatnya yang bebas, tetangga kos Lian sering membawa teman-teman mereka untuk berpesta.

“Masalahnya bukan mereka mabuk secara diam-diam. Tapi sering banget mereka teriak-teriak sampai jam tiga pagi. Saya yang butuh istirahat buat kuliah jam tujuh pagi jadi sering begadang karena terganggu,” kata Lian.

Kekacauan itu tidak berhenti di suara bising. Lian bercerita betapa risihnya dia ketika menemukan bekas alat kontrasepsi dibuang sembarangan di tempat sampah depan kamarnya. 

Belum lagi urusan jemuran. Karena jemuran digunakan bersama, Lian sering merasa canggung ketika harus menjemur baju di samping pakaian dalam perempuan milik tamu-tamu penghuni kos yang menginap berhari-hari.

Puncaknya adalah saat orang tua Lian datang menjenguk. Tanpa sengaja, orang tuanya melihat pemandangan yang dianggap tak pantas di lingkungan kos tersebut. 

“Waktu itu orang tua langsung menganggap saya sudah ikut pergaulan bebas. Padahal saya cuma tinggal di sana, nggak ikut-ikutan. Semua penjelasan saya nggak mempan, dan hari itu juga saya disuruh cari kos lain,” akunya.

Memutuskan pindah ke kawasan “labirin” Pogung

Tahun 2023, atas rekomendasi teman di UKM, Lian pindah ke kawasan Pogung. Pogung adalah wilayah yang sangat unik. Terletak di dekat kampus UGM, daerah ini terkenal sebagai “labirin” karena jalannya yang bercabang-cabang dan banyak portal yang ditutup saat malam hari. 

Mahasiswa baru atau ojek online sering kali nyasar di sini jika tidak teliti melihat maps.

Namun, di balik kerumitan jalannya, Pogung menawarkan atmosfer yang jauh berbeda dengan Babarsari. Lian menemukan sebuah kos sederhana dengan harga hanya Rp500 ribu per bulan. Kalau dibayar tahunan, harganya cuma Rp5 juta. Sangat murah, tapi fasilitasnya tentu jauh di bawah kos lamanya.

Kamar Lian sekarang hanya berukuran 2×3 meter. Isinya kosong melompong saat pertama ia datang. Tak ada AC, hanya ada satu lubang ventilasi kecil dan kipas angin yang ia beli sendiri. Kamar mandinya pun harus berbagi dengan penghuni lain.

Baca halaman selanjutnya…

Iklan

Menemukan ketenangan di kos 2×3 meter. Sederhana, tapi lingkungan nggak rese.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 13 Februari 2026 oleh

Tags: anak kosBabarsarikosKos BebasKos LVkos lv babarsarikos murahkos murah jogjaMahasiswa Jogjapilihan redaksiPogung
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026
Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

13 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa MOJOK.CO

Bakpia Jogja Memang Oleh-oleh Biasa dan Gitu-gitu Aja, Tapi Sangat Berharga buat Orang di Desa

22 Agustus 2026
Jangan remehkan antrean Stasiun Lempuyangan, Jogja, di jam pagi untuk keberangkatan Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung MOJOK.CO

Antrean Pagi Stasiun Lempuyangan Jogja Selalu “Keos” dan Bikin Tegang, Datang Lebih Awal Tak Jadi Solusi

21 Agustus 2026
tol Jogja-Solo

Tol Jogja-Solo: Rumah Tak Kena Pembebasan Lahan, Tapi Tetap Kena Debu dan Bising

22 Agustus 2026
Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya MOJOK.CO

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya

23 Agustus 2026
Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026
Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.