Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Menikah dengan Pasangan yang Keluarganya Terlilit Utang Bikin Serba Salah: Terlalu Cinta untuk Ditinggal, tapi Bikin Menderita Kalau Bertahan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
8 Mei 2026
A A
menikah dengan keluarga pasangan yang terlilit utang.MOJOK.CO

ilustrasi - menikah. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ada sebuah petuah yang belum lama ini saya dengar: “Jangan pernah menikahi seseorang yang keluarganya sedang dililit utang. Nanti hidupmu bakalan susah.”

Sekilas, kalimat itu terdengar materialistis dan kejam. Bukankah cinta harusnya menerima pasangan apa adanya? Namun, ketika realitas kehidupan setelah menikah menghantam, petuah tadi rupanya menjadi sebuah kebenaran, meskipun rasanya sangat pahit.

Menikah dengan orang green flag, tapi keluarganyared flag

Hal ini, salah satunya dialami Nisa (28), seorang karyawan swasta yang bekerja di Sleman. Nisa menikah tiga tahun lalu. Suaminya adalah laki-laki yang diidamkan banyak perempuan: pekerja keras, setia, dan tidak macam-macam. 

Sayangnya, suami Nisa punya satu “kelemahan”. Ia adalah tipe anak penurut yang tidak berani memutus rantai masalah keluarganya.

“Bahasa kasarnya, anak mami kali ya,” ujarnya, Kamis (7/5/2026) malam.

Saat pacaran, Nisa tahu keluarga suaminya bukan orang berada dan punya utang bekas modal usaha. Sang suami selalu menenangkan, bilang kalau utang itu sedikit dan nanti bisa dicicil pelan-pelan. 

Nisa yang saat itu dimabuk cinta tentu saja percaya. Ia berpikir, toh, suaminya pekerja keras, urusan uang pasti bisa dibereskan.

Tabungan dan gaji ludes buat membayar utang

Namun, begitu resmi menikah, kenyataan pahit harus ia rasakan. Utang keluarga sang suami ternyata bukan sekadar utang bank biasa. Ada jeratan pinjaman online (pinjol), utang rentenir, hingga sertifikat rumah mertua yang terancam disita. 

Gaji suami Nisa yang seharusnya dipakai untuk membangun rumah tangga mereka berdua, setiap bulannya langsung amblas hingga tujuh puluh persen hanya untuk menambal utang mertuanya itu.

Hingga menginjak tahun ketiga pernikahan, Nisa dan suaminya masih menempati rumah kontrakan kecil. Jangankan merencanakan punya anak, tabungan mereka saja nyaris tidak pernah ada.

“Keluarga terus mendesak buat cepat dapat momongan. Masalahnya, punya anak in this economy sama aja bunuh diri,” tegasnya.

Keluarga pasangan yang punya hutang, kita yang menderita 

Mendengar cerita Nisa, saya langsung teringat obrolan dengan seorang teman di desa. Teman saya ini punya kakak perempuan yang nasibnya persis seperti Nisa. 

Kakaknya menikah dengan pria baik, tapi keluarganya punya tumpukan utang yang tak kunjung lunas. Setiap kali pulang ke rumah, teman saya ini selalu mengeluh dan menangis. 

Pendapatan suami kakaknya selalu habis disedot oleh keluarga pihak laki-laki. Mau marah, tapi itu “keluarga” sendiri. Mau diam, tapi hidup kakaknya serba pas-pasan dan tidak maju-maju. 

Iklan

Mendengar itu, saya jadi paham. Ternyata, kisah yang dialami Nisa bukanlah sekadar nasib sial satu atau dua orang saja. Fenomena menantu yang dihisap secara finansial oleh keluarga pasangannya ini terjadi di mana-mana.

Tabungan ludes, mimpi dan harapan terbunuh

Ada satu kejadian yang membuat mental Nisa benar-benar jatuh. Selama dua tahun pertama menikah, Nisa dan suaminya sudah sepakat hidup super hemat. 

Nisa tidak pernah lagi membeli baju baru, selalu membawa bekal makan siang ke kantor, dan menahan diri dari segala bentuk hiburan luar.

“Tujuannya biar bisa nabung. Merencanakan masa depan. Syukur-syukur bisa DP rumah subsidi di kota,” ujarnya.

Sialnya, suatu malam, impian itu sirna. Nisa bercerita, ibu mertuanya baru saja menelepon sang suami sambil menangis histeris karena rumahnya diancam oleh rentenir yang menagih utang dengan kasar.

Malam itu, suaminya duduk lemas, bahkan sampai memohon kepada Nisa. Ia meminta izin untuk memakai uang tabungan DP rumah tersebut. Suaminya berjanji uang itu hanya dipakai “sementara” untuk menyelamatkan ibunya dari kejaran rentenir.

“Jujur aku hancur, lemes. Hancur karena sakit hati, hancur juga karena lihat suami nangis.”

Ketika kita sambat, malah dianggap umbar aib keluarga

Nisa pun menyadari satu kenyataan. Selama ia masih menjadi menantu di keluarga itu, masa depannya akan selalu dikorbankan demi membayar masa lalu keluarga suaminya. Haknya untuk punya rumah sendiri, bakalan terus diletakkan di urutan paling bawah.

Rasa putus asa yang dirasakan Nisa ini sebenarnya banyak dipendam oleh istri atau menantu di luar sana. Sayangnya, ketika mereka sudah tidak kuat dan mencoba mencari ruang untuk bernapas, masyarakat kita justru sering kali menjadi “hakim” yang tak punya empati.

Misalnya, beberapa waktu lalu, di Facebook, ada seorang istri yang akhirnya tak tahan dan menceritakan penderitaannya. Ia curhat kehidupannya yang hancur karena uang keluarganya selalu terkuras untuk membayar utang mertua.

Alih-alih mendapat dukungan moral, kolom komentar unggahan tersebut justru berubah menjadi tempat penghakiman. Banyak netizen yang mencelanya dengan kalimat-kalimat pedas. 

Si istri dituduh sebagai perempuan yang tidak tahu diuntung. Ia dicap pelit kepada orang tua. Dan yang paling menyesakkan, banyak yang menghujatnya karena dianggap telah “mengumbar aib keluarga” ke ruang publik.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Pertemanan di Usia 30 Memuakkan: Transaksional dan Isinya Cuma Adu Nasib, tapi Paling Mengajarkan Arti Ketulusan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 8 Mei 2026 oleh

Tags: keluargakeluarga red flagmenikahpilihan redaksipinjaman onlinePINJOLsuami green flagsuami terlilit utangterlilit utangtradisi pernikahanutang
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Tidak memberi utang saat teman pinjam uang selalu dicap jahat dan dijauhi dari pertemanan MOJOK.CO
Sehari-hari

Pertemanan Memuakkan: Tak Beri Utang Teman Dijauhi dan Dicap Jahat, Berteman Cuma Diperalat Jadi Dana Darurat

8 Mei 2026
Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin MOJOK.CO
Esai

Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin

8 Mei 2026
pertemanan di usia 30.MOJOK.CO
Sehari-hari

Pertemanan di Usia 30 Memuakkan: Transaksional dan Isinya Cuma Adu Nasib, tapi Paling Mengajarkan Arti Ketulusan

7 Mei 2026
Kos dekat kampus lebih baik bagi mahasiswa
Sehari-hari

4 Tipe Teman yang Sebaiknya Dilarang Menginap di Kos Kita: dari yang Cuma “Modal Nyawa”, hingga Teman Jorok tapi Tak Sadar Kalau Dia Jorok

6 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Ciri Orang Toxic yang Wajib di-Cut Off: Teman Manipulatif dan Bodo Amat dengan Kondisi Kita MOJOK.CO

5 Ciri Orang Toxic yang Wajib di-Cut Off: Teman Manipulatif dan Bodo Amat dengan Kondisi Kita

6 Mei 2026
Tidak memberi utang saat teman pinjam uang selalu dicap jahat dan dijauhi dari pertemanan MOJOK.CO

Pertemanan Memuakkan: Tak Beri Utang Teman Dijauhi dan Dicap Jahat, Berteman Cuma Diperalat Jadi Dana Darurat

8 Mei 2026
Muhammad Rizky Perwira Zain, lulusan termuda S2 UGM kantongi gelar S2 Kesehatan Masyarakat dan S1 Kedokteran sebelum usia 25 tahun

Cerita Lulusan Termuda S2 UGM, Berhasil Kantongi Gelar Sarjana Kedokteran dan Kesmas sebelum Usia 25 Tahun

1 Mei 2026
Mayday 2026: Buruh tuntut 8 poin. MOJOK.CO

8 Tuntutan “Jujur” Buruh di Mayday 2026: Ciptakan Lapangan Kerja, Kendalikan Dampak AI, hingga Lindungi Pekerja Platform Digital

2 Mei 2026
Semester 5 kuliah: Masa paling overthinking kepikiran ortu dan masa depan, percuma cari pelarian MOJOK.CO

Semester 5 Kuliah: Masa paling Overthinking bagi Mahasiswa karena Kepikiran Ortu dan Masa Depan, Percuma Cari Pelarian

5 Mei 2026
Petani di Delanggu, Klaten maju berkat sistem permakultur. MOJOK.CO

Belajar Bertani dari Dasar, Akhirnya Hidupkan Ketahanan Pangan dari Lahan Kosong di Delanggu Klaten

6 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.