Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Kawasan Setiabudi Strategis buat Ngekos, tapi Menyimpan Masalah yang Menyiksa Perantau Gen Z Jakarta

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
7 Juli 2026
A A
Setiabudi Jakarta Selatan, Work Life Balance.MOJOK.CO

Ilustrasi - Kerja Jakarta Selatan (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kawasan Setiabudi memang strategis. Akses ke mana-mana dekat. Namun, daerah ini bikin para Gen Z Jakarta menangis.

***

Iklan

Kawasan “segitiga emas” Jakarta selalu menampilkan dua wajah yang bertolak belakang. Di bagian depan, deretan gedung pencakar langit megah berdiri kokoh di sepanjang Jalan Sudirman hingga HR Rasuna Said. 

Namun, cukup berjalan kaki beberapa ratus meter ke lorong-lorong di belakangnya, wajah itu berubah menjadi permukiman padat penduduk dengan jalan yang hanya muat dilewati satu sepeda motor.

Kawasan seperti Karet Kuningan dan Setiabudi di Jakarta Selatan ini menjadi magnet utama bagi para perantau muda, terutama Generasi Z yang baru merintis karier dengan gaji pas-pasan. Alasan mereka sederhana: tinggal di sini berarti bisa berjalan kaki menuju kantor dan terbebas dari siksaan kemacetan ibu kota.

Sekilas, keputusan ini terdengar seperti jalan keluar yang ideal. Namun, tinggal di permukiman padat yang menempel dengan pusat bisnis ternyata memiliki harga yang harus dibayar mahal. Alih-alih hidup nyaman, kawasan ini justru menghadirkan masalah besar yang perlahan menguras fisik, mental, dan isi dompet para perantau muda.

Kamar tanpa jendela dan terganggunya jam tidur

Demi mendapatkan harga sewa yang sesuai dengan standard gaji pegawai tingkat pemula, para perantau di Setiabudi harus menekan standard kelayakan tempat tinggal mereka hingga ke titik terendah. 

Banyak rumah warga yang dirombak total menjadi puluhan kamar berukuran sangat kecil. Hasilnya, mayoritas kamar kos murah di kawasan ini tidak memiliki sirkulasi udara yang baik dan tidak memiliki jendela yang menghadap ke luar ruangan.

Realitas ini, salah satunya dirasakan langsung oleh Arka (24), seorang karyawan swasta di kawasan Kuningan. Raka menceritakan bagaimana kamar kos berukuran dua kali tiga meter yang ia tempati selama setahun terakhir, mulai berdampak buruk pada kondisi psikologisnya.

“Kamar saya letaknya di tengah lorong. Tidak ada jendela, cuma ada ventilasi kecil yang menghadap ke lorong dalam,” ungkapnya, Senin (6/7/2026).

“Kalau lampu dimatikan, kamar akan gelap gulita meskipun di luar sedang matahari terik. Lama-lama saya merasa sumpek dan sering pusing karena tidak tahu ini sudah pagi atau masih malam,” imbuhnya..

Keluhan Raka bukanlah omon-omon. Dalam ilmu kesehatan, kondisi ini erat kaitannya dengan sick building syndrome (SBS). Banyak ahli kesehatan sepakat bahwa ruangan tanpa akses cahaya alami dapat mengacaukan ritme sirkadian atau jam biologis tubuh manusia. 

Iklan

Terputusnya paparan sinar matahari secara terus-menerus terbukti menurunkan kualitas tidur, memicu kelelahan kronis, hingga meningkatkan risiko depresi bagi penghuninya. Bagi pekerja muda yang setiap hari menghadapi tekanan pekerjaan tinggi, pulang ke kamar tanpa cahaya ibarat masuk ke dalam ruang isolasi.

“Kalau ada teman menginap, kadang mereka juga ngeluhin hal yang sama.”

Setiabudi kalau musim hujan, wassalam!

Masalah kedua yang harus dihadapi Gen Z di Setiabudi adalah kondisi lingkungan yang jauh dari kata ideal. Jarak antar bangunan di kawasan ini sangat rapat sehingga sinar matahari jarang menyentuh dasar jalan. 

Kondisi ini membuat gang-gang kos selalu terasa lembap sepanjang waktu.

Arka menambahkan, masalah ini semakin parah ketika musim hujan tiba. Sistem drainase atau selokan di pemukiman padat sering kali tidak mampu menampung debit air.

“Gang di depan kos saya itu sangat sempit. Selokannya kecil dan tertutup beton jalan. Kalau hujan deras lebih dari satu jam saja, air got pasti meluap ke jalanan gang, bahkan kadang masuk ke lorong kos bawah,” ungkapnya. 

Awal tahun ini, saya berkesempatan berkeliling kawasan Setiabudi untuk menemui seorang kawan. Saat itu, kebetulan daerah yang saya kunjungi baru saja diguyur hujan. Meskipun tak terlalu lebat, genangan air ada di mana-mana yang bikin driver ojol yang saya tumpangi berkali-kali mengumpat.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), kawasan Karet dan Setiabudi memiliki tingkat kepadatan penduduk yang sangat tinggi, mencapai puluhan ribu jiwa per kilometer persegi. Padatnya hunian ini tidak sejalan dengan perbaikan fasilitas sanitasi publik. 

Akibatnya, perantau yang ngekos di kawasan ini harus hidup berdampingan dengan risiko penyakit menular, masalah pernapasan akibat udara yang lembap, dan ancaman genangan air kotor.

“Belum lagi masalah tikus yang sering lewat di plafon atau kabel listrik yang menjuntai rendah,” keluh Arka.

Harga-harga elite, bikin kantong tercekik

Jika Arka menyoroti masalah ruang dan lingkungan, Dita (25) membeberkan masalah yang tidak kalah menyiksa: biaya hidup harian. Bekerja sebagai staf administrasi di Jalan Sudirman, Dita awalnya mengira tinggal di Karet Kuningan akan membuatnya bisa menghemat banyak uang. 

Kenyataannya, kawasan ini menyimpan biaya hidup mencekik, yang kadang tak terlihat.

Status Setiabudi sebagai kawasan elite membuat harga kebutuhan pokok di sekitarnya ikut merangkak naik. Para pemilik warung makan, laundry, hingga pedagang kelontong menyadari bahwa pelanggan mereka adalah para pekerja kantoran.

“Makan di warteg daerah Setiabudi itu harganya beda jauh dengan warteg di pinggiran Jakarta. Pesan nasi, telur, dan sayur saja harganya bisa menyentuh dua puluh lima ribu,” ungkapnya. 

“Harga laundry kiloan juga jauh di atas rata-rata. Kita kira bisa hemat karena tidak keluar ongkos transportasi, tapi ternyata uangnya habis tersedot untuk biaya makan sehari-hari,” tutur Dita.

Melambungnya harga makanan ini merupakan dampak langsung dari mahalnya harga tanah dan nilai sewa lahan komersial di pusat kota. Pemilik warung atau lapak kaki lima di sekitar Segitiga Emas harus membebankan biaya operasional mereka yang tinggi ke dalam harga jual makanan. Pada akhirnya, para pekerja muda bergaji pas-pasan seperti Dita yang harus menanggung beban inflasi lokal tersebut.

Bagi para perantau Gen Z, bertahan di Setiabudi pada akhirnya adalah sebuah kompromi hidup yang keras. Kawasan ini memang menawarkan efisiensi waktu, tetapi menuntut pengorbanan di aspek lain yang tidak kalah berharga.

“Hidup di Jakarta udah kayak zero sum game. Kalau mau dapat ini, harus mengorbankan itu. Kalau mau enak, harus mengorbankan kenyamanan yang lain,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Punya Kos Murah di Kebayoran Baru adalah Kemewahan, Biar Berisik tapi Setidaknya Menyelesaikan 3 Masalah Besar Perantau di Jakarta atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 7 Juli 2026 oleh

Tags: jakarta selatanJakselpilihan redaksiSegitigas Emas JakartasetiabudiSetiabudi JakartaSetiabudi Jakarta Selatan
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

13 Agustus 2026
Mahasiswa baru (maba) rela jadi jongos abang-abangan kampus di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tidak pernah menyesalinya MOJOK.CO

Maba Rela Jadi Jongos Abang-abangan Kampus demi Relasi dan Diskusi Kiri Apa Salahnya? Tak Malu dan Tak Menyesalinya

13 Agustus 2026
Pegawai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih pinggir kuburan harus dibekali dengan keahlian supranatural hingga ilmu sosial MOJOK.CO

Keahlian-keahlian Vital untuk Pegawai Kopdes Pinggir Kuburan, Berguna buat Diri Sendiri dan Pembeli

13 Agustus 2026
Slow living, Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Tanpa Punya Rumah di Desa Tetap Bisa Slow Living Asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

12 Agustus 2026
ngaji al-qur'an.MOJOK.CO

Promosi Miras Pakai Hafalan Al-Qur’an: Diklaim Lecehkan Agama, Berpotensi Mengulang Blunder Hollywings 

11 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Fenomena sarjana jadi pengangguran karena ijazah kuliah memang bulan modal ekonomi dan persoalan ketimpangan kapital MOJOK.CO

Bedah Penyebab Sarjana Pengangguran: Ijazah Kuliah Tak Bisa Jadi Modal Ekonomi, Dapat Kerja Ditentukan Privilege Keluarga

15 Agustus 2026
Tinggal di Belanda 21 tahun, akhirnya menyerah jadi WNI dengan jalur naturalisasi kewarganegaraan. MOJOK.CO

Menyesal Jadi WNI Setelah 21 Tahun Tinggal di Belanda, Ternyata Pindah Kewarganegaraan Itu Mudah

14 Agustus 2026
Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Modal 2 juta bisa untung cepat dari usaha rumahan cuci sepatu MOJOK.CO

Modal 2 juta bisa untung cepat dari usaha rumahan cuci sepatu

11 Agustus 2026
Apem ya qowiyyu: kue apem khas Jatinom Klaten berusia 400 tahun. Bukan sekadar warisan kuliner tradisional tapi simbol kesalehan sosial MOJOK.CO

Apem Ya Qowiyyu: Kue Khas Jatinom Klaten Berusia 400 Tahun, Bukan Semata Warisan Kuliner tapi Kesalehan Sosial

10 Agustus 2026
Mending Beli Rumah di Menganti, Surabaya Pinggiran daripada Sidoarjo. MOJOK.CO

Alasan Pasangan Muda Beli Rumah di Surabaya Pinggiran daripada Sidoarjo: Kena Imbas Pembangunan Perkotaan

12 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.