Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Karet Tengsin, Gang Sempit di Antara Gedung Perkantoran Jakarta yang Menjadi Penyelamat Kantong Para Pekerja Ibu Kota

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
3 Februari 2026
A A
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

ilustrasi - tinggal di Jakarta (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jakarta adalah kota yang ironis. Ia memiliki dua wajah yang sangat kontras, meski anehnya, kedua wajah ini seringkali hidup berdampingan, hanya dipisahkan oleh satu lapis tembok atau selebar jalan aspal. Fenomena, salah satunya, terlihat jelas di sebuah kawasan yang belum lama ini saya sambangi: Karet Tengsin. 

Di sana, tepat di balik megahnya gedung-gedung pencakar langit kawasan elite Sudirman, terdapat sebuah “dunia lain” yang berdenyut kencang di dalam gang-gang sempit ibu kota.

Karet Tengsin sendiri merupakan sebuah kelurahan di wilayah Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Wilayah ini cukup ikonik bagi warga Jakarta, salah satunya karena keberadaan TPU Karet Bivak yang menjadi peristirahatan terakhir banyak tokoh bangsa. 

Saat ini, Karet Tengsin tengah bersolek melalui penataan kawasan yang gencar, mulai dari penghijauan lingkungan hingga perapihan kabel-kabel udara yang selama ini semrawut. Namun, di balik modernitas yang mencoba masuk, akar sejarahnya tetap terjaga. 

Nama “Tengsin” sendiri konon diambil dari sosok tokoh Tionghoa kaya yang dikenal sangat dermawan, Tan Tieng Shin, yang dahulu merupakan pemilik lahan luas di daerah tersebut.

Gang-gang kecil yang “terselip” di antara gedung-gedung tinggi

Memasuki gang-gang di Karet Tengsin, Jakarta Pusat, adalah sebuah pengalaman yang unik. Kita akan menemukan lorong-lorong yang lebarnya mungkin hanya sekitar dua meter. Jika dicoba diukur, lebarnya bahkan tidak memungkinkan untuk dilintasi oleh sebuah mobil pribadi. 

Meski secara fisik terasa terhimpit oleh “beton raksasa” berupa gedung perkantoran dan apartemen mewah, suasana di dalam kampung ini jauh dari kesan mati.

Sebaliknya, kehidupan di sini sangatlah riuh dan hangat. Bahkan, bagi masyarakat setempat, gang sempit ini bukan sekadar jalan tikus, melainkan urat nadi ekonomi yang menghidupi dapur mereka sehari-hari.

Perjalanan saya ke jantung Karet Tengsin dimulai pada suatu malam ketika seorang kawan mengundang saya ke kediamannya di kawasan Jalan K.H. Mas Mansyur, Jumat (23/1/2026) malam. Posisi saya saat itu berada di Senayan, dan saya memutuskan untuk memesan ojek online. 

Kepada sang driver, saya melontarkan permintaan yang agak tidak biasa: saya meminta agar kami tidak melewati jalan protokol utama. “Terlalu biasa, Bang. Saya ingin lewat gang-gang sempit saja, tidak apa-apa kalau perjalanannya jadi sedikit lebih lama,” ujar saya.

Sang driver tersenyum dan memberikan rekomendasi. “Lewat Karet saja kalau begitu, Bang. Nanti tembusnya di Masjid Jami (Al-I’tisham).” Karena saya tidak terlalu hafal medan, saya langsung mengiyakan usul tersebut.

Ramah tamah warga Karet Tengsin di tengah banjir

Setelah melintasi Jalan Sudirman yang penuh gemerlap gedung-gedung tinggi, sepeda motor dibelokkan ke kiri menuju sebuah jalan kecil. Jalan Karet Pasar Baru III, namanya. Seketika, suasana berubah drastis. 

Saya dibawa melintasi gang sempit yang hanya cukup untuk dua sepeda motor berpapasan. Menariknya, posisi gang ini benar-benar menempel dengan tembok-tembok gedung perkantoran Sudirman. 

Di sisi utara tembok, ritme kehidupan perkantoran berjalan sangat cepat dan formal. Sementara di sisi selatan tembok, kehidupan mengalir lebih lambat.

Iklan

Keadaan malam itu cukup menantang karena Jakarta baru saja diguyur hujan lebat. Gang-gang sempit di Karet Tengsin tak luput dari banjir. Genangan air setinggi mata kaki hingga betis orang dewasa terlihat di beberapa titik. 

Namun, di tengah kondisi yang kurang ideal tersebut, saya justru menyaksikan sisi lain yang mata manusiawi. Warga tidak mengeluh. Mereka justru duduk santai di teras, mengobrol dengan tetangga, seolah melihat banjir sebagai hal yang biasa-biasa saja.

Yang membuat saya terenyuh adalah aksi para pemuda setempat. Mereka berdiri di tengah genangan air, mengatur lalu lintas motor agar para pengendara tidak terjebak lubang. 

“Bang, hati-hati ya, di sebelah sini ada lubang agak dalam,” teriak mereka dengan ramah. 

Meskipun air mulai merembes masuk ke dalam rumah mereka sendiri, mereka masih sempat memikirkan keselamatan orang asing yang melintas. Inilah potret nyata keramahan warga Karet Tengsin. Di tengah keterbatasan ruang dan stigma kerasnya Jakarta, mereka tetap menyisakan ruang untuk saling peduli.

Karet Tengsin jadi jujugan favorit para pekerja kantoran

Banyak orang mungkin beranggapan bahwa warga di kampung-kampung seperti Karet Tengsin adalah pihak yang “kalah” oleh pembangunan. Namun, jika kita melihat lebih dekat, terdapat hubungan saling membutuhkan yang sangat kuat antara warga kampung dengan para pekerja berdasi di gedung-gedung tinggi tersebut. 

Gedung-gedung itu menyediakan pelanggan. Sementara warga kampung menyediakan jasa murah meriah yang dicari para pegawai.

Saya sendiri memutuskan turun di dekat Masjid Jami’ Al-I’tisham yang berada di ujung gang tersebut. Di sana, saya melipir ke sebuah warung makan yang dijaga Yatmi. Ia bercerita bahwa Karet Tengsin jadi “jujugan” bagi para pekerja kantoran di Sudirman.

Salah satu komoditas yang paling dicari adalah lahan parkir. Karena tarif parkir di basement gedung bisa sangat mahal, warga menyulap lahan sempit di samping rumah mereka menjadi tempat penitipan motor.

“Di sini parkir seharian cuma sepuluh ribu. Jauh lebih hemat buat mereka daripada parkir di dalam kantor,” ungkap Yatmi. 

Tak hanya parkir, warung makan miliknya juga menjadi penyelamat bagi kantong para pegawai saat jam makan siang. Alhasil, keberadaan gedung-gedung mewah itu justru menjadi penopang ekonomi bagi warga seperti dirinya. 

“Kalau nggak ada orang kantor itu, mungkin warung saya sepi,” tambahnya.

Tempatnya kos murah di Sudirman

Selain urusan perut dan kendaraan, Karet Tengsin juga menawarkan solusi bagi salah satu masalah terbesar di Jakarta: tempat tinggal. Di gang-gang ini, jasa kamar kos sangat menjamur. Saudara Ibu Yatmi sendiri mengelola lebih dari sepuluh kamar kos yang semuanya terisi penuh oleh pekerja kantoran.

Harga yang ditawarkan berkisar antara Rp700 ribu hingga Rp900 ribu per bulan. Angka ini tentu sangat terjangkau dibandingkan menyewa apartemen di kawasan yang sama. 

Meskipun fasilitasnya sederhana, bagi banyak pekerja, ini adalah pilihan terbaik untuk tetap bisa bertahan hidup di tengah kota yang biaya hidupnya setinggi langit. Karet Tengsin memberikan ruang bagi mereka yang berjuang meniti karier tanpa harus tercekik biaya hunian.

Perjalanan malam itu memberikan perspektif baru bagi saya. Saya menyadari, bahwa Jakarta tidak hanya dibangun oleh baja dan kaca. Jakarta, juga dibangun oleh ketangguhan orang-orang yang hidup di baliknya.

Malam itu, sepulangnya saya dari Tanah Abang, driver ojek online tidak melewatkan saya di Karet Tengsin, rute yang tadi saya ambil ketika berangkat. Driver mengajak saya melintas rute utama Jalan Sudirman yang menawarkan kemegahan dan pemandangan gedung-gedung tinggi. Namun, saya juga tahu, di balik gedung-gedung tinggi itu, ada kehidupan lain yang menggeliat.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Kemang, Saksi Bisu Kepura-puraan Perantau Jawa: Rela Ngomong “Lu-Gue” hingga Paksa Selera Musik demi Bisa Bergaul di Jaksel atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 3 Februari 2026 oleh

Tags: dki jakartagang di jakartajakartajakarta pusatkaret tengsinsudirmanurban
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

kebayoran baru, jakarta selatan, jakarta.MOJOK.CO
Urban

Punya Kos Murah di Kebayoran Baru adalah Kemewahan, Biar Berisik tapi Setidaknya Menyelesaikan 3 Masalah Besar Perantau di Jakarta

3 Juli 2026
Naik BYD Menyusuri Jalanan Jakarta Bikin Saya Jadi Kampungan MOJOK.CO
Otomojok

Pengalaman Menahan Rasa Penasaran di Dalam Kabin Mewah BYD demi Tidak Terlihat Kampungan ketika Menyusuri Jalanan Jakarta

30 Juni 2026
Nasib desainer grafis di desa kabupaten: jasa desain logi dianggap gratisan, pindah Jakarta kaget ternyata cuannya menjanjikan MOJOK.CO
Sehari-hari

Jasa Desain Logo di Desa Kabupaten Dianggap Sepele hingga Jadi Gratisan, Pindah Jakarta Kaget 1 Logo Cuannya Menjanjikan

23 Juni 2026
Kerja di Jakarta, Cara Terbaik Buat Melihat Sisi Buruk Manusia adalah Kerja di F&B.mojok.co
Urban

FnB di Jakarta Bikin Sengsara Pekerjanya: Bisnis Elite tapi Gaji Karyawannya Seuprit, yang Dimiliki Artis bahkan Lebih Tak Manusiawi

2 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit MOJOK.CO

Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit

13 Juli 2026
Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan MOJOK.CO

Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan

14 Juli 2026
SSB MAS merawat bibit-bibit muda sepak bola Kota Jogja meski dari Lapangan Minggiran yang tidak rata MOJOK.CO

SSB Tertua di Kota Jogja Merawat Bibit-bibit Muda Meski dari Lapangan Bola Tidak Rata

11 Juli 2026
Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.