Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Kemang, Saksi Bisu Kepura-puraan Perantau Jawa: Rela Ngomong “Lu-Gue” hingga Paksa Selera Musik demi Bisa Bergaul di Jaksel

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
6 Januari 2026
A A
Kemang, Saksi Bisu Kepura-puraan Perantau Jawa: Rela Ngomong “Lu-Gue” hingga Paksa Selera Musik demi Bisa Bergaul di Jaksel MOJOK.CO

Ilustrasi Kemang, Saksi Bisu Kepura-puraan Perantau Jawa: Rela Ngomong “Lu-Gue” hingga Paksa Selera Musik demi Bisa Bergaul di Jaksel (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kemang menjadi saksi bisu kepura-puraan perantau asal Jawa. Mereka rela “memakai topeng”, menyembunyikan identitas; dari harus terbiasa ngomong “lu-gue” hingga memaksakan selera musik demi bisa bergaul di Jakarta Selatan (Jaksel).

***

Iklan

Jakarta Selatan bukan sekadar wilayah administratif. Bagi sebagian orang, ia adalah sebuah simbol. Ya, simbol dari segala sesuatu yang dianggap “keren” dan “mapan” di ibu kota.

Di antara deretan distrik yang menawarkan mimpi-mimpi metropolitan, Kemang berdiri sebagai salah satu episentrumnya. Sebab, kawasan ini tak pernah benar-benar tidur. 

Deretan lokasi hiburan, kafe estetik, hingga bar yang memutar musik indie, menjadi magnet bagi mereka yang ingin menasbihkan diri sebagai bagian dari kaum urban Jakarta.

Di sanalah “anak skena”, sebutan populer bagi anak muda dengan gaya hidup dan selera musik tertentu, membanjiri trotoar dan ruang-ruang publik. Namun, di balik riuhnya Kemang, terselip sebuah ironi yang sunyi. 

Ada kepura-puraan yang dipelihara dengan rapi. Sandiwara identitas dimainkan oleh para perantau yang takut dianggap berbeda.

Ironi yang dialami “anak ngapak” di Kemang

Isa (26), bukan nama sebenarnya, adalah satu dari sekian banyak wajah yang mencoba lebur dalam hingar-bingar Kemang. Sekilas, tidak ada yang berbeda dari penampilannya. Kemeja flanel kebesaran, t-shirt band indie, sepatu boots kulit, dan rokok yang terselip di jari, membuatnya tampak seperti prototipe pemuda Jakarta Selatan pada umumnya. 

Isa sendiri bekerja di sebuah agensi kreatif, sebuah sektor yang memang tumbuh subur di kawasan ini. Ia merantau ke Jakarta pada tahun 2022, setelah lulus dari salah satu kampus swasta di Jogja.

Namun, Isa menyimpan sebuah “rahasia” yang sempat ia jaga ketat, seolah itu adalah aib yang bisa meruntuhkan reputasinya. Isa berasal dari Kebumen, sebuah wilayah di Jawa Tengah yang kental dengan logat “ngapak”.

Bagi telinga Jakarta yang terbiasa dengan dialek Betawi atau gaya bicara “lu-gue” yang santai, logat ngapak sering kali terdengar asing, bahkan jenaka. Di sinilah letak ketakutan terbesar Isa. 

Menurut pengalaman yang sudah-sudah, baik dari obrolan yang riuh di media sosial maupun kejadian yang ia saksikan dengan mata kepala sendiri, stigma terhadap orang Jawa masih begitu melekat.

“Jujur saja, ada anggapan kuat kalau Jawa itu ‘ndeso‘. Kalau sampai ketahuan ngomong medok, siap-siap saja bakal ditertawakan,” ujar Isa saat ditemui di Kemang, Jumat (26/12/2025) lalu.

“Apalagi anak-anak tongkrongan di sini itu kritis, tapi kadang juga jahat. Mereka sering menertawakan logat ngapak yang dianggap kampungan. Aku nggak mau jadi badut di tongkrongan sendiri”.

Ubah cara bicara dari “nyong-rika” ke “lu-gue” 

Ketakutan akan pelabelan “ndeso” itulah yang memaksa Isa melakukan “metamorfosis”. Isa menolak menjadi Jawa. Ia menanggalkan identitas aslinya di Kemang demi bisa berbaur. 

Strateginya pun sederhana, tapi melelahkan: “hidup dalam kepura-puraan”.

Salah satunya, setiap hari, Isa harus “mengolah ulang cara bicaranya”. Ia memaksa lidahnya yang terbiasa dengan pelafalan tebal khas Kebumen untuk meliuk mengikuti irama Jakarta. 

Kosakata “nyong” dan “rika” ia kubur dalam-dalam, digantikan dengan fasihnya “lu” dan “gue”. Ia belajar intonasi, meniru cara tertawa, hingga mengadopsi topik pembicaraan yang sedang tren di kalangan anak muda Jakarta Selatan.

Iklan

“Awalnya lidah rasanya kaku, kayak wagu. Tapi mau gimana lagi, kalau nggak begitu bakal kelihatan medoknya,” ungkapnya. 

“Teman-teman yang lain, yang sesama perantau Jawa, juga melakukan cara yang sama. Ada yang terpaksa banget ikut gaya ngomong ‘lo-gue’ cuma biar bisa diakui di tongkrongan, biar dianggap setara,” imbuhnya.

Hidup di Kemang terpaksa mendengarkan musik yang bukan seleranya

Sandiwara Isa rupanya tak berhenti pada urusan cara bicara, tetapi merambat hingga ke selera telinga. Demi validasi sosial, daftar putar (playlist) di ponselnya mengalami pemaksaan. 

Ia yang sejatinya tumbuh dengan alunan pop Jawa yang mendayu, atau hentakan koplo yang akrab di telinga perantau, kini harus berpura-pura manggut-manggut menikmati musik indie beraliran dream pop atau post-punk yang asing baginya.

Namun, bagi Isa, tersiksa mendengarkan lagu yang tidak ia pahami maknanya jauh lebih baik daripada harus menanggung tatapan sinis karena ketahuan mendengarkan lagu yang dianggap “kampungan”.

“Jujur, aku mengaku aja, sampai sekarang masih nggak masuk sama selera lagu anak Jaksel,” tawanya.

Isa tidak sendirian dalam sandiwara ini. Berdasarkan ceritanya, banyak kawannya yang memilih jalan serupa. 

Mereka percaya bahwa untuk bertahan di kota ini, kompetensi saja tidak cukup. Seseorang harus memiliki “cover” yang tepat. Dan, dalam kamus pergaulan Kemang, menjadi “medok” atau “ndeso” adalah cover yang salah.

Mulai membuka diri meski banyak temannya sudah nyaman “memakai topeng”

Namun, seiring berjalannya waktu, Isa mulai sadar. Setelah setahun bekerja dan berinteraksi lebih intens di tempat kerjanya, ia menyadari bahwa ketakutannya mungkin terlalu berlebihan. Atau, setidaknya, tidak berlaku di semua tempat.

“Ternyata, tempat kerjaku tidak ‘serasis’ itu,” akunya sambil tersenyum. “Orang-orang di kantor lebih peduli sama hasil kerja daripada dari mana aku berasal atau gimana logatku pas lagi emosi.”

Kesadaran ini membuatnya mulai berani membuka diri. Sedikit demi sedikit, ia mulai membiarkan logat aslinya keluar, terutama saat sedang tidak berada dalam situasi formal atau saat bertemu sesama perantau. 

Beban untuk terus berpura-pura itu perlahan hilang. Meski demikian, Isa mengakui bahwa ia adalah satu dari sedikit yang beruntung bisa berdamai dengan identitasnya.

“Masih banyak temanku yang asal Jawa memilih hidup dalam kepura-puraan. Mereka belum siap mental buat diledek, atau mungkin mereka sudah terlalu nyaman dengan topeng ‘anak Jaksel’ mereka,” pungkas Isa.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Mahasiswa Jatim di PTN Jogja: Jadi Goblok Perkara Beda Selera Musik, Dicap “Rendahan”; Hanya karena Tak Tahu Perunggu-FSTVLST atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 7 Januari 2026 oleh

Tags: jakartajakarta selatanJakselkemangkemang jakarta selatanngapakperantau jakarta. perantau jawapilihan redaksi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Mengenal konsep Green al-Maun dan jihad ekologi dari masjid untuk menjaga lingkungan MOJOK.CO

Dakwah Tauhid Lingkungan dari Masjid, Mempertanyakan Keimanan dari Kesadaran Menjaga Alam

26 Agustus 2026
S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026
Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Sikap-sikap sederhana ke pelayan rumah makan atau restoran yang seharusnya jadi kewajaran MOJOK.CO

Sikap-sikap Sederhana ke Pelayan Rumah Makan atau Restoran yang Kita Abaikan karena Ego, Padahal Bermakna Memanusiakan

20 Agustus 2026
ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026
Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya MOJOK.CO

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya

23 Agustus 2026
Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026
Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa MOJOK.CO

Bakpia Jogja Memang Oleh-oleh Biasa dan Gitu-gitu Aja, Tapi Sangat Berharga buat Orang di Desa

22 Agustus 2026
fotografer wisuda

Suka Duka Fotografer Wisuda: Senang Mengabadikan Momen Bahagia Tapi Sial Karena ‘Harga Teman’

23 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.