Selama ini, kita sering dicekoki mitos bahwa orang desa itu rajin, ulet, dan tahan banting. Bayangan di kepala kita, warga desa adalah sosok-sosok tangguh yang terbiasa bangun sebelum subuh dan sanggup bekerja fisik di bawah terik matahari seharian layaknya petani di sawah.
Ekspektasi soal etos kerja baja inilah yang bersarang di kepala Bagus (31) saat ia memutuskan untuk pulang kampung dan meninggalkan pekerjaannya di kota.
Tahun 2024 lalu, Bagus diminta pulang oleh orang tuanya untuk meneruskan usaha toko material keluarga yang sudah berjalan belasan tahun dan punya pelanggan tetap. Bagi Bagus, tawaran ini adalah jalan menuju gaya hidup slow living yang selama ini ia idam-idamkan selama bekerja di ibu kota.
Di bayangan Bagus, skenarionya akan berjalan sangat mulus dan indah. Ia cukup duduk manis di meja kasir, memantau dari layar CCTV sambil menyeduh kopi di pagi hari, dan membiarkan uang mengalir deras ke laci. Perputaran uang di toko bangunan memang sangat cepat.
Sementara untuk urusan fisik seperti memanggul semen, menaikkan pasir, atau mengantar batako, ia sangat yakin karyawan-karyawan desanya bisa diandalkan.
Pemuda desa kerjanya ogah-ogahan
Namun, realita seringkali punya cara sendiri untuk menampar ekspektasi. Begitu Bagus mengambil alih operasional toko, ia baru sadar bahwa etos kerja pemuda desa yang menjadi karyawannya jauh panggang dari api.
Mereka yang mau bekerja sebagai tenaga angkut di toko material rata-rata adalah pemuda yang terbiasa nongkrong. Kerjanya ogah-ogahan dan sangat lambat.
“Misalnya saja kalau disuruh memindahkan barang, mereka itu habisin waktunya sangat lama karena sambil main game. Apalagi kalau nggak ada yang awasin,” kata Bagus, Rabu (8/4/2026).
Bahkan, alasan pergi ke warung sebentar untuk membeli rokok saja kadang bisa memakan waktu lama. Entah karena apa, Bagus juga tak terlalu paham. Yang jelas, satu hal yang ia tahu: para pemuda desa ini terlalu menyepelekan perintah dan pekerjaannya.
“Kirain mental mereka ini sekuat baja, nyatanya sama aja kayak orang kota yang males-malesan.”
Rajin kasbon, tapi juga playing victim
Masalah kedisiplinan ini rupanya merembet ke urusan keuangan. Suatu hari, Bagus iseng mengecek buku kas toko. Ia terkejut bukan main melihat daftar kasbon atau utang gaji di muka milik karyawannya yang sangat panjang.
“Ada lho karyawan yang utangnya nyaris melebihi gaji sebulannya. Lalu nanti kita ngegajinya gimana? Mau dipotong semua juga nggak tega,” kata dia.
Saat Bagus mencoba bicara baik-baik, terkadang si karyawan malah menunjukkan wajah asem. Bagus juga pernah mendengar kalau dia dibilang “pelit” hanya karena coba membatasi kasbon karyawannya.
“Padahal kan ini buat mereka juga. Kalau kasbon menumpuk, nggak ada manajemen yang jelas, mereka juga yang rugi,” kata Bagus. “Belum lagi ada juga yang kasbon malah buat main judi.”
Kelakuan warga yang suka ngutang bikin usaha di desa jadi boncos
Melihat nasib Bagus, saya jadi teringat pada alasan kakak saya yang sampai sekarang selalu menolak mentah-mentah jika disuruh buka usaha di kampung halaman.
Dulu, simbah kami pernah membujuk kakak untuk berhenti bekerja di kota dan pulang saja. Simbah menyuruhnya membuka toko kelontong di rumah desa peninggalan keluarga yang kebetulan posisinya cukup strategis.
Jawaban kakak saya saat itu sangat realistis, “Males, Mbah. Nanti diutangin terus sama tetangga. Males juga nagihnya karena pasti banyakan mereka yang marah.”
Jawaban kakak saya itu terdengar sepele, tapi sebenarnya memotret sebuah realita pahit. Di desa, menolak tetangga atau karyawan yang mau berutang seringkali dianggap sebagai dosa. Kita akan langsung dicap pelit, sombong, atau tidak punya rasa kekeluargaan.
Ujung-ujungnya, punya usaha kecil-kecilan di desa seringkali boncos bukan karena sepi pembeli, tetapi karena modalnya habis tersedot utang-utang yang tidak pernah lunas ditagih.
Baca halaman selanjutnya…
Gara-gara racun bernama “kekeluargaan”, usaha di desa bisa carut marut.














