Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Blok M dan Jakarta Selatan Aslinya Banyak Jamet tapi Dianggap Keren, Kalau Orang Kabupaten dan Jawa Eh Dihina-hina

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
14 Maret 2026
A A
Blok M dan Jakarta Selatan (Jaksel) dilebih-lebihkan, padahal banyak jamet MOJOK.CO

Ilustrasi - Blok M dan Jakarta Selatan (Jaksel) dilebih-lebihkan, padahal banyak jamet. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Selama ini Blok M dan Jakarta Selatan (Jaksel) dicitrakan sebagai kiblat orang keren. Padahal aslinya tidak jauh berbeda dengan apa yang kerap orang di Ibu Kota (orang kota) narasikan tentang orang-orang kabupaten di Jawa: banyak jamet. 

***

Ada masanya ketika Patra (26) merasa malu dengan identitasnya sebagai orang kabupaten dari Jawa. Sebab, karena berita-berita “aneh” soal Jawa memang kerap menjadi olok-olok bagi orang-orang di Ibu Kota. 

Komentar-komentar di media sosial seolah menempatkan orang-orang kabupaten dalam posisi terbelakang dan tidak punya akal sehat. 

Namun, belakangan, ia justru cenderung merasa muak dengan cara pandang tersebut. Sebab, setelah memerhatikan dengan seksama, ia mengaku ternyata gejala “kejametan” juga dekat dengan orang-orang di Ibu Kota. Terutama di Blok M dan Jakarta Selatan yang disebut-sebut sebagai kiblat kalcer/keren-kerenan. 

“Bukan bermaksud apa-apa. Tapi fakta ini perlu dilihat biar kita ini nggak saling menjelekkan sesama sipil hahaha. Wong kita ini juga sama-sama korban dari busuknya pemerintah kok,” ujar pemuda asal Jawa Timur yang bekerja di Jakarta sejak 2023 lalu, Jumat (13/3/2026). 

Jamet dan gangguan penyakit Jawa: narasi memuakkan tentang orang kabupaten

Identitas sebagai orang Jawa Timur membuat Patra kerap merasa menjadi objek penghinaan. Walaupun konteksnya mungkin bercanda. 

Di media sosial, sejauh yang Patra temukan, banyak orang (terutama yang mengaku berasal dari Jakarta) yang menyebut Jawa Timur sebagai pusat jamet. 

Apalagi, dalam tiga tahun terakhir, citra Jawa Timur benar-benar hancur-hancuran di mata orang kota. Gara-gara ulah oknum kelompok pencak silat, kemunculan sound horeg, fenomena “gus-gusan”, hingga narasi kritis pada praktik implementasi adab di pesantren yang sering dianggap feodalisme di balik jubah keagamaan. 

“Aku nemu komentar yang miris dan muak aja bacanya. Ada yang tanya, ini gejala apa ya? Terus dijawab, gejala ODGJ (orang dalam gangguan Jawa),” tutur Patra. 

“Belum lagi Madura. Stereotip jamet malah melekat kental karena joget-joget di atas galon dengan rambut jabrik, kegemaran memodifikasi motor, sampai perkara gaya potong rambut mullet pun jadi indikasi jamet,” sambungnya setengah kesal.

Jawa Timur ternyata tidak satu-satunya. Orang-orang kabupaten di Jawa Barat pun tidak luput dari sasaran hinaan “ODGJ”. Seiring dengan maraknya acara kesurupan massal (kalau di Jawa Timur disebut jathilan). 

Blok M dan Jakarta Selatan (Jaksel) dilebih-lebihkan, aslinya juga pusat jamet

Sebenarnya bukan sekali-dua kali Patra main di Blok M atau titik-titik keramaian lain di Jakarta Selatan. Ia awalnya biasa saja. 

Namun, gara-gara kemuakan atas narasi jamet dan ODGJ, belakangan setiap ia berada di Blok M atau titik kumpul “anak Jaksel” lain, ia menyimpulkan: ternyata kiblat gaya hidup kalcer itu hanya dilebih-lebihkan.

Iklan

“Sekarang begini, tolok ukur jamet itu apa? Konsesus umum yang terlanjur diamni kan dari style yang dianggap norak. Loh, di Blok M dan titik lain Jaksel itu juga gampang benget nemu orang jamet,” ucap Patra blak-blakan. 

Misalnya, kumpulan anak muda dengan outfit hitam, outfit “skena” tapi terlalu norak (karena nggak semua orang cocok bergaya ala Hindia, rambut cat warna-warni, hingga cewek-cewek yang berdandan menor. 

“Coba datang juga ke Taman Literasi Blok M. Di bagian atas, yang gelap-gelap itu, itu banyak juga anak-anak muda dengan gaya fashionable, terutama cowok-cewek (pacaran). Anjir lah, pacaran di tempat seperti itu, kalau itu orang kabupaten, pasti dibilang jamet juga,” gerutu Patra. 

Begi Patra, di mata orang kabupaten sepertinya: gaya semacam itu juga layak disebut jamet. Artinya, lanjut Patra, hal-hal semacam itu sebenarnya gejala sosial biasa. Tidak seharusnya jadi alasan untuk menghina. Apalagi secara terang menghina Jawa. 

“Apalagi, pas aku mengungkapkan ini ke seorang teman kerja yang asli Jakarta, dia jawabnya gini: bilang kalau misalnya itu kusebut jamet, ya paling kebanyakan yang main di situ orang kabupaten dan orang Jawa juga. Lah,” kata Patra. 

Skena perbotian di Blok M yang meresahkan

Sound horeg dan kelompok pencak silat, di titik tertentu, jelas meresahkan. Tapi Blok M dan Jakarta Selatan pun, di mata Patra, juga punya kelompok meresahkan: skena perbotian yang kerap nongkrong di Blok M dan ruang-ruang lain Jaksel. 

Faktanya di banyak daerah—sepanjang yang Patra lihat di media sosial—banyak orang yang meresahkan keberadaan skena perbotian ini.

Sebab, rata-rata sependapat bahwa perilaku kelompok tersebut merupakan bentuk penyimpangan agama (utamanya Islam), norma sosial, dan seksual (melenceng dari kodrat). 

“Tapi di Blok M, mereka bisa percaya diri nunjukin identitas mereka. Lebih ngeri ketimbang jadi jamet,” kata Patra.

Jakarta Selatan (Jaksel) punya jamet Aerox, apa bedanya dengan di kabupaten?

Menjelang tengah malam, suasana di sejumlah titik di Jakarta Selatan memang tetap bergeliat. Starling-starling mangkal untuk menjajakan kopi bagi mereka yang ingin kopi murah (tanpa harus ke coffee shop mahal). 

Dalam beberapa malam di bulan Januari 2026, saat menginap di sebuah hotel di Jakarta Selatan, saya mendapati pemandangan: anak-anak muda kebut-kebutan dengan motor Aerox. 

Kalau toh tidak kebut-kebutan, saya melihat motor Aerox (baik yang masih ori maupun hasil modifikasi) berjejer rapi di warung-warung sate taichan. 

“Kalau di Jawa Timur, di Madura, orang pakai Aerox modif dan kenceng-kencengan knalpot brong dianggap jamet, kan sama aja dengan di sini, Mas,” ujar seorang penjaja starling saat saya pancing dengan obrolan: “Lah, di Jaksel ternyata ada juga skena Aerox.”

“Terutama kalau malam Minggu, Mas. Wah yang kopdar di kawasan sini banyak,” sambung penjaja starling tersebut. 

Sama seperti Patra, penjaja starling asal Madura itu mengaku kerap tidak nyaman dengan sematan “jamet”. Hanya karena gaya rambut dan modifikasi motor. Baginya, itu adalah ekspresi dan sah-sah saja. Sama sahnya dengan anak-anak muda di Jakarta Selatan yang tengah malam brong-brongan dengan motor Aerox. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Standar Keren Kabupaten: Pakai Motor BeAT Dihina dan Dijauhi Circle Aerox, NMax, dan Vario karena Tak Masuk Konsep Sinematik atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 13 Maret 2026 oleh

Tags: Blok Mjakarta selatanJakseljametjamet kabupaten
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO
Urban

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
Kerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel): terlihat elite tapi Work Life Balance sulit MOJOK.CO
Urban

Kerja di Kebayoran Baru Jaksel: Cuma Kelihatan Elite tapi Work Life Balance Sulit, Resign Tak Selesaikan Masalah

10 Mei 2026
Mall Kokas di Jakarta Selatan (Jaksel) macet
Urban

Mall Kokas, Tempat Paling Membingungkan di Jakarta Selatan: Bikin Pekerja “Mati” di Jalan, tapi Diminati karena Bisa Cicipi Gaya Hidup Elite

20 Februari 2026
Lapangan Padel di Jakarta Selatan bikin Stres Satu Keluarga. MOJOK.CO
Urban

Nestapa Tinggal di Perumahan Elite Jakarta Selatan Dekat Lapangan Padel, Satu Keluarga Stres Sepanjang Malam

19 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Prabowo kasih guru honorer insentif saat HUT RI. MOJOK.CO

JPPI Kritik SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026, Sebut Pemerintah Lebih Peduli Karyawan SPPG daripada Guru Honorer

12 Mei 2026
Melalui Seminar Literasi di Pesta Buku Jogja, IKAPI DIY dorong Yogyakarta jadi Ibu Kota Buku UNESCO karena punya ratusan penerbit MOJOK.CO

Jogja dan Produksi Pengetahuan Lewat Ratusan Penerbit Buku, Modal Jadi Ibu Kota Buku UNESCO

16 Mei 2026
Kos kamar mandi luar memang murah. Tapi mending cari kamar mandi dalam kalau tidak mau kena mental MOJOK.CO

Kos Kamar Mandi Luar Memang Lebih Murah, Tapi bikin Repot Sendiri karena Dipakai Bareng Penghuni Lain Tak Tahu Diri (Kemproh dan Pemalas)

14 Mei 2026
Guru Besar Fakultas Farmasi UGM bidang fitoterapi, Nanang Fakhrudin sebut usaha madu sangat potensial. Tapi ada masalah utama yang rugikan pelaku usaha madu sendiri MOJOK.CO

Usaha Madu Jadi Ceruk Bisnis Potensial, Tapi Salah Praktik Tanpa Sadar Justru Bisa Rugikan Diri Sendiri

12 Mei 2026
Tips hadapi teman toxic dalam pertemanan: tidak akrab tapi selalu datang kalau ada butuhnya MOJOK.CO

Lepas dari Teman Tak Akrab yang Selalu Merepotkan pas Ada Butuhnya, Dibenci tapi Perasaan Tidak Enakan Lebih bikin Rugi!

13 Mei 2026
Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada MOJOK.CO

Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada

11 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.