Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Pertemanan di Usia 30 Memuakkan: Transaksional dan Isinya Cuma Adu Nasib, tapi Paling Mengajarkan Arti Ketulusan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
7 Mei 2026
A A
pertemanan di usia 30.MOJOK.CO

Ilustrasi pertemanan di usia 30. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Niat awalnya ingin melepas penat setelah seminggu dihajar deadline pekerjaan. Dika (31), seorang karyawan swasta di Jogja, akhirnya berhasil mencocokkan jadwal dengan tiga teman kuliahnya untuk sekadar mengopi di akhir pekan. 

Namun, alih-alih pulang dengan pikiran segar, Dika justru merasa makin lelah. Tongkrongan yang dulu diisi dengan candaan receh dan obrolan asyik, kini berubah seratus delapan puluh derajat menjadi ajang adu nasib.

Misalnya, saat Dika bercerita soal atasannya yang memaksanya lembur tanpa upah, temannya langsung memotong. 

“Kamu masih mending cuma ketemu bos bawel. Lah aku udah pusing mikirin cicilan KPR,” ujar Dika, mengulang kata-kata salah satu temannya yang sudah menikah, Rabu (6/5/2026).

Bahkan, teman yang lain ikut menimpali dengan masalah lain. Seperti utang pinjol saudaranya yang harus ditanggung temannya itu, hingga masalah dengan istri yang tak kunjung kelar. 

Pendeknya, obrolan di malam itu cuma berputar-putar di urusan “adu nasib”. Siapa yang beban hidupnya paling berat, seolah dialah pemenangnya.

“Jujur, pertemanan di usia segini kadang memuakkan banget. Kita keluar rumah cari hiburan, tapi yang didapat malah beban pikiran baru. Semuanya adu nasib, jarang yang mau dengerin keluhan orang lain sampai selesai,” keluh Dika.

Pertemanan yang asyik itu memang mentok di usia 25

Mendengar cerita Dika, saya yang baru menginjak usia 28 tahun ini hanya bisa mengangguk. Meskipun belum memasuki usia 30, saya sudah relate dengan masalah yang ia ceritakan.

Dulu, di awal-awal masih kuliah saat usia kita mungkin belum genap 20 tahun, nongkrong bareng teman masih asyik-asyik saja. 

Tak cuma itu, di awal usia 20-an dulu, tiap akhir pekan sudah pasti menjadi waktu rutin buat nongkrong. Sekarang? Grup WhatsApp tongkrongan sudah sepi, teman-teman mulai susah diajak kumpul. Mereka sudah sibuk dengan urusan masing-masing.

Namun, hal ini merupakan sesuatu yang wajar. Sebuah riset gabungan dari Aalto University dan Oxford University, pernah melacak riwayat komunikasi orang-orang. Hasilnya menunjukkan bahwa jumlah teman manusia memang mencapai puncaknya persis di usia 25 tahun. 

Setelah melewati angka itu, grafik pertemanan kita menukik tajam. Teman kita rontok satu per satu.

Lantas, mengapa kalau kumpul isinya cuma keluhan dan adu nasib? Ada penjelasan rasionalnya. Para ahli sosiologi menyebut fenomena ini sebagai dampak dari “competing demands”.

Bisanya, memasuki usia akhir 20-an dan awal 30-an, kepala kita sudah penuh dengan realitas kehidupan. Ada yang memikirkan kebutuhan keluarga, biaya sekolah anak, sampai tuntutan keluarga. 

Iklan

Energi seseorang sudah habis buat memikirkan beban itu. Alhasil, ketika akhirnya nongkrong bareng teman, sisa energi yang ada memang secara alamiah hanya bisa dipakai untuk sambat alias mengeluh alias adu nasib. 

Di usia 30-an, teman datang kalau ada maunya saja

Selain adu nasib, ada hal lain yang membuat pertemanan usia dewasa terasa berat. Hal ini dialami oleh Maya (32). Kalau Dika muak dengan ajang adu nasib, Maya lebih muak dengan sifat transaksional teman-temannya.

Maya bercerita, banyak temannya yang dulu sangat akrab, kini hanya muncul ketika ada maunya. 

Ada yang tiba-tiba mengirim pesan hanya untuk meminjam uang atau meminta bantuan mencari pekerjaan. Namun, saat tahun lalu Maya sempat masuk rumah sakit karena tipes dan harus istirahat total, grup tongkrongannya mendadak sepi. 

Tidak ada yang datang menjenguk, bahkan sekadar bertanya kabar pun hanya satu atau dua orang.

“Di situ rasanya kecewa banget. Kita sadar kalau banyak teman yang ternyata cuma menganggap kita ada saat kondisi kita lagi menguntungkan buat mereka,” kata Maya, Rabu (6/5/2026). 

Sejak saat itu, Maya mulai menjaga jarak. Ia tidak lagi memaksakan diri membalas pesan di grup yang dirasa tidak penting dan berhenti ikut kumpul-kumpul yang cuma buang uang.

Baca halaman selanjutnya…

Tapi, pertemanan di usia 30 bisa menunjukkan mana teman yang sebenarnya dan mana yang bukan.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 8 Mei 2026 oleh

Tags: adu nasibinner circlelingkar pertemananmasuk usia 30NongkrongPertemananpertemanan di usia 30pilihan redaksisahabattemantongkronganusia 30
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Tidak memberi utang saat teman pinjam uang selalu dicap jahat dan dijauhi dari pertemanan MOJOK.CO
Sehari-hari

Pertemanan Memuakkan: Tak Beri Utang Teman Dijauhi dan Dicap Jahat, Berteman Cuma Diperalat Jadi Dana Darurat

8 Mei 2026
Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin MOJK.CO
Esai

Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin

8 Mei 2026
menikah dengan keluarga pasangan yang terlilit utang.MOJOK.CO
Sehari-hari

Menikah dengan Pasangan yang Keluarganya Terlilit Utang Bikin Serba Salah: Terlalu Cinta untuk Ditinggal, tapi Bikin Menderita Kalau Bertahan

8 Mei 2026
Kos dekat kampus lebih baik bagi mahasiswa
Sehari-hari

4 Tipe Teman yang Sebaiknya Dilarang Menginap di Kos Kita: dari yang Cuma “Modal Nyawa”, hingga Teman Jorok tapi Tak Sadar Kalau Dia Jorok

6 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang tua lebih rela jual tanah dan keluarkan biaya puluhan juta untuk anak LPK kerja di Jepang daripada lanjut kuliah di perguruan tinggi MOJOK.CO

Ortu Lebih Rela Jual Tanah buat Modal Anak Kerja di Jepang, Rp40 Juta Mending buat LPK ketimbang Rugi Dipakai Kuliah

6 Mei 2026
Merintis Usaha Rumahan Tanpa Utang, Raup Omzet Puluhan Juta MOJOK.CO

Cerita Saya Memulai Usaha Rumahan Kecil-kecilan Tanpa Utang Hingga Raup Omzet Puluhan Juta per Bulan, Kamu Mau Coba?

5 Mei 2026
Tangis haru Valentina di hadapan Gubernur Ahmad Luthfi karena bisa sekolah gratis lewat program Sekolah Kemitraan Pemprov Jawa Tengah MOJOK.CO

Sekolah Kemitraan di Jawa Tengah bikin Menangis Haru, Anak Miskin Bisa Sekolah Gratis dan Kejar Mimpi

8 Mei 2026
Yamaha Jupiter Z, Motor Sakral yang Hadirkan Rasa Takut MOJOK.CO

Yamaha Jupiter Z, Motor Sakral yang Menghadirkan Rasa Takut tapi Ternyata Menjadi Simbol Perjuangan yang Tak Pernah Diceritakan

7 Mei 2026
Semester 5 kuliah: Masa paling overthinking kepikiran ortu dan masa depan, percuma cari pelarian MOJOK.CO

Semester 5 Kuliah: Masa paling Overthinking bagi Mahasiswa karena Kepikiran Ortu dan Masa Depan, Percuma Cari Pelarian

5 Mei 2026
Petani di Delanggu, Klaten maju berkat sistem permakultur. MOJOK.CO

Belajar Bertani dari Dasar, Akhirnya Hidupkan Ketahanan Pangan dari Lahan Kosong di Delanggu Klaten

6 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.