Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

35 Tahun Bekerja Keras demi Anak, tapi Kesepian di Masa Tua karena Dianggap Tak Pernah Hadir untuk Keluarga

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
24 Februari 2026
A A
orang tua.MOJOK.CO

Ilustrasi - 35 Tahun Bekerja Keras demi Anak, tapi Kesepian di Masa Tua karena Dianggap Tak Pernah Hadir untuk Keluarga (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Orang tua mewariskan “contoh buruk” ke anak

Putri tertuanya, yang kini berusia 38 tahun, seringkali terdengar persis seperti Farley dulu saat ditelepon. “Maaf ya Yah, minggu ini lagi gila-gilaan di kantor. Nanti aku telepon balik pas akhir pekan ya?” Tapi biasanya, janji telepon balik itu tidak pernah benar-benar datang. 

Sebagai orang tua, Farley kini hanya bisa menghela napas panjang setiap kali mendengar nada sibuk dari seberang telepon.

Putranya yang lain bahkan baru saja naik jabatan menjadi partner di firma hukumnya. Ia sampai harus tetap bekerja di hari Natal tahun lalu demi menyelesaikan berkas klien. Saat Farley mencoba mengingatkan agar sang anak beristirahat dan menikmati waktu luang, anaknya justru tertawa dan menjawab, “Lho, Ayah kan yang mengajari aku? Ingat kan dulu Ayah selalu pulang malam demi kerjaan?” 

Di situlah Farley tersadar dengan sangat telak. Ia tidak hanya mewariskan harta, tapi ia juga mewariskan gaya hidup yang mengabaikan kedekatan antar orang tua dan anak.

Ia menyadari bahwa ia telah mengajarkan anak-anaknya bahwa kehadiran fisik itu nomor dua, dan cinta itu cukup dinyatakan dengan transfer bank atau fasilitas mewah. Kini, pelajaran itu berbalik kepadanya. Ia melihat dirinya sendiri pada sosok anak-anaknya yang ambisius, namun juga sangat jauh secara emosional. 

“Saya tersadar, barangkali penyesalan ini juga menghantui para orang tua yang baru sadar di penghujung usia bahwa kenangan tidak bisa dibeli dengan saldo pensiun yang melimpah.”

Mengukur kesuksesan dengan cara berbeda

Kini, di masa tuanya yang sepi, Farley memiliki definisi baru tentang arti sebuah kesuksesan. Sukses bukan lagi soal seberapa besar saldo di rekening atau seberapa luas tanah yang dimiliki. Sukses baginya kini adalah jika grup WhatsApp keluarga ada yang membalas dalam waktu cepat, atau jika ada orang lain yang mau menemaninya makan malam tanpa merasa terbebani. 

Bagi banyak orang tua, hal-hal sederhana seperti inilah yang justru menjadi kekayaan yang sesungguhnya.

“Kalau saya bisa kembali ke masa lalu, apakah saya akan mengubahnya?” tanya Farley dalam tulisan refleksinya itu. 

Jawabannya ternyata sangat rumit. Di satu sisi, ia bangga anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan sukses secara finansial. Mereka tidak butuh uangnya lagi, sebuah pencapaian yang bahkan ayahnya dulu tidak bisa berikan padanya. 

Namun, sebagai orang tua, di dalam hatinya yang paling dalam, Farley sangat rindu mereka “membutuhkannya” dalam arti yang lain.

Ia ingin mereka menelepon bukan karena merasa bersalah, tapi karena mereka merindukannya. Ia ingin mereka berkunjung karena ingin berbagi cerita, bukan karena kewajiban hari raya. Ia ingin hubungannya dengan anak-anaknya kembali hangat seperti saat mereka masih kecil. 

Perubahan sudut pandang ini adalah hal yang lumrah terjadi pada orang tua yang mulai merasakan rapuhnya sisa usia tanpa kebersamaan keluarga.

Kini, Farley mencoba menyibukkan diri dengan menjadi sukarelawan di komunitas lokalnya. Ia sering mengajar literasi keuangan bagi anak-anak muda yang baru mulai meniti karier dan berencana menjadi orang tua di masa depan. 

Iklan

Kepada mereka, Farley selalu memberikan pesan yang sama, yang mungkin dulu ia abaikan dengan sengaja demi ambisi pribadinya:

“Anak-anakmu nanti tidak akan ingat apakah hasil evaluasi kerjamu di kantor bagus atau tidak. Yang akan mereka ingat sepanjang hidupnya adalah apakah kamu ada di sana saat mereka membutuhkan pelukan atau sekadar teman bicara.” 

Pesan ini sangat mendalam, terutama bagi para orang tua baru yang sedang berjuang menyeimbangkan karier dan rumah tangga.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Orang Tua yang Menua adalah Ketakutan Terbesar Anak, meski Kita Menolak Menyadarinya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 25 Februari 2026 oleh

Tags: kesepiankesepian di masa tuamenuaorang tuaorang tua bekerjapenyesalan orang tua bekerjawork-life balancework-life balance untuk orang tua
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO
Urban

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
Kerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel): terlihat elite tapi Work Life Balance sulit MOJOK.CO
Urban

Kerja di Kebayoran Baru Jaksel: Cuma Kelihatan Elite tapi Work Life Balance Sulit, Resign Tak Selesaikan Masalah

10 Mei 2026
Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare? MOJOK.CO
Esai

Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare?

29 April 2026
Ibu terpaksa menitipkan anak di daycare karena orang tua harus bekerja
Aktual

Ibu Menitipkan Anak di Daycare Bukan Tak Tanggung Jawab, Mengusahakan “Aman” Malah Diganjar Trauma Kekerasan

26 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kos di Jogja, kos campur, dapur.MOJOK.CO

Kos Induk Semang: Tempat Terbaik buat Mahasiswa Irit dan Kenyang, tapi Menyimpan Sisi Lain yang Bikin Penghuninya Tak Nyaman

13 Mei 2026
Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi MOJOK.CO

Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi

13 Mei 2026
Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

18 Mei 2026
Ironi jadi orang tunawicara (bisu) di desa, disamakan seperti orang gila MOJOK.CO

Ironi Orang Tunawicara (Bisu) di Desa: Dianggap Gila, Punya Otak Cerdas Tetap Dianggap Tak Bisa Mikir Hanya karena Sulit Bicara

15 Mei 2026
Pekerja Jakarta, WFH, kerja sesuai hobi.MOJOK.CO

Kerja Sesuai Hobi Bikin Menderita: Kita Jadi Tak Lagi Punya Tempat Menenangkan Pikiran Saat Muak dengan Pekerjaan

18 Mei 2026
Kos kamar mandi luar memang murah. Tapi mending cari kamar mandi dalam kalau tidak mau kena mental MOJOK.CO

Kos Kamar Mandi Luar Memang Lebih Murah, Tapi bikin Repot Sendiri karena Dipakai Bareng Penghuni Lain Tak Tahu Diri (Kemproh dan Pemalas)

14 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.