Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Konten Kreator Perjalanan Nyaris Luntang-lantung karena Tak Punya Uang, Malah Menangis Saat Meninggalkan Lombok

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
21 Juli 2026
A A
Konten Kreator Perjalanan dapat pelajaran hidup di Lombok. MOJOK.CO

ilustrasi - Konten kreator perjalanan asal Cianjur dapat pelajaran hidup di Lombok. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Menjadi konten kreator perjalanan tak selalu menyenangkan seperti yang dilihat orang. Muhammad Akbar Suhendar (18) pernah memulai kariernya hanya dengan modal Rp500 ribu untuk keliling Indonesia, hingga titik di mana tabungannya benar-benar menyisakan nol rupiah di Lombok. 

Cita-cita ingin jadi konten kreator perjalanan dari SMP

Sekitar tahun 2021, Akbar yang masih duduk di kelas 1 SMP merasa pembelajaran di kelas tidak efektif apalagi semasa Covid-19. Sistem pembelajaran yang selalu online membuatnya kurang cocok, sehingga dia berdiskusi dengan orang tuanya untuk berhenti.

Iklan

“Kami sepakat kalau aku keluar dari sekolah formal dan masuk ke sebuah pondok pesantren di Cianjur. Di sana aku fokus belajar ilmu agama saja, tanpa sekolah formal. Sampai tahun 2024, aku akhirnya keluar dari pondok,” kata Akbar kepada Mojok, Selasa (21/7/2026).

“Jadi sebenarnya aku bukan berhenti belajar, tapi memilih jalur pendidikan yang berbeda dan keputusan itu juga bukan keputusan sepihak, melainkan hasil kesepakatan bersama orang tua,” lanjutnya.

Setelah masuk pondok pesantren, Akbar tak terhindar dari nyinyiran walaupun tidak banyak. Namun, Akbar memilih tidak terlalu memikirkannya. Sebab menurutnya, setiap orang selalu punya jalan yang berbeda. Seperti mimpinya menjadi seorang konten kreator perjalanan.

“Memang ada saja yang bilang, ‘sayang banget ya sekolahnya nggak dilanjut’, tapi nggak semua orang harus langsung paham sama pilihan yang kita ambil,” kata Akbar.

Tak perlu membuktikan diri dengan gelar sarjana

Seiring berjalannya waktu, Akbar tak menampik ada keinginan untuk melanjutkan pendidikan sampai sarjana, alih-alih hanya berbekal ijazah SD. Namun, dia sadar jalannya tidak akan mudah. Pada akhirnya, Akbar lebih memilih fokus menjalani prosesnya sendiri daripada sibuk membuktikan sesuatu ke orang lain. 

Toh, profesinya sebagai konten kreator perjalanan selama ini memberikannya banyak pelajaran langsung soal kehidupan. Mulai dari orang-orang yang dia temui maupun pengalaman yang dia alami sendiri.

“Aku bersyukur, karena semua keputusan yang pernah aku ambil, baik masuk pondok maupun memulai perjalanan keliling Indonesia, justru membentuk ku sampai ada di titik sekarang,” ujarnya. 

Jalan pahit menjadi seorang konten kreator perjalanan

Saat ini, Akbar perlahan-lahan bisa mewujudkan mimpinya hanya dengan ijazah SD. Sebagai konten kreator perjalanan yang memiliki 47,5 ribu pengikut di Instagram, konten-kontennya sering menginspirasi banyak orang.

Akbar sadar, konten yang disukai oleh pengikutnya memuat cerita kejujuran sehingga terasa dekat dengan mereka. Sebelum meraih pencapaian seperti sekarang, Akbar mengaku harus melewati banyak tantangan.

Misalnya, nekat keliling Indonesia hanya dengan modal Rp500 ribu di awal kariernya hingga membuat ratusan video yang sepi penonton. Tak pelak, kejadian itu sempat membuatnya lelah dan meragukan diri sendiri sebagai konten kreator perjalanan.

 

View this post on Instagram

 

Iklan

A post shared by Muhamad Akbar (@akbarshndr)

Beruntung, Akbar tak berhenti. Sampai akhirnya dia menemukan formula yang tepat, yakni cerita soal proses, perjuangan, dan pengalaman jujur yang dia rasakan selama perjalanan tanpa berusaha pura-pura agar terlihat menyenangkan. 

Perjuangan Akbar pun membuahkan hasil. Konten yang dia buat sudah lebih dari cukup untuk mendukung kebutuhan hidup dan perjalanan yang dia jalani. 

“Sumber penghasilannya berasal dari kerja sama dengan brand, media sosial, dan beberapa proyek lainnya yang berkaitan dengan konten,” kata Akbar. 

Konten kreator mengajari langsung kerasnya hidup

Lebih dari sekadar materi, Akbar berujar seandainya tidak menjadi konten kreator perjalanan seperti sekarang, dia mungkin kebingungan dengan masa depannya yang hanya berbekal ijazah SD. 

Lewat perjalanannya keliling Indonesia, dia tidak hanya menemukan arah tapi juga motivasi untuk hidup. Salah satu perjalanan yang selalu tertanam dalam ingatannya adalah di Lombok. Bukan karena pemandangan alamnya saja yang indah, melainkan tantangan dan orang-orang yang dia temui.

“Waktu itu uangku benar-benar habis, sampai nol rupiah tapi aku dipertemukan dengan banyak orang baik di Lombok. Mereka bantu aku dari makan, tempat tidur, sampai memperlakukanku seperti keluarga, padahal kami baru kenal beberapa minggu,” kata Akbar.

“Ketika aku harus meninggalkan Lombok setelah sekitar 70 hari tinggal di sana untuk lanjut perjalanan ke Nusa Tenggara Timur, aku benar-benar menangis karena seperti meninggalkan rumah. Lombok benar-benar mengajarkan aku kalau keluarga itu nggak selalu harus terikat hubungan darah,” lanjutnya.

6 bulan perjalanan, berhasil kunjungi 27 titik

Setelah 6 bulan berkelana, Akbar pun berhasil menempuh 27 destinasi alam di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, hingga Sulawesi Selatan. 

Dia berharap lewat konten-konten yang dia buat dapat menginspirasi banyak orang. Bahwa latar belakang tidak menjadi batasan untuk memiliki mimpi besar. Buktinya, dia bisa menjadi konten kreator perjalanan seperti sekarang.

“Di luar itu semua, aku punya satu harapan sederhana yakni sukses dan membahagiakan kedua orang tuaku. Kalau aku tidak bisa membuat mereka bangga melalui pendidikan tinggi, setidaknya aku ingin membuat mereka bangga lewat perjuangan, pencapaian, dan hasil dari kerja keras yang aku lakukan hari ini,” kata Akbar. 

Dalam waktu dekat, Akbar sedang mempersiapkan sebuah ekspedisi yang akan dia beri nama LINTAS RAYA. Untuk mewujudkan ekspedisi itu, dia masih mencari orang-orang yang mau merintis bersama mulai dari nol, terutama untuk membangun tim konten YouTube.

“LINTAS RAYA bukan cuma tentang aku yang keliling Indonesia tapi bisa menjadi perjalanan yang mengajak lebih banyak orang untuk melihat, mengenal, dan mencintai Indonesia dari sisi yang mungkin belum banyak diketahui,” tegasnya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Nekat Keliling Indonesia Bermodal Ijazah SD, Mantan Pedagang Es Krim Asal Garut Ini Malah Sukses Jadi Konten Kreator Perjalanan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 21 Juli 2026 oleh

Tags: ijazah SDkeliling indonesiakonten kreatorkonten kreator perjalananLomboklulusan sdputus sekolah
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Anak miskin di Yogyakarta masuk Sekolah Rakyat. MOJOK.CO
Sekolahan

Saat Kemiskinan Memaksa Anak Lebih Dewasa sebelum Waktunya, Sekolah Rakyat Jadi Pilihan Satu-satunya

20 Juli 2026
Pemuda asal Garut sukses jadi konten kreator perjalanan dengan modal ijazah SD. MOJOK.CO
Sosok

Nekat Keliling Indonesia Bermodal Ijazah SD, Mantan Pedagang Es Krim Asal Garut Ini Malah Sukses Jadi Konten Kreator Perjalanan

17 Juli 2026
Vario 125 dan Suzuki Spin 125 Bikin Anakku Jadi Lebih Sabar MOJOK.CO
Otomojok

Dari Vario 125 ke Suzuki Spin 125: Misi Seorang Ayah Cari Motor Seken untuk Anak Bujang Magang di Lombok

21 Juli 2025
Tova Veno: Kreator Asal Gunungkidul yang Lahir dari Kegagalan dan Konsistensi
Video

Tova Veno: Kreator Asal Gunungkidul yang Lahir dari Kegagalan dan Konsistensi

13 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pakai jastip Mie Gacoan di Jombang: bayar lebih mahal untuk menu membagongkan MOJOK.CO

Pakai Jastip Mie Gacoan Ala Orang Jombang Pinggiran: Niat Hindari Kenorakan, Yang Datang Menu Membagongkan

20 Juli 2026
Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026
KOMSAH: Sejahterakan petani di Klaten. MOJOK.CO

Tinggalkan Profesi Dokter untuk Jadi Penasihat Kelompok Tani, Optimalkan Anugerah Tanah Klaten yang Subur

20 Juli 2026
Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri MOJOK.CO

Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri

20 Juli 2026
Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih MOJOK.CO

Pengalaman mengendarai dan mengomentari Mahindra Scorpio, mobil pick up Koperasi Merah Putih yang terlalu bagus di depan Pak Babinsa langsung

21 Juli 2026
Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia MOJOK.CO

Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia

15 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.