Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana

Jocelyn Kristanti oleh Jocelyn Kristanti
17 Juli 2026
A A
TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana MOJOK.CO

Ilustrasi TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Hanya dengan melihat konten dari video TikTok 30 detik, banyak anak muda meyakini kalau dirinya kena persoalan kesehatan mental.

Sebagai mahasiswa kedokteran, saya cukup akrab dengan berbagai istilah kesehatan mental. Namun, belakangan saya menyadari bahwa istilah seperti anxiety, depresi, bipolar, hingga ADHD tidak lagi hanya dibicarakan di ruang kuliah atau tempat praktik. Istilah-istilah itu bertebaran di media sosial dan masuk ke percakapan sehari-hari generasi Z.

Tidak semua konten kesehatan mental dibuat orang yang punya kompetensi

Beberapa teman pernah mendatangi saya sambil menunjukkan layar ponselnya.

“Kayaknya aku kena anxiety, deh.”

Kesimpulan itu mereka dapatkan setelah menonton video TikTok berdurasi 30 detik berjudul “Lima Tanda Kamu Mengalami Anxiety”. Kesulitan berkonsentrasi, selera makan menurun, dan tidak bisa tidur dianggap cukup untuk memastikan bahwa mereka mengalami gangguan kecemasan.

Padahal, merasa cemas tidak otomatis berarti mengalami gangguan kecemasan. Kesulitan tidur dan berkonsentrasi pun dapat disebabkan banyak hal, mulai dari kelelahan, tekanan akademik, persoalan fisik, hingga situasi hidup yang sedang tidak baik-baik saja. 

Diagnosis tidak bisa ditetapkan hanya berdasarkan kecocokan dengan daftar gejala dalam satu video.

Saya tentu tidak menganggap semua konten kesehatan mental di media sosial buruk. Konten semacam itu berjasa membuat masyarakat lebih berani membicarakan kesehatan mental. Sebagian orang bahkan mulai menyadari bahwa mereka membutuhkan pertolongan setelah menemukan informasi di media sosial.

Persoalannya muncul ketika informasi yang seharusnya menjadi pengetahuan awal diperlakukan sebagai diagnosis. Tidak semua konten dibuat oleh orang yang memiliki kompetensi, melewati proses verifikasi, atau menyertakan konteks yang memadai.

Di tengah akses layanan kesehatan mental yang belum merata, video pendek kemudian mengisi kekosongan tersebut. Orang yang sedang kebingungan mencari penjelasan atas kondisinya memperoleh jawaban instan dari algoritma. Dari sinilah media sosial tidak lagi sekadar memberi informasi, tetapi perlahan mulai “meresepkan” gangguan mental kepada penggunanya.

Media sosial tidak bisa jadi sumber diagnosis kesehatan mental?

Diagnosis gangguan mental tidak hanya mempertimbangkan jenis gejala, tetapi juga durasi, tingkat keparahan, riwayat kesehatan, dan pengaruhnya terhadap kehidupan sehari-hari. Informasi serumit itu tidak mudah diringkas menjadi video singkat berisi daftar tanda-tanda yang sangat umum.

Penelitian Yeung dan koleganya pada 2022 menemukan bahwa 52 dari 100 video tentang ADHD yang mereka teliti di TikTok mengandung informasi menyesatkan. Beberapa video menganggap perilaku sehari-hari, seperti sulit berkonsentrasi atau menunda pekerjaan, sebagai tanda bahwa seseorang pasti mengalami ADHD.

Konten seperti itu mudah membuat orang merasa sedang melihat dirinya sendiri. Padahal, mengalami satu atau dua gejala tidak otomatis membuat seseorang memiliki gangguan tertentu. Informasi yang kehilangan konteks membuat orang tidak lagi sekadar mengenali gejala, tetapi mulai meyakini diagnosisnya sendiri.

Keyakinan tersebut kemudian dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya. Filsuf Ian Hacking menyebut proses ini sebagai looping effect: sebuah label dapat mengubah cara seseorang memahami pengalaman dan perilakunya. Setelah meyakini dirinya memiliki gangguan tertentu, seseorang mungkin mulai menafsirkan berbagai pengalaman sehari-hari melalui label tersebut.

Iklan

Algoritma media sosial dapat memperkuat proses itu. Sekali pengguna menonton atau menyukai video tentang kecemasan, ADHD, atau depresi, platform akan menyodorkan semakin banyak konten serupa. Pengulangan tersebut menciptakan kesan bahwa diagnosis yang dipilihnya semakin terbukti.

Di sinilah letak bahayanya. Media sosial hanya mengetahui konten yang kita tonton, bukan kehidupan kita secara utuh. Algoritma bisa menebak apa yang membuat kita bertahan di depan layar, tetapi tidak bisa menentukan gangguan mental yang kita alami.

Bahayanya salah diagnosis diri sendiri

Self-diagnosis bukan hanya persoalan salah memahami informasi. Label yang dipilih seseorang dapat memengaruhi cara ia memahami dirinya, mengambil keputusan, dan mencari pertolongan.

Acheson dan Papadima pada 2023 mengingatkan bahwa remaja sedang berada dalam tahap penting pembentukan identitas. Masalah muncul ketika label gangguan mental dijadikan satu-satunya jawaban atas segala hal yang mereka rasakan. Kesedihan, ketakutan, kegagalan, atau kesulitan bergaul akhirnya selalu ditafsirkan melalui diagnosis yang belum tentu tepat.

Namun, ini bukan berarti orang yang melakukan self-diagnosis sengaja mempertahankan gangguannya atau menolak pulih. Bisa jadi mereka hanya sedang mencari bahasa untuk menjelaskan kondisi yang membingungkan.

Masalahnya, diagnosis yang keliru dapat membuat seseorang memilih cara penanganan yang tidak tepat, mengabaikan kemungkinan penyebab lain, atau justru menunda pemeriksaan profesional.

Dampaknya juga dapat meluas. Ketika label gangguan mental digunakan tanpa konteks, batas antara emosi manusia yang wajar dan kondisi klinis menjadi kabur.

Istilah seperti depresi, trauma, bipolar, dan OCD akhirnya dipakai untuk menjelaskan hampir semua ketidaknyamanan sehari-hari. Akibatnya, gangguan mental yang serius justru berisiko dianggap sepele.

Karena itu, yang perlu dicegah bukanlah upaya generasi Z mengenali kondisi dirinya. Kesadaran tersebut tetap penting dan dapat menjadi langkah awal mencari pertolongan. Yang harus dihindari adalah berhenti pada label dari media sosial dan menganggapnya sebagai diagnosis final.

Solusi “Tiga Puluh Detik Tidak Cukup” untuk kesehatan mental

Menghadapi self-diagnosis tidak cukup dengan meminta generasi Z berhenti mencari informasi di media sosial. Larangan semacam itu sulit dilakukan, terlebih ketika akses menuju layanan kesehatan mental belum merata. Yang lebih masuk akal adalah membantu pengguna membedakan konten edukasi, pengalaman pribadi, dan diagnosis klinis.

Sebagai mahasiswa kedokteran, saya mengusulkan kampanye “30 Detik Tidak Cukup”. Kampanye ini dapat dijalankan oleh mahasiswa kedokteran dan psikologi melalui konten yang menjelaskan perbedaan antara mengenali gejala, melakukan skrining awal, dan mendapatkan diagnosis profesional.

Kampanye tersebut bukan untuk menertawakan orang yang merasa memiliki gangguan mental. Sebaliknya, tujuannya mengingatkan bahwa video singkat tidak mampu melihat riwayat kesehatan, durasi gejala, keadaan keluarga, ataupun kesulitan hidup seseorang secara utuh.

Kampanye ini dapat menjadi bagian dari program “Sehat Mental Terverifikasi” atau SELVER. Melalui program tersebut, platform media sosial didorong bekerja sama dengan psikolog dan psikiater untuk meninjau konten kesehatan mental yang berisiko menyesatkan. 

Sistem berbasis AI dapat membantu menemukan konten berisiko, tetapi keputusan akhirnya tetap harus dibuat oleh manusia yang memahami konteks dan memiliki kompetensi.

Konten yang kurang tepat juga tidak harus langsung diblokir. Platform dapat memberikan label informasi, membatasi rekomendasinya, serta menyertakan tautan menuju sumber tepercaya dan layanan kesehatan mental. 

Media sosial bisa saja jadi pintu pertama

Peringatan seperti “Konten ini bersifat edukatif dan bukan alat diagnosis” dapat membantu pengguna memahami batas informasi yang sedang mereka tonton.

Tujuannya bukan membuat generasi Z takut membicarakan kesehatan mental. Mereka justru perlu didorong untuk mengenali gejala dan mencari bantuan ketika kondisi tersebut mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.

Media sosial boleh menjadi pintu pertama untuk menyadari bahwa kita sedang tidak baik-baik saja, tetapi jangan menjadikannya ruang pemeriksaan terakhir. Video 30 detik mungkin cukup untuk menarik perhatian. 

Namun, untuk memahami kesehatan mental seseorang, 30 detik jelas tidak cukup.

*) Tulisan ini merupakan finalis Essay Contest Beswan Djarum 2025/2026. Naskah telah disunting oleh redaksi Mojok.co tanpa mengubah gagasan utama penulis.

Penulis: Jocelyn Kristanti
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.

 

Terakhir diperbarui pada 17 Juli 2026 oleh

Tags: kesehatan mentalpsikiaterpsikologself-diagnosis
Jocelyn Kristanti

Jocelyn Kristanti

Mahasiswi kedokteran Universitas Padjadjaran dan penerima Beasiswa Djarum Plus 2025/2026. Tertarik pada isu kesehatan terkini. Di luar kesibukannya sebagai mahasiswi, ia gemar membaca buku untuk memunculkan pola pikir “Apa yang tidak terlihat oleh mata, sering kali paling menentukan.”

Artikel Terkait

Zero post di Instagram cara hidup tenang Gen Z. MOJOK.CO
Urban

Gen Z Lebih Tenang Tanpa Feed Instagram (Zero Post), Aslinya Bukan Misterius Cuma Capek Mengejar Validasi dan Ingin Melindungi Diri

7 Mei 2026
Gen Z dihakimi milenial
Urban

Nasib Gen Z: Sudah Susah, Malah Serbasalah hingga Dicap “Gila” padahal Hadapi Krisis dan Hanya Mencoba Bertahan Hidup

30 April 2026
Sulitnya menjadi orang dengan attachment style avoidant. MOJOK.CO
Liputan

Sulitnya Menjadi “Avoidant” Menjelang Usia 25, Takut Terlalu Dekat dengan Orang Lain hingga Pesimis Menikah

24 April 2026
Solo date lebih asik daripada nongkrong bareng teman. MOJOK.CO
Sehari-hari

“Solo Date” Menjelang Usia 25: Meski Tampak Menyedihkan, Nyatanya Lebih Bermanfaat daripada Nongkrong Bersama

23 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman buruk investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu MOJOK.CO

Pengalaman menyedihkan investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu per bulan bikin saya kapok dan memutuskan pindah ke deposito demi ketenangan hidup

16 Juli 2026
Koperasi Kelurahan di Banjarsari, Surakarta, bukukan omzet ratusan juta MOJOK.CO

Cerita Koperasi di Banjarsari Surakarta: Berawal dari Garasi, Bukukan Omzet Ratusan Juta?

12 Juli 2026
Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda MOJOK.CO

Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda

10 Juli 2026
Beralih dari profesi dokter ke petani di Klaten. MOJOK.CO

Resah Jadi Dokter: Tangani Pasien Petani dengan Keluhan Sama, Pilih Turun ke Sawah demi “Menyembuhkan” Tanah

13 Juli 2026
Anak-anak bermain bola di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja. MOJOK.CO

Ketika Lapangan Hijau Berbayar Kalah Mewah dengan Paving Gratis Masjid Kauman

11 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.