Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

“Kentucky” Pinggir Jalan: Makanan Biasa-Biasa Saja yang Terasa Mewah, Menyadarkan Betapa Miskinnya Saya Dulu

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
29 Januari 2026
A A
kentucky, rocket chicken mojok.co

Ilustrasi makan ayam goreng (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Kentucky” pinggir jalan adalah makanan mewah saat saya kecil. Menyantapnya jarang-jarang, sekalinya makan wajib mematuhi aturan tak tertulis: wajib makan pakai nasi.

Kini, setelah besar, sudah bekerja dan bisa cari uang sendiri, saya pun balas dendam: beli ayam goreng tepung itu sebanyak yang saya mau, dan saya makan tanpa nasi.

Iklan

Ini bukan soal “balas dendam”. Namun, menjadi pengingat betapa susahnya hidup saya dulu.

Kenangan yang muncul dari sebuah gerobak di Condongcatur 

Setiap kali saya melintasi trotoar di kawasan Manukan, Condongcatur, ada aroma khas yang selalu berhasil menghentikan langkah saya. Aroma itu sulit untuk saya lupakan; perpaduan minyak panas, tepung berbumbu, dan bawang putih, menguap dari penggorengan besar di samping gerobak.

Sementara di atas gerobak itu, biasanya tertulis “Fried Chicken” atau”Kentucky”, dengan huruf kapital semua. Lengkap dengan label harga: Rp10 ribu dapat dua potong, Rp20 ribu dapat lima potong.

Bagi sebagian orang, istilah “Kentucky” mungkin merujuk pada sebuah negara bagian di Amerika Serikat, atau franchise ayam goreng dari negeri Paman Sam itu.

Namun, di kamus masyarakat kelas menengah ke bawah di Indonesia, seperti saya ini, “Kentucky” telah mengalami pergeseran makna. Ia adalah sebutan untuk semua ayam goreng tepung krispi. Baik itu yang dijual di kedai, maupun yang dijajakan gerobakan di pinggir jalan dengan harga merakyat. 

Bahkan, kalau saya membawa ayam goreng Olive Chicken ke desa asal saya, berani bertaruh mereka bakal menyebutnya “Kentucky”. Ya, setidaknya begitu yang menjadi top of mind masyarakat.

Kembali ke aroma khas penggorengan gerobak di Condongcatur tadi. Bagi saya, aroma itu bukan sekadar bau-bauan yang umum dari kuliner jalanan, tetapi sebuah mesin waktu yang melempar saya kembali ke masa lalu, kira-kira 15 tahun silam.

Makanan mewah saat anak-anak

Masa kecil saya tidak dihiasi dengan mainan baru atau makanan mahal. Kemewahan, bagi saya saat itu, adalah ketika Mbah Kakung, tulang punggung keluarga, pulang membawa bungkusan kertas minyak. Di dalamnya, ada sepotong paha bawah atau sayap ayam goreng tepung yang masih hangat. 

Mbah Kakung tidak membelinya setiap hari. Ia membawakan ayam goreng yang kami sebut “Kentucky” itu seminggu sekali, tiap dia pulang dari kota. Mbah Kakung adalah kuli bangunan, kerja di luar kota, dan biasanya pulang ke rumah tiap akhir pekan.

Ada sebuah aturan tidak tertulis yang saya lakukan saat itu: sepotong ayam harus dimakan bareng nasi. Ini bukan soal selera, tetapi “taktik bertahan hidup”. 

Sebagai keluarga yang saat itu hidup di bawah garis kemiskinan, nasi adalah makanan wajib, penopang utama. Ayam, sebagaimana lauk, cuma pelengkap rasa. 

Alhasil, saat itu saya cuma bisa mengambil cubitan daging ayam sekecil mungkin, lalu mencampurnya dengan suapan nasi yang besar. Tujuannya satu, untuk memastikan bahwa di suapan nasi terakhir, masih ada sisa kulit ayam atau remahan tepung yang tertinggal. 

Iklan

Menghabiskan ayam lebih cepat daripada nasi dianggap sebagai sebuah kesalahan. Ya, saat itu kami belajar cara memperpanjang rasa nikmat di tengah keterbatasan yang ada.

Namun, keterbatasan itu juga yang mengasah rasa syukur. Saya masih ingat betul bagaimana cara saya menikmati setiap keriuk tepungnya. Rasanya jauh lebih gurih daripada makanan mahal mana pun yang pernah saya cicipi setelah dewasa. 

Balas dendam sederhana, makan Kentucky pinggir jalan tanpa nasi sebanyak-banyaknya

Waktu berlalu, dan hidup membawa saya pada fase yang berbeda. Saya tumbuh besar, menempuh pendidikan, dan akhirnya memiliki pekerjaan tetap. Kini, saya sudah bisa mencari uang sendiri.

Beberapa waktu lalu, saya memutuskan untuk melakukan sebuah “ritual” yang saya sebut sebagai “aksi balas dendam”. Saya mampir ke gerobak ayam goreng langganan, di kawasan Condongcatur itu. Bukan untuk memesan satu potong, tetapi lima potong sekaligus. 

Saya membawanya pulang ke kos, menatanya di atas piring, dan duduk dengan perasaan “menang” dan puas.

Hal pertama yang saya lakukan adalah memastikan tidak ada nasi di atas meja. Saya ingin memakan ayam itu “telanjang”, hanya ayam dan saus sambal plastikan yang rasanya agak asam-manis itu.

Pada gigitan pertama pada Kentucky, saya merasa bernostalgia. Saya memakan kulit ayamnya sekaligus tanpa rasa takut akan kehabisan lauk. Saya menikmati dagingnya dalam potongan besar, membiarkan minyaknya membasahi jari-jari saya tanpa perlu memikirkan apakah ini akan membuat saya kenyang sampai besok pagi atau tidak.

Aksi “balas dendam” ini mungkin terdengar konyol atau kekanak-kanakan bagi sebagian orang. Namun, secara emosional, ini adalah cara berkompensasi. 

Kalau dalam psikologi, momen-momen seperti ini seringkali membentuk apa yang disebut sebagai inner child atau sisi kekanak-kanakan dalam diri orang dewasa. Kenangan tentang keterbatasan di masa lalu, seringkali meninggalkan lubang emosional yang tanpa sadar ingin kita tambal saat kita sudah memiliki kemampuan finansial. 

Dan, saat itu, saya sedang memanjakan si bocah kecil yang dulu harus menahan liur melihat orang lain makan dengan lahap. Saya sedang menghadiahi diri saya yang dulu harus puas hanya dengan aroma, sementara perutnya hanya diisi nasi putih.

Menariknya, setelah potongan ketiga, saya mulai merasakan sesuatu yang aneh. Rasa puas itu ada, tetapi ada juga rasa kosong yang merayap. 

Saya menyadari bahwa kemewahan sejati dari “Kentucky” itu sebenarnya bukan terletak pada jumlah ayam yang sanggup saya beli. Kemewahan itu ada pada momen penantian seminggu sekali bersama Mbah Kakung. 

Fenomena “Kentucky” pinggir jalan di Indonesia adalah bukti bahwa kebahagiaan memiliki standar yang berbeda-beda. Bagi orang kaya, itu adalah makanan sehari-hari. Bagi seorang mahasiswa perantauan, mungkin itu menjadi penolong saat perut kosong. Dan, bagi saya, itu adalah sebuah monumen peringatan tentang perjuangan dan kasih sayang seorang kakek.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Pertama Tahu KFC, Ngebet Pengen Makan Ayam Goreng Tanpa Nasi Berakhir Menelan Kecewa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 29 Januari 2026 oleh

Tags: ayam goreng kentuckyayam goreng krispiayam goreng pinggir jalanayam goreng tepunginner childkentuckypilihan redaksi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO
Sehari-hari

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO
Catatan

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Standard Ganda: Orang Kota Sok Lebih Berkelas, Padahal di Mata Orang Desa Sama Noraknya

21 Juli 2026
Pakai jastip Mie Gacoan di Jombang: bayar lebih mahal untuk menu membagongkan MOJOK.CO

Pakai Jastip Mie Gacoan Ala Orang Jombang Pinggiran: Niat Hindari Kenorakan, Yang Datang Menu Membagongkan

20 Juli 2026
Cerita Pencari Kerja Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’.MOJOK.CO

Cerita Jobseeker Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’

17 Juli 2026
kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
Ilustrasi - Cerita bapak dulu bungah antar anak wisuda sarjana dari PTS Jogja, kini nelangsa antar anak susah cari kerja meski modal ijazah S1 MOJOK.CO

Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna

19 Juli 2026
sarjana, ijazah s1, pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan

20 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.