Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

35 Tahun Bekerja Keras demi Anak, tapi Kesepian di Masa Tua karena Dianggap Tak Pernah Hadir untuk Keluarga

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
24 Februari 2026
A A
orang tua.MOJOK.CO

Ilustrasi - 35 Tahun Bekerja Keras demi Anak, tapi Kesepian di Masa Tua karena Dianggap Tak Pernah Hadir untuk Keluarga (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Setelah bekerja 50 jam seminggu, selama 35 tahun, orang tua ini akhirnya sukses secara materi. Namun, ia malah menyesal karena di masa tua, sang anak mengabaikannya. Masa tuanya diliputi kesepian.

***

Iklan

Rumah milik Farley Ledgerwood di Santa Monica, California, sebenarnya sangat ideal untuk sebuah keluarga besar. Ada empat kamar tidur, tiga kamar mandi, dan sebuah meja makan panjang di dapur yang bisa menampung banyak anggota keluarga sekaligus. 

Namun, setiap hari sekitar jam setengah tujuh malam, Farley hanya duduk sendirian di sana. Di depannya bukan masakan hangat yang baru matang, tetapi cuma makanan sisa kemarin yang baru saja ia panaskan di microwave.

Selama 35 tahun, Farley adalah definisi sosok yang sangat berdedikasi dalam hal mencari nafkah. Ia bekerja rata-rata 50 jam seminggu di sebuah perusahaan asuransi. Ambisinya sederhana: ia ingin anak-anaknya memiliki kehidupan yang jauh lebih baik daripada yang ia rasakan dulu saat masih kecil. 

“Sebagai orang tua, saya merasa memiliki kewajiban moral untuk memutus rantai kesulitan ekonomi yang pernah dialami keluarga saya di masa lalu,” ucap Farley dalam curhatannya di laman GLOBAL English Editing, sebagaimana Mojok kutip, Selasa (24/2/2026).

Dulu, Farley tumbuh besar melihat ayahnya pulang kerja dengan tangan yang selalu kotor oleh oli pabrik. Ayahnya sering ketiduran di kursi karena kelelahan sebelum sempat makan malam. Pesan sang ayah selalu sama, “Ayah kerja begini supaya kalian punya hidup yang lebih enak.” 

Farley memegang teguh pesan itu saat ia sendiri akhirnya menjadi orang tua. 

Bedanya, ia bekerja di kantor yang bersih dan ber-AC. Ia tidak lagi mandi keringat di pabrik, tapi ia terjebak dalam perlombaan naik jabatan yang tak pernah usai. Dari yang awalnya hanya berniat kerja lembur “sampai proyek ini selesai”, malah menjadi kebiasaan selama tiga dekade penuh.

Orang tua memberi segalanya, kecuali kehadiran ke anak

Bagi Farley, menjadi sosok orang tua yang baik berarti menjadi penyedia (provider). Ia sangat bangga karena tidak pernah sekalipun harus bilang “kita tidak punya uang” kepada anak-anaknya. 

Anak-anaknya masuk sekolah swasta terbaik, kuliah tanpa perlu pusing memikirkan utang, dan bahkan ia bantu saat mereka ingin mencicil rumah pertama. Banyak orang tua di luar sana mungkin akan menganggap pencapaian Farley sebagai puncak dari sebuah keberhasilan dalam membesarkan anak.

Masalahnya, setiap pengorbanan materi itu selalu ada harganya. Farley menjadi sangat ahli dalam membuat alasan untuk ketidakhadirannya secara fisik maupun emosional di rumah. 

“Maaf ya, Ayah tidak bisa datang ke acara sekolah,” atau “Ayah tidak bisa menonton pertandingan bola kamu hari ini, ada rapat penting,” begitu katanya berkali-kali. 

Dalam pikirannya, sebagai orang tua yang bertanggung jawab, ia sedang berkorban demi masa depan. Ia merasa sedang menabung untuk liburan keluarga tahun depan atau untuk dana pendidikan yang lebih tinggi. Ia merasa sedang menyatakan kasih sayang melalui angka-angka di buku tabungan.

Iklan

Padahal, ada satu hal yang lupa ia berikan: waktu untuk hal-hal sepele tapi bermakna. 

Ia tidak pernah ada di rumah pada Selasa sore untuk sekadar membantu mereka mengerjakan PR. Ia jarang ada di rumah pada Sabtu pagi untuk membuat sarapan santai sambil mengobrol tentang hobi anak-anaknya. 

“Hidup saya berlalu begitu saja dengan kesibukan kerja. Ini penyesalan terbesar saya dan mungkin juga orang tua lain ketika masa muda anak-anak mereka sudah lewat,” ungkapnya.

Berhenti bekerja untuk menghabiskan masa tua bersama anak

Pensiun di usia 62 tahun awalnya terasa seperti memenangkan lotre bagi Farley. Ia membayangkan akhirnya memiliki semua waktu di dunia untuk menjadi sosok yang ia impikan. Ia ingin berkunjung ke rumah anak-anaknya, mengobrol lama, dan menebus waktu yang hilang selama berpuluh-puluh tahun. 

“Sebagai orang tua, saya merasa inilah saatnya untuk menuai kebahagiaan bersama keluarga yang selama ini saya hidupi dengan keringat saya,” kata Farley.

Namun, kenyataannya ternyata jauh lebih pahit dari yang ia bayangkan. Setelah berhenti bekerja, Farley merasa kehilangan identitas. Lebih menyedihkan lagi, telepon yang ia tunggu-tunggu dari anak-anaknya tidak kunjung berdering lebih sering. 

Kunjungan mereka pun sangat jarang, mungkin hanya setahun beberapa kali saat hari besar atau libur nasional. Kesepian ini menjadi beban berat yang harus ditanggung oleh orang tua yang dulu mengira bahwa uang adalah segalanya.

Anak-anaknya sebenarnya tidak membencinya. Mereka tetap sopan, menghormati, dan bersikap baik setiap kali bertemu. Namun, mereka sangat sibuk. Mereka sekarang tinggal di kota yang jauh dan memiliki karier yang sedang menanjak dengan pesat. Ironisnya, mereka mempelajari pola hidup itu dari Farley sendiri. 

“Inilah risiko yang seringkali tidak disadari oleh para orang tua saat mereka memberikan contoh bahwa pekerjaan harus selalu berada di urutan pertama dalam skala prioritas hidup.”

Baca halaman selanjutnya…

Orang tua mewariskan contoh buruk ke anak.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 25 Februari 2026 oleh

Tags: kesepiankesepian di masa tuamenuaorang tuaorang tua bekerjapenyesalan orang tua bekerjawork-life balancework-life balance untuk orang tua
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Orang tua, ibu.MOJOK.CO
Urban

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026
Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia MOJOK.CO
Esai

Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia

8 Juni 2026
Hasil riset FEB UGM: workaholic alias kera berlebihan tidak selalu merusak kebahagiaan MOJOK.CO
Kabar

Riset: Kerja Berlebihan (Workaholic) Tidak Selalu Merusak Kebahagiaan, Asalkan Dapat 2 Situasi Ini di Lingkungan Kerja

6 Juni 2026
Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO
Urban

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
Suzuki S-Presso memang mobil aneh karena jelek tapi keren MOJOK.CO

Ibarat kata, Suzuki S-Presso adalah “Crocs KW” yang jelek tapi keren dan kini menjadi benteng pertahanan terakhir melawan kegilaan dunia yang serba mahal ini

14 Juli 2026
Ketika Syarat "Sehat Jasmani dan Rohani Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja.MOJOK.CO

Ketika Syarat “Sehat Jasmani dan Rohani” Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja

17 Juli 2026
Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026
sarjana, ijazah s1, pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan

20 Juli 2026
Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum.MOJOK.CO

Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum

20 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.