Tanya

Dear, Gus Mul yang disayangi oleh seluruh pembaca Mojok.

Perkenalkan, nama saya Tini (tentu bukan nama sebenarnya). Begini, Gus. Sebagai seorang mahasiswa, kehidupan saya di kampus awalnya biasa saja, bahkan cenderung dipenuhi dengan penyesalan karena kian hari kian saya sadari kalau ternyata saya masuk ke jurusan yang tidak benar-benar sesuai dengan keinginan saya. Itulah kenapa saya kerap berkuliah dengan setengah hati.

Namun demikian, perasaan itu perlahan berubah tatkala saya jatuh cinta dengan dosen saya. Iya, seorang dosen. Beliau belum menikah, tapi sudah kepala tiga. Usianya selisih sebelas tahun dengan saya.

Sejak jatuh cinta dengan dosen saya itulah saya merasakan pergi ke kampus menjadi lebih menyenangkan, tidak seperti sebelum-sebelumnya. Pun, sejak saat itu pula perasaan saya dipenuhi dengan pergolakan batin yang amat rumit. Saya menyadari bahwa sangat kecil sekali kemungkinan saya bisa berjodoh dengan dosen yang saya cintai itu, namun demikian, saya juga menyimpan pengharapan agar saya bisa menjalin hubungan yang serius dengan dosen saya itu.

Saya pernah mencoba menanyakan hal ini kepada beberapa kawan, dan semuanya sepakat agar saya membuang jauh perasaan cinta saya kepada dosen saya itu. Saya diminta untuk move on. Usia kami berdua yang terpaut jauh menjadi sebab utama.

Jujur, ini adalah kali pertama saya suka dengan guru/dosen saya, Gus. Pak Dosen adalah orang yang baik, mungkin tidak semua mahasiswa sepakat, tapi di mata saya yang sudah terlanjur bias, beliau sungguh baik sekali kepada saya.

Saya tahu bahwa saya harus move on. Tapi saya tidak tahu caranya. Saya sudah sempat berpikir, mungkin saya harus mulai cari pacar yang lebih “wajar” dan realistis. Namun setiap saya membayangkan untuk mencari pacar, hati saya memikirkan harapan-harapan kecil tentang Pak Dosen. Hati saya juga mengatakan bahwa kalau memang saya harus move on, setidaknya saya harus berani mengungkapkan perasaan saya terlebih dahulu sebab sejak dulu saya selalu punya pengalaman buruk, di mana tiap saya suka sama orang, saya selalu takut untuk mengungkapkannya dan hanya memendam saja, sampai kemudian lelaki-lelaki itu punya pacar.

Baca juga:  Tentang Etika Mahasiswa Menghubungi Dosen via SMS dan WhatsApp

Gus Mul yang baik hati, apakah Gus Mul punya saran dan nasihat untuk saya agar bisa memulai kisah dengan orang lain dan melupakan perasaan saya dengan Pak Dosen?

Terima kasih Gus. Saya harap Gus Mul berbahagia selalu.

~Tini.

Jawab

Dear, Tini.

Sebelumnya, selamat karena Kamu sudah jatuh cinta. Ini hal yang indah dan layak untuk dirayakan. Jatuh cinta, semenyenangkan dan semenyakitkan apa pun, selalu menjadi anugerah yang besar bagi manusia.

Saya paham bahwa tak mudah berasa di posisimu sekarang ini. Mencintai seseorang yang usianya jauh lebih tua dan belum tahu ia mencintai kita balik apa tidak.

Begini, Tini. Saya selalu meyakini bahwa cinta itu seharusnya memang cukup melibatkan hati dan sesekali akal sehat saja. Kalau melibatkan banyak hal di luar itu, biasanya malah membuat cinta menjadi repot.

Jatuh cinta pada dasarnya kan soal kenyamanan, kalau memang dengan dosenmu yang usianya jauh lebih tua itu membuatnya nyaman, ya menurutku hajar saja. Ngapain move on segala. Move on itu kalau dia sudah tegas menolak dan tidak mau menjalin hubungan denganmu, itu baru move on. Kalau belum jelas ya perjuangkan.

Menurut saya, selisih sebelas tahun itu di masa sekarang, bukanlah selisih yang cukup besar. Sebelas tahun hanya tampak besar ketika ia disandingkan dengan bilangan yang kecil, namun kalau sudah disandingkan dengan bilangan yang besar, selisih itu tidak akan tampak sebesar itu.

Baca juga:  Kepincut Anak Tetangga, Bingung Ngedeketinnya

Misal begini, kalau ada perempuan usia 19 tahun berpasangan dengan lelaki usia 30 tahun, maka akan tampak sekali selisihnya. Namun kalau perempuan usia 32 tahun berpasangan dengan lelaki usia 43 tahun, maka selisihnya menjadi tampak tak mencolok. Padahal antara keduanya sama-sama selisih 11 tahun.

Nah, begitu pula hubungan kamu dengan Pak Dosen, jika sekarang kamu pacaran, dan kelak di usia yang ideal kalian ternyata berjodoh dan kemudian menikah, selisih itu perlahan akan semakin tak tampak.

Saran saya sih jelas. Nggak usah pakai move on move on-an segala. Hantam saja. Pepet terus. Jangan kasih renggang. Ungkapkan perasaanmu. Ingat, kamu sudah cukup bergejolak dengan mencintai seseorang yang lebih tua, jangan biarkan gejolakmu itu semakin buruk dengan tidak mengungkapkan perasaanmu.

Mencintai orang yang jauh lebih tua itu sama sekali tidak salah. Itu sah dan legal. Wong ia juga masih bujang. Setidaknya itu lebih beretika ketimbang mencintai lelaki yang usianya sepantaran  atau malah lebih muda tapi sudah punya anak-istri.

Kalau ternyata kamu harus move on, setidaknya kamu move on karena sudah mendapatkan kejelasan bahwa ia nggak mencintai kamu, bukan move on karena kamu takut dengan perasaanmu sendiri.

Selamat berjuang, Tini.

~Gus Mul