Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Catatan Getir Dosen Kalcer: Tampil Keren, tapi Cemas Mahasiswanya Jadi Sarjana Menganggur

Wardoyo Dingkol oleh Wardoyo Dingkol
20 Mei 2026
A A
Catatan Getir Dosen Kalcer: Tampil Keren, tapi Cemas Mahasiswanya Jadi Sarjana Menganggur MOJOK.CO

Ilustrasi Catatan Getir Dosen Kalcer: Tampil Keren, tapi Cemas Mahasiswanya Jadi Sarjana Menganggur. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK – Sebagai pengajar yang mendapat julukan dosen kalcer oleh mahasiswa, penulis dapat tekanan psikologis, apakah mahasiswanya akan jadi bagian dari satu juta sarjana yang menganggur? 

Pagi di Gorontalo selalu punya cara sendiri untuk menyapa, udara lembab yang merambat dari Teluk Tomini, aroma ayam iloni yang mulai mengepul di sudut-sudut jalan Nani Wartabone, dan matahari yang rasanya sudah siap memanggang siapa pun yang berani melangkah keluar rumah dengan kemeja flanel berlapis kaus oblong. 

Iklan

Saya berdiri di depan cermin, merapikan tali sepatu New Balance yang belakangan ini oleh anak muda disebut sebagai bagian dari seragam wajib “Dosen Kalcer”. 

Istilah “kalcer” atau culture ini sebenarnya lucu sekaligus menyedihkan. Ia seolah-olah menjadi label bagi kami, para pendidik muda, yang mencoba tampil beda dari prototipe dosen konvensional yang kaku, berjarak, dan hobi menumpuk diktat usang. 

Dosen kalcer adalah juru ketik administratif yang menyamar jadi intelektual

Menjadi “kalcer” bagi mahasiswa berarti Anda adalah oase. Anda adalah orang yang bisa diajak diskusi di Mary Coffee atau di 230 cafe tanpa sekat hierarki yang mengintimidasi. 

Namun, bagi sistem birokrasi pendidikan kita di tahun 2026 ini, menjadi “kalcer” sering kali hanyalah sekadar ornamen visual yang menyembunyikan kenyataan bahwa kami sebenarnya adalah juru ketik administratif yang menyamar sebagai intelektual.

Langkah saya menuju kampus pagi ini terasa berat, bukan karena materi kuliah yang sulit, melainkan karena beban moral yang saya bawa dalam tas ransel saya. Di sana, terselip data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru 2026 yang menunjukkan bahwa angka pengangguran sarjana di Indonesia telah resmi menembus angka satu juta orang. 

Hal ini diperkuat dengan beberapa berita yang saya baca, “Hampir 1 Juta Sarjana Menganggur Tiap Tahun, 3 Masalah Disorot”. Bayangkan, di ruang kelas nanti, saya akan berdiri di depan 20 puluh pasang mata yang penuh harap, mengajar tentang Teori Komunikasi Modern. 

Sementara dalam hati saya tahu bahwa kemungkinan besar sepuluh persen dari mereka akan berakhir menjadi barista yang over kualifikasi. Atau admin media sosial yang ijazahnya hanya menjadi prasyarat administratif yang absurd. 

Ini adalah ironi terbesar dalam sejarah pendidikan kita. Indonesia sedang berada di puncak bonus demografi, tetapi negara seolah-olah sedang merayakan festival pengangguran terdidik dengan kebijakan-kebijakan yang semakin tidak masuk akal di tahun 2026 ini.

Nalar kapitalistik sedang mencengkeram pendidikan di Indonesia

Masuk ke ruang kelas, saya disambut oleh kebisingan mahasiswa yang sibuk dengan gawai mereka. Dalam kacamata Ekologi Media Marshall McLuhan, saya melihat bahwa ruang kelas ini bukan lagi sekadar tempat transfer pengetahuan.  Melainkan sebuah lingkungan teknologi yang membentuk kesadaran mereka. 

Medium adalah pesan, kata McLuhan, dan hari ini mediumnya adalah algoritma media sosial yang mendikte selera intelektual mereka. Sebagai dosen muda yang hidup dalam satu rentang generasi dengan mereka, saya mencoba masuk melalui celah itu. 

Saya tidak lagi menggunakan model komunikasi linear yang satu arah di mana saya adalah pusat kebenaran tunggal, melainkan menerapkan model transaksional yang dialogis. Saya ingin membangun apa yang oleh Martin Buber disebut sebagai hubungan “I-Thou” (Aku-Engkau). 

Sebuah mutualitas di mana mahasiswa bukan sekadar klien atau produk pabrik ijazah, melainkan mitra dalam menegosiasikan makna.

Iklan

Namun, idealisme komunikasi dialogis ini langsung terbentur tembok tebal saat saya teringat pernyataan pejabat kementerian yang menyebut bahwa pendidikan tinggi hanyalah tertiary education sebuah pilihan, bukan kewajiban. Sehingga negara merasa tidak perlu terlalu serius mengintervensi soal biaya atau keterjangkauan. 

Pernyataan sembrono ini adalah puncak dari nalar kapitalistik yang sedang mencekik universitas kita. Di tahun 2026, kampus perlahan-lahan kehilangan ruhnya sebagai laboratorium peradaban dan berubah menjadi lini produksi yang dipaksa tunduk pada nalar pasar. 

Kebijakan penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri adalah bentuk pragmatisme sempit yang sangat berbahaya. Jika kita hanya mencetak lulusan sesuai pesanan pabrik, lantas siapa yang akan menjadi kritikus sosial? 

Siapa yang akan menjaga nalar kritis bangsa saat semua orang hanya dilatih untuk menjadi buruh terampil yang patuh pada standar industri?

Kampus terjebak pada jargon kemajuan yang dangkal

Di Gorontalo, tantangan ini terasa lebih personal. Kampus-kampus di sini sedang berjuang bertransformasi, terutama tempat saya mengajar. Tapi sering kali terjebak pada jargon-jargon kemajuan yang dangkal. 

Kami, dosen muda, didorong untuk kreatif dalam mengajar menggunakan pendekatan konstruktivisme sosial Vygotsky.  Kami membangun scaffolding agar mahasiswa bisa melampaui keterbatasan kognitif mereka melalui interaksi sosial dan kolaborasi. 

Namun, di saat yang sama, kami dipaksa menjadi hamba bagi sistem. Setiap hari, energi kami habis untuk memindahkan angka dari satu sistem ke sistem lainnya. 

Memastikan dokumen akreditasi lengkap hingga titik koma, sementara kualitas interaksi di kelas menjadi korban. Kita mengalami fetish dokumen yang luar biasa, di mana selembar bukti fisik jauh lebih dihargai daripada satu ide brilian yang lahir dari diskusi di kelas.

Mari kita bicara jujur tentang pengangguran. Data BPS periode 2025-2026 yang dirilis pada 5 Februari 2026 menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional berada di angka 4,74%. Sebuah penurunan tipis yang sering dipamerkan pemerintah. 

Namun, lihatlah lebih dalam, pengangguran di kelompok usia 25-34 tahun usia emas para sarjana berada di 5,38%. Ini adalah mismatch pendidikan yang akut. 

Kurikulum yang digadang-gadang memberikan kebebasan pada akhirnya sering kali hanya menjadi program magang massal yang menyediakan tenaga kerja murah bagi industri, tanpa jaminan penempatan permanen. Bagi saya, fenomena sarjana menganggur ini menciptakan tekanan psikologis yang luar biasa. 

Banyak lulusan kita yang akhirnya terjebak dalam kebingungan karier atau career confusion, di mana ijazah mereka yang berstempel “sangat memuaskan” tidak mampu menandingi syarat lowongan kerja yang meminta pengalaman lima tahun untuk posisi entry level.

Baca halaman selanjutnya: Bagaimana saya bisa meyakinkan mereka bahwa kejujuran intelektual adalah segalanya, sementara mahasiswa melihat bahwa di dunia nyata, koneksi dan manipulasi sering kali lebih menentukan daripada kompetensi? 

Jadi dosen kalcer itu harus memiliki ketabahan tingkat tinggi

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 20 Mei 2026 oleh

Tags: Dosendosen kalcerkalcerKampusPendidikansarjana
Wardoyo Dingkol

Wardoyo Dingkol

Dosen di IAIN Sultan Amai Gorontalo, Alumni S2 Ilmu Komunikasi UNHAS, terlibat aktif dengan beberapa komunitas literasi dan pemerhati lingkungan, masalah pendidikan dan hal-hal yang berkaitan dengan kemanusiaan. Aktif dalam penelitian akademik dan menulis opini yang berkaitan dengan hal-hal sekitar.

Artikel Terkait

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja MOJOK.CO
Esai

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja

5 Agustus 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Sekolahan

Memilih Sekolah Mahal demi Selamatkan Pergaulan Anak di Desa, Malah Dicap “Sok Kaya” dan Egois oleh Tetangga

27 Juli 2026
sarjana muda gusar mencari kerja. MOJOK.CO
Urban

Realita Sarjana Muda Gusar Mencari Kerja: 4 Tahun Lamanya Berkutat dengan Buku, Lulus Kuliah Memilih Pasrah

23 Juli 2026
sarjana, ijazah s1, pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO
Sehari-hari

Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan

20 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cinta yang Tak Berbalas Bikin Perempuan Crush Recession hingga Belum Menikah. MOJOK.CO

Crush Recession: Jatuh Cinta Terasa Melelahkan, bikin Perempuan Malas Pacaran

4 Agustus 2026
Hyrox. MOJOK.CO

Panduan Selamat sebelum Menjajal Hyrox agar Nggak Celaka: Dari Latihan Angkat Beban sampai Tips Punya Asuransi Jiwa

9 Agustus 2026
burnout kerja kantoran mojok.co

Mencintai Pekerjaan tanpa Harus Menyukai Orang-Orang di Dalamnya

4 Agustus 2026
Polemik IKAPI DIY dan toko buku Jogja perihal harga murah MOJOK.CO

Narasi “Harga Murah” Pameran Buku IKAPI DIY Singgung Toko Buku Jogja, Kalimat yang Tidak Seharusnya Keluar

5 Agustus 2026
Kampung Menari Hasta Budaya, Wadah Gratis Warga Gowongan Lestarikan Tari Klasik Jogja.MOJOK.CO

Kampung Menari Hasta Budaya, Wadah Gratis Warga Gowongan Lestarikan Tari Klasik Jogja

6 Agustus 2026
Lomba Agustusan di desa jadi toxic dan merusak moral anak muda gara-gara paparan kreator konten di media sosial MOJOK.CO

Lomba Agustusan di Desa Jadi Toxic dan “Merusak” Anak Muda karena Terpapar Konten Kreator, Tidak Seasyik Dulu

8 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.