Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Corak Curhat

Dilema Mencintai Dosen yang Usianya Jauh Lebih Tua

Redaksi oleh Redaksi
29 Agustus 2020
A A
dosen
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tanya

Dear, Gus Mul yang disayangi oleh seluruh pembaca Mojok.

Perkenalkan, nama saya Tini (tentu bukan nama sebenarnya). Begini, Gus. Sebagai seorang mahasiswa, kehidupan saya di kampus awalnya biasa saja, bahkan cenderung dipenuhi dengan penyesalan karena kian hari kian saya sadari kalau ternyata saya masuk ke jurusan yang tidak benar-benar sesuai dengan keinginan saya. Itulah kenapa saya kerap berkuliah dengan setengah hati.

Namun demikian, perasaan itu perlahan berubah tatkala saya jatuh cinta dengan dosen saya. Iya, seorang dosen. Beliau belum menikah, tapi sudah kepala tiga. Usianya selisih sebelas tahun dengan saya.

Sejak jatuh cinta dengan dosen saya itulah saya merasakan pergi ke kampus menjadi lebih menyenangkan, tidak seperti sebelum-sebelumnya. Pun, sejak saat itu pula perasaan saya dipenuhi dengan pergolakan batin yang amat rumit. Saya menyadari bahwa sangat kecil sekali kemungkinan saya bisa berjodoh dengan dosen yang saya cintai itu, namun demikian, saya juga menyimpan pengharapan agar saya bisa menjalin hubungan yang serius dengan dosen saya itu.

Saya pernah mencoba menanyakan hal ini kepada beberapa kawan, dan semuanya sepakat agar saya membuang jauh perasaan cinta saya kepada dosen saya itu. Saya diminta untuk move on. Usia kami berdua yang terpaut jauh menjadi sebab utama.

Jujur, ini adalah kali pertama saya suka dengan guru/dosen saya, Gus. Pak Dosen adalah orang yang baik, mungkin tidak semua mahasiswa sepakat, tapi di mata saya yang sudah terlanjur bias, beliau sungguh baik sekali kepada saya.

Saya tahu bahwa saya harus move on. Tapi saya tidak tahu caranya. Saya sudah sempat berpikir, mungkin saya harus mulai cari pacar yang lebih “wajar” dan realistis. Namun setiap saya membayangkan untuk mencari pacar, hati saya memikirkan harapan-harapan kecil tentang Pak Dosen. Hati saya juga mengatakan bahwa kalau memang saya harus move on, setidaknya saya harus berani mengungkapkan perasaan saya terlebih dahulu sebab sejak dulu saya selalu punya pengalaman buruk, di mana tiap saya suka sama orang, saya selalu takut untuk mengungkapkannya dan hanya memendam saja, sampai kemudian lelaki-lelaki itu punya pacar.

Gus Mul yang baik hati, apakah Gus Mul punya saran dan nasihat untuk saya agar bisa memulai kisah dengan orang lain dan melupakan perasaan saya dengan Pak Dosen?

Terima kasih Gus. Saya harap Gus Mul berbahagia selalu.

~Tini.

Jawab

Dear, Tini.

Sebelumnya, selamat karena Kamu sudah jatuh cinta. Ini hal yang indah dan layak untuk dirayakan. Jatuh cinta, semenyenangkan dan semenyakitkan apa pun, selalu menjadi anugerah yang besar bagi manusia.

Saya paham bahwa tak mudah berasa di posisimu sekarang ini. Mencintai seseorang yang usianya jauh lebih tua dan belum tahu ia mencintai kita balik apa tidak.

Begini, Tini. Saya selalu meyakini bahwa cinta itu seharusnya memang cukup melibatkan hati dan sesekali akal sehat saja. Kalau melibatkan banyak hal di luar itu, biasanya malah membuat cinta menjadi repot.

Jatuh cinta pada dasarnya kan soal kenyamanan, kalau memang dengan dosenmu yang usianya jauh lebih tua itu membuatnya nyaman, ya menurutku hajar saja. Ngapain move on segala. Move on itu kalau dia sudah tegas menolak dan tidak mau menjalin hubungan denganmu, itu baru move on. Kalau belum jelas ya perjuangkan.

Menurut saya, selisih sebelas tahun itu di masa sekarang, bukanlah selisih yang cukup besar. Sebelas tahun hanya tampak besar ketika ia disandingkan dengan bilangan yang kecil, namun kalau sudah disandingkan dengan bilangan yang besar, selisih itu tidak akan tampak sebesar itu.

Misal begini, kalau ada perempuan usia 19 tahun berpasangan dengan lelaki usia 30 tahun, maka akan tampak sekali selisihnya. Namun kalau perempuan usia 32 tahun berpasangan dengan lelaki usia 43 tahun, maka selisihnya menjadi tampak tak mencolok. Padahal antara keduanya sama-sama selisih 11 tahun.

Nah, begitu pula hubungan kamu dengan Pak Dosen, jika sekarang kamu pacaran, dan kelak di usia yang ideal kalian ternyata berjodoh dan kemudian menikah, selisih itu perlahan akan semakin tak tampak.

Iklan

Saran saya sih jelas. Nggak usah pakai move on move on-an segala. Hantam saja. Pepet terus. Jangan kasih renggang. Ungkapkan perasaanmu. Ingat, kamu sudah cukup bergejolak dengan mencintai seseorang yang lebih tua, jangan biarkan gejolakmu itu semakin buruk dengan tidak mengungkapkan perasaanmu.

Mencintai orang yang jauh lebih tua itu sama sekali tidak salah. Itu sah dan legal. Wong ia juga masih bujang. Setidaknya itu lebih beretika ketimbang mencintai lelaki yang usianya sepantaran  atau malah lebih muda tapi sudah punya anak-istri.

Kalau ternyata kamu harus move on, setidaknya kamu move on karena sudah mendapatkan kejelasan bahwa ia nggak mencintai kamu, bukan move on karena kamu takut dengan perasaanmu sendiri.

Selamat berjuang, Tini.

~Gus Mul

Terakhir diperbarui pada 2 September 2020 oleh

Tags: Dosenjatuh cinta
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja MOJOK.CO

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja

5 Agustus 2026
Kesejahteraan Dosen dan Rasa Aman yang Masih Jadi Angan-angan MOJOK.CO

Kesejahteraan Dosen dan Rasa Aman yang Masih Jadi Angan-angan

6 Juli 2026
dosen.MOJOK.CO

Butuh Biaya Puluhan Juta Demi Ijazah S2-S3, tapi Negara Malah “Melegalkan” Dosen Digaji di Bawah UMR

23 Juni 2026
Rozi, dosen penyandang disabilitas Unair yang lulus S3. MOJOK.CO

Perjalanan Dosen Unair yang Kehilangan 2 Kaki, Berhasil Selesaikan Kuliah S3 di FKH dengan IPK Sempurna

27 Mei 2026
Harga Kopi dan Ketakutan Dosen Bergelar Doktor pada Portal Error Menjelang Deadline MOJOK.CO

Harga Kopi dan Ketakutan Dosen Bergelar Doktor pada Portal Error Menjelang Deadline

25 Mei 2026
Catatan Getir Dosen Kalcer: Tampil Keren, tapi Cemas Mahasiswanya Jadi Sarjana Menganggur MOJOK.CO

Catatan Getir Dosen Kalcer: Tampil Keren, tapi Cemas Mahasiswanya Jadi Sarjana Menganggur

20 Mei 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Sisi lain blusukan kampung di Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Sisi Lain Tren Blusukan Kampung: Nggak Seru seperti di Medsos, Malah Dicurigai Pencuri dan Dianggap Tak Tau Adab

20 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
UMKM, UKM.MOJOK.CO

Pemkot Jogja Buru “DNA” 18.000 Usaha Kecil untuk Basis Data Tunggal 2026 demi Kebijakan Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
ilustrasi - pekerja (Ega Fansuri/Mojok.co)

Pelarian Laki-laki Burnout usai Dihantam Pekerjaan tapi Dipaksa Kuat karena Tuntutan Kepala Keluarga Ideal

20 Agustus 2026

Sarjana BK Kebingungan Tentukan Arah Masa Depan: Tak Otomatis Jadi Guru BK, Jadi Dosen pun Susah

19 Agustus 2026
JPPI, MBG, buku siswa sekolah.MOJOK.CO

RAPBN 2027: Anggaran Pendidikan Tersandera Rp240 Triliun demi Program yang Tak Penting

17 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.