Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Bamsoet: Minelial Kurang Nasionalis, Bisa Ancam Indonesia. Milenial: Politikus Penyebabnya

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
8 Agustus 2021
A A
Bamsoet: Minelial Kurang Nasionalis, Bisa Ancam Indonesia. Milenial: Politikus Penyebabnya MOJOK.CO

Bamsoet: Minelial Kurang Nasionalis, Bisa Ancam Indonesia. Milenial: Politikus Penyebabnya MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Milenial kurang nasionalis kata Bamsoet. Ya maaf, kami jadi kurang nasionalis karena melihat petingkah politikus brengsek yang justru tidak nasionalis.

Bambang Soesatyo atau biasa disapa Bamsoet berpendapat bahwa kurangnya rasa nasionalis pada milenial bisa menjadi semacam “bom waktu” bagi Indonesia. Apakah beliau tidak berpikir bahwa milenial dan generasi Z sekarang itu lelah dengan petingkah politikus yang makin aneh?

Iklan

Bamsoet ngomong begitu sebagai bentuk respons atas hasil survei CSIS yang mencatat bahwa ada sekitar 10 persen generasi milenial yang setuju mengganti Pancasila dengan ideologi lain. Pada titik ini, saya setuju kalau hal ini bisa menjadi “bom waktu”. Menjadi masalah di masa depan.

Saya pribadi, sebagai milenial, nggak setuju Pancasila diganti. Namun, soal nasionalis, nanti dulu.

Saya rasa ini momentum bagus untuk menyampaikan kepada Bamsoet dan politikus-politikus lain perihal rasa muak yang dialami milenial. Saya juga curiga generasi Z juga merasakan rasa sumpek yang sama. Jika pendapat ini tidak didengar, bukan tidak mungkin angka golput dan rasa benci kepada politikus akan semakin memuncak.

Kenapa saya menganggap hal ini penting untuk didengar Bamsoet sebagai Ketua MPR dan politikus lain? Silakan simak obrolan netizen di media sosial ketika merespons berita yang mengatakan bahwa milenial kurang nasionalis.

Generasi kami sudah makin tidak peduli kepada mereka yang ingin mengubah Pancasila. Ketika isu ini naik ke permukaan, paling cuma sebentar jadi obrolan hangat. Toh petingkah politikus sendiri banyak yang tidak mencerminkan Pancasila itu sendiri. Mulai terlihat polanya, kan.

Yang generasi kami rekam secara utuh di dalam kepala adalah kekecewaan kepada pemerintah, yang berisi orang tua yang seakan-akan selalu menyalahkan anak muda. Kami semakin sadar bahwa “para orang tua” di pemerintahan sudah memberi contoh buruk.

Sampai titik ini, saya agak bersyukur Tuhan mendatangkan pandemi di dunia ini. Lewat pandemi, kami jadi bisa melihat betapa tidak kompetennya politikus dan orang tua berjas di kursi pemerintah. Kami jadi bisa melihat betapa “wakil rakyat” itu justru tidak punya empati dan akal sehat.

Mulai dari bagaimana anggota dewan hingga Presiden tidak segera bertindak ketika pandemi mulai merambat mendekati Indonesia. Tindakan meremehkan pandemi, membuat pandemi sebagai bahan candaan, tidak mendengarkan pendapat ahli kesehatan, dan menyalahkan rakyat ketika pandemi meluas hanya secuil contoh.

Ketika anggota dewan positif Covid-19, mereka meminta rumah sakit khusus. Bahkan mereka juga minta isoman di hotel berbintang. Ketika rakyat mati karena rumah sakit penuh, pesan apa yang ingin disampaikan lewat aksi tanpa empati itu?

Masih ditambah korupsi bansos yang berakhir manis untuk si penjahat. Bagaimana bisa Ketua KPK yang dengan gagah di awal menegaskan penjahat bansos bisa dihukum seumur hidup hingga hukuman mati malah cuma dihukum 11 tahun saja. Pesan macam apa yang ingin disampaikan kepada rakyat dengan sikap lunak seperti itu?

Lalu soal Pinangki. Dia sudah dihukum sejak Juni, tapi baru dipecat di Agustus. Itu saja karena beritanya ramai di media sosial dan membuat banyak orang marah. Pesan apa yang ingin disampaikan dari sebuah hukum yang baru berjalan ketika rakyat sudah kadung marah?

Pak Bamsoet yang terhormat, pemotongan hukuman untuk penjahat bansos, penyunatan hukuman untuk Pinangki, aksi teman-temanmu yang pengin isoman di hotel berbintang, dan sikap nir empati dari Mahfud MD itu apakah mencerminkan makna Pancasila? Sama sekali tidak. Itu yang bikin milenial muak dan makin tidak nasionalis.

Iklan

Bukankah mereka yang bisa menentukan nasib Indoensia tapi tidak mencerminkan makna Pancasila itu yang sepatutnya disebut tidak nasionalis? Entah kebetulan atau tidak, mereka yang memberi contoh buruk itu malah gerombolan orang tua. Kenapa yang disudutkan malah milenial?

Ahh… belum lagi soal baliho Puan, Airlangga, dan politikus lainnya. Ketika hidup rakyat digencet oleh pandemi dan potensi jadi miskin, politikus sudah memikirkan kampanye. Mereka membantah dengan cepat, tapi pesan yang sudah kami rekam adalah sikap tidak punya hati nurani.

Nanti, mendekati 2024, milenial juga yang suaranya diburu. Mayoritas pemilih di 2024 adalah mereka yang masuk dalam kelas milenial. Apakah kami akan dibuai dengan janji-janji manis lagi? Saya yakin itu yang akan terjadi. Rakyat dibaik-baikin waktu suaranya dibutuhkan. Lalu dilupakan ketika Bapak dan Ibu wakil rakyat terhormat sudah duduk nyaman.

Oya, kalau tidak salah dengar, kantor Pak Bamsoet itu elok sekali. Ada “macan” di dalam kantor Ketua MPR. Ada dua hiasan gading yang gagah betul. Punya mobil Ferrari yang klasik dan keren sekali. Enak ya jadi wakil rakyat. Iya, mewakili rakyat untuk hidup nyaman. Baik sekali.

Saya sendiri mau menantang wakil rakyat untuk tidak digaji dan tidak mendapat tunjangan selama pandemi masih ada di Indonesia. Berani tidak? Yah, bukan apa-apa, siapa tahu dengan begitu, gerakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia bisa dimulai dari mereka yang “begitu sayang sama suara rakyat”.

BACA JUGA Memblejeti Harta Kekayaan Bambang Soesatyo dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Terakhir diperbarui pada 8 Agustus 2021 oleh

Tags: airlangga hartantoBambang soesatyobamsoetketua mprkorupsi bansosmilenialpinangkiPuan Maharani
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Anak muda alias gen z dan milenial kini tolak kejar jabatan. MOJOK.CO
Urban

Anak Muda Tolak Karier Elite dengan Jabatan Tinggi, Pilih Side Job yang Jamin Gaji Stabil di Masa Kini

19 Mei 2026
Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas Mojok.co
Pojokan

Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas

18 Mei 2026
Gen Z dihakimi milenial
Urban

Nasib Gen Z: Sudah Susah, Malah Serbasalah hingga Dicap “Gila” padahal Hadapi Krisis dan Hanya Mencoba Bertahan Hidup

30 April 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO
Catatan

Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami

22 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026
Anak miskin di Yogyakarta masuk Sekolah Rakyat. MOJOK.CO

Saat Kemiskinan Memaksa Anak Lebih Dewasa sebelum Waktunya, Sekolah Rakyat Jadi Pilihan Satu-satunya

20 Juli 2026
TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana MOJOK.CO

TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana

17 Juli 2026
Pemuda lulusan SMK tidak menyerah mencari kerja dengan modal ijazah SMK demi orang tua MOJOK.CO

Modal Ijazah SMK dan Pengalaman Tak Nyerah Cari Kerja demi Orang Tua, Meski Sering Terima “Penolakan” karena Fisik

21 Juli 2026
sarjana, ijazah s1, pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan

20 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.