Kerja di Jakarta bikin stres. Meski punya gaji lumayan di SCBD, Dinda harus bertarung dengan kerasnya ibu kota yang bikin dia menangis di dalam KRL. Karena tak tahan, ia membuat keputusan besar: meninggalkan pekerjaan mapan dan menepi ke desa asal di Purwokerto.
***
Bagi teman-teman kuliahnya di Purwokerto, Dinda (25) adalah contoh nyata kesuksesan anak rantau. Kalau melihat unggahan Instagram-nya, hidup Dinda tampak sangat menyenangkan.
Misalnya, ia sering memotret es kopi susu dengan latar gedung-gedung kaca pencakar langit. Tali gantungan ID card atau lanyard dari agensi tempatnya bekerja di kawasan elite SCBD Jakarta, tak pernah absen menggantung di lehernya.
Di mata orang kampung halamannya, Dinda pasti gajinya besar dan hidupnya nyaman. Sangat wajar, mengingat SCBD adalah pusat kawasan bisnis paling bergengsi di Indonesia.
“Ekspektasi banyak orang, ya, layaknya pekerja Jakarta lainnya lah. Pasti dilihat selalu megang duit,” ujar perempuan yang bekerja di Jakarta sejak 2024 itu, Kamis (12/3/2026).
Namun, kamera ponsel Dinda tidak pernah menyorot kenyataan setelah jam kantor bubar. Gaji Dinda sebagai staf agensi sebenarnya hanya sebatas UMR Jakarta, sekitar lima jutaan. Dengan nominal pas-pasan itu, mustahil baginya menyewa kos di tengah kota.
Demi menghemat pengeluaran, ia pun menyewa kamar kos murah di Bojonggede, pinggiran Kabupaten Bogor. Keputusannya ini lebih didasarkan karena sepupunya yang memintanya tinggal bersama agar lebih hemat.
“Kosku karena yang punya itu masih sepupu, cuma disuruh bayar 150 doang buat air sama listrik,” ujarnya.
Tiap hari harus berdesakan di dalam KRL
Gaya hidup di perkantoran elite yang menuntut penampilan rapi berbenturan keras dengan tempat tinggalnya di pinggiran kota. Setiap hari, Dinda harus bangun jam lima pagi agar tidak tertinggal jadwal KRL awal.
Kemeja rapinya harus rela berdesak-desakan dengan ratusan penumpang lain yang sama-sama mengantuk.
Belum lagi horor yang harus ia hadapi saat transit di Stasiun Manggarai. Berlarian pindah peron, punggung yang saling berdesakan sampai napas sesak, dan bau keringat yang bercampur aduk sudah jadi makanan sehari-hari.
“Sampai di kantor kayak orang nggak mandi.”
Malam yang bikin tekadnya bulat untuk resign
Puncaknya terjadi pada suatu malam di musim hujan. Dinda terpaksa lembur dan baru bisa pulang naik KRL jadwal terakhir.
Malam itu, hujan turun lumayan deras. Ujung celana dan sepatu kerja Dinda basah kuyup terkena cipratan air saat berlari menuju peron. Di dalam gerbong, hawa dingin dari AC bercampur dengan bau pengap dari baju-baju basah puluhan penumpang lain.
Belum sempat tubuhnya mengering, suara pengumuman dari pengeras suara terdengar: kereta tertahan cukup lama karena ada gangguan sinyal di stasiun depan.
Terdengar helaan napas panjang dan keluhan dari seluruh penjuru gerbong. Termasuk dari mulut Dinda. Di tengah desakan penumpang yang sama-sama ingin cepat rebahan, mental Dinda akhirnya runtuh.
Ia tidak kebagian tempat duduk. Mau tidak mau, Dinda harus berdiri berjam-jam sambil berpegangan erat pada tiang besi kereta. Pundaknya terasa kaku karena harus menggendong tas berisi laptop kantor yang lumayan berat. Sementara itu, kakinya terasa sangat perih karena lecet tergesek sepatu kerja murah yang basah.
“Aku menangis sejadi-jadi. Di dalam KRL, diliatin orang-orang. Dan aku nggak peduli,” jelasnya.
Di momen itu, isi kepalanya sangat berisik. Ia mulai menghitung sisa saldo di rekeningnya. Gajinya yang lumayan itu, nyatanya cuma numpang lewat. Uangnya habis untuk makan, isi saldo kartu KRL, dan pesan ojek dari stasiun. Belum lagi tuntutan ikut patungan beli kopi kekinian bareng teman kantor sekadar agar tidak dibilang “kuper”.
Malam itu, Dinda tiba-tiba merasa sangat bodoh. Ia bertanya-tanya dalam hati, untuk apa ia memaksakan diri bertahan kalau aslinya sangat kelelahan.
Baca halaman selanjutnya…
Mantep resign! Memilih pulang ke desa di Purwokerto untuk mencari ketenangan.














