Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Saat Antar Anak Cari Kos dan Tak Sabar Jadi Maba, Ortu Tampak Antusias tapi Diam-diam Sembunyikan Cemas

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
8 Juli 2026
A A
Saat mengantar anak mencari kos untuk persiapan kuliah di PTN Jogja: anak antusias jadi mahasiswa baru (maba), orang tua justru menyimpan kecemasan yang tidak hanya persoalan UKT mahal MOJOK.CO

Ilustrasi - Saat mengantar anak mencari kos untuk persiapan kuliah di PTN Jogja: anak antusias jadi mahasiswa baru (maba), orang tua justru menyimpan kecemasan yang tidak hanya persoalan UKT mahal. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Hari ketika diputuskan akan berangkat ke kota perantauan—untuk mencari kos sebelum masa perkuliahan dimulai—menjadi hari yang semringah bagi seorang calon mahasiswa baru (maba). Namun, di balik wajah orang tua yang mengantar dengan antusias, diam-diam ternyata ada rasa cemas yang disembunyikan, selain persoalan UKT mahal. 

***

Iklan

Masa perkuliahan untuk mahasiswa baru tahun ajaran 2026/2027 sedianya baru berlangsung antara Agustus-September 2026 ini. Namun, sejumlah maba sudah memutuskan lebih awal ke kota perantauan untuk sekadar mengamankan kos dan aklimatisasi.

“Kalau mepet-mepet masa kuliah, takutnya udah susah cari kos karena banyak yang penuh,” begitu ujar Masyhadi, pria menjelang kepala lima, saat berbincang dalam perjalanan pulang usai mengantar putrinya mencari kos di Jogja. 

Raut wajah yang berubah dari mengantar dan saat pulang

Perbincangan saya dengan Masyhadi terjadi pada akhir-akhir Juni 2026 lalu, saat kami berada dalam satu travel rute Jogja-Rembang. 

Pagi sebelum menjemput Masyhadi dan istri, saya lebih dulu berbincang dengan driver travel yang kami pesan. Kebetulan saya menjadi penumpang pertama yang dijemput. 

Bertolak dari Apotek Kentungan (titik jemputan saya), driver membuka percakapan dengan pertanyaan: di Jogja apakah saya bekerja atau justru saya termasuk mahasiswa baru yang baru selesai mencari kosan?

“Sejak pertengahan Juni, penumpang saya didominasi orang tua yang ngantar anak cari kos, Mas. Padahal kuliah masih Agustus. Tapi udah nyicil cari kos dari sekarang,” jelas si driver. 

“Meski situasi ekonomi lagi carut-marut, ternyata masih banyak orang tua yang tetap mengusahakan anaknya buat kuliah. Di Jogja lagi yang apa-apa mahal. Salut sih,” sambung pria 30-an tahun itu. 

Penumpang yang ia antar kebanyakan dari Rembang dan Blora. Ada yang mengantar anaknya, setelah itu pulang tinggal berdua karena si anak memilih tinggal di Jogja untuk aklimatisasi. Ada pula yang sekadar membooking kos dan mencicil menaruh sejumlah barang, setelah itu si anak tetap ikut pulang. 

“Penumpangku sebenarnya ganti-ganti. Maksudnya pas berangkat aku antar orang, nanti pulangnya antar beda orang. Tapi aku lihat pola begini: pas berangkat sama anak, si orang tua tampak antusias. Ya ikut antusias lah karena anaknya semangat,” beber si driver. 

Namun, ia juga melihat, ketika orang tua pulang tanpa si anak yang memilih langsung tinggal di kosan, seperti ada yang meredup dari wajah mereka. Lebih banyak diam. 

Iklan

Anak antusias menjadi mahasiswa baru (maba) di  PTN Jogja, ortu cemas pergaulan bebas

Mobil kami lantas menjemput Masyhadi dan istri, penumpang dengan tujuan Blora. Sepanjang perjalanan, istri Masyhadi cenderung lebih banyak diam. Masyhadi lah yang banyak berbincang dengan saya yang duduk di belakangnya. 

Anak yang baru menyongsong menjadi mahasiswa adalah putri kedua mereka. Sementara anak pertamanya, laki-laki, dulu tidak kuliah karena memutuskan langsung bekerja. 

Kata Masyhadi, sang putri lah yang memang mendesak agar lekas mencari kos di Jogja. Masyhadi melihatnya sebagai bentuk antusiasme dari sang putri untuk menjadi mahasiswa baru. 

“Anak semangat buat pendidikan, buat kuliah, ya masa kami sebagai orang tua nggak turuti,” ujar pria yang mengaku sehari-hari sebagai wiraswasta tersebut. 

Bahkan, ketika Masyhadi berpamitan usai memastikan sang putri menemukan kos yang cocok, ia melihat putrinya tampak sangat siap dilepas di perantauan. Berkali-kali sang putri memastikan kalau ia akan baik-baik saja. 

“Katanya mau coba-coba dulu. Juli kalau mau pulang, ya dia tinggal pulang karena kuliahnya masih Agustus,” kata Masyhadi. 

Di sisi sebaliknya dari sang putri, Masyhadi dan istri diam-diam menyembunyikan rasa cemas. Bukan perkara biaya kuliah dan biaya hidup selama si putri menjadi mahasiswa di PTN Jogja. 

Kata Masyhadi, si putri tinggal di sebuah kos dengan harga sewa Rp800 ribu. Tapi itu tidak menjadi beban bagi Masyhadi dan istri. Yang menjadi beban pikiran mereka adalah: bagaimana pergaulan putrinya nanti. 

“Kami ini orang desa, Mas. Kalau dengar istilah kuliah atau merantau di kota jauh, itu kekhawatiran kami yang pertama pasti soal pergaulan bebas,” ujarnya. “Ya tugas kami orang tua nanti selalu mengingatkan soal jaga diri.” 

Cemas tidak keurus

Ibarat dari bayi sampai SMA ada di bawah pengawasan dan perawatan orang tua, lalu tiba-tiba menjadi remaja yang tinggal jauh dari rumah, memberi rasa cemas tersendiri bagi orang tua. Begitu sahut istri Masyhadi. 

Masyhadi menyambung, putrinya selama ini memang cukup dimanjakan. Dan apalagi mereka tahu, kalau sedang sakit, si putri bisa benar-benar sangat manja pada ibunya. 

“Dari desa kami kan dia sendirian yang kuliah di (PTN) Jogja. Dari apa-apa selalu ke ibunya, sekarang dia harus urus diri sendiri. Cemas lah, nanti dia bakal keurus atau nggak, makannya, kesehatannya,” ungkap Masyhadi. 

Cemas pula apakah nanti si putri bakal berada di lingkungan orang-orang baik atau jahat. Tapi lebih dari itu, Masyhadi percayakan saja kepada Allah bahwa putrinya akan selalu dalam perlindungan-Nya. 

“Tugas orang tua selain mengusahakan keinginan anak, ya cuma bisa mendoakan yang terbaik kan, Mas?,” tuturnya. 

Cemas yang disembunyikan orang tua saat anak kuliah di PTN Jogja

Sebagaimana biasa, travel rute Jogja-Rembang pasti akan berhenti di sebuah warung makan di perbatasan Sragen-Purwodadi. Warung tersebut memang menjadi semacam basecamp bagi para driver travel untuk ngopi, sarapan, atau mengoper penumpang.

Memesan segelas kopi susu, saya duduk menjejeri dua orang laki-laki dari mobil travel lain yang sehari sebelumnya juga mengantar putrinya mencari kos sekaligus melihat calon PTN tempatnya kuliah di Jogja. 

Satu dari laki-laki tersebut adalah pria 40-an tahun: bapak dari si mahasiswa baru. Sementara laki-laki satunya adalah keponakannya. Obrolan kami berlangsung setelah saya memberikan beberapa informasi soal Jogja dari pertanyaan yang si bapak ajukan. 

“Saya itu, Mas, cuma pekerja serabutan. Lah kok anak minta kuliah. Pikiran jadi ke mana-mana: bisa nggak nanti membiayai penuh selama dia masih kuliah? Takut saya kalau ada masanya keuangan saya seret,” ujar si bapak. 

Tapi jelas tidak mungkin kecemasan itu diutarakan pada sang anak. Yang ia tahu, namanya anak, seringkali tahunya hanya meminta pada orang tua. Karena orang tua, terutama bapak, adalah tumpuannya. 

Sementara bagi orang tua, memfasilitasi keinginan anak, sepanjang itu baik, adalah sebuah kewajiban. 

“Tapi ya moga-moga aja lah semua lancar, wong buat pendidikan anak masa Gusti Allah nggak ngasih rezeki kan,” ujar pria yang ternyata juga asal Blora tersebut. 

Orang tua hanya mengantar dan telepon yang membuat terdiam

Kuliah adalah salah satu jalan menuju kesuksesan. Itu yang si bapak tangkap kenapa sang putri begitu bertekad untuk lanjut kuliah di sebuah PTN di Jogja. 

Meski begitu, si bapak tidak mau memasang beban tersebut pada putrinya. Yang ia tahu, kuliah itu sama seperti sekolah: anak biar pinter. Cukup anaknya jadi orang pinter dan orang baik. Itu yang si bapak inginkan. Tidak lebih. 

“Tugas orang tua hanya mengantar anak,” begitu gumam si bapak, pendek, lalu obrolan kami terpotong karena masing-masing driver sudah bersiap melanjutkan perjalanan lagi. 

Sementara di mobil yang saya tumpangi, di sisa perjalanan, obrolan saya dan Masyhadi masih terus berlanjut. Menjadi lebih random. Sesekali ia mengangkat telepon dari sang putri yang bertanya: sudah sampai mana? Setiap habis mengangkat telepon, Masyhadi butuh jeda untuk diam, menatap luar jendela mobil, mengusap-usap wajahnya, bernafas panjang, sebelum kemudian kembali mengajak saya berbincang. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Anak Betah Jadi Mahasiswa Abadi karena Sibuk Organisasi dan Ogah Garap Skripsi, Ortu di Rumah Pura-pura Memahami padahal Terbebani atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 8 Juli 2026 oleh

Tags: cara dapat keringanan uktkos jogjakos murah jogjamabamahasiswa baruPTN Jogjatips cari kostips cari kos buat mabaukt mahal
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Mahasiswa baru (maba) rela jadi jongos abang-abangan kampus di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tidak pernah menyesalinya MOJOK.CO

Maba Rela Jadi Jongos Abang-abangan Kampus demi Relasi dan Diskusi Kiri Apa Salahnya? Tak Malu dan Tak Menyesalinya

13 Agustus 2026
Tinggal di kos dekat kampus niat cari kemudahan di awal menjadi mahasiswa baru (maba), malah jadi pemicu konflik sosial yang merepotkan diri sendiri MOJOK.CO

Kos Dekat Kampus Memang Beri Kemudahan, Tapi Jadi Pemicu Rangkaian Konflik Sosial yang Merepotkan Diri Sendiri

10 Agustus 2026
Perjuangan orang haven't ingin jadi mahasiswa baru (maba) tanpa sponsor orang tua melalui beasiswa KIP Kuliah MOJOK.CO

Nasib Orang Haven’t: Ingin Jadi Maba Tanpa Sponsor Orang Tua, Harus Alami Kerja di Warung Mie Ayam 16 Jam Upah 30 Ribu

7 Agustus 2026
Biaya kos, kisah mahasiswa.MOJOK.CO

Bertahan di Kos Tanpa Jendela yang Berisik dan Sepanas Oven, Semua Demi Ngirit dan Lolos Ancaman DO Kampus

30 Juli 2026
Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian.MOJOK.CO

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian

29 Juli 2026
WiFi di Kos MOJOK.CO

Ngekos Murah Ber-WiFi Malah Tekor: Berisik, Teras Berubah Jadi Warnet Gratisan, Berujung Terusir dan Ngungsi demi Ketenangan

24 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tinggal di Belanda 21 tahun, akhirnya menyerah jadi WNI dengan jalur naturalisasi kewarganegaraan. MOJOK.CO

Menyesal Jadi WNI Setelah 21 Tahun Tinggal di Belanda, Ternyata Pindah Kewarganegaraan Itu Mudah

14 Agustus 2026
ngaji al-qur'an.MOJOK.CO

Promosi Miras Pakai Hafalan Al-Qur’an: Diklaim Lecehkan Agama, Berpotensi Mengulang Blunder Hollywings 

11 Agustus 2026
Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

13 Agustus 2026
Pegawai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih pinggir kuburan harus dibekali dengan keahlian supranatural hingga ilmu sosial MOJOK.CO

Keahlian-keahlian Vital untuk Pegawai Kopdes Pinggir Kuburan, Berguna buat Diri Sendiri dan Pembeli

13 Agustus 2026
No Na, Klakson Telolet, dan Nasionalisme yang Nggak Harus Serius MOJOK.CO

No Na, Klakson Telolet, dan Nasionalisme yang Nggak Harus Serius

17 Agustus 2026
Kelebihan Daikin sebagai AC terbaik untuk hunian modern dengan listrik terbatas MOJOK.CO

Daikin Multi-S, Pilihan AC Terbaik untuk Rumah Hemat Energi

15 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.