MOJOK.CO – Naik BYD, rasanya seperti masuk ke dunia yang berbeda. Menyusuri jalanan di Jakarta, saya menahan diri supaya tak kelihatan kampungan.
Ramadan 2025 seharusnya menjadi bulan yang tenang. Namun bagi pekerja kantoran di Jakarta, Ramadan juga identik dengan satu tradisi lain: buka bersama. Dan seperti jutaan pekerja lain, saya juga ikut menjalani tradisi itu.
Waktu itu saya dan satu divisi kantor mengadakan buka bersama di kawasan SCBD. Awalnya biasa saja. Makan, ngobrol, lalu lanjut bercanda sampai malam. Tanpa terasa jam sudah hampir menunjukkan pukul 10 malam, sementara saya harus pulang naik KRL dari Stasiun Palmerah.
Ketika acara selesai, kepala divisi tempat saya bekerja tiba-tiba menawarkan untuk mengantar beberapa orang ke stasiun. Tepatnya bukan menawarkan sih, lebih seperti memaksa dengan halus.
“Udah ikut saya aja.”
Akhirnya malam itu ada empat orang di rombongan kecil tersebut: kepala divisi sebagai pengemudi, saya, satu rekan staf lain, dan satu kepala departemen.
Jujur saja, dari awal situasinya sudah terasa aneh buat saya. Kepala divisi saya sendiri yang menyetir dan mengantar kami pulang. Rasanya seperti melihat bos berubah jadi sopir pribadi.
Kami berjalan bersama menuju parkiran basement. Dari kejauhan kepala divisi saya menekan tombol alarm mobilnya. Dan di situlah saya mulai sedikit melongo: BYD.
Kali pertama naik mobil listrik
Selama ini saya hanya bisa melihat mobil listrik BYD di internet dan jalan raya Jakarta. Mobil yang dalam kepala saya harganya sangat mahal sampai rasanya saya harus bekerja bertahun-tahun tanpa makan untuk bisa membelinya. Yang lebih memalukan adalah saya harus menahan senyum sendiri.
Senyum karena sebentar lagi saya akan duduk di dalam mobil listrik mewah bermerk BYD.
Norak? Sedikit.
Tapi jujur. Ketika masuk ke dalam mobil, saya langsung sadar kalau dunia mobil listrik memang berbeda. Bahkan untuk membuka pintunya saja rasanya tidak biasa. Setelah duduk di kursi depan BYD, saya makin bingung harus fokus ke mana.
BYD bikin saya mendadak jadi kampungan
Layar BYD panjang sekali. Bukan seperti dashboard mobil yang biasa saya lihat. Ini lebih mirip tablet raksasa yang ditempel di depan pengemudi. Ada indikator baterai, grafik energi, dan berbagai tombol digital yang hampir semuanya berbentuk touch screen. Jujur saja, dalam kepala saya waktu itu cuma ada satu kalimat:
“Ini mah HP berjalan.”
Kampungan? Ya memang.
Tapi saya memang baru pertama kali naik mobil semacam itu.
Belum lagi suasana kabin BYD yang terasa sangat senyap. AC-nya dingin, tapi dinginnya nyaman. Kursinya empuk dan lega sekali. Bahkan jarak antara kursi penumpang dan pengemudi terasa luas. Saya yang biasanya naik kendaraan umum atau motor mendadak merasa seperti pejabat malam itu.
Dan justru di situlah tekanan mulai muncul. Saya duduk tepat di samping kepala divisi.
Deg-degan? Banget.
Saya takut terlihat terlalu norak, jadi terlalu banyak bertanya, apalagi salah bicara. Bahkan selama perjalanan saya merasa harus menjaga ekspresi wajah agar tidak terlihat seperti orang kampung yang baru pertama kali melihat teknologi.
Padahal mungkin wajah saya tetap kelihatan aneh karena sepanjang perjalanan mata saya terus melirik layar besar di dashboard.
Aura kemewahan
Mobil mulai berjalan meninggalkan SCBD menuju Palmerah. Jalanan Jakarta malam itu cukup macet di beberapa titik. Lampu-lampu gedung terlihat indah dari balik kaca mobil. Anehnya, Jakarta yang biasanya terasa bising mendadak terlihat tenang dari dalam BYD itu.
Mungkin karena kabinnya terlalu senyap. Atau mungkin karena selama ini saya memang tidak pernah melihat Jakarta dari sudut semewah itu. Perjalanan yang biasanya terasa melelahkan mendadak seperti wisata malam.
Sementara itu obrolan di dalam mobil terus berjalan. Namun saya lebih banyak diam. Kalau ada yang bertanya, saya menjawab seperlunya dengan bahasa yang terlalu formal. Bukan karena sombong, tapi karena takut salah bicara dan akhirnya malah terdengar aneh.
Di jakarta, kita harus bisa “berpura-pura”
Akhirnya yang lebih banyak mengobrol justru kepala divisi dan kepala departemen di belakang. Jabatan mereka memang tidak terlalu jauh, jadi pembahasannya juga terasa nyambung. Sementara saya hanya duduk di depan, sesekali tertawa, mengangguk, lalu kembali melihat layar dashboard BYD seperti anak kecil. Kurang lebih seperti tim hore.
Sampai akhirnya di tengah perjalanan, kepala divisi saya berkata sesuatu yang sampai sekarang masih saya ingat.
“Di dunia kerja itu kita harus bisa berpura-pura di depan siapa saja. Termasuk sekarang. Bukber kayak gini juga sebenarnya kerja. Kita lagi bangun relasi.”
Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa membuat saya diam cukup lama. Malam itu saya baru sadar kalau dunia kerja ternyata tidak berhenti ketika jam kantor selesai. Bahkan ketika sedang makan bersama, tertawa, atau mengantar teman pulang, semuanya tetap bisa menjadi bagian dari pekerjaan.
Dan mungkin benar, ada banyak senyum yang sebenarnya dipaksakan di dunia profesional. Ada banyak obrolan yang tetap harus terdengar hangat meski sebenarnya lelah. Ada banyak orang yang tetap terlihat nyaman walaupun aslinya ingin segera pulang. Termasuk saya malam itu yang duduk dengan rasa kagum di dalam BYD.
Turun dari BYD, kembali ke dunia nyata
Empat puluh menit kemudian kami sampai di Stasiun Palmerah. Saya dan dua rekan lain turun dari mobil sambil berpamitan. Setelah pintu tertutup dan mobil itu pergi, saya berdiri beberapa detik sambil melihat suasana stasiun yang kembali ramai dan panas. Rasanya seperti baru bangun dari mimpi.
Beberapa menit sebelumnya saya masih duduk di kabin senyap BYD sambil melihat lampu SCBD yang terasa cantik. Sekarang saya kembali menjadi penumpang KRL yang harus berdesakan untuk pulang. Dan anehnya, justru di situlah saya kembali merasa menjadi diri sendiri.
Penulis: Andry Setyawan
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA BYD: Menjadi Pemimpin Mobil Listrik Dunia, Menandai Era Baru Industri Otomotif Global dan pengalaman menarik lainnya di rubrik OTOMOJOK.














