Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Otomojok

Pengalaman Menahan Rasa Penasaran di Dalam Kabin Mewah BYD demi Tidak Terlihat Kampungan ketika Menyusuri Jalanan Jakarta

Andry Setyawan oleh Andry Setyawan
30 Juni 2026
A A
Naik BYD Menyusuri Jalanan Jakarta Bikin Saya Jadi Kampungan MOJOK.CO

Ilustrasi Naik BYD Menyusuri Jalanan Jakarta Bikin Saya Jadi Kampungan. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Naik BYD, rasanya seperti masuk ke dunia yang berbeda. Menyusuri jalanan di Jakarta, saya menahan diri supaya tak kelihatan kampungan.

Ramadan 2025 seharusnya menjadi bulan yang tenang. Namun bagi pekerja kantoran di Jakarta, Ramadan juga identik dengan satu tradisi lain: buka bersama. Dan seperti jutaan pekerja lain, saya juga ikut menjalani tradisi itu.

Iklan

Waktu itu saya dan satu divisi kantor mengadakan buka bersama di kawasan SCBD. Awalnya biasa saja. Makan, ngobrol, lalu lanjut bercanda sampai malam. Tanpa terasa jam sudah hampir menunjukkan pukul 10 malam, sementara saya harus pulang naik KRL dari Stasiun Palmerah.

Ketika acara selesai, kepala divisi tempat saya bekerja tiba-tiba menawarkan untuk mengantar beberapa orang ke stasiun. Tepatnya bukan menawarkan sih, lebih seperti memaksa dengan halus.

“Udah ikut saya aja.”

Akhirnya malam itu ada empat orang di rombongan kecil tersebut: kepala divisi sebagai pengemudi, saya, satu rekan staf lain, dan satu kepala departemen.

Jujur saja, dari awal situasinya sudah terasa aneh buat saya. Kepala divisi saya sendiri yang menyetir dan mengantar kami pulang. Rasanya seperti melihat bos berubah jadi sopir pribadi.

Kami berjalan bersama menuju parkiran basement. Dari kejauhan kepala divisi saya menekan tombol alarm mobilnya. Dan di situlah saya mulai sedikit melongo: BYD.

Baca juga: Mobil Hybrid (Sebenarnya) Bukan Pilihan Buruk, tapi Bisa Bikin Tekor karena Mobil Jenis Ini Tidak Cocok untuk Semua Orang

Kali pertama naik mobil listrik

Selama ini saya hanya bisa melihat mobil listrik BYD di internet dan jalan raya Jakarta. Mobil yang dalam kepala saya harganya sangat mahal sampai rasanya saya harus bekerja bertahun-tahun tanpa makan untuk bisa membelinya. Yang lebih memalukan adalah saya harus menahan senyum sendiri.

Senyum karena sebentar lagi saya akan duduk di dalam mobil listrik mewah bermerk BYD.

Norak? Sedikit.

Tapi jujur. Ketika masuk ke dalam mobil, saya langsung sadar kalau dunia mobil listrik memang berbeda. Bahkan untuk membuka pintunya saja rasanya tidak biasa. Setelah duduk di kursi depan BYD, saya makin bingung harus fokus ke mana.

BYD bikin saya mendadak jadi kampungan

Layar BYD panjang sekali. Bukan seperti dashboard mobil yang biasa saya lihat. Ini lebih mirip tablet raksasa yang ditempel di depan pengemudi. Ada indikator baterai, grafik energi, dan berbagai tombol digital yang hampir semuanya berbentuk touch screen. Jujur saja, dalam kepala saya waktu itu cuma ada satu kalimat:

Iklan

“Ini mah HP berjalan.”

Kampungan? Ya memang.

Tapi saya memang baru pertama kali naik mobil semacam itu.

Belum lagi suasana kabin BYD yang terasa sangat senyap. AC-nya dingin, tapi dinginnya nyaman. Kursinya empuk dan lega sekali. Bahkan jarak antara kursi penumpang dan pengemudi terasa luas. Saya yang biasanya naik kendaraan umum atau motor mendadak merasa seperti pejabat malam itu.

Dan justru di situlah tekanan mulai muncul. Saya duduk tepat di samping kepala divisi.

Deg-degan? Banget.

Saya takut terlihat terlalu norak, jadi terlalu banyak bertanya, apalagi salah bicara. Bahkan selama perjalanan saya merasa harus menjaga ekspresi wajah agar tidak terlihat seperti orang kampung yang baru pertama kali melihat teknologi.

Padahal mungkin wajah saya tetap kelihatan aneh karena sepanjang perjalanan mata saya terus melirik layar besar di dashboard.

Aura kemewahan

Mobil mulai berjalan meninggalkan SCBD menuju Palmerah. Jalanan Jakarta malam itu cukup macet di beberapa titik. Lampu-lampu gedung terlihat indah dari balik kaca mobil. Anehnya, Jakarta yang biasanya terasa bising mendadak terlihat tenang dari dalam BYD itu.

Mungkin karena kabinnya terlalu senyap. Atau mungkin karena selama ini saya memang tidak pernah melihat Jakarta dari sudut semewah itu. Perjalanan yang biasanya terasa melelahkan mendadak seperti wisata malam.

Sementara itu obrolan di dalam mobil terus berjalan. Namun saya lebih banyak diam. Kalau ada yang bertanya, saya menjawab seperlunya dengan bahasa yang terlalu formal. Bukan karena sombong, tapi karena takut salah bicara dan akhirnya malah terdengar aneh.

Di jakarta, kita harus bisa “berpura-pura” 

Akhirnya yang lebih banyak mengobrol justru kepala divisi dan kepala departemen di belakang. Jabatan mereka memang tidak terlalu jauh, jadi pembahasannya juga terasa nyambung. Sementara saya hanya duduk di depan, sesekali tertawa, mengangguk, lalu kembali melihat layar dashboard BYD seperti anak kecil. Kurang lebih seperti tim hore.

Sampai akhirnya di tengah perjalanan, kepala divisi saya berkata sesuatu yang sampai sekarang masih saya ingat.

“Di dunia kerja itu kita harus bisa berpura-pura di depan siapa saja. Termasuk sekarang. Bukber kayak gini juga sebenarnya kerja. Kita lagi bangun relasi.”

Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa membuat saya diam cukup lama. Malam itu saya baru sadar kalau dunia kerja ternyata tidak berhenti ketika jam kantor selesai. Bahkan ketika sedang makan bersama, tertawa, atau mengantar teman pulang, semuanya tetap bisa menjadi bagian dari pekerjaan.

Dan mungkin benar, ada banyak senyum yang sebenarnya dipaksakan di dunia profesional. Ada banyak obrolan yang tetap harus terdengar hangat meski sebenarnya lelah. Ada banyak orang yang tetap terlihat nyaman walaupun aslinya ingin segera pulang. Termasuk saya malam itu yang duduk dengan rasa kagum di dalam BYD.

Baca juga: Denza D9 Datang, Bikin Alphard Langsung Terlihat Tua dan Tidak Menarik: Pelajaran dari “Mobil China” yang Mengusik Singgasana Sang Raja

Turun dari BYD, kembali ke dunia nyata

Empat puluh menit kemudian kami sampai di Stasiun Palmerah. Saya dan dua rekan lain turun dari mobil sambil berpamitan. Setelah pintu tertutup dan mobil itu pergi, saya berdiri beberapa detik sambil melihat suasana stasiun yang kembali ramai dan panas. Rasanya seperti baru bangun dari mimpi.

Beberapa menit sebelumnya saya masih duduk di kabin senyap BYD sambil melihat lampu SCBD yang terasa cantik. Sekarang saya kembali menjadi penumpang KRL yang harus berdesakan untuk pulang. Dan anehnya, justru di situlah saya kembali merasa menjadi diri sendiri.

Penulis: Andry Setyawan

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA BYD: Menjadi Pemimpin Mobil Listrik Dunia, Menandai Era Baru Industri Otomotif Global dan pengalaman menarik lainnya di rubrik OTOMOJOK.

Terakhir diperbarui pada 30 Juni 2026 oleh

Tags: BYDbyd on the road jakartaharga bydjakartamobil listrikSCBDspesifikasi bydstasiun palmerah
Andry Setyawan

Andry Setyawan

Seorang profesional di bidang Quality Assurance dengan pengalaman di fintech, e-commerce, dan perbankan. Tertarik menulis tentang keresahan dunia kerja dan dinamika kehidupan sehari-hari.

Artikel Terkait

Nasib desainer grafis di desa kabupaten: jasa desain logi dianggap gratisan, pindah Jakarta kaget ternyata cuannya menjanjikan MOJOK.CO
Sehari-hari

Jasa Desain Logo di Desa Kabupaten Dianggap Sepele hingga Jadi Gratisan, Pindah Jakarta Kaget 1 Logo Cuannya Menjanjikan

23 Juni 2026
Untuk Jogja Menjadi Kota Wisata Rendah Emisi Karbon.MOJOK.CO
Eksplor

Untuk Jogja Menjadi Kota Wisata Rendah Emisi Karbon

15 Juni 2026
Kerja di Jakarta, Cara Terbaik Buat Melihat Sisi Buruk Manusia adalah Kerja di F&B.mojok.co
Urban

FnB di Jakarta Bikin Sengsara Pekerjanya: Bisnis Elite tapi Gaji Karyawannya Seuprit, yang Dimiliki Artis bahkan Lebih Tak Manusiawi

2 Juni 2026
Kompetisi Campus League 2026 - Basketball Regional Bandung Season 1 menjadi saksi terjalinnya kerja sama antara Campus League dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang bertujuan untuk membangun ekosistem olahraga jangka panjang dan pembentukan karakter mahasiswa MOJOK.CO
Kilas

Campus League Basketball Season 1 Regional Jakarta: Jadi Ajang Pembuktian Diri di Level yang Berbeda

25 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Umbul Wadon Plunyon, Kalikuning. MOJOK.CO

Umbul Wadon: Jantung Air Kota Jogja di Balik Panorama Indah Plunyon Kalikuning yang Terkesan Seram

26 Juni 2026
Jupiter Z1 Adalah Motor Yamaha Terbaik Idola Orang Jambi MOJOK.CO

Setelah Melakukan Pengamatan, Saya Menemukan Fakta Bahwa Jupiter Z1 Adalah Motor Yamaha yang Menemukan Habitat Alaminya di Jambi

25 Juni 2026
Coach Jacksen F. Tiago: Pendekatan Psikologis di Sepak Bola Remaja Putri Harus Didahulukan Ketimbang Fisik dan Taktik.MOJOK.CO

Coach Jacksen F. Tiago: Pendekatan Psikologis Pemain Muda Putri Harus Didahulukan Ketimbang Fisik dan Taktik

28 Juni 2026
Cerita awardee Beasiswa LPDP University of Edinburgh, Skotlandia, pilih pulang ke Indonesia untuk bangun bisnis brand tas kerja lokal MOJOK.CO

Pulang Kuliah dari Skotlandia Pilih Bisnis Tas Lokal di Indonesia: Buka Lapangan Kerja hingga Terlibat Pemberdayaan Perempuan

29 Juni 2026
gagal jastip saat war tiket konser BTS. MOJOK.CO

Pertama Kali War Tiket Konser BTS: Trust Issue Pakai Jastip karena Selalu Gagal, Justru Hoki Berkat Teman yang FOMO

23 Juni 2026
UGM.MOJOK.CO

Berhasil Kuliah Gratis di Jurusan Mahal UGM Berkat Kebiasaan Belajar Pukul 3 Pagi dan Hobi “Nongkrong” di Perpus Hingga Malam Hari

24 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.