Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
6 Februari 2026
A A
Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO

ilustrasi - 5 tempat penginapan di Lasem, Rembang bergaya khas Tionghoa. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Khanti Puji tak pernah pindah tempat tinggal. Ia masih setia dengan tempat kelahirannya yakni Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Menurut dia, Lasem adalah kawasan yang unik tapi jika ditanya untuk “menetap”, Khanti ragu.

***

Iklan

Lasem dijuluki sebagai “Tiongkok Kecil” karena akulturasi budaya yang terlihat kental bahkan dari segi arsitektur bangunannya. Ada beberapa bangunan lama di Lasem yang kerap dijadikan tempat wisata sekaligus masih dihuni oleh peranakan Tionghoa.

Melansir dari YouTube Pusat Dokumentasi Arsitektur, komunitas Lasem Berdaya mencatat setidaknya ada 362 objek yang diduga sebagai cagar budaya. Mulai dari struktur jalanan, bangunan, dan situs. 

Beberapa bangunan memiliki corak khas Tionghoa bercampur Jawa. Corak itu tak hanya disimbolkan lewat bangunan, tapi motif dan warna batik khas Lasem. Salah satu jenis batik tersohor dari Lasem adalah batik tiga negeri yang memiliki warna merah darah ayam, biru, dan cokelat. 

Khanti Puji yang merupakan anggota pegiat komunitas budaya Lasem menjelaskan, merah menyimbolkan kebudayaan Tionghoa, biru sebagai budaya Belanda, dan cokelat yang berasal dari budaya Mataraman yang mencakup Hindu-Buddha serta Jawa. Hal itu menunjukkan kerukunan warga di tengah keberagaman.

Nilai toleransi yang kental di Lasem

Sejak lahir hingga usianya menginjak 25 tahun, Khanti mengaku perbedaan agama dan etnis tak pernah memicu konflik. Padahal, ia sering mendengar konflik di daerah-daerah lain, seperti yang terjadi di Kota Poso, Ambon, atau yang terbaru di Tangerang soal kendala perizinan rumah ibadah. 

“Setelah aku bandingkan dari kota-kota lainnya, terutama hubungan antar masyarakatnya ya, Lasem itu terkenal dengan toleransi dan kerukunan tanpa sumbu di tengah perbedaan agama dan etnis,” ujar Khanti kepada Mojok, Senin (2/2/2026). 

“Dan kebetulan dari silsilah keluarga keluarga Bapak Ibuku yang aslinya tinggal di Desa Sedangcoyo, Pegunungan Lasem itu memang jarang ada konflik,” ucap Khanti.

Monumen Perang. MOJOK.CO
Monumen Perang Kuning di Lasem. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Sebagai informasi, Desa Sedangcoyo merupakan lokasi Vihara Ratanavana Arama yang dikenal sebagai salah satu pusat peribadatan dan ajaran Buddha. Sejak berdiri tahun 1998, vihara tersebut jadi destinasi penting khususnya perayaan Waisak.

Sekitar 2,2 kilometer dari vihara, terdapat Pesantren Kauman Lasem yang terletak di Desa Karangturi, Rembang. Beberapa ruangannya memiliki arsitektur khas Tionghoa bercampur Jawa. Tak jauh dari pesantren tersebut, terdapat sebuah Masjid Jami’ Baiturrahman yang merupakan pusat wisata religi.

“Keluarga Bapak dan Ibuku yang menganut ajaran Buddha masih belajar di sana. Kami juga hidup rukun dan berdampingan dengan umat muslim,” kata Khanti.

Tapi perekonomian sulit maju

Keunikan tersebut, kata Khanti, bikin Lasem bahkan lebih terkenal dibanding Rembang itu sendiri. Banyak orang-orang pergi ke Lasem untuk wisata. Meski begitu, wisatawan di Lasem lambat laun berkurang dan bangunannya terancam mangkrak.

“Seandainya peninggalan-peninggalan sejarah itu dirawat, mungkin bisa mendobrak wisatawan. Karena setahuku banyak rumah kuno yang dijual dan bahkan situs sejarah yang tidak terawat,” ucap Khanti.

“Kalaupun terpaksa mencari uang dalam jumlah banyak, mau nggak mau ya harus keluar dari Lasem karena kebanyakan orang di sini kerja di pabrik. Dan menurutku, hanya itu pekerjaan yang gajinya lumayan dan menjanjikan sejauh ini,” kata Khanti. 

Desa Karangturi. MOJOK.CO
Jalan Desa Karangturi. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Namun, ada juga bisnis lain yang menurutnya lebih potensial yakni kuliner. Sebagian orang luar daerah barangkali belum banyak yang tahu kalau Lasem terkenal dengan berbagai resep kuliner legendaris, hasil dari akulturasi Tionghoa dan Jawa. Seperti lontong tuyuhan, sate srepeh, nasi gandul, yopia, hingga tauco.

“Nah kalau untuk usaha-usaha yang non kuliner, misalnya kriya, penjahit, dan batik, menurutku pasarnya lebih ke luar negeri sedangkan aku belum ada sih keinginan ke sana,” ucap Khanti.

Oleh karena itu, kata dia, jika ingin slow living di Lasem, Rembang minimal harus punya finansial sekitar 70 persen karena harga barang-barang dan makanan di Lasem sudah terbilang mahal. Untuk sarana hiburan, Lasem tak memiliki banyak mal modern melainkan punya wisata alam yang menarik.

Iklan

“Tapi kalau mau menghindari hiruk pikuk kota seperti Jakarta dan menikmati hidup dengan tenang sembari merasakan keberagaman, Lasem barangkali cocok untuk tempat singgah,” ujar Khanti. 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Pacitan: Daerah yang Tak Terjamah Pemerintah, padahal Punya Banyak Cerita Sejarah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 6 Februari 2026 oleh

Tags: batik tiga negeribudaya tionghoakampung pecinanlasemrembangslow livingtiongkok kecil
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

4 tradisi hajatan di Rembang (bancaan) yang terdengar asing bagi orang daerah lain MOJOK.CO

4 Tradisi Hajatan di Rembang yang Bikin Heran Orang Daerah Lain: Terkesan Ada-ada Saja, Terlalu Detail ke Banyak Urusan

27 Agustus 2026
Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Slow living boleh kalau tabunganmu nambah 1 miliar tiap bulan (Unsplash)

Slow living itu sekarang jatuhnya kemewahan tapi gaya hidup, yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang tabungannya nambah 1 miliar tiap bulan

13 Agustus 2026
Slow living, Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Tanpa Punya Rumah di Desa Tetap Bisa Slow Living Asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

12 Agustus 2026
Beban ekspektasi orang desa di Rembang yang merantau kerja di luar negeri: dipandang kalau bisa menggelar dangdutan setiap tahun MOJOK.CO

Beban Pemuda Desa Kerja di Luar Negeri: Demi Dipandang Harus Gelar Dangdutan Tiap Tahun buat Hibur Warga

12 Agustus 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Desa adalah Tempat Ideal Buat Nine to Five: Gaji “Utuh”, Mental Sehat, asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

28 Juli 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Universitas Terbuka (UT).MOJOK.CO

Kuliah di UT Dikira Bikin Kehilangan Relasi, Mahasiswanya Malah Bisa Membangun Jejaring sampai Luar Negeri 

27 Agustus 2026
Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

22 Agustus 2026
Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap MOJOK.CO

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap

21 Agustus 2026
Pelaku pembakaran hutan di Kalimantan dan titik lemah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia MOJOK.CO

Titik Lemah Penanganan Karhutla di Indonesia: 72 Orang Sengaja Bakar Hutan untuk Buka Lahan, Jadi Ancaman Ekosida

23 Agustus 2026
Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026
Jombang makin kegilaan karnaval sound horeg: battle audio tengah malam, atraksi lampu jadi perburuan baru MOJOK.CO

Jombang Makin “Kegilaan” Sound Horeg: Battle Audio Tengah Malam, Atraksi Lampu Jadi Tren Kalcer Baru

23 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.