Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Semakin Tak Punya Alasan untuk Tinggal dan Mencintai Kabupaten Rembang: Tak Beranjak ke Mana-mana, Kolotnya Dipelihara

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
17 Juni 2026
A A
Rembang semakin tidak layak dicintai MOJOK.CO

Ilustrasi - Rembang semakin tidak layak dicintai. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dulu ketika masih mahasiswa, entah kenapa saya suka meromantisasi Rembang—tempat asal saya di pesisir Pantura. Namun, semakin ke sini, saya justru tidak punya pikiran untuk kembali ke kota ini. 

***

Iklan

Pukul 12.00 WIB, matahari terasa menyengat sekali di sekitar Masjid Jami Lasem, tempat saya turun dari mobil travel yang mengantar saya dari Jogja ke Rembang via Grobogan pada Minggu (14/6/2026). 

Rumah saya masih berjarak setengah jam lagi dari Lasem. Tidak ada transportasi online seperti ojol. Maka saya masih harus mencari bus atau angkutan umum lain untuk beranjak dari Lasem ke depan gapura desa saya di Kecamatan Sluke. 

Duduk di bawah terik matahari dan debu-debu Pantura yang diterbangkan bus dan truk-truk besar, dengan keringat yang sudah membasahi sekujur tubuh, saya menunggu angkutan umum lewat sambil merenung: Rembang sungguh tidak beranjak ke mana-mana. 

Bukan semata perkara Mie Gacoan atau gerai-gerai viral

Selama ini, banyak teman-teman saya asli Rembang yang menyebut Rembang sudah amat tertinggal dari kota-kota tetangga. Tolok ukur mereka sebatas karena Rembang gagap mengikuti perkembangan dunia luar. 

Misalnya, ketika kota lain sudah punya Mie Gacoan, bioskop, atau gerai-gerai modern lain, Rembang masih jauh di belakang. 

Akan tetapi, sebagaimana pernah dipaparkan pakar ekonomi dalam wawancara saya berjudul, “Hanya karena Nggak Ada Mie Gacoan Bukan Berarti Daerah Saya Tertinggal, Ukuran Maju Tak Sereceh Itu“, tertinggal atau tidaknya sebuah kota tidak bisa semata diukur dari perkara keberadaan gerai-gerai modern, viral, nan kekinian. Tapi lebih pada persoalan sistem. 

Saat ini Rembang sudah memiliki Mie Gacoan. Sudah punya bioskop juga. Namun, hal-hal tersebut tidak lantas bisa menyelamatkan wajah Rembang sebagai kota yang layak dicintai. Karena masih ada banyak persoalan yang tidak kunjung teratasi. 

Birokrasi Rembang kolot dari level kabupaten sampai desa, bikin pengin pindah KK

Belakangan ini saya semakin mantap untuk mengurus pindah KTP-KK. Besar kemungkinan pindah ke daerah asal istri, Jombang, Jawa Timur. 

Pemicunya adalah: saya sudah amat muak dengan sistem birokrasi di Rembang yang ribetnya nauzubillah bahkan di era teknologi yang kini menuntut efektivitas. 

Dari level desa sampai kabupaten, perkara administratif terasa ribet, berbelit, dan berlarut-larut.

Mengurus KTP-KK bisa sangat lama. Itu satu hal yang umum diungkapkan, terutama oleh anak-anak muda Rembang yang saya temui. Belum hal-hal administratif lain.

Sementara di daerah istri di Jombang, kami saya nyaris tidak menemui kesulitan apapun tiap mengurus sesuatu. Cepat pula. Serba mudah dari level desa, kecamatan, hingga kabupaten. 

Rumah sakit sekadarnya: pelayanan tidak meyakinkan

Saat istri saya melahirkan di Rembang, seorang saudara asal Rembang yang lama merantau di Sidoarjo mempertanyakan keputusan kami: Kok seyakin itu memilih rumah sakit di Rembang?

Rumah sakit menjadi salah satu pertimbangan utama kenapa akhirnya, setelah menikah, saudara perempuan saya tersebut tidak mikir dua kali untuk ikut suami pindah ke Sidoarjo. 

Tumbuh di Rembang, saudara perempuan saya itu mengaku bahwa setiap pelayanan di rumah sakit Rembang tidak meyakinkan. Bahkan, di kasus tertentu, pasien dengan sakit serius justru mendapat penanganan sekadarnya—dokternya tidak sat-set padahal berurusan dengan keselamatan dan nyawa orang. 

Teman satu desa saya, dulu rekan sesama wartawan di Pati, mengalami malpraktik serius usai menjalani operasi patah kaki di rumah sakit Rembang. Alih-alih pulih dan bisa berjalan normal lagi, sejak 2023 hingga sekarang ia masih harus bergelut dengan kerusakan agak serius di lutut kaki kanannya. 

Iklan

Ia bercerita, dugaan malpraktik tersebut baru terendus ketika ada kecurigaan: kok sudah setahun lebih tidak kunjung pulih? Setelah dibawa ke sebuah rumah sakit ortopedi di Solo, barulah ketahuan ternyata ada kesalahan dari operasi dan kontrol yang ia jalani di Rembang. 

Saya pun sama halnya. Menjelang lahiran pada Desember 2025 lalu, istri saya sempat dalam kondisi agak darurat—denyut nadinya melemah. Namun, saat saya melapor dengan panik, bukannya lekas ada tindakan, perawat-perawat di sana malah bertanya ke saya: kok denyutnya lemah ya Pak? Bukannya memanggil dokter jaga untuk lekas memberi tindakan. 

Tapi pola semacam itu memang terus berulang. Pasien harus menunggu lama untuk mendapat jaminan keselamatan berupa tindakan dari si dokter. 

Banyak pabrik di Rembang, tapi bukan alasan untuk bertahan

Setelah tiba di rumah pada Sabtu siang itu, malam harinya saya bertemu dengan beberapa teman yang bekerja di pabrik. Rata-rata mengeluhkan hal yang sama: Rembang memang banyak pabrik, banyak menyerap anak-anak muda pula. 

Akan tetapi, jika ingin mendapat jaminan ekonomi yang lebih baik, Rembang bukan pilihan untuk bertahan. Upah sangat murah menjadi realitas yang harus dihadapi meski bekerja seharian penuh dan sesekali lembur. 

Maka tidak heran jika banyak orang Rembang—baik kalangan dewasa maupun anak muda—akhirnya memilih merantau ke luar daerah hingga luar negeri (menjadi TKI) agar tidak terus-menerus terjerat dalam kemiskinan. 

Keberadaan banyak pabrik tetap tidak mampu mengubah wajah Rembang. Kalau kata teman-teman saya, Rembang sudah terlanjur sekarat. Orang-orangnya pun, dalam mencari penghidupan di dalamnya, juga dengan hampir sekarat. 

Kehidupan kolot yang menghambat

Mei 2026 lalu, saya diskusi dengan beberapa anak kelas 2 SMK soal peluang mereka agar bisa magang di luar Rembang demi mencari pengalaman dan mengasah keterampilan secara serius. 

Bagi guru mereka dan kebanyakan orang tua mereka, harapannya sih mereka magang di Rembang saja. Tidak perlu jauh-jauh. Tidak perlu sampai ke kota lain seperti Kudus, Semarang, Jogja, atau Surabaya. 

Tapi mereka menolak. Sebab, mereka sebenarnya sadar bahwa magang adalah kesempatan bagi mereka untuk membangun jejaring dan mengasah keterampilan. 

Masalahnya, jika mereka bertahan di Rembang, orientasi tersebut akan sangat sulit terpenuhi. Pertama, akses tempat magang sesuai jurusan terbatas. Kedua, mereka tahu, guru-guru mereka tidak benar-benar menyiapkan mereka magang untuk menambah keterampilan. Tapi hanya formalitas belaka. 

Buktinya: banyak anak magang yang ditempatkan secara awur-awuran.

Misalnya: anak jurusan DKV disuruh magang di layanan fotokopi. Di sana, sehari-hari ia hanya dipekerjakan untuk melayani fotokopi dan transaksi jual beli lain. Ilmu DKV yang mereka pelajari tidak bertambah. Misalnya lagi: anak jurusan Multimedia. Paling ya ditempatkan di tukang cetak foto atau mentok-mentok di konter elektronik. 

Mereka juga merasa muak karena harus berhadapan dengan kehidupan kolot yang menghambat untuk berkembang. Skill atau resolusi tinggi terkait masa depan mereka, alih-alih mendapat dukungan dan fasilitas, hanya berakhir disebut “ndakik-ndakik”. 

Sebab, dalam pandangan kebanyakan komunitas masyarakat di Rembang: sekolah ya sekolah saja, tidak perlu mimpi terlalu tinggi. Alhasil, tidak sedikit anak-anak muda Rembang yang sejak lulus SMA/SMK langsung bekerja sedapatnya karena pilihannya untuk kuliah atau menempuh jalan lain yang mereka resolusikan tidak didukung. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Rembang Sangat Butuh Kereta Api karena Perjalanan di Jalan Pantura Amat Menyiksa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 18 Juni 2026 oleh

Tags: gaji rembangkemiskinan rembangkerja di rembangpabrik rembangrembangrembang tertinggalrumah sakit rembang
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Beban ekspektasi orang desa di Rembang yang merantau kerja di luar negeri: dipandang kalau bisa menggelar dangdutan setiap tahun MOJOK.CO

Beban Pemuda Desa Kerja di Luar Negeri: Demi Dipandang Harus Gelar Dangdutan Tiap Tahun buat Hibur Warga

12 Agustus 2026
TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO

Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti

7 Februari 2026
Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO

Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal

6 Februari 2026
Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO

5 Penginapan di Lasem: Dari Megahnya Bangunan Tionghoa hingga Sunyinya Pengunjung

3 Februari 2026
Ngerinya jalan raya Pantura Rembang di musim hujan MOJOK.CO

Jalan Pantura Rembang di Musim Hujan adalah Petaka bagi Pengendara Motor, Keselamatan Terancam dari Banyak Sisi

12 Januari 2026
Gaji Rp2 jutaan pekerja pabrik Rembang ludes di awal bulan demi sewa LC, judi slot, hingga modif motor MOJOK.CO

Gaji Cuma Rp2 Juta Ludes di Awal Bulan demi Sewa LC, Judi Slot, dan Modif Motor. Biarkan Orang Tua Merana

10 Desember 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Magang pemerintah, rencana mendirikan Universitas Republik Indonesia (URI) dinilai belum bisa jadi solusi fenomena pengangguran dari lulusan perguruan tinggi (sarjana). Apalagi selama ini kuliah cuma dibekali teori MOJOK.CO

Magang Pemerintah Belum Jadi Solusi Pengangguran dari Lulusan Perguruan Tinggi, Apalagi Kuliah cuma Dibekali Teori

18 Agustus 2026
Jangan remehkan antrean Stasiun Lempuyangan, Jogja, di jam pagi untuk keberangkatan Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung MOJOK.CO

Antrean Pagi Stasiun Lempuyangan Jogja Selalu “Keos” dan Bikin Tegang, Datang Lebih Awal Tak Jadi Solusi

21 Agustus 2026
Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi. MOJOK.CO

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi

21 Agustus 2026
Garuda Pertiwi Diredam Thailand di Final: Satu Langkah Mundur, Seribu Langkah ke Depan

Garuda Pertiwi Diredam Thailand di Final: Satu Langkah Mundur, Seribu Langkah ke Depan

24 Agustus 2026
Kontingen Prambanan tunjukkan jejak Mataram Kuno di Karnaval Budaya Klaten 2026. MOJOK.CO

Potret Kejayaan Mataram Kuno dalam Karnaval Budaya Klaten, 26 Kecamatan Adu Keunggulan Wilayah

19 Agustus 2026

Sarjana BK Kebingungan Tentukan Arah Masa Depan: Tak Otomatis Jadi Guru BK, Jadi Dosen pun Susah

19 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.