Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Pacitan: Daerah yang Tak Terjamah Pemerintah, padahal Punya Banyak Cerita Sejarah

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
20 Maret 2025
A A
Pantai di Pacitan. MOJOK.CO

ilustrasi - Kabupaten Pacitan yang menyimpan banyak keindahan alam. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kabupaten Pacitan bagai tempat antah berantah yang kaya akan sumber daya alam, tapi rakyatnya belum bisa dikatakan sejahtera. Sudah bertahun-tahun, Pacitan masuk sebagai salah satu kabupaten dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Jawa Timur.

Lokasinya berjarak 270 kilometer lebih dari Kota Surabaya. Tepatnya di ujung barat Provinsi Jawa Timur. Jauh dari pusat kota. Berdasarkan penelitian berjudul Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kebupaten atau Kota Hasil Pemekaran di Indonesia, daerah yang dekat dengan pusat kekuasaan atau ibukota cenderung lebih mendapatkan perhatian daripada daerah yang jauh dari pusat kekuasaan. 

Penelitian dari Rasyid Widada, Dedi Budiman Hakim, dan Sri Mulatsih itu menjelaskan daerah yang jauh dari pusat ibukota bisa mengalami ketimpangan pemerataan dan keadilan dari pemangku kekuasaan.

Sialnya, penelitian tersebut memperkuat alasan Pacitan jadi salah satu kabupaten dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Jawa Timur. Bisa dibilang, warga yang tinggal di Kabupaten Pacitan tidak sejahtera. Barangkali, alasan itu yang membuat orang tua Vio (26) memindahkannya tinggal di kota lain.

15 tahun di Kabupaten Pacitan 

Sejak Vio lahir hingga beranjak remaja, ia tinggal di Kabupaten Pacitan. Namun, saat usia 15 tahun alias kelas satu SMA, orang tuanya memindahkan Vio untuk sekolah di luar kota. Setelah pindah ke Jogja, Vio hanya berkunjung sesekali ke Kabupaten Pacitan di akhir pekan.

Pengalaman itu membuat Vio paham, apa yang berbeda dari Kabupaten Pacitan dan Jogja.

“Mungkin suasananya ya, kalau Jogja sudah tertata, meskipun terlalu padat juga penduduknya, tidak seperti Kabupaten Pacitan,” kata Vio saat dihubungi Mojok, Rabu (12/3/2025).

Secara geografis, Kabupaten Pacitan memiliki luas wilayah 1.389,87 kilometer persegi dengan jumlah penduduk mencapai 597,07 ribu jiwa di tahun 2024. Sementara itu, kabupaten yang mendekati luas wilayahnya seperti Pacitan adalah Gunung Kidul di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). 

Untuk perbandingan saja, Kabupaten Gunung Kidul yang luasnya 1.485,36 kilometer persegi memiliki jumlah penduduk 776.584 di tahun yang sama. Lebih kecil penduduknya dari Kabupaten Pacitan. 

Yang jelas, Vio bisa mengakses fasilitas pendidikan yang lebih baik di Kota Jogja, meski harus menempuh jarak 48,8 kilometer. Apalagi, Jogja dikenal sebagai Kota Pelajar. Kini, ia pun bisa menempuh pendidikan S2 di salah satu kampus di sana. 

Potensi Kabupaten Pacitan

Baca Halaman Selanjutnya

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 21 Maret 2025 oleh

Tags: 1001 goagoa di Pacitankabupaten termiskin di Jawa TimurPacitanSoeharto semediwisata di Pacitan
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Jenderal Sudirman dan orang-orang yang menganggapnya sakti
Geliat Warga

Rumah Tua, Jejak Gerilya Jenderal Sudirman, dan Jimat yang Membuatnya Dianggap Sakti

8 September 2022
wayang beber mojok.co
Liputan

Wayang Beber Sabendino dan Pusaka Keraton Mataram Islam yang Tercecer

4 Mei 2022
satpol pp-mojok
Otomojok

Mereview Panther Dinas Polisi dan Kijang Satpol PP dari Kursi Belakang

12 Oktober 2017
Musique

Selamat Jalan, Mas Chester Bennington …

22 Juli 2017
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dalang cilik perempuan asal Klaten yang menyukai wayang. MOJOK.CO

Jadi Perempuan Satu-satunya di Lomba Dalang Anak Klaten, Bocah 13 Tahun Ini Buktikan Wayang Tak Kenal Gender

22 Juli 2026
KOMSAH: Sejahterakan petani di Klaten. MOJOK.CO

Tinggalkan Profesi Dokter untuk Jadi Penasihat Kelompok Tani, Optimalkan Anugerah Tanah Klaten yang Subur

20 Juli 2026
kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
Perilaku meresahkan pengunjung di Indomaret Point Coffee MOJOK.CO

Ngopi Enak di Indomaret Point Coffee Jadi Terganggu karena Perilaku Pengunjung yang Meresahkan tapi Tak Sadar Diri

24 Juli 2026
Sri Sultan HB X tegaskan: penataan kawasan pedestrian Malioboro bukan berarti apa-apa tidak boleh MOJOK.CO

Sri Sultan HB X: Malioboro Full Pedestrian Bukan Tutup Total Akses Kendaraan, Tapi Penataan agar Tidak Crowded

24 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.