Masih kuat dalam ingatan Syifa (25) saat dirinya harus merantau ke negeri antah berantah, yang bahkan mendengar namanya saja tidak pernah. Kota itu bernama Krakow, Polandia, Eropa.
Akhir Oktober 2020 lalu, Syifa akhirnya merantau ke sana untuk menempuh pendidikan sarjana, tepatnya di Jagiellonian University, yakni kampus riset publik tertua di Polandia sekaligus salah satu yang tertua di Eropa.
Jujur saja, saat pertama kali menginjakkan kaki di sana, perempuan asal Bandung itu mengaku asing. Dingin dan kelam seolah menyergap hari-harinya. Membayangkan dirinya tinggal di sana selama 3 tahun saja, Syifa sudah kepayahan.
“Satu bulan pun rasanya buram. Tak mengenal siapapun dalam keadaan dunia yang terisolasi (Covid-19),” ucapnya saat dihubungi Mojok, Selasa (2/6/2026).
Namun siapa sangka, Syifa berhasil melewatinya dan mampu merangkak maju, hingga berhasil menjadi tour guide dan terpilih sebagai peserta program Leadership Managerial Program.
Jadi tour guide sambil kuliah di Polandia
Saat masih pelajar di Bandung, Syifa sempat mengajar sebagai guru bahasa Arab di sebuah sekolah swasta. Pekerjaan itu dilakoninya sebagai bentuk pengabdian wajib dari almamater SMA-nya dulu. Tak lama setelah lulus, Syifa melihat peluang untuk daftar kuliah di Eropa.
“Kedua orang tuaku sangat mendukung jalan hidup yang kupilih. Mereka selalu memastikan aku ‘totalitas’ pada setiap keputusanku,” ucap perempuan asal Bandung tersebut.
“Mereka banyak sekali memberikan saran dan insight terkait pengembangan bisnis apa saja yang dapat kulakukan dari pekerjaanku saat ini,” lanjutnya.
Berkat dukungan dari keluarganya itulah, Syifa pun berani mendaftar dan akhirnya lolos di Jagiellonian University. Selama kuliah, ia turut aktif membantu Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk menemani dan memandu tamu yang mengunjungi Krakow.
Sejak saat itu, Syifa menyadari bahwa perkenalannya dengan orang-orang baru begitu asyik dan menyenangkan. Ia pun mendapat kebermaknaan saat membawa turis mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Krakow.
“Terlebih, aku juga bisa menabung agar kebutuhan hidup tercukupi,” kata Syifa yang akhirnya menjadi tour guide di sekitar benua Eropa.
Etos warga Polandia yang bikin WNI betah
Syifa yang sudah lama tertarik dengan negara-negara di Eropa mengaku semakin jatuh cinta dengan profesinya. Sebab dari pengalamannya tersebut, Syifa jadi paham tentang budaya warga di sana.
Menurutnya, masyarakat di Eropa punya etos kerja yang tinggi, menjunjung rasionalisme, individualisme, dan disiplin soal waktu. Hal-hal yang sejatinya sulit ditemui di negara kita tercinta ini—Indonesia.
“Di Eropa warganya sibuk dengan urusan masing-masing dan tak punya waktu untuk mengurusi urusan orang lain. Tentu saja tak seperti di negara tercinta ini,” kata Syifa yang berhasil menyelesaikan kuliahnya di Jagiellonian University, Krakow, Polandia pada 2023 lalu.
“Negara-negara di benua Eropa punya cara pikir maju dan kota-kota yang ditata beraturan. Aku senang bisa berjalan tanpa terganggu dan terhenti, naik-turun transportasi umum yang memadai, dan merasa dicintai pemerintahku sendiri,” lanjutnya.
Lebih dari itu, Syifa juga merasa waras tinggal di Eropa, karena hasil pajak yang ia bayar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Seolah ada dampak nyata yang dilakukan oleh pemerintah untuk menghargai warganya.
Pulang ke Indonesia atas permintaan orang tua
Setelah 5 tahun tinggal di Polandia, termasuk bekerja di bidang korporat selama 2 tahun dengan gaji yang lebih dari cukup, Syifa mengaku lumayan skeptis ketika diminta kembali ke Indonesia untuk pertama kalinya oleh orang tuanya.
“Aku khawatir akan reverse culture shock, khawatir tidak akan mendapatkan pekerjaan yang dapat kusukai, khawatir tak cocok dengan budaya kerja Indonesia,” kata Syifa.
Bagaimana tidak, Syifa yang perlahan sudah bisa beradaptasi di Polandia, rasanya berat jika harus meninggalkan Sopot—sebuah kota resor yang terletak di pantai kecil Utara dan tak satupun ada warga negara Indonesia yang tinggal di sana.
“Namun, ketika akhirnya teguh memilih, aku cukup senang dengan hasilnya saat ini,” ujarnya.
Sulit beradaptasi usai lama tinggal di Polandia
Pada akhirnya, apa yang ditakutkan Syifa tak terjadi. Sepulangnya dari Polandia ke Indonesia, Syifa terpilih sebagai peserta program Leadership Managerial Program. Bahkan, ia mendapatkan posisi dan tanggung jawab yang lebih tinggi.
Sayangnya, ia harus berusaha untuk adaptasi kembali. Mulai dari menyamakan frekuensi dengan rekan kerjanya yang usianya lebih tua dan sudah berkeluarga, serta hidup sendirian tanpa punya teman.
“Dan ternyata itu cukup membuatku depresi. Setiap hari, aku menimbang-nimbang apakah ini hidup yang sebenarnya selalu ingin kujalani? Rasanya seperti terkurung dalam sarang, bisa melihat segalanya tapi tak benar-benar bisa kemana-mana,” jelas Syifa.
Selama kerja di Indonesia, Syifa seringkali mengingat perjalanannya di Eropa dulu. Seusai mengikuti kelas, dia bisa pergi ke tempat-tempat indah yang membuatnya ingin menetap, hingga bertemu orang-orang baru dan baik hati.
Namun Syifa menyadari bahwa hidup ini terlalu singkat jika hanya digunakan untuk melamun. Toh, ia sudah menerima permintaan orang tuanya untuk kembali ke Indonesia. Memutuskan resign dengan tabungan yang tak seberapa dan berusaha mengukir kembali mimpi-mimpinya.
“Hingga hari ini, meski tak se-stabil hidup yang pernah kujalani di Polandia, aku senang dengan pelajaran-pelajaran yang kudapatkan sepanjang perjalanan dan rasanya tak pernah lagi dihantui depresi yang mendalam.”
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Kunci Mahasiswa UGM Raih Juara Formula SAE di Eropa Dua Tahun Beruntun, Kalahkan 78 Pesaing dari Berbagai Negara atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













