Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
14 Mei 2026
A A
Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO

Ilustrasi - Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kopi di starling atau kopi dorong keliling memang tidak semewah jika ngopi di coffee shop. Apalagi bagi pekerja kantoran di Kebayoran Baru Jakarta Selatan (Jaksel) yang sering kali harus berbenturan dengan gengsi gaya hidup elite. Namun, dengan kopi di gelas plastik seharga Rp5 ribu-Rp8 ribu, tetap memberi suntikan kekuatan untuk kerja keras tanpa Work Life Balance demi mengejar rezeki Ibu Kota. 

***

Memasuki jam istirahat makan siang, trotoar di depan kawasan perkantoran elite di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, mulai dipadati lalu-lalang orang-orang berbusana kasual dengan lanyard menggantung di leher. 

Kebanyakan melipir ke warung-warung makan terdekat. Beberapa yang lain mengambil pesanan makanan dari jasa pesan-antar makanan. 

Di tengah hiruk-pikuk tersebut, seorang penjual starling yang mangkal tidak jauh dari kawasan perkantoran pun turut menjadi jujukan. Tangannya pun lincah menggunting sachet demi sachet kopi, menuangkan air panas atau es batu ke dalam gelas plastik, lalu menyajikannya untuk si pemesan. Termasuk saya siang itu, Selasa (12/5/2026) di sela menunggu sebuah acara penganugerahan jurnalistik yang saya ikuti di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. 

“Buat makan siang saya bawa bekel dari rumah. Jadi kalau jam istirahat makan siang gini, saya keluar buat ngopi aja sambil sebat,” ujar Ikram (31), salah seorang pekerja kantoran di Jakarta Selatan yang saya temui di sebuah starling. 

Kantor di Kebayoran Baru punya kopi mahal, tapi ngopi di starling tetap jadi pilihan

Kantor tempat Ikram bekerja bukannya tidak menyediakan kopi di pantry. Justru kantor menyediakan biji-biji kopi berharga mahal. Tetapi, jam makan siang selalu dihabiskan Ikram untuk membeli kopi dari starling atau penjaja kopi keliling (kopi dorong) yang marak belakangan. 

Bagi Ikram, jam makan siang adalah jam jeda dari riuh-rendah pekerjaan di balik meja dan laptop. Ia butuh suntikan kekuatan lagi untuk menyambung pekerjaan berikutnya hingga petang hari. 

Sentuhan kekuatan itu bisa ia dapat dari ngopi di luar kantor dan sebat. Sering kali hanya dengan melamun sembari menyesap kopi pesanan (baik dari starling maupun kopi dorong keliling), tidak jarang pula sembari berbincang dengan orang random dari kantor lain. 

“Obrolan receh aja. Nggak ngurus pekerjaan dulu. Bener-bener jeda. Kalau akrab sama tukang starlingnya karena langganan malah asyik, karena obrolan bisa ke mana-mana, bisa saling bercanda,” beber Ikram. 

Canda tawa dan obrolan random itu setidaknya bisa membuat Ikram bisa sejenak melupakan tekanan kantor. Re-charge mood kalau katanya. Jika mood sudah membaik lagi, maka ia mengaku siap menghadapi pekerjaan lagi—seberapa menekan pun pekerjaan tersebut. 

Rp5 ribu cukup untuk kejar tanpa Work Life Balance, tak butuh coffee shop

Malam harinya, selepas mengikuti rangkaian acara siang itu, saya sebenarnya hendak bersantai dulu di beberapa coffee shop yang direkomendasikan teman. 

Namun, seorang pedagang starling justru tampak memikat gara-gara membawa sekresek gorengan. Sebab, beberapa kali di Jakarta, saya jarang mendapati pedagang kopi starling jual gorengan sekalian. Paling mentok jual Pop Mie sebagai menu makanan. 

Memesan segelas kopi susu, saya kemudian duduk ngemper di trotoar jalan tidak jauh dari kawasan perkantoran elite di Kebayoran Baru, Jaksel, tempat acara berlangsung siang tadi. Sembari mencomot gorengan demi gorengan. 

Iklan

Di sana sudah duduk seorang pekerja kantoran Kebayoran Baru, Jaksel, dengan kemeja dan celana rapih. Namanya Jaya (27). Ia mengaku, selepas ngantor, beberapa teman ngantornya sebenarnya mengajak nongkrong di sebuah coffee shop. Tapi Jaya tidak tertarik bergabung. 

“Ngopi segelas bisa Rp35 ribu-Rp50 ribu. Nggak dulu kalau buatku. Aku kopi starling Rp5 ribu atau kopi dorong keliling seharga Rp8 ribu udah cukup, walaupun kerap diejek: kopi sachet itu bukan kopi,” ujar pemuda asal Purwakarta, Jawa Barat itu. 

Ngopi di coffee shop, bagi teman-teman kantor Jaya adalah bagian dari upaya Work Life Balance. Sesekali juga party di kelab malam, demi meluruhkan kesumpekan pikiran karena pekerjaan. 

“Lagi pula, gaya hidup elite seperti ngopi Rp50 ribu kalau dituruti terus-menerus nggak sepadan dengan gajiku (Rp5,5 juta),” kata Jaya. Karena harus dibagi untuk kos, kebutuhan sehari-hari, menabung untuk diri sendiri, dan mengirim sebagian untuk orang tua di rumah. 

“Aku nggak kenal apa itu Work Life Balance. Walaupun pengin juga. Tapi di dunia yang menuntut apa-apa serba uang ini, sepertinya harus mengorbankan kemungkinan Work Life Balance buat survive,” sambungnya. 

Sama seperti sejumlah pekerja di Jakarta yang pernah saya wawancara, Jaya pun mengambil pekerjaan sampingan (side hustle): desain logo untuk sejumlah instansi atau event tertentu. Selain juga menerima jenis desain lain. 

Adu produktif usai ngopi di kopi starling vs coffee shop Jakarta Selatan (Jaksel)

Tidak hanya nongkrong-nongkrong. Ajakan ngopi di coffee shop di Kebayoran Baru, Jaksel, sering juga dengan alasan Work from Cafe (WFC): mengerjakan lemburan atau deadline side hustle dari coffee shop. 

Beberapa teman Jaya mengaku bisa lebih produktif dengan WFC, karena merasa mendapat suntikan energi dari kopi-kopi seharga Rp50 ribu yang katanya sangat nikmat. Selain itu juga, katanya, didukung oleh suasana coffee shop tertentu yang memang didesain untuk WFC. 

“Ngopi di starling memang nggak bisa sambil buka laptop. Tapi begini, aku ngopi, tarik napas sejenak, ngumpulin energi yang habis terkuras di kantor. Setelah itu, pas pulang ke kosan, energiku untuk buka laptop ngerjain lemburan atau side hustle-ku udah kekumpul,” beber Jaya. “Sama-sama produktif, cuma beda di harga kopi aja.”

Tiap duduk di trotoar sembari menyesap kopi starling di gelas plastik, ada banyak hal beradu dalam pikiran Jaya. Mulanya adalah keluh kesah dan rasa lelah. Mulanya adalah perasaan ingin menjalani hidup dengan Work Life Balance. 

Namun, tidak lama setelahnya, ia disadarkan pada kenyataan bahwa perannya di keluarga memang harus bekerja keras. Sehingga tidak ada alasan untuk malas atau hanya menggerutu. Menggerutu toh tidak lantas membuat finansialnya berubah lebih terjamin. 

Sumber kekuatan semua kalangan, tidak hanya pekerja kantoran Jakarta Selatan (Jaksel) 

Kopi starling tidak hanya menjadi sumber kekuatan dan ruang jeda bagi pekerja-pekerja kantoran di Jaksel, tapi bagi semua kalangan. 

Sejak Selasa pagi (12/5/2026), ketika saya baru turun dari kereta di Stasiun Pasar Senen dan bergerak menuju Kebayoran Baru, pemandangan di jalan menunjukkan betapa magis kopi starling yang penjualnya adalah orang Madura itu. Driver ojek online (ojol), tukang kebersihan, hingga kuli proyek, memulai aktivitas dan menjeda aktivitas dengan pesan segelas kopi plastik seharga Rp5 ribu itu.

Selain itu, di depan sejumlah perkantoran, saya mendapati kopi dorong keliling juga banyak diserbu terutama oleh karyawan kantor berbusana kasual. 

Malam harinya, ketika saya menunggu kereta keberangkatan Jakarta-Jogja di Stasiun Gambir, yang tersaji pun pemandangan serupa. 

Di depan stasiun, banyak kopi starling berjejer. Tidak henti-henti para porter stasiun, karyawan minimarket di dalam stasiun, sopir taksi, hingga driver ojol yang baru mengantar penumpang, memilih memesan segelas kopi, duduk sembari nyebat, sebelum kemudian melanjutkan pekerjaan masing-masing. 

“Jadi kalau di kalangan ojol itu sampai ada slogan begini: Akan kuhadapi kerasnya Jakarta, tapi ngopi Kapal Api dulu,” begitu seloroh seorang penjual kopi starling di Stasiun Gambir dengan logat Madura saat saya katakan: betapa mereka (para penjual kopi starling) menjadi oase bagi para pekerja keras di Ibu Kota. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Blok M dan Jakarta Selatan Aslinya Banyak Jamet tapi Dianggap Keren, Kalau Orang Kabupaten dan Jawa Eh Dihina-hina atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 14 Mei 2026 oleh

Tags: coffee shopcoffee shop jakselcoffee shop kebayoran barujakarta selatanJakselkantor jakselkantor kebayoran barukebayoran barukopi dorongkopi kelilingkopi starlingpekerja kantoranpilihan redaksiStarlingwork-life balance
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

KIP Kuliah.MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi Dapat KIP Kuliah Memang Ada, Uang Beasiswa Habis buat Hedon agar Diakui di Tongkrongan

14 Mei 2026
Kos di Jogja, kos campur, dapur.MOJOK.CO
Sehari-hari

Kos Induk Semang: Tempat Terbaik buat Mahasiswa Irit dan Kenyang, tapi Menyimpan Sisi Lain yang Bikin Penghuninya Tak Nyaman

13 Mei 2026
Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi MOJOK.CO
Esai

Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi

13 Mei 2026
Kos di Jogja, kos campur, dapur.MOJOK.CO
Sehari-hari

Dapur Bersama Memang Membantu Anak Kos, Tapi Sering Menimbulkan Konflik kalau Ada Penghuni Jorok dan Suka Nyolong

12 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Alasan Earphone Kabel Kembali Tren dibanding TWS: Nggak Ribet Kalau Hilang Sebelah sampai Jadi Peringatan Tersirat Budak Korporat MOJOK.CO

5 Alasan Earphone Kabel Kembali Tren dibanding TWS: Nggak Ribet Kalau Hilang Sebelah sampai Jadi Peringatan Tersirat Budak Korporat

7 Mei 2026
Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada MOJOK.CO

Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada

11 Mei 2026
Dolar ke Rupiah Tembus 17 Ribu Krisis Ekonomi di Depan Mata? MOJOK.CO

Rupiah Anjlok, Pakar UGM Wanti-wanti Kenaikan Harga Sembako 

7 Mei 2026
Kos di Jogja, kos campur, dapur.MOJOK.CO

Dapur Bersama Memang Membantu Anak Kos, Tapi Sering Menimbulkan Konflik kalau Ada Penghuni Jorok dan Suka Nyolong

12 Mei 2026
Kos kamar mandi luar memang murah. Tapi mending cari kamar mandi dalam kalau tidak mau kena mental MOJOK.CO

Kos Kamar Mandi Luar Memang Lebih Murah, Tapi bikin Repot Sendiri karena Dipakai Bareng Penghuni Lain Tak Tahu Diri (Kemproh dan Pemalas)

14 Mei 2026
Nasihat rezeki dan keuangan dari ibu-ibu penjual angkringan di Jogja yang bisa haji 2 kali MOJOK.CO

Wejangan Rezeki dan Uang dari Ibu Penjual Angkringan, Membalik Logika Ekonomi Anak Muda yang Anxiety in this Economy

11 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.