Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Cerita Jobseeker Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
17 Juli 2026
A A
Cerita Pencari Kerja Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’.MOJOK.CO

Ilustrasi - Cerita Jobseeker Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’ (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi para jobseeker lulusan Sekolah Luar Biasa (SLB), bursa kerja acap kali menjelma menjadi tembok diskriminasi. Untuk meruntuhkannya, beberapa dari mereka mendatangi Job Fair Jogja dengan didampingi sang ibu untuk berburu peluang dari perusahaan inklusif sekaligus mengakses layanan konseling karier bagi penyandang disabilitas.

***

Iklan

Muhammad Fauzan Rizquah datang ke Job Fair Jogja bersama ibunya, Maryati. Sekilas, pemuda ini tampak seperti ratusan pencari kerja lainnya yang siang itu memadati Auditorium LPP Agro Nusantara, Rabu (15/7/2026). Tangannya menggenggam erat map cokelat berisi berkas lamaran. 

Namun, saat diajak berbincang lebih jauh, barulah diketahui bahwa Fauzan adalah penyandang disabilitas tunagrahita ringan.

“Saya tunagrahita yang ringan, Mas, jadi dari luar saya kayak nggak ada bedanya sama yang lain. IQ orang seperti kami rata-rata 58, jadi kalau mengobrol baru paham kondisi kami,” ujarnya, saat ditemui Mojok siang itu.

Berkali-kali ditolak masuk kerja karena lulusan SLB

Fauzan merupakan lulusan SLB Dharma Rena Ring Putra II, sebuah sekolah luar biasa swasta berakreditasi A di Kota Jogja. Sekolah ini melayani pendidikan khusus untuk berbagai jenjang, mulai dari Taman Kanak-Kanak Luar Biasa (TKLB) hingga Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB). 

Lulus dari bangku sekolah nyatanya baru langkah awal dari sebuah jalan terjal bernama bursa kerja. Selama dua tahun terakhir, Fauzan sudah mencoba melamar pekerjaan setidaknya empat kali secara langsung. 

Rinciannya, dua kali ia memasukkan berkas ke pabrik, satu kali melamar di sektor ritel, dan satu kali mencoba peruntungan di sebuah kafe. 

Ia juga rajin mengirim berkas secara daring berdasarkan informasi lowongan yang tersebar di internet. 

“Tapi memang belum rezeki, Mas. Nggak pernah dilihat sama HRD-nya. Barangkali penolakan ini karena status disabilitas saya,” ujarnya, menduga.

Fauzan, pencari kerja difabel.MOJOK.CO
Potret Fauzan, saat menjalani sesi konseling karier khusus bagi jobseeker difabel. Selama dua tahun terakhir, Fauzan sudah mencoba melamar pekerjaan setidaknya empat kali secara langsung, semuanya nihil. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Syarat administrasi sudah diskriminatif sejak awal

Hambatan utama yang dirasakan Fauzan terletak pada persyaratan administrasi perusahaan yang sangat kaku dan tidak inklusif. Ia mengaku kerap terbentur oleh poster lowongan kerja yang mematok syarat baku “minimal lulusan SMA/SMK sederajat”. 

Bagi dia, syarat ini seolah menjadi tembok tebal. Sebab, sangat jarang ada perusahaan yang memberikan keterangan pengecualian khusus bagi lulusan SLB.

Sebagai alumnus sekolah luar biasa, Fauzan langsung terhambat pada tahap seleksi administrasi awal karena tidak memenuhi standar ijazah umum tersebut.

“Kadang baru lihat persyaratannya sudah mundur, nggak ada syarat buat SLB.” 

Kendala administratif ini bukan hanya masalah pribadinya. Menurut Fauzan, diskriminasi syarat pendidikan ini menjadi penyebab utama mengapa mayoritas teman-teman disabilitas di sekitarnya masih menganggur hingga hari ini.

Merasa tetap mampu bekerja dengan kondisi yang dialaminya

Terlepas dari kerasnya syarat industri, Fauzan sangat memahami kondisi kapasitas dirinya. Sebagai penyandang tunagrahita, ia menyadari memiliki kemampuan kognitif di bawah rata-rata yang memengaruhi cara belajar dan kemampuannya memecahkan masalah. 

Ia mengaku membutuhkan waktu lebih lama untuk mencerna informasi serta memiliki keterbatasan dalam perilaku adaptif, seperti bersosialisasi di lingkungan baru.

Karena sadar akan batasan tersebut, Fauzan menghindari jenis pekerjaan dengan instruksi yang berbelit-belit. Ia membutuhkan lingkungan kerja yang sistematis, di mana arahan atasan bersifat langsung, cepat, dan diulang-ulang. 

Iklan

“Makanya, target utamanya saat ini, saya berharap bisa kerja di bagian produksi sebuah pabrik,” kata Fauzan. Di sana, ia berharap bisa mengerjakan tugas yang repetitif bersama rekan-rekan disabilitas lainnya. 

pencari kerja difabel ditemani ibu ke job fair.MOJOK.CO
Maryati, ibu Fauzan, menemani anaknya ke Job Fair Jogja, Rabu (15/7/2026). Alasannya ikut bersama anaknya siang itu adalah untuk memberikan dukungan moral agar Fauzan tidak patah semangat melihat ribuan pelamar lain. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Sementara pilihan keduanya adalah menjadi helper gudang di perusahaan ritel, di mana alur kerjanya cukup terprediksi.

Mengenai inklusivitas perusahaan, Fauzan memiliki hasil observasi tersendiri, terutama di sektor ritel. Ia melihat jaringan ritel seperti Alfamart dan Alfamidi tergolong jauh lebih terbuka terhadap tenaga kerja difabel. 

Berdasarkan pantauannya selama mencari kerja, dua perusahaan tersebut secara nyata dan aktif membuka lowongan khusus bagi kelompok disabilitas. Langkah tersebut ia nilai jauh lebih inklusif dibandingkan beberapa perusahaan kompetitor lain di sektor yang sama.

Setiap orang bisa kerja asal diberi kesempatan

Di tengah kerasnya persaingan job fair siang itu, kehadiran sang ibu, Maryati, menjadi dukungan penting bagi Fauzan. Ini adalah pengalaman pertama Maryati mendampingi anak sulungnya terjun langsung ke lokasi bursa kerja. 

Ia mengaku, alasannya ikut bersama anaknya siang itu adalah untuk memberikan dukungan moral agar Fauzan tidak patah semangat melihat ribuan pelamar lain. 

“Sebagai ibu kan saya paling paham kondisi anak ya, Mas. Saya khawatir bagaimana dia menghadapi keramaian. Makanya saya temani hari ini,” ungkap Maryati.

Selain itu, ia ingin memastikan anaknya tidak kebingungan. Di masa lalu, Fauzan pernah kehilangan arah dan bingung ketika berada di lingkungan yang terlalu ramai dan asing. Dengan mendampinginya langsung, Maryati bisa segera membantu mengarahkan dan menjelaskan jika anaknya kesulitan memproses informasi dari petugas stan.

Ada alasan tambahan mengapa Maryati bersikeras mengantar anaknya hari itu. Ia mendapat informasi bahwa penyelenggara Job Fair Jogja kali ini menyediakan layanan konseling karier gratis. 

Salah satu meja konseling tersebut difasilitasi oleh Pusat Layanan Disabilitas (PLD).

Maryati melihat fasilitas ini sebagai kesempatan penting. Daripada hanya menebak-nebak letak kesalahan berkas lamaran anaknya, ia ingin Fauzan mendapat arahan langsung dari ahlinya. 

“Karena semua orang berhak bekerja, Mas. Semua orang punya kemampuan, mampu, asal diberi kesempatan,” tegas Maryati.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Ketika Syarat “Sehat Jasmani dan Rohani” Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 17 Juli 2026 oleh

Tags: difabeljob fair jogjajob gairjobseekerlowongan kerjalowongan kerja inklusiflowongan kerja ramah disabilitaspenyandang disabilitas
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap MOJOK.CO

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap

21 Agustus 2026
Peserta Pekan Budaya Difabel di Jogja. MOJOK.CO

Pekan Budaya Difabel 2026: Saat Anak-anak Terbebas dari Stigma lewat Seni dan Terapi di Ruang Inklusif

29 Juli 2026
Lulusan SMK buka jasa cleaning service. MOJOK.CO

Lulusan SMK Pernah Kerja Jadi Cleaning Service dengan Upah Rp20 per Jam, Kini Buka Usaha Sendiri hingga Hasilkan Omzet Rp70 Juta

29 Juli 2026
sarjana muda gusar mencari kerja. MOJOK.CO

Realita Sarjana Muda Gusar Mencari Kerja: 4 Tahun Lamanya Berkutat dengan Buku, Lulus Kuliah Memilih Pasrah

23 Juli 2026
Lulus SMA nekat kerja ke Jakarta untuk jadi cleaning service. MOJOK.CO

Modal Ijazah SMA Kerja Jadi Cleaning Service di Jakarta demi Lulus Sarjana, Kini Pilih Resign untuk Keliling Indonesia

22 Juli 2026
Pemuda lulusan SMK tidak menyerah mencari kerja dengan modal ijazah SMK demi orang tua MOJOK.CO

Modal Ijazah SMK dan Pengalaman Tak Nyerah Cari Kerja demi Orang Tua, Meski Sering Terima “Penolakan” karena Fisik

21 Juli 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Mengenal konsep Green al-Maun dan jihad ekologi dari masjid untuk menjaga lingkungan MOJOK.CO

Dakwah Tauhid Lingkungan dari Masjid, Mempertanyakan Keimanan dari Kesadaran Menjaga Alam

26 Agustus 2026
ilustrasi ketua pemuda

Jabatan Ketua Pemuda di Kampung itu Gagah, Tapi Ngenes Karena Dianggap Bisa Menyelesaikan Semua Masalah

20 Agustus 2026
GVD Resmi Rilis Single Perdana "VII", Bawa Konsep Post-Black Berbalut Visual Kei Cerah.MOJOK.CO

GVD Resmi Rilis Single Perdana “VII”, Bawa Konsep Post-Black Berbalut Visual Kei Cerah

23 Agustus 2026
ilustrasi - pekerja (Ega Fansuri/Mojok.co)

Pelarian Laki-laki Burnout usai Dihantam Pekerjaan tapi Dipaksa Kuat karena Tuntutan Kepala Keluarga Ideal

20 Agustus 2026
Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik MOJOK.CO

Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik

26 Agustus 2026
Gelandang Timnas Putri U-16 Indonesia Garuda Pertiwi Ayla Dva Khala Ahisma, Kepala Timnas Putri U-16 Indonesia Garuda Pertiwi Timo Scheunemann, Pelatih Kepala Timnas Putri U-16 Thailand Thidarat Wiwasukhu dan Kapten Timnas Putri U-16 Thailand Kawinthida Kukintod.

Di Lapangan Jadi Lawan, di Luar Jadi Teman: Ayla Bertukar Kaos, Kapten Thailand Bertukar Medsos

23 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.