Bagi para jobseeker lulusan Sekolah Luar Biasa (SLB), bursa kerja acap kali menjelma menjadi tembok diskriminasi. Untuk meruntuhkannya, beberapa dari mereka mendatangi Job Fair Jogja dengan didampingi sang ibu untuk berburu peluang dari perusahaan inklusif sekaligus mengakses layanan konseling karier bagi penyandang disabilitas.
***
Muhammad Fauzan Rizquah datang ke Job Fair Jogja bersama ibunya, Maryati. Sekilas, pemuda ini tampak seperti ratusan pencari kerja lainnya yang siang itu memadati Auditorium LPP Agro Nusantara, Rabu (15/7/2026). Tangannya menggenggam erat map cokelat berisi berkas lamaran.
Namun, saat diajak berbincang lebih jauh, barulah diketahui bahwa Fauzan adalah penyandang disabilitas tunagrahita ringan.
“Saya tunagrahita yang ringan, Mas, jadi dari luar saya kayak nggak ada bedanya sama yang lain. IQ orang seperti kami rata-rata 58, jadi kalau mengobrol baru paham kondisi kami,” ujarnya, saat ditemui Mojok siang itu.
Berkali-kali ditolak masuk kerja karena lulusan SLB
Fauzan merupakan lulusan SLB Dharma Rena Ring Putra II, sebuah sekolah luar biasa swasta berakreditasi A di Kota Jogja. Sekolah ini melayani pendidikan khusus untuk berbagai jenjang, mulai dari Taman Kanak-Kanak Luar Biasa (TKLB) hingga Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB).
Lulus dari bangku sekolah nyatanya baru langkah awal dari sebuah jalan terjal bernama bursa kerja. Selama dua tahun terakhir, Fauzan sudah mencoba melamar pekerjaan setidaknya empat kali secara langsung.
Rinciannya, dua kali ia memasukkan berkas ke pabrik, satu kali melamar di sektor ritel, dan satu kali mencoba peruntungan di sebuah kafe.
Ia juga rajin mengirim berkas secara daring berdasarkan informasi lowongan yang tersebar di internet.
“Tapi memang belum rezeki, Mas. Nggak pernah dilihat sama HRD-nya. Barangkali penolakan ini karena status disabilitas saya,” ujarnya, menduga.

Syarat administrasi sudah diskriminatif sejak awal
Hambatan utama yang dirasakan Fauzan terletak pada persyaratan administrasi perusahaan yang sangat kaku dan tidak inklusif. Ia mengaku kerap terbentur oleh poster lowongan kerja yang mematok syarat baku “minimal lulusan SMA/SMK sederajat”.
Bagi dia, syarat ini seolah menjadi tembok tebal. Sebab, sangat jarang ada perusahaan yang memberikan keterangan pengecualian khusus bagi lulusan SLB.
Sebagai alumnus sekolah luar biasa, Fauzan langsung terhambat pada tahap seleksi administrasi awal karena tidak memenuhi standar ijazah umum tersebut.
“Kadang baru lihat persyaratannya sudah mundur, nggak ada syarat buat SLB.”
Kendala administratif ini bukan hanya masalah pribadinya. Menurut Fauzan, diskriminasi syarat pendidikan ini menjadi penyebab utama mengapa mayoritas teman-teman disabilitas di sekitarnya masih menganggur hingga hari ini.
Merasa tetap mampu bekerja dengan kondisi yang dialaminya
Terlepas dari kerasnya syarat industri, Fauzan sangat memahami kondisi kapasitas dirinya. Sebagai penyandang tunagrahita, ia menyadari memiliki kemampuan kognitif di bawah rata-rata yang memengaruhi cara belajar dan kemampuannya memecahkan masalah.
Ia mengaku membutuhkan waktu lebih lama untuk mencerna informasi serta memiliki keterbatasan dalam perilaku adaptif, seperti bersosialisasi di lingkungan baru.
Karena sadar akan batasan tersebut, Fauzan menghindari jenis pekerjaan dengan instruksi yang berbelit-belit. Ia membutuhkan lingkungan kerja yang sistematis, di mana arahan atasan bersifat langsung, cepat, dan diulang-ulang.
“Makanya, target utamanya saat ini, saya berharap bisa kerja di bagian produksi sebuah pabrik,” kata Fauzan. Di sana, ia berharap bisa mengerjakan tugas yang repetitif bersama rekan-rekan disabilitas lainnya.

Sementara pilihan keduanya adalah menjadi helper gudang di perusahaan ritel, di mana alur kerjanya cukup terprediksi.
Mengenai inklusivitas perusahaan, Fauzan memiliki hasil observasi tersendiri, terutama di sektor ritel. Ia melihat jaringan ritel seperti Alfamart dan Alfamidi tergolong jauh lebih terbuka terhadap tenaga kerja difabel.
Berdasarkan pantauannya selama mencari kerja, dua perusahaan tersebut secara nyata dan aktif membuka lowongan khusus bagi kelompok disabilitas. Langkah tersebut ia nilai jauh lebih inklusif dibandingkan beberapa perusahaan kompetitor lain di sektor yang sama.
Setiap orang bisa kerja asal diberi kesempatan
Di tengah kerasnya persaingan job fair siang itu, kehadiran sang ibu, Maryati, menjadi dukungan penting bagi Fauzan. Ini adalah pengalaman pertama Maryati mendampingi anak sulungnya terjun langsung ke lokasi bursa kerja.
Ia mengaku, alasannya ikut bersama anaknya siang itu adalah untuk memberikan dukungan moral agar Fauzan tidak patah semangat melihat ribuan pelamar lain.
“Sebagai ibu kan saya paling paham kondisi anak ya, Mas. Saya khawatir bagaimana dia menghadapi keramaian. Makanya saya temani hari ini,” ungkap Maryati.
Selain itu, ia ingin memastikan anaknya tidak kebingungan. Di masa lalu, Fauzan pernah kehilangan arah dan bingung ketika berada di lingkungan yang terlalu ramai dan asing. Dengan mendampinginya langsung, Maryati bisa segera membantu mengarahkan dan menjelaskan jika anaknya kesulitan memproses informasi dari petugas stan.
Ada alasan tambahan mengapa Maryati bersikeras mengantar anaknya hari itu. Ia mendapat informasi bahwa penyelenggara Job Fair Jogja kali ini menyediakan layanan konseling karier gratis.
Salah satu meja konseling tersebut difasilitasi oleh Pusat Layanan Disabilitas (PLD).
Maryati melihat fasilitas ini sebagai kesempatan penting. Daripada hanya menebak-nebak letak kesalahan berkas lamaran anaknya, ia ingin Fauzan mendapat arahan langsung dari ahlinya.
“Karena semua orang berhak bekerja, Mas. Semua orang punya kemampuan, mampu, asal diberi kesempatan,” tegas Maryati.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: 300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














