Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

“Sekolah Bukan Ring Tinju”: Ortu Pukuli Guru Madrasah di Madura adalah Alarm Darurat Pendidikan Indonesia

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
9 Februari 2026
A A
Kekerasan di sekolah, Mahasiswa UNY Dibully Gara-Gara Pemilu BEM

Ilustrasi - Kekerasan di Sekolah (Ega/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dunia pendidikan Indonesia kembali berduka. Alih-alih menjadi tempat mencari ilmu dan mengembangkan karakter, sekolah justru menjelma menjadi arena kekerasan yang memprihatinkan. 

Insiden pengeroyokan seorang guru oleh wali murid di sebuah madrasah di Kabupaten Sampang, Madura, pada awal Februari 2026 lalu, menjadi potret buram betapa rapuhnya rasa aman di lingkungan sekolah saat ini.

Iklan

Kejadian yang viral di media sosial ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI). Mereka menilai, kasus ini bukan sekadar kriminalitas biasa, tetapi jadi sebuah “alarm darurat” yang menandakan bahwa ekosistem pendidikan Indonesia kita sedang tidak baik-baik saja.

Berawal dari orang tua yang tak terima anaknya “disentuh” guru

Semua bermula pada 5 Februari 2026. Dalam sebuah kegiatan belajar mengajar, suasana yang semestinya tenang mendadak tegang. 

Diduga karena masalah kedisiplinan, sang guru memberikan tindakan fisik kepada siswanya. Tak terima buah hatinya “disentuh”, orang tua siswa bersama beberapa orang lainnya mendatangi sekolah. 

Namun, bukannya mencari solusi lewat dialog, mereka justru menggunakan cara-cara kekerasan dengan mengeroyok sang guru.

“Sekolah itu tempat adu pikiran, tempat anak-anak kita belajar berargumen dengan sehat. Jangan jadikan sekolah seperti ring tinju di mana otot lebih berbicara daripada otak,” ujar Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji dalam keterangannya kepada Mojok, Senin (9/2/2026).

Relasi guru-siswa sangat “rentan” di sekolah

Banyak orang mungkin mengira ini hanyalah kasus kasuistik atau kejadian tunggal. Namun, data berkata lain. 

JPPI mengungkapkan fakta yang cukup mencengangkan dari laporan tahun 2025. Ternyata, “sumbu pendek” dalam hubungan antara guru dan murid menyumbang angka tertinggi dalam kasus kekerasan di sekolah.

Berdasarkan data JPPI, sebanyak 46,25 persen kekerasan di sekolah terjadi dalam relasi guru dan siswa. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan kekerasan antar sesama teman (perundungan) yang berada di angka 31,11 persen, maupun kekerasan oleh senior ke junior sebesar 22,63 persen.

“Angka 46 persen ini adalah peringatan keras. Mengapa guru dan siswa yang seharusnya menjadi mitra dalam belajar justru sering terlibat dalam gesekan fisik maupun psikis?” tegas Ubaid.

Ia pun menilai ada “kebuntuan” dalam cara berkomunikasi. Di satu sisi, guru mungkin masih terjebak pada metode lama yang menganggap kekerasan adalah cara efektif untuk mendisiplinkan siswa. 

Di sisi lain, ada batas tipis antara mendidik dan menyakiti yang sering kali memicu reaksi emosional berlebih dari orang tua.

Pemerintah harus turun tangan agar guru aman dan siswa nyaman di sekolah

Menyikapi fenomena ini, JPPI mengeluarkan sikap tegas. Mereka menuntut pemerintah, khususnya Kementerian Agama (Kemenag) dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), untuk segera menciptakan sistem “Perlindungan Ganda”.

Konsepnya sederhana tapi krusial. Yakni, guru harus memiliki jaminan keamanan saat mengajar agar tidak dihantui rasa takut dikriminalisasi atau diintimidasi saat menegakkan aturan. 

Namun, pada saat yang sama, hak siswa untuk belajar tanpa rasa takut akan kekerasan fisik maupun cacian psikis harus dilindungi sepenuhnya. Kekerasan, sekecil apa pun, tidak boleh lagi dianggap sebagai alat pendidikan. 

“Sebab trauma yang dihasilkan justru akan mematikan motivasi belajar anak dalam jangka panjang,” ujarnya.

Ubaid juga menilai, salah satu akar masalah dari aksi main hakim sendiri seperti di Sampang adalah tersumbatnya saluran komunikasi. Seringkali, orang tua merasa tidak punya tempat untuk mengadu ketika anaknya diperlakukan tidak adil, sehingga mereka mengambil jalan pintas yang salah.

Iklan

Oleh karena itu, JPPI mendesak setiap satuan pendidikan untuk memiliki kanal pengaduan atau komplain yang resmi dan transparan. Jika ada masalah antara guru dan murid, sekolah harus memiliki prosedur penyelesaian yang jelas. 

“Dengan begitu, orang tua merasa didengar, dan masalah bisa diselesaikan di atas meja hijau sekolah, bukan dengan kepalan tangan di halaman madrasah.”

Selain itu, guru juga perlu dibekali kemampuan manajemen kelas yang lebih modern dan manusiawi. Mengatur puluhan anak di satu ruangan memang tidak mudah, namun memukul atau menyakiti fisik bukanlah jawaban di era pendidikan abad ke-21.

Keadilan untuk Sampang

Terkait kasus pengeroyokan di Sampang, JPPI meminta aparat kepolisian tidak ragu dalam memproses hukum para tersangka. Langkah hukum ini penting bukan sekadar untuk menghukum pelaku, tapi sebagai edukasi bagi masyarakat luas bahwa siapa pun yang melakukan kekerasan di sekolah akan berhadapan dengan konsekuensi hukum yang serius.

Pesannya jelas: kita semua merindukan sekolah yang ramah. Sebuah tempat di mana siswa bisa pulang membawa ilmu dan keceriaan, dan guru bisa pulang dengan rasa hormat dan martabat yang utuh—tanpa ada yang harus membawa luka fisik maupun trauma psikis di dalam tas mereka.

JPPI berharap kasus di Sampang harus menjadi yang terakhir. Jangan tunggu ada korban lagi untuk sekadar membenahi cara kita berkomunikasi di sekolah. Karena pendidikan sejati dimulai dari rasa saling menghargai, bukan saling menyakiti.

“Kita ingin menciptakan sekolah yang aman bagi semua. Siswa pulang dengan ilmu, guru pulang dengan rasa hormat, bukan keduanya pulang dengan luka fisik maupun trauma,” tutup Ubaid.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 9 Februari 2026 oleh

Tags: jppikekerasan di sekolahMaduraSampangsampang madurasekolahsekolah di madura
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

JPPI, MBG, buku siswa sekolah.MOJOK.CO

RAPBN 2027: Anggaran Pendidikan Tersandera Rp240 Triliun demi Program yang Tak Penting

17 Agustus 2026
JPPI, MBG, buku siswa sekolah.MOJOK.CO

Jangan Jadikan Pergantian Buku Pelajaran sebagai Proyek Politik Tahunan 

10 Agustus 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO

Memilih Sekolah Mahal demi Selamatkan Pergaulan Anak di Desa, Malah Dicap “Sok Kaya” dan Egois oleh Tetangga

27 Juli 2026
Ketika Militer Masuk Sekolah: Mengobati Gejala, Melupakan Akar Masalah MOJOK.CO

Ketika Militer Masuk Sekolah: Mengobati Gejala, Melupakan Akar Masalah

8 Juli 2026
Banyak Sekolah Menahan Ijazah Siswa, Masalah Sistemik yang Bisa Hancurkan Masa Depan Anak.MOJOK.CO

Banyak Sekolah Menahan Ijazah Siswa, Masalah Sistemik yang Bisa Hancurkan Masa Depan Anak

3 Juli 2026
Cerita Mafatihatul Maghfirah: Mahasiswi Madura kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan jualan risol hingga lulus tanpa skripsi MOJOK.CO

Mahasiswi Madura Kuliah di Jakarta: Jualan Risol demi Biaya Kuliah, Bisa Mandiri Finansial hingga Lulus Terbaik Tanpa Skripsi

24 Mei 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Sisi lain blusukan kampung di Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Sisi Lain Tren Blusukan Kampung: Nggak Seru seperti di Medsos, Malah Dicurigai Pencuri dan Dianggap Tak Tau Adab

20 Agustus 2026
Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa MOJOK.CO

Bakpia Jogja Memang Oleh-oleh Biasa dan Gitu-gitu Aja, Tapi Sangat Berharga buat Orang di Desa

22 Agustus 2026
Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran .MOJOK.CO

Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya MOJOK.CO

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya

23 Agustus 2026
Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta. MOJOK.CO

Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA: Masjid sebagai Mercusuar Peradaban dan Konservasi Lingkungan

22 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.