Seorang anak muda tampak celingak-celinguk memasuki sepetak halaman rumah yang terletak di Kota Surabaya Pusat. Tak lama kemudian, dia mengambil posisi untuk memotret rumah tersebut. Melihat gerak-gerik yang mencurigakan, Faninda (25), sebagai akamsi alias anak kampung situ, langsung menegur anak tersebut yang ternyata adalah peserta dari kegiatan blusukan kampung atau istilah bekennya “gang-gangan”.
Gang-gangan adalah kegiatan menyusuri lorong-lorong kecil dan permukiman padat penduduk yang bertujuan untuk mengabadikan kehidupan sehari-hari warga, melihat sisi lain perkotaan secara perlahan, dan menggali cerita warga dari berbagai sudut pandang. Kegiatan ini biasanya dilakukan secara kolektif atau sendirian.
Sebenarnya, Faninda tak masalah jika tujuannya untuk wisata. Namun, dia berharap kegiatan semacam itu sudah mendapat perizinan lebih dulu. Minimal dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) atau pihak RT/RW.
“Jadi ada koordinasi juga dengan warga atau RT, siapa tahu bisa menambah income juga kan,” ucap Faninda, Rabu (19/8/2026).
Alasan warga Surabaya Pusat lebih waspada
Masalahnya, kata Faninda, tidak semua masyarakat memahami etika blusukan kampung. Akibatnya, banyak masyarakat yang seenaknya keliling kampung sendiri. Bukan apa-apa, Faninda yang sudah 25 tahun tinggal di sekitar kawasan Surabaya Pusat rasanya sudah angkat tangan dengan kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor).
Sat Reskrim Polrestabes Surabaya mencatat terdapat 97 kasus curanmor dan 108 tersangka selama periode April-Mei 2026. Sebanyak 89 unit sepeda motor, 2 mobil, kunci T, dan sejumlah senjata tajam turut diamankan sebagai barang bukti.
Oleh karena itu, beberapa kampung di Surabaya menerapkan sistem one gate system, yakni sistem pengamanan lingkungan perumahan atau kawasan yang hanya menyediakan satu akses pintu utama untuk keluar dan masuk. Di kampung Faninda sendiri, gerbang kampung bakal ditutup pukul 23.00 WIB.
“Makanya waktu lihat orang asing masuk halaman rumah tetanggaku pas gangku lagi sepi, aku reflek menegur. Apalagi dia motret-motret tanpa izin,” kata Faninda.
Pemuda itu pun meminta maaf dan menjelaskan bahwa dia ingin “blusukan kampung” untuk belajar sejarah Kota Surabaya Pusat. Karena itikad baik pemuda tersebut, Faninda pun membantunya dengan membawa dia ke salah satu anak karang taruna untuk mendampingi berkeliling kampung.
“Intinya, aku sebagai akamsi nggak akan melarang asal sudah ada izin dari RT dan warga setempat serta sosialisasi. Aku pun nggak menutup peluang karena kampung kami memang sebetulnya cocok untuk kampung wisata dan edukasi,” ucap Faninda bangga.
Pertama kali ikut blusukan kampung berujung kecewa
Sebaliknya, keresahan juga dirasakan oleh peserta blusukan kampung atau gang-gangan. Dila, salah satu peserta blusukan kampung di Jogja mengaku punya pengalaman tidak mengenakkan saat mengikuti kegiatan tersebut.
“Awalnya aku ikut agar punya teman baru karena aku baru awal pindah ke Jogja. Eh, ternyata yang ikut malah temannya teman yang punya acara alias mereka sebetulnya sudah saling kenal dan aku merasa sebagai stranger sendirian,” kata Dila dihubungi Mojok secara terpisah, Kamis (20/8/2026).
“Asli aku kayak orang cengo bjir, jarang diajak ngobrol, kenalan di awal doang tapi setelah itu satu geng tadi asik ketawa-tawa sendiri. Akunya awkward nggak diajak ngobrol,” tutur Dila.
Semenjak pengalaman pertama itu, Dila pun merasa kapok dan nggak mau ikut-ikutan lagi kegiatan seperti blusukan kampung atau gang-gangan.
“Kata aku mah jangan buka open trip jalan-jalan sama stranger kalau kayak gitu, mending nongkrong se-geng saja,” ujarnya bersungut-sungut.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Blusukan ala Gang-Gangan dan Celana Kolor Motif Korpri di Jemuran atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

















