Episode Putcast kali ini, Mojok mampir ke kantor Habib Jafar dalam rangkaian Road to Jakarta. Obrolannya panjang, hangat, dan pelan-pelan masuk ke tempat-tempat yang dalam.
Habib Jafar membuka soal istiqamah. Ia cerita, dulu punya majelis subuh akhir pekan di sebuah masjid di Bekasi, jalan setahun, lalu berhenti karena COVID — dan susah sekali dihidupkan lagi. Dari situ ia mengingatkan: sedikit tapi konsisten jauh lebih baik daripada banyak tapi musiman. Istiqamah khairun min alfi karamah, konsisten itu lebih baik dari seribu kekeramatan. Ini juga, katanya, yang bikin orang relate sama Atomic Habits: perubahan kecil yang dilakukan terus-menerus, lama-lama jadi besar.
Berhenti Dicintai Lebih Berat daripada Mulai Dibenci
Yang paling nyess adalah waktu bicara soal kehilangan. Buat Habib Jafar, “berhenti dicintai lebih berat daripada mulai dibenci” — dan itu terasa saat anak mulai enggak mau dipeluk. Kepala Suku Mojok menimpali dengan kisah dinasihati anaknya sendiri, “Pak, udah lama lihat Bapak enggak pegang Al-Qur’an,” yang bikin dia langsung menangis dan kembali membaca Qur’an. Habib Jafar nyambung soal betapa nasihat paling dahsyat sering datang lewat hal paling sederhana. Ia sendiri dulu suka main Tetris di pesawat, sampai lihat penumpang di sebelahnya baca Qur’an — sejak itu momen-momen nunggu ia ubah jadi waktu membaca.
Bicara Beratnya Belum Punya Anak
Dari obrolan soal kehilangan-kehilangan kecil dalam hidup, pembicaraan kemudian mengarah ke kehilangan yang lebih personal: penantian Habib Jafar dan istrinya yang sudah tujuh tahun menikah namun belum dikaruniai anak.
Tekanannya berat, terutama bagi istri, karena secara sosial masalah kerap dialamatkan ke perempuan. Ia merasa harus membentengi istrinya dari pertanyaan-pertanyaan yang melukai. Dari sana ia belajar makna ikhlas — sadar bahwa keputusan bukan milik kita, tapi milik Tuhan. “Rayakan apa yang Tuhan sudah berikan,” katanya, “jangan terus memikirkan yang belum.” Lagipula, relasi dengan anak itu ujiannya para nabi.
Namun, urusan menerima takdir bukan satu-satunya kegelisahan yang ia hadapi. Di tengah popularitas yang terus meningkat, Habib Jafar mengaku juga dihantui pertanyaan lain yang lebih eksistensial.
Ia takut popularitasnya membuatnya bergeser: masih dakwah, atau sudah entertainment? Ia mengaku menangis mendengar lagu Yura Yunita, “Tenang”, karena ketakutan itu menyeruak. Katanya, orang nge-fans ke dia sebenarnya karena ia membawa hal-hal dari Qur’an dan sunah — jadi mereka nge-fans ke Allah dan Rasul. Karena itu ia waspada terhadap istidraj dan menggencarkan filantropi lewat lembaga, biar tak jatuh ke rasa tinggi hati.
Habib Jafar dan Dakwah Lewat Film
Soal film Seni Merayu Tuhan, ia menyebutnya dakwah lewat film — bekerja di ranah rasa, yang tak bisa diselesaikan lewat ceramah atau buku. Ia terlibat dari awal sampai akhir, dan prosesnya dijaga “sehat”: syuting tak sampai larut malam, bebas dari seksisme dan bullying. Nilai utamanya adalah relasi dengan ibu, tema yang beririsan dengan hidupnya sendiri. Ia mempersembahkan film ini untuk ibunya.
Bagian kehilangan ditutup dengan pembelaan terhadap tradisi tahlil sebagai jangkar bagi yang ditinggalkan — mengutip Sujiwo Tejo, bukan filsafat, tapi agama yang mengajari cara melepas ibu dengan tenang.
Menjelang akhir obrolan, suasana kembali mencair. Habib Jafar bercerita tentang upaya menjaga sungai di kampung halamannya di Bondowoso dan melempar candaan khas soal “Republik Kopi”. Penutup yang ringan, tetapi tetap sejalan dengan benang merah percakapan sore itu: tentang menjaga sesuatu—iman, hubungan, lingkungan, hingga diri sendiri—agar terus bertumbuh dari waktu ke waktu.










