Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Ketika Militer Masuk Sekolah: Mengobati Gejala, Melupakan Akar Masalah

Nur Hidayat oleh Nur Hidayat
8 Juli 2026
A A
Ketika Militer Masuk Sekolah: Mengobati Gejala, Melupakan Akar Masalah MOJOK.CO

Ilustrasi Ketika Militer Masuk Sekolah: Mengobati Gejala, Melupakan Akar Masalah. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Disiplin memang penting. Namun ketika disiplin di sekolah dibangun dengan rasa takut, kita mungkin sedang menciptakan kepatuhan sesaat sekaligus kehilangan karakter yang ingin dibentuk.

Pelibatan unsur militer dalam pendidikan bukan lagi sekadar wacana. Dalam penyelenggaraan Sekolah Rakyat, anggota TNI dan Polri dilibatkan untuk memberikan pembinaan kedisiplinan kepada para siswa. 

Iklan

Kini, pemerintah bahkan mempertimbangkan sekitar 1.000 taruna Akademi Militer (Akmil) untuk masuk Sekolah Rakyat. Tujuannya untuk memberi materi yang membentuk kemandirian dan karakter, serta menanamkan budaya disiplin. Tahun lalu, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengirim siswa dengan perilaku bermasalah ke barak militer untuk menjalani pembinaan.

Gagasan ini lahir dari keyakinan bahwa persoalan pendidikan dapat dijawab dengan pendekatan yang lebih tegas dan terstruktur. Namun, ketika sekolah mulai mengadopsi logika militer, pertanyaan yang jauh lebih penting justru muncul: benarkah masalah utama yang sedang dihadapi anak-anak Indonesia adalah krisis kedisiplinan?

Persoalan utama remaja Indonesia di sekolah itu bukan soal kedisiplinan

Data nasional justru memperlihatkan bahwa tantangan terbesar generasi muda Indonesia bukan semata persoalan kedisiplinan, melainkan krisis kesehatan mental. Temuan penting dari survei nasional Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) yang dirilis oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Kementerian Kesehatan RI mengungkap fakta menyentakkan: satu dari tiga remaja Indonesia (34,9%) mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. 

Bahkan, sebanyak 5,5 persen di antaranya memenuhi kriteria klinis gangguan mental yang membutuhkan intervensi profesional. Kondisi riil ini diperkuat oleh hasil skrining berskala besar pada program Cek Kesehatan Gratis (CKG) oleh Kementerian Kesehatan RI sepanjang periode 2025–2026. 

Melalui pemeriksaan terhadap 7 juta anak, Kemenkes mendeteksi adanya 363.000 anak menunjukkan gejala depresi serta lebih dari 338.000 anak menunjukkan gejala kecemasan. 

Mengingat data CKG merupakan hasil skrining awal dan bukan sebuah diagnosis klinis final, angka fantastis ini menjadi alarm dan sinyal darurat bahwa ruang kelas kita hari ini sedang diisi oleh anak-anak yang menanggung beban psikologis yang berat. 

Dalam situasi seperti ini, menghadirkan pendekatan yang identik dengan komando, intimidasi, atau hukuman fisik patut dipertanyakan efektivitasnya. Pendidikan membutuhkan strategi yang memperkuat ketahanan psikologis, relasi yang suportif, dan kemampuan regulasi diri, bukan sekadar kepatuhan yang lahir dari rasa takut.

Persoalan ini tidak dapat dipandang semata sebagai krisis disiplin di sekolah, melainkan sebagai tantangan yang menyangkut cara kita memahami hakikat manusia dalam proses belajar. 

Pendidikan bukan sekadar mengoreksi perilaku yang tampak di permukaan, tetapi membentuk kesadaran, karakter, dan mekanisme batin yang mengarahkan seseorang untuk memilih berbuat benar, bahkan ketika tidak berada dalam pengawasan.

Disiplin bukan sekadar reaksi terhadap tekanan

Dalam fisika, kita mengenal Hukum III Newton: setiap aksi akan menimbulkan reaksi yang sama besar dan berlawanan arah. Tentu manusia bukanlah benda yang tunduk secara literal pada Hukum III Newton. 

Namun, sebagai metafora ilmiah, hukum aksi-reaksi mengingatkan bahwa tekanan eksternal sering kali memunculkan respons yang berlawanan ketika tidak disertai perubahan dari dalam diri. Hal serupa sering terjadi pada pendidikan yang hanya mengandalkan hukuman. Tekanan mungkin mampu menghasilkan kepatuhan sesaat, tetapi belum tentu melahirkan pengendalian diri.

Psikologi menjelaskan bahwa perilaku yang muncul karena ancaman hukuman lebih banyak digerakkan oleh motivasi eksternal (controlled motivation), bukan kesadaran internal. Menurut Self-Determination Theory yang dikembangkan Edward Deci dan Richard Ryan, perubahan perilaku yang bertahan lama justru tumbuh ketika individu memiliki kebutuhan dasar akan otonomi, kompetensi, dan keterhubungan yang terpenuhi.

Iklan

Anak yang hanya patuh karena diawasi cenderung kehilangan kepatuhan ketika pengawasan itu hilang. Sebaliknya, anak yang belajar mengatur dirinya akan tetap disiplin meskipun tidak ada yang mengawasi. Dengan kata lain, disiplin sejati lahir dari regulasi diri (self-regulation), bukan dari ketakutan.

Baca halaman selanjutnya

Sekolah sering menanggung gejala, padahal akar persoalan ada di rumah

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 8 Juli 2026 oleh

Tags: disiplinmilitersekolahsekolah rakyat
Nur Hidayat

Nur Hidayat

Nur Hidayat, S.Pd., M.Pd., M.Si. (Ummu Fatih) adalah dosen di Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar dengan latar belakang pendidikan magister di bidang Pendidikan Fisika (UNM) serta Sains Psikologi Pendidikan (Airlangga). Akademisi sekaligus penulis yang aktif mengkaji psikologi keluarga dan parenting Islami.

Artikel Terkait

Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Sekolahan

Memilih Sekolah Mahal demi Selamatkan Pergaulan Anak di Desa, Malah Dicap “Sok Kaya” dan Egois oleh Tetangga

27 Juli 2026
Anak miskin di Yogyakarta masuk Sekolah Rakyat. MOJOK.CO
Sekolahan

Saat Kemiskinan Memaksa Anak Lebih Dewasa sebelum Waktunya, Sekolah Rakyat Jadi Pilihan Satu-satunya

20 Juli 2026
Kekerasan di sekolah, Mahasiswa UNY Dibully Gara-Gara Pemilu BEM
Sekolahan

“Sekolah Bukan Ring Tinju”: Ortu Pukuli Guru Madrasah di Madura adalah Alarm Darurat Pendidikan Indonesia

9 Februari 2026
Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana MOJOK.CO
Esai

Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana

9 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Candi Prambanan Tak Sekadar Bagus untuk Selfie, tapi Ruang Belajar yang "Hidup" buat Anak-anak. (sumber: InJourney)

Candi Prambanan Tak Sekadar Bagus untuk Selfie, tapi Ruang Belajar yang “Hidup” buat Anak-anak

23 Juli 2026
Festival Transmigrasi 2026 Fun Run 6K: Event lari yang tawarkan sensasi berbeda di Kaliurang Sleman MOJOK.CO

Transmigrasi Festival 2026 Fun Run 6K: Tawarkan Sensasi Lari di Kaliurang yang Beda dari Event Lari Perkotaan

27 Juli 2026
Perilaku meresahkan pengunjung di Indomaret Point Coffee MOJOK.CO

Ngopi Enak di Indomaret Point Coffee Jadi Terganggu karena Perilaku Pengunjung yang Meresahkan tapi Tak Sadar Diri

24 Juli 2026
Pilih jadi tukang cukur rambut rumahan dan barbershop saat teman sebaya kerja di luar negeri. Dicap pemalas tetangga, hidup berkecukupan malam dicurigai MOJOK.CO

Pilih Jadi Tukang Cukur Rumahan saat Teman Kerja di Luar Negeri: Dicap Pemalas Tetangga, Terlihat Berkecukupan Malah Dicurigai

22 Juli 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Koperasi di Yogyakarta. MOJOK.CO

Hari Koperasi Nasional ke-79 di DIY: Sudah Saatnya Koperasi sebagai Sakaguru Perekonomian Nasional Nggak Lagi Gaptek

23 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.