Sekolah sering menanggung gejala, padahal akar persoalan ada di rumah
Ketika seorang anak berulang kali melanggar aturan sekolah, perhatian publik biasanya langsung tertuju pada perilaku anak itu sendiri. Padahal, perilaku sering kali merupakan gejala, bukan sumber masalah.
Berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa kualitas pengasuhan orang tua merupakan salah satu prediktor paling kuat terhadap perkembangan sosial, emosional, dan akademik anak. Tinjauan sistematis yang dipublikasikan dalam National Institutes of Health memperlihatkan bahwa keterlibatan orang tua, kehangatan relasi keluarga, serta pola komunikasi di rumah memiliki hubungan yang konsisten dengan prestasi belajar, motivasi, hingga kesehatan mental anak.
Sayangnya, kehidupan modern menghadirkan tantangan baru. Tidak sedikit orang tua hadir secara finansial, tetapi semakin jarang hadir secara emosional. Kesibukan pekerjaan, distraksi teknologi, dan tekanan ekonomi membuat interaksi berkualitas di dalam keluarga semakin berkurang.
Akibatnya, sekolah sering kali menerima anak-anak yang membawa berbagai luka psikologis yang tidak terlihat. Ketika perilaku bermasalah muncul, tanggung jawab bergeser dari rumah ke sekolah.
Ketika sekolah merasa kewalahan, solusi berikutnya diarahkan kepada institusi yang lebih represif. Rantai pemindahan tanggung jawab inilah yang patut diputus. Karena sejatinya, sekolah tidak dapat menggantikan fungsi keluarga.
Pendidikan tidak sama dengan komando
Dalam Islam, pendidikan selalu dimulai dari pembentukan hati sebelum pembentukan perilaku.
Al-Qur’an menggambarkan Rasulullah SAW sebagai pribadi yang berhasil mendidik karena kelembutan akhlaknya.
“Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka akan menjauh dari sekitarmu.” (QS. Ali Imran: 159)
Ayat ini menyampaikan prinsip pendidikan yang juga didukung psikologi modern.
Hubungan yang hangat membangun rasa aman (psychological safety). Dari rasa aman itulah muncul kepercayaan, motivasi, dan kemauan untuk berubah.
Sebaliknya, lingkungan yang didominasi rasa takut memang mampu menciptakan kepatuhan, tetapi sering kali gagal membangun karakter. Anak belajar menaati aturan bukan karena memahami nilai di balik aturan tersebut, melainkan karena takut terhadap konsekuensinya.
Kondisi seperti ini tidak menghasilkan kesadaran moral, melainkan kepatuhan yang bergantung pada pengawasan.
Yang perlu diperbaiki bukan hanya murid di sekolah, melainkan ekosistemnya
Persoalan kedisiplinan tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengganti metode pembinaan siswa. Yang perlu dibangun adalah ekosistem pendidikan yang sehat.
Sekolah perlu memperkuat layanan konseling, meningkatkan kapasitas guru dalam memahami perkembangan psikologis remaja, serta menjadikan pendidikan karakter sebagai proses yang berlangsung setiap hari, bukan sekadar slogan.
Pada saat yang sama, negara juga perlu berinvestasi pada pendidikan keluarga. Pelatihan parenting, literasi kesehatan mental, pendampingan keluarga, hingga program penguatan relasi orang tua-anak jauh lebih strategis dibandingkan sekadar menghadirkan pendekatan koersif di sekolah.
Sebab rumah adalah sekolah pertama. Jika fondasi di rumah rapuh, sekolah hanya akan terus memperbaiki retakan yang tidak pernah selesai.
Militer memiliki peran yang sangat mulia dalam menjaga kedaulatan bangsa. Namun sekolah memiliki mandat yang berbeda: menumbuhkan manusia yang mampu memimpin dirinya sendiri.
Karena tujuan akhir pendidikan bukanlah menghasilkan anak-anak yang sekadar patuh ketika diperintah, melainkan manusia dewasa yang tetap memilih berbuat benar bahkan ketika tidak seorang pun sedang mengawasinya.
Penulis: Nur Hidayat
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.














