Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Ketika Militer Masuk Sekolah: Mengobati Gejala, Melupakan Akar Masalah

Nur Hidayat oleh Nur Hidayat
8 Juli 2026
A A
Ketika Militer Masuk Sekolah: Mengobati Gejala, Melupakan Akar Masalah MOJOK.CO

Ilustrasi Ketika Militer Masuk Sekolah: Mengobati Gejala, Melupakan Akar Masalah. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sekolah sering menanggung gejala, padahal akar persoalan ada di rumah

Ketika seorang anak berulang kali melanggar aturan sekolah, perhatian publik biasanya langsung tertuju pada perilaku anak itu sendiri. Padahal, perilaku sering kali merupakan gejala, bukan sumber masalah.

Berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa kualitas pengasuhan orang tua merupakan salah satu prediktor paling kuat terhadap perkembangan sosial, emosional, dan akademik anak. Tinjauan sistematis yang dipublikasikan dalam National Institutes of Health memperlihatkan bahwa keterlibatan orang tua, kehangatan relasi keluarga, serta pola komunikasi di rumah memiliki hubungan yang konsisten dengan prestasi belajar, motivasi, hingga kesehatan mental anak.

Iklan

Sayangnya, kehidupan modern menghadirkan tantangan baru. Tidak sedikit orang tua hadir secara finansial, tetapi semakin jarang hadir secara emosional. Kesibukan pekerjaan, distraksi teknologi, dan tekanan ekonomi membuat interaksi berkualitas di dalam keluarga semakin berkurang.

Akibatnya, sekolah sering kali menerima anak-anak yang membawa berbagai luka psikologis yang tidak terlihat. Ketika perilaku bermasalah muncul, tanggung jawab bergeser dari rumah ke sekolah. 

Ketika sekolah merasa kewalahan, solusi berikutnya diarahkan kepada institusi yang lebih represif. Rantai pemindahan tanggung jawab inilah yang patut diputus. Karena sejatinya, sekolah tidak dapat menggantikan fungsi keluarga.

Pendidikan tidak sama dengan komando

Dalam Islam, pendidikan selalu dimulai dari pembentukan hati sebelum pembentukan perilaku.

Al-Qur’an menggambarkan Rasulullah SAW sebagai pribadi yang berhasil mendidik karena kelembutan akhlaknya.

“Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka akan menjauh dari sekitarmu.” (QS. Ali Imran: 159)

Ayat ini menyampaikan prinsip pendidikan yang juga didukung psikologi modern.

Hubungan yang hangat membangun rasa aman (psychological safety). Dari rasa aman itulah muncul kepercayaan, motivasi, dan kemauan untuk berubah. 

Sebaliknya, lingkungan yang didominasi rasa takut memang mampu menciptakan kepatuhan, tetapi sering kali gagal membangun karakter. Anak belajar menaati aturan bukan karena memahami nilai di balik aturan tersebut, melainkan karena takut terhadap konsekuensinya. 

Kondisi seperti ini tidak menghasilkan kesadaran moral, melainkan kepatuhan yang bergantung pada pengawasan.

Yang perlu diperbaiki bukan hanya murid di sekolah, melainkan ekosistemnya

Persoalan kedisiplinan tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengganti metode pembinaan siswa. Yang perlu dibangun adalah ekosistem pendidikan yang sehat. 

Sekolah perlu memperkuat layanan konseling, meningkatkan kapasitas guru dalam memahami perkembangan psikologis remaja, serta menjadikan pendidikan karakter sebagai proses yang berlangsung setiap hari, bukan sekadar slogan.

Iklan

Pada saat yang sama, negara juga perlu berinvestasi pada pendidikan keluarga. Pelatihan parenting, literasi kesehatan mental, pendampingan keluarga, hingga program penguatan relasi orang tua-anak jauh lebih strategis dibandingkan sekadar menghadirkan pendekatan koersif di sekolah.

Sebab rumah adalah sekolah pertama. Jika fondasi di rumah rapuh, sekolah hanya akan terus memperbaiki retakan yang tidak pernah selesai.

Militer memiliki peran yang sangat mulia dalam menjaga kedaulatan bangsa. Namun sekolah memiliki mandat yang berbeda: menumbuhkan manusia yang mampu memimpin dirinya sendiri.

Karena tujuan akhir pendidikan bukanlah menghasilkan anak-anak yang sekadar patuh ketika diperintah, melainkan manusia dewasa yang tetap memilih berbuat benar bahkan ketika tidak seorang pun sedang mengawasinya.

Penulis: Nur Hidayat
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia  dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 8 Juli 2026 oleh

Tags: disiplinmilitersekolahsekolah rakyat
Nur Hidayat

Nur Hidayat

Nur Hidayat, S.Pd., M.Pd., M.Si. (Ummu Fatih) adalah dosen di Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar dengan latar belakang pendidikan magister di bidang Pendidikan Fisika (UNM) serta Sains Psikologi Pendidikan (Airlangga). Akademisi sekaligus penulis yang aktif mengkaji psikologi keluarga dan parenting Islami.

Artikel Terkait

Anak miskin di Yogyakarta masuk Sekolah Rakyat. MOJOK.CO
Sekolahan

Saat Kemiskinan Memaksa Anak Lebih Dewasa sebelum Waktunya, Sekolah Rakyat Jadi Pilihan Satu-satunya

20 Juli 2026
Kekerasan di sekolah, Mahasiswa UNY Dibully Gara-Gara Pemilu BEM
Sekolahan

“Sekolah Bukan Ring Tinju”: Ortu Pukuli Guru Madrasah di Madura adalah Alarm Darurat Pendidikan Indonesia

9 Februari 2026
Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana MOJOK.CO
Esai

Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana

9 Februari 2026
Guru tak pernah benar-benar pulang. Raga di rumah tapi pikiran dan hati tertinggal di sekolah MOJOK.CO
Ragam

Guru Tak Pernah Benar-benar Merasa Pulang, Raga di Rumah tapi Pikiran dan Hati Tertinggal di Sekolah

8 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Koperasi di Yogyakarta. MOJOK.CO

Hari Koperasi Nasional ke-79 di DIY: Sudah Saatnya Koperasi sebagai Sakaguru Perekonomian Nasional Nggak Lagi Gaptek

23 Juli 2026
Dalang cilik perempuan asal Klaten yang menyukai wayang. MOJOK.CO

Jadi Perempuan Satu-satunya di Lomba Dalang Anak Klaten, Bocah 13 Tahun Ini Buktikan Wayang Tak Kenal Gender

22 Juli 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Standard Ganda: Orang Kota Sok Lebih Berkelas, Padahal di Mata Orang Desa Sama Noraknya

21 Juli 2026
Konten Kreator Perjalanan dapat pelajaran hidup di Lombok. MOJOK.CO

Konten Kreator Perjalanan Nyaris Luntang-lantung karena Tak Punya Uang, Malah Menangis Saat Meninggalkan Lombok

21 Juli 2026
Jadi gini rasanya keracunan motor Yamaha Xabre bekas MOJOK.CO

Akulah yang dulu meremehkan motor Yamaha Xabre karena harganya yang nggak ngotak, tapi kini rasa ingin memilikinya semakin tinggi

23 Juli 2026
Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.