Ketika Timnas Putri U-16 Indonesia berlaga di Srikandi Merdeka Cup 2026, bukan hanya tribun Supersoccer Arena yang penuh. Lapak para pedagang di Srikandi Fair ikut diserbu pembeli.
Jam baru menunjukkan pukul 21.30 WIB ketika Rahma mulai membereskan stan ayam gepreknya di Lapangan Rendeng, Kudus, Jawa Tengah, Jumat (21/8/2026). Bersama suaminya, Eko, perempuan berusia 48 tahun itu merapikan satu demi satu peralatan dagang.
Mereka bukan sedang buru-buru pulang. Pertandingan semifinal Srikandi Merdeka Cup 2026 antara Indonesia dan Yordania bahkan masih berlangsung di Supersoccer Arena yang berada tepat di seberang lapangan.
Rahma berkemas karena ayam gepreknya sudah habis.
Malam itu, warga di Kudus datang ke kawasan Supersoccer Arena untuk mendukung Garuda Pertiwi. Kapasitas stadion yang terbatas membuat sebagian penonton menikmati pertandingan melalui layar lebar yang tersedia di Srikandi Fair.
Sambil menyaksikan pertandingan, mereka membeli makanan dan minuman dari puluhan pedagang yang berjualan di sana.
Keramaian itu menjadi berkah bagi Rahma dan keluarganya.
“Setiap ada olahraga di Supersoccer Arena kami pasti ramai pembeli, tapi paling ramai kalau pertandingannya sepak bola. Sering habis seperti sekarang. Inginnya, ya, Indonesia main terus, biar ramai terus,” kata Rahma sambil tersenyum.
Di stan Ayam Geprek Rahma, ia berjualan bersama Eko yang juga berusia 48 tahun. Mereka sebenarnya bukan pedagang yang datang dari tempat jauh. Pada hari biasa, keluarga tersebut memang berjualan di depan Supersoccer Arena.
Selama Srikandi Fair berlangsung, mereka mulai membuka lapak pukul 14.00 dan baru pulang sekitar pukul 23.00 WIB. Penjualannya memang tidak selalu lebih ramai dibandingkan hari biasa, tetapi relatif stabil. Suasana akan berubah drastis ketika Timnas Putri Indonesia bertanding.
Pengunjung berdatangan, dan ayam geprek bisa habis sebelum pertandingan selesai.
Menurut Rahma, pertandingan olahraga yang digelar Bakti Olahraga Djarum Foundation selama ini memang kerap mendatangkan banyak orang. Ia pernah merasakan keramaian ketika ada pertandingan panahan, atletik, bulu tangkis, dan cabang olahraga lainnya. Namun, sepak bola tetap menjadi magnet terbesar.
Bagi pedagang kecil seperti Rahma, kemenangan Indonesia tentu membanggakan. Namun, ada harapan lain yang lebih sederhana di baliknya: semakin lama Indonesia bertahan dalam turnamen, semakin banyak pula kesempatan mereka berjualan.
Sayur pecel sampai berganti dua kali

Tidak jauh dari stan Ayam Geprek Rahma, dua perempuan berdiri di balik sebuah stan pecel bernama Howjek. Mereka adalah Merry (57) dan Siti (49).
Malam sudah semakin larut, tetapi keduanya tidak terlihat kelelahan. Mereka justru tersenyum menyambut saya yang datang dan memesan seporsi pecel dengan lauk telur dadar.
“Kalau hari biasa, kami jualan di belakang Gedung DPRD Kudus. Kali ini kami ikut di Srikandi Fair,” kata Merry.
Setiap kali Bakti Olahraga Djarum Foundation mengadakan kegiatan olahraga, Merry dan Siti biasanya mengikuti pengundian untuk mendapatkan tempat berjualan. Entah karena beruntung atau pecel mereka memang sudah menjadi langganan berbagai kegiatan olahraga di Kudus, keduanya mengaku hampir selalu lolos.
“Kami nggak pernah ketinggalan jualan pecel,” ujar Merry.
Pecel yang saya santap malam itu menggunakan sayuran yang baru. Persediaan sayur yang mereka bawa pada siang hari telah habis dibeli pengunjung. Merry dan Siti kemudian menyiapkan sayuran lagi agar tetap bisa melayani pembeli hingga malam.
“Ini sudah pakai sayur yang baru. Tadi siang sudah habis,” katanya.
Merry memperhatikan saya yang menyantap pecel dengan lahap. Sebelum piring benar-benar kosong, ia menawarkan tambahan bumbu.
Keramahan semacam itu mungkin tidak tercatat dalam statistik pengunjung Srikandi Merdeka Cup. Namun, justru pengalaman kecil seperti inilah yang membuat sebuah turnamen tidak berhenti menjadi pertandingan di dalam stadion.
Dimsum dan nasionalisme anak muda Kudus
Srikandi Fair berlangsung di Lapangan Rendeng pada 17–23 Agustus 2026 sebagai kegiatan pendamping Srikandi Merdeka Cup. Letaknya tepat di depan Supersoccer Arena. Festival ini menghadirkan sekitar 35 stan UMKM dan pedagang lokal, terutama mereka yang sehari-hari berjualan di sekitar lapangan.

Salah satu stan yang membuka lapak adalah Juragan Dimsum. Najwa (21), anak pemilik usaha tersebut, menilai Srikandi Fair berhasil membuat Kota Kudus lebih ramai.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya memberi ruang bagi pelaku UMKM, tetapi juga menumbuhkan semangat kebangsaan melalui dukungan kepada Timnas Putri Indonesia.
Bagi Najwa, nasionalisme dalam Srikandi Fair terlihat ketika warga berkumpul di depan layar, dan bersorak bersama setiap kali pemain Indonesia mendekati gawang lawan.
Terlebih, festival tersebut dibuka bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Pembukaannya diawali kirab kebudayaan dari Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus menuju Lapangan Rendeng.
Selain puluhan stan UMKM, Srikandi Fair menghadirkan panggung hiburan, replika raksasa trofi Srikandi Merdeka Cup, serta arena permainan anak seperti bianglala dan komidi putar. Layar lebar juga disediakan bagi warga yang tidak kebagian tempat di Supersoccer Arena, yang kapasitasnya hanya sekitar 1.100 hingga 1.200 orang.
Dengan konsep tersebut, masyarakat tidak harus masuk ke stadion untuk ikut merasakan atmosfer pertandingan. Mereka bisa menonton dari luar sambil menyantap ayam geprek, dimsum, pecel, tahu walik, sempolan, dan berbagai dagangan UMKM Kudus lainnya.
Para pedagang yang biasanya mencari pembeli di tepi jalan kini ditempatkan di dalam area festival. Sejumlah pedagang lokal, termasuk Rahma dan Merry, memperoleh tempat berjualan tanpa dipungut biaya.
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menyebut penyelenggaraan turnamen dan Srikandi Fair dapat memperkuat posisi Kudus sebagai destinasi wisata olahraga. Kegiatan olahraga berskala internasional tidak hanya berhubungan dengan prestasi para atlet, tetapi juga berpotensi menggerakkan perekonomian warga.
Dampak itu terlihat dalam bentuk yang sangat sederhana malam itu. Ayam geprek Rahma habis sebelum pertandingan berakhir. Persediaan sayur pecel Merry dan Siti harus diganti karena dagangan pertama ludes sejak siang. Sementara Najwa sibuk melayani warga yang ingin menyantap dimsum sembari mendukung Garuda Pertiwi.
Di dalam stadion, Indonesia berjuang mengalahkan Yordania demi melaju ke final. Di luar stadion, para pedagang juga sedang mengejar kemenangan mereka sendiri: dagangan habis dan pulang membawa penghasilan.
Maka, ketika Rahma berharap Indonesia “main terus”, itu bukan hanya doa seorang pendukung Timnas Putri. Itu juga harapan seorang pedagang kecil agar sepak bola terus mendatangkan keramaian dan keramaian itu meninggalkan rezeki bagi warga yang tinggal di sekeliling stadion.
Penulis: Agung Purwandono
Editor: Muchamad Aly Reza

















