Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kabar

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya

Agung Purwandono oleh Agung Purwandono
23 Agustus 2026
A A
Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya MOJOK.CO

Masyarakat Kudus memadati Lapangan Rendeng, Kudus menonton pertandingan Indonesia vs Yordania, di turnamen Srikandi Merdeka Cup 2026, Jumat (21/8/2026). (Agung PW/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ketika Timnas Putri U-16 Indonesia berlaga di Srikandi Merdeka Cup 2026, bukan hanya tribun Supersoccer Arena yang penuh. Lapak para pedagang di Srikandi Fair ikut diserbu pembeli.

Jam baru menunjukkan pukul 21.30 WIB ketika Rahma mulai membereskan stan ayam gepreknya di Lapangan Rendeng, Kudus, Jawa Tengah, Jumat (21/8/2026). Bersama suaminya, Eko, perempuan berusia 48 tahun itu merapikan satu demi satu peralatan dagang.

Iklan

Mereka bukan sedang buru-buru pulang. Pertandingan semifinal Srikandi Merdeka Cup 2026 antara Indonesia dan Yordania bahkan masih berlangsung di Supersoccer Arena yang berada tepat di seberang lapangan.

Rahma berkemas karena ayam gepreknya sudah habis.

Malam itu, warga di Kudus datang ke kawasan Supersoccer Arena untuk mendukung Garuda Pertiwi. Kapasitas stadion yang terbatas membuat sebagian penonton menikmati pertandingan melalui layar lebar yang tersedia di Srikandi Fair. 

Sambil menyaksikan pertandingan, mereka membeli makanan dan minuman dari puluhan pedagang yang berjualan di sana.

Keramaian itu menjadi berkah bagi Rahma dan keluarganya.

“Setiap ada olahraga di Supersoccer Arena kami pasti ramai pembeli, tapi paling ramai kalau pertandingannya sepak bola. Sering habis seperti sekarang. Inginnya, ya, Indonesia main terus, biar ramai terus,” kata Rahma sambil tersenyum.

Di stan Ayam Geprek Rahma, ia berjualan bersama Eko yang juga berusia 48 tahun. Mereka sebenarnya bukan pedagang yang datang dari tempat jauh. Pada hari biasa, keluarga tersebut memang berjualan di depan Supersoccer Arena.

Selama Srikandi Fair berlangsung, mereka mulai membuka lapak pukul 14.00 dan baru pulang sekitar pukul 23.00 WIB. Penjualannya memang tidak selalu lebih ramai dibandingkan hari biasa, tetapi relatif stabil. Suasana akan berubah drastis ketika Timnas Putri Indonesia bertanding.

Pengunjung berdatangan, dan ayam geprek bisa habis sebelum pertandingan selesai.

Menurut Rahma, pertandingan olahraga yang digelar Bakti Olahraga Djarum Foundation selama ini memang kerap mendatangkan banyak orang. Ia pernah merasakan keramaian ketika ada pertandingan panahan, atletik, bulu tangkis, dan cabang olahraga lainnya. Namun, sepak bola tetap menjadi magnet terbesar.

Bagi pedagang kecil seperti Rahma, kemenangan Indonesia tentu membanggakan. Namun, ada harapan lain yang lebih sederhana di baliknya: semakin lama Indonesia bertahan dalam turnamen, semakin banyak pula kesempatan mereka berjualan.

Sayur pecel sampai berganti dua kali

Ibu Merry dan Ibu Siti, jualan pecel di Srikandi Festival di Lapangan Rendeng, Kudus. Adanya Srikandi Merdeka Cup 2026 membuat dagangannya laris MOJOK.CO
Ibu Merry dan Ibu Siti, jualan pecel di Srikandi Festival di Lapangan Rendeng, Kudus. Setiap ada kegiatan Bakti Djarum Olahraga, keduanya rutin jualan. (Agung PW/Mojok.co)

Tidak jauh dari stan Ayam Geprek Rahma, dua perempuan berdiri di balik sebuah stan pecel bernama Howjek. Mereka adalah Merry (57) dan Siti (49).

Malam sudah semakin larut, tetapi keduanya tidak terlihat kelelahan. Mereka justru tersenyum menyambut saya yang datang dan memesan seporsi pecel dengan lauk telur dadar.

“Kalau hari biasa, kami jualan di belakang Gedung DPRD Kudus. Kali ini kami ikut di Srikandi Fair,” kata Merry.

Setiap kali Bakti Olahraga Djarum Foundation mengadakan kegiatan olahraga, Merry dan Siti biasanya mengikuti pengundian untuk mendapatkan tempat berjualan. Entah karena beruntung atau pecel mereka memang sudah menjadi langganan berbagai kegiatan olahraga di Kudus, keduanya mengaku hampir selalu lolos.

“Kami nggak pernah ketinggalan jualan pecel,” ujar Merry.

Iklan

Pecel yang saya santap malam itu menggunakan sayuran yang baru. Persediaan sayur yang mereka bawa pada siang hari telah habis dibeli pengunjung. Merry dan Siti kemudian menyiapkan sayuran lagi agar tetap bisa melayani pembeli hingga malam.

“Ini sudah pakai sayur yang baru. Tadi siang sudah habis,” katanya.

Merry memperhatikan saya yang menyantap pecel dengan lahap. Sebelum piring benar-benar kosong, ia menawarkan tambahan bumbu. 

Keramahan semacam itu mungkin tidak tercatat dalam statistik pengunjung Srikandi Merdeka Cup. Namun, justru pengalaman kecil seperti inilah yang membuat sebuah turnamen tidak berhenti menjadi pertandingan di dalam stadion.

Dimsum dan nasionalisme anak muda Kudus

Srikandi Fair berlangsung di Lapangan Rendeng pada 17–23 Agustus 2026 sebagai kegiatan pendamping Srikandi Merdeka Cup. Letaknya tepat di depan Supersoccer Arena. Festival ini menghadirkan sekitar 35 stan UMKM dan pedagang lokal, terutama mereka yang sehari-hari berjualan di sekitar lapangan.

Najwa mendampingi ibunya yang jualan dimsum di Srikandi Fair di Lapangan Rendeng, Kudus. MOJOK.CO
Najwa mendampingi ibunya, Ima yang jualan dimsum di Srikandi Fair di Lapangan Rendeng, Kudus. (Agung PW-Mojok.co)

Salah satu stan yang membuka lapak adalah Juragan Dimsum. Najwa (21), anak pemilik usaha tersebut, menilai Srikandi Fair berhasil membuat Kota Kudus lebih ramai. 

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya memberi ruang bagi pelaku UMKM, tetapi juga menumbuhkan semangat kebangsaan melalui dukungan kepada Timnas Putri Indonesia.

Bagi Najwa, nasionalisme dalam Srikandi Fair terlihat ketika warga berkumpul di depan layar, dan bersorak bersama setiap kali pemain Indonesia mendekati gawang lawan.

Terlebih, festival tersebut dibuka bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Pembukaannya diawali kirab kebudayaan dari Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus menuju Lapangan Rendeng.

Selain puluhan stan UMKM, Srikandi Fair menghadirkan panggung hiburan, replika raksasa trofi Srikandi Merdeka Cup, serta arena permainan anak seperti bianglala dan komidi putar. Layar lebar juga disediakan bagi warga yang tidak kebagian tempat di Supersoccer Arena, yang kapasitasnya hanya sekitar 1.100 hingga 1.200 orang.

Dengan konsep tersebut, masyarakat tidak harus masuk ke stadion untuk ikut merasakan atmosfer pertandingan. Mereka bisa menonton dari luar sambil menyantap ayam geprek, dimsum, pecel, tahu walik, sempolan, dan berbagai dagangan UMKM Kudus lainnya.

Para pedagang yang biasanya mencari pembeli di tepi jalan kini ditempatkan di dalam area festival. Sejumlah pedagang lokal, termasuk Rahma dan Merry, memperoleh tempat berjualan tanpa dipungut biaya.

Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menyebut penyelenggaraan turnamen dan Srikandi Fair dapat memperkuat posisi Kudus sebagai destinasi wisata olahraga. Kegiatan olahraga berskala internasional tidak hanya berhubungan dengan prestasi para atlet, tetapi juga berpotensi menggerakkan perekonomian warga.

Dampak itu terlihat dalam bentuk yang sangat sederhana malam itu. Ayam geprek Rahma habis sebelum pertandingan berakhir. Persediaan sayur pecel Merry dan Siti harus diganti karena dagangan pertama ludes sejak siang. Sementara Najwa sibuk melayani warga yang ingin menyantap dimsum sembari mendukung Garuda Pertiwi.

Di dalam stadion, Indonesia berjuang mengalahkan Yordania demi melaju ke final. Di luar stadion, para pedagang juga sedang mengejar kemenangan mereka sendiri: dagangan habis dan pulang membawa penghasilan.

Maka, ketika Rahma berharap Indonesia “main terus”, itu bukan hanya doa seorang pendukung Timnas Putri. Itu juga harapan seorang pedagang kecil agar sepak bola terus mendatangkan keramaian dan keramaian itu meninggalkan rezeki bagi warga yang tinggal di sekeliling stadion.

Penulis: Agung Purwandono
Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

 

Terakhir diperbarui pada 22 Agustus 2026 oleh

Tags: Sepak Bolasepak bola putriSrikandi Merdeka Cup
Agung Purwandono

Agung Purwandono

Jurnalis dengan pengalaman lebih dari dua dekade yang menekuni penulisan feature dan jurnalisme naratif. Punya ketertarikan pada kisah-kisah manusia yang jarang mendapat sorotan.

Artikel Terkait

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

22 Agustus 2026
Alma Odai "Cucurella" Diburu Fans, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu MOJOK.CO

Alma Odai “Cucurella” Diburu Fans di Srikandi Merdeka Cup, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu

22 Agustus 2026
Shifana, pemain Timnas U-16 Indonesia dibayangi pemain Yordania, Alma Odai di pertandingan semifinal Srikandi Merdeka Cup 2026. Indonesia menang dengan skor 3-0 di laga semifinal, Jumat (21/8).

Timnas Putri U-16 Indonesia Bungkam Yordania 3-0, Thailand Menanti di Final Srikandi Merdeka Cup

22 Agustus 2026
Caffino Srikandi Merdeka Cup: turnamen sepak bola putri internasional di Kudus, momentum bakat muda Indonesia unjuk kualitas MOJOK.CO

Srikandi Merdeka Cup: Turnamen Sepak Bola Putri U-16 Level Internasional di Kudus, Momentum Unjuk Kualitas untuk Tembus Timnas

3 Agustus 2026
Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
Sabrina, Anak Penjual Es Krim di Pati yang Rengkuh Gelar MVP MLSC All Stars dan Tembus Skuad Elite ke Singapura, MLSC.MOJOK.CO

Menemukan “La Pausa” Cilik di Supersoccer Arena Kudus

2 Juli 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Agustusan momen bikin mahasiswa KKN kelihatan jadi orang bingung, kalah pamor dengan anak muda Karang Taruna desa MOJOK.CO

Momen Agustusan bikin Mahasiswa KKN di Desa Jadi Orang Bingung, Lebih Sigap Karang Taruna

17 Agustus 2026
Penyesalan mahasiswa kiri dan naif: tolak kerja (jadi budak) korporat karena melanggengkan kapitalisme, tapi sadar orang tua belum bahagia MOJOK.CO

Sesal Mahasiswa Sok Kiri Anti Kapitalisme dan Naif: Tolak Kerja Korporat, Tapi Sadar Belum Bantu Ekonomi Orang Tua

21 Agustus 2026

Sarjana BK Kebingungan Tentukan Arah Masa Depan: Tak Otomatis Jadi Guru BK, Jadi Dosen pun Susah

19 Agustus 2026
Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia MOJOK.CO

Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia tapi justru karena itu saya sayang banget sama motor ini

18 Agustus 2026
Kontingen Prambanan tunjukkan jejak Mataram Kuno di Karnaval Budaya Klaten 2026. MOJOK.CO

Potret Kejayaan Mataram Kuno dalam Karnaval Budaya Klaten, 26 Kecamatan Adu Keunggulan Wilayah

19 Agustus 2026
Merdeka ala Puskestan dan para petani Sukoharjo: perjuangan sejahtera dari sektor pertanian MOJOK.CO

Merdeka Ala Puskestan dan Petani Sukoharjo: Perjuangan Panjang agar Sejahtera dari Pertanian

18 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.