Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal

Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA: Masjid sebagai Mercusuar Peradaban dan Konservasi Lingkungan

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
22 Agustus 2026
A A
Beranda Liputan Suara Bawah Tanah
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kemegahan Masjid Walidah Dahlan Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta tak sekadar tampak dari arsitektur tujuh lantainya. Lebih dari itu, masjid dengan ventilasi terbuka ini telah bertransformasi menjadi mercusuar peradaban di bidang lingkungan, mulai dari daur ulang air wudu hingga konservasi sampah menjadi dana beasiswa bagi mahasiswa dan kelompok duafa.

***

Seorang mahasiswa tampak terkejut saat melihat banyak belatung di antara botol-botol plastik yang ia kumpulkan dari keranjang sampah dekat Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta. 

Aroma busuk dari sisa cairan yang mengendap di dalam botol selama satu bulan penuh membuatnya harus menutup hidung rapat-rapat. Saking jijiknya melihat pemandangan itu, tubuhnya sampai bergidik ngeri. Ia bahkan muntah-muntah hingga merasa kesal sendiri.

“Itu kejadian yang sering saya lihat dari mahasiswa yang pertama kali ikut program Sedekah Barang Bekas (SEBARKAS) bareng kami,” ucap Kepala Kantor Layanan Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (KL LazisMu) UNISA, Muhammad Andis, saat ditemui Mojok, Kamis (13/8/2026). 

“Wajar ya pengalaman pertama. Namun dari situ, mahasiswa jadi lebih sadar untuk mengelola sampah sebaik mungkin,” lanjutnya.

Madaris: Mahasiswa sadar infak dan sedekah

Sebagai KL LazisMu UNISA yang bermarkas di lantai 2 Masjid Walidah Dahlan, Andis menjelaskan, lembaganya berfokus pada pemberdayaan masyarakat, mulai dari mengentaskan kemiskinan hingga mengingatkan peran utama manusia sebagai khalifah fil ardh atau pemimpin di bumi.

“Kami mulai dari yang terdekat dulu, seperti mahasiswa agar tidak mencemari lingkungan,” tegas Andis.

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, LazisMu bertugas mengumpulkan dana filantropi maupun amal usaha Muhammadiyah, salah satunya di lingkungan UNISA Yogyakarta sebagai Kampus Hijau.

keranjang sedekah khusus sampah botol plastik di sekitar Masjid Walidah Dahlan UNISA. MOJOK.CO
Keranjang sedekah botol plastik di sekitar Masjid Walidah Dahlan UNISA. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Sebagai langkah awal, kami menyiapkan keranjang sedekah khusus sampah botol plastik, selanjutnya kami yang mengelola dengan mengajak teman-teman mahasiswa atau kelompok relawan Madaris, yakni mahasiswa sadar infak dan sedekah,” jelasnya.

Menurut Andis, inisiasi tersebut merupakan yang pertama, karena sejauh ini dia belum menemukan program SEBARKAS atau yang serupa di kampus-kampus lain, bahkan di lingkungan kampus Muhammadiyah sendiri.

Sedekah sampah untuk beasiswa UNISA

Sebelum mengadakan program SEBARKAS, Andis dan timnya sempat berpikir untuk mendaur ulang sampah botol plastik menjadi pot tanaman agar sampah di sekitar  Masjid Walidah Dahlan UNISA—tempat kantornya bernaung, ikut berkurang. 

Namun, bukannya berhasil mengurangi sampah, pot-pot dari botol itu malah terus bertambah tanpa ditanami bibit apa pun. Alhasil, Andis pun membentuk relawan Madaris yang salah satu programnya adalah mengumpulkan sampah botol plastik untuk dijual ke pengepul.

Hasil penjualan dari botol plastik bekas sebenarnya tidak terlalu banyak, yakni sekitar Rp500 ribu untuk 20 karung goni berisi botol bekas. Meski terbilang kecil, Andis berujar jumlah itu sudah lebih dari cukup sebagai dana tambahan untuk menjalankan 2 program beasiswa di UNISA.

KL LazisMu di UNISA, Muhammad Andis. MOJOK.CO
KL LazisMu UNISA, Muhammad Andis. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Pertama, program beasiswa living cost untuk relawan Madaris atau mahasiswa kurang mampu, serta sembako yang dicairkan tiap bulan. Kedua, beasiswa Mentari khusus untuk anak-anak Yatim Duafa binaan LazisMu yang rutin mengaji di Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta.

“Setiap pekan kami mengadakan TPA dan menyantuni mereka uang sebesar Rp25.000. Saat bulan puasa, kami mengadakan buka bersama tiap Senin dan Kamis. Modalnya dari penjualan botol dan infak sebanyak Rp1.000 per mahasiswa,” ujar Andis.

Eco-living di lingkungan kampus UNISA

Beberapa bulan berlalu, target LazisMu UNISA pun akhirnya tercapai. Selain mendapatkan dana tambahan dari program SEBARKAS, kesadaran masyarakat civitas akademika kampus untuk ikut mengurangi sampah pun kian terwujud.

Buktinya, terjadi perubahan gaya hidup berkelanjutan (sustainable living) di lingkungan civitas akademika kampus UNISA. Misalnya, mahasiswa yang tadinya sering membeli air berbotol plastik, kini beralih menggunakan tumbler yang lebih ramah lingkungan.

Iklan

“Beberapa bulan setelah program ini berjalan, jumlah karung goni yang kami kumpulkan selama sebulan terus berkurang. Dari yang awalnya 20 karung, kini hanya 10 karung. Artinya, masyarakat semakin sadar untuk mengurangi sampah,” ungkap Andis.

Relawan Madaris Masjid Walidah Dahlan UNISA. MOJOK.CO
Relawan Madaris sedang membersihkan botol plastik mulai dari memisahkan tutup, melepas label, dan membersihkan cairan yang masih tersisa. (dok.istimewa)

Meski berdampak baik bagi kelestarian lingkungan, penurunan volume sampah botol ini membuat pemasukan dana beasiswa ikut menyusut. 

Oleh karena itu, untuk menambal kekurangan dana tambahan tersebut, Andis tak kurang akal dengan mengajak mahasiswa mengumpulkan barang bekas lainnya, mulai dari kertas-kertas bekas skripsi mahasiswa, besi, baju, serta barang-barang yang masih layak jual.

“Antusiasme mahasiswa ini sejatinya tidak terlepas dari Proyek Fikih Hijau dalam mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang ada di UNISA,” kata Andis.

Apa itu Fikih Hijau yang harus dimiliki mahasiswa?

Proyek Fikih Hijau yang disebutkan Andis bukan sekadar ceramah atau imbauan untuk menjaga alam, melainkan aksi nyata memulihkan lingkungan. Saking pentingnya ilmu ini, dosen AIK UNISA, Muhammad Nurdin Zuhdi, bahkan mewajibkan mahasiswanya untuk ikut menanam sekitar 1.500 pohon mangrove di Pantai Boros.

“Program ini merupakan mata kuliah wajib. Kalau tidak menanam pohon, maka tidak bisa lulus AIK,” kata Nurdin yang juga merupakan ketua takmir Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta saat ditemui terpisah, Kamis (13/8/2026) pagi.

Alih-alih memberikan banyak ilmu soal lingkungan di dalam kelas, dia mengharuskan mahasiswanya untuk keluar dan melakukan aksi nyata ke masyarakat. Sebab Nurdin percaya bahwa teologi dalam Al-Qur’an Surat Al-Maun seharusnya dapat diperluas agar tetap relevan dengan tantangan zaman. 

Dosen AIK UNISA, Muhammad Nurdin Zuhdi. MOJOK.CO
Dosen AIK UNISA, Muhammad Nurdin Zuhdi. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Al-Ma’un jangan hanya dimaknai secara sempit bahwa pendusta agama adalah mereka yang menghardik anak yatim dan enggan menganjurkan memberi makan fakir miskin. Penafsiran pendusta agama harus lebih aktual. Salah satu pendusta agama di era kekinian adalah orang-orang atau aktor-aktor perusak lingkungan,” tuturnya.

Nurdin percaya, krisis lingkungan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir dapat dicegah. Sebab faktor kerusakan tersebut tidak hanya ada di persoalan teknis atau ekonomi semata, melainkan moral dan spiritual masyarakatnya.

Perwujudannya pun tak perlu susah-susah, bisa dilakukan dengan langkah kecil seperti menghidupkan kembali budaya melestarikan alam di sekitar kampus, bahkan di tempat-tempat ibadah seperti yang sudah dilakukan Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta.

“Saya berharap masjid bukan hanya sebagai tempat untuk salat, tapi juga mercusuar peradaban. Kalau masjid sudah berperan sebagai mercusuar peradaban, maka fungsi masjid menjadi optimal untuk problem solving kemasyarakatan,” katanya.

Area masjid UNISA sebagai tempat menebar manfaat

Penanaman bibit pohon juga dilakukan di sekitar halaman belakang Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta, mulai dari pohon mangga, alpukat, matoa, belimbing, kepel, hingga tanaman buah lain dan sayur-sayuran.

Program tersebut berfungsi untuk meningkatkan kualitas udara, menciptakan suasana teduh nan asri, serta membantu penyerapan air hujan. Menariknya lagi, air yang digunakan untuk menyiram tanaman di area masjid ini berasal dari air bekas wudu jamaah yang telah didaur ulang.

“Hal ini menjadi PR kami, bagaimana upaya konservasi air ini bisa ditiru oleh warga sekitar tak hanya berada di lingkungan Masjid Walidah Dahlan UNISA,” kata Nurdin.

Sarujo menyiram tanaman. MOJOK.CO
Sarujo menyiram tanaman di belakang halaman Masjid Walidah Dahlan UNISA. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Menurut Sarujo (58), petugas kebun yang telah bekerja di Taman Kebun buah UNISA sejak tahun 2019, program penanaman pohon di belakang masjid sudah berlangsung selama satu tahun. 

“Sejauh ini sudah ada 90 bibit pohon yang ditanam. Karena perawatannya terbilang mudah, saya tinggal siram-siram di pagi hari, tapi beda ya kalau kemarau, harus setiap waktu: pagi, siang, malam,” tutur Sarujo yang sedang asyik menyirami tanaman di bawah terik sinar matahari.

Meski harus panas-panasan menyiram tanaman, Sarujo tetap senang melakoni pekerjaannya, sebab Rektor UNISA mengizinkannya untuk membagikan hasil panen buah kepada warga sekitar.

Arsitektur Masjid UNISA yang menyelamatkan iklim

Selain membagikan buah secara gratis, Masjid Walidah Dahlan UNISA juga memiliki program Sabtu Mengaji dan Berbagi (SANGAJI), yakni membagikan sayuran gratis dan sembako kepada jemaah serta masyarakat yang mengikuti kajian rutin di masjid. 

Tak jarang, pengurus Masjid Walidah Dahlan UNISA mengundang narasumber yang ahli di bidang lingkungan hidup untuk menanamkan nilai-nilai Islam dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah.

Dengan banyaknya program penghijauan yang ada, maka arsitektur masjid setinggi 7 lantai itu pun dibangun dengan konsep ramah lingkungan (eco-green), modern, dan inklusif sejak awal pembangunannya di tahun 2021.

“Kami mengusung 4 karakter yakni masjid ramah perempuan, ramah anak, ramah difabel, serta ramah lingkungan,” kata Nurdin.

Jemaah Masjid Walidah Dahlan UNISA. MOJOK.CO
Jemaah masjid yang menunaikan salat duhur. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Karakter ramah lingkungan ini terpancar dari bangunan luar Masjid Walidah Dahlan UNISA yang menggunakan secondary skin serta kaca peredam panas. Aktivitas ibadah dari pagi hingga sore hari pun dapat berlangsung tanpa menggunakan penerangan lampu. 

Dengan mengusung konsep terbuka yang memasang jendela di berbagai sisi, suasana masjid pun terasa sejuk alami tanpa penggunaan pendingin ruangan (AC), sehingga mengurangi jejak karbon dan menghemat listrik.

“Prinsipnya bahwa Islam itu harus rahmatan lil alamin yang membawa rahmat atau kebaikan. Jangan sampai kita praktik beragama, tapi mencederai dan merusak lingkungan,” tegas Nurdin

“Seperti dalam QS. Ar-Rum ayat 41 yang berbunyi ‘Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar),’.”

Tulisan ini merupakan bagian kedua dari Reportase Khusus Mojok.co Suara Bawah Tanah edisi “Jihad Ekologi dari Masjid di Jogja”

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 22 Agustus 2026 oleh

Tags: beasiswa kuliaheco-masjidfikih hijaukampus go greenkampus hijaumasjid peduli lingkunganmasjid ramah lingkunganmasjid UNISAMasjid Walidah Dahlansedekah barang bekasUnisaYogyakarta
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026
Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi. MOJOK.CO

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi

21 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
Lansia menjual aksesori kemerdekaan di Malioboro, Yogyakarta. MOJOK.CO

Kisah Istri Pensiunan BPN Turun ke Jalanan untuk Jual Aksesori Kemerdekaan di Masa Tua demi Hadiahkan Cucu

18 Agustus 2026
Pameran foto dalam Pesta Rakyat Jogja guna memeriahkan acara HUT ke-81 RI. MOJOK.CO

Potret Warga Jogja: Asyik “Pesta” Saat Pejabat sedang Upacara HUT ke-81 RI di Gedung Agung

17 Agustus 2026
Sri Sultan HB X dan Dubes Qatar siapkan kejutan program event di Yogyakarta dari kerja sama di bidang kesenian dan kebudayaan MOJOK.CO

Usai Temui Sri Sultan HB X, Dubes Qatar Siapkan Kejutan Program Event Kebudayaan di Yogyakarta

3 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 MOJOK.CO

Memaknai “LAKU” dalam Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026: Sejauh Mana Bermanfaat dalam Ekosistem Sastra

19 Agustus 2026
Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026
War Tiket Upacara 17 Agustus dan Rakyat yang Selalu Dipaksa Berebut MOJOK.CO

War Tiket Upacara 17 Agustus dan Rakyat yang Selalu Dipaksa Berebut

17 Agustus 2026
Sikap-sikap sederhana ke pelayan rumah makan atau restoran yang seharusnya jadi kewajaran MOJOK.CO

Sikap-sikap Sederhana ke Pelayan Rumah Makan atau Restoran yang Kita Abaikan karena Ego, Padahal Bermakna Memanusiakan

20 Agustus 2026
TPU Farm: Ketika Kematian Menumbuhkan Kehidupan MOJOK.CO

TPU Farm: Ketika Cabai Tumbuh di Area Makam

17 Agustus 2026
Minus punya rumah di sekitar Jalan Tunjungan, Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Jujur Janggal, Saat Orang Lain Bilang Punya Rumah di Pusat Kota Surabaya Itu Menguntungkan

19 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.