Kemegahan Masjid Walidah Dahlan Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta tak sekadar tampak dari arsitektur tujuh lantainya. Lebih dari itu, masjid dengan ventilasi terbuka ini telah bertransformasi menjadi mercusuar peradaban di bidang lingkungan, mulai dari daur ulang air wudu hingga konservasi sampah menjadi dana beasiswa bagi mahasiswa dan kelompok duafa.
***
Seorang mahasiswa tampak terkejut saat melihat banyak belatung di antara botol-botol plastik yang ia kumpulkan dari keranjang sampah dekat Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta.
Aroma busuk dari sisa cairan yang mengendap di dalam botol selama satu bulan penuh membuatnya harus menutup hidung rapat-rapat. Saking jijiknya melihat pemandangan itu, tubuhnya sampai bergidik ngeri. Ia bahkan muntah-muntah hingga merasa kesal sendiri.
“Itu kejadian yang sering saya lihat dari mahasiswa yang pertama kali ikut program Sedekah Barang Bekas (SEBARKAS) bareng kami,” ucap Kepala Kantor Layanan Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (KL LazisMu) UNISA, Muhammad Andis, saat ditemui Mojok, Kamis (13/8/2026).
“Wajar ya pengalaman pertama. Namun dari situ, mahasiswa jadi lebih sadar untuk mengelola sampah sebaik mungkin,” lanjutnya.
Madaris: Mahasiswa sadar infak dan sedekah
Sebagai KL LazisMu UNISA yang bermarkas di lantai 2 Masjid Walidah Dahlan, Andis menjelaskan, lembaganya berfokus pada pemberdayaan masyarakat, mulai dari mengentaskan kemiskinan hingga mengingatkan peran utama manusia sebagai khalifah fil ardh atau pemimpin di bumi.
“Kami mulai dari yang terdekat dulu, seperti mahasiswa agar tidak mencemari lingkungan,” tegas Andis.
Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, LazisMu bertugas mengumpulkan dana filantropi maupun amal usaha Muhammadiyah, salah satunya di lingkungan UNISA Yogyakarta sebagai Kampus Hijau.

“Sebagai langkah awal, kami menyiapkan keranjang sedekah khusus sampah botol plastik, selanjutnya kami yang mengelola dengan mengajak teman-teman mahasiswa atau kelompok relawan Madaris, yakni mahasiswa sadar infak dan sedekah,” jelasnya.
Menurut Andis, inisiasi tersebut merupakan yang pertama, karena sejauh ini dia belum menemukan program SEBARKAS atau yang serupa di kampus-kampus lain, bahkan di lingkungan kampus Muhammadiyah sendiri.
Sedekah sampah untuk beasiswa UNISA
Sebelum mengadakan program SEBARKAS, Andis dan timnya sempat berpikir untuk mendaur ulang sampah botol plastik menjadi pot tanaman agar sampah di sekitar Masjid Walidah Dahlan UNISA—tempat kantornya bernaung, ikut berkurang.
Namun, bukannya berhasil mengurangi sampah, pot-pot dari botol itu malah terus bertambah tanpa ditanami bibit apa pun. Alhasil, Andis pun membentuk relawan Madaris yang salah satu programnya adalah mengumpulkan sampah botol plastik untuk dijual ke pengepul.
Hasil penjualan dari botol plastik bekas sebenarnya tidak terlalu banyak, yakni sekitar Rp500 ribu untuk 20 karung goni berisi botol bekas. Meski terbilang kecil, Andis berujar jumlah itu sudah lebih dari cukup sebagai dana tambahan untuk menjalankan 2 program beasiswa di UNISA.

Pertama, program beasiswa living cost untuk relawan Madaris atau mahasiswa kurang mampu, serta sembako yang dicairkan tiap bulan. Kedua, beasiswa Mentari khusus untuk anak-anak Yatim Duafa binaan LazisMu yang rutin mengaji di Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta.
“Setiap pekan kami mengadakan TPA dan menyantuni mereka uang sebesar Rp25.000. Saat bulan puasa, kami mengadakan buka bersama tiap Senin dan Kamis. Modalnya dari penjualan botol dan infak sebanyak Rp1.000 per mahasiswa,” ujar Andis.
Eco-living di lingkungan kampus UNISA
Beberapa bulan berlalu, target LazisMu UNISA pun akhirnya tercapai. Selain mendapatkan dana tambahan dari program SEBARKAS, kesadaran masyarakat civitas akademika kampus untuk ikut mengurangi sampah pun kian terwujud.
Buktinya, terjadi perubahan gaya hidup berkelanjutan (sustainable living) di lingkungan civitas akademika kampus UNISA. Misalnya, mahasiswa yang tadinya sering membeli air berbotol plastik, kini beralih menggunakan tumbler yang lebih ramah lingkungan.
“Beberapa bulan setelah program ini berjalan, jumlah karung goni yang kami kumpulkan selama sebulan terus berkurang. Dari yang awalnya 20 karung, kini hanya 10 karung. Artinya, masyarakat semakin sadar untuk mengurangi sampah,” ungkap Andis.

Meski berdampak baik bagi kelestarian lingkungan, penurunan volume sampah botol ini membuat pemasukan dana beasiswa ikut menyusut.
Oleh karena itu, untuk menambal kekurangan dana tambahan tersebut, Andis tak kurang akal dengan mengajak mahasiswa mengumpulkan barang bekas lainnya, mulai dari kertas-kertas bekas skripsi mahasiswa, besi, baju, serta barang-barang yang masih layak jual.
“Antusiasme mahasiswa ini sejatinya tidak terlepas dari Proyek Fikih Hijau dalam mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang ada di UNISA,” kata Andis.
Apa itu Fikih Hijau yang harus dimiliki mahasiswa?
Proyek Fikih Hijau yang disebutkan Andis bukan sekadar ceramah atau imbauan untuk menjaga alam, melainkan aksi nyata memulihkan lingkungan. Saking pentingnya ilmu ini, dosen AIK UNISA, Muhammad Nurdin Zuhdi, bahkan mewajibkan mahasiswanya untuk ikut menanam sekitar 1.500 pohon mangrove di Pantai Boros.
“Program ini merupakan mata kuliah wajib. Kalau tidak menanam pohon, maka tidak bisa lulus AIK,” kata Nurdin yang juga merupakan ketua takmir Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta saat ditemui terpisah, Kamis (13/8/2026) pagi.
Alih-alih memberikan banyak ilmu soal lingkungan di dalam kelas, dia mengharuskan mahasiswanya untuk keluar dan melakukan aksi nyata ke masyarakat. Sebab Nurdin percaya bahwa teologi dalam Al-Qur’an Surat Al-Maun seharusnya dapat diperluas agar tetap relevan dengan tantangan zaman.

“Al-Ma’un jangan hanya dimaknai secara sempit bahwa pendusta agama adalah mereka yang menghardik anak yatim dan enggan menganjurkan memberi makan fakir miskin. Penafsiran pendusta agama harus lebih aktual. Salah satu pendusta agama di era kekinian adalah orang-orang atau aktor-aktor perusak lingkungan,” tuturnya.
Nurdin percaya, krisis lingkungan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir dapat dicegah. Sebab faktor kerusakan tersebut tidak hanya ada di persoalan teknis atau ekonomi semata, melainkan moral dan spiritual masyarakatnya.
Perwujudannya pun tak perlu susah-susah, bisa dilakukan dengan langkah kecil seperti menghidupkan kembali budaya melestarikan alam di sekitar kampus, bahkan di tempat-tempat ibadah seperti yang sudah dilakukan Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta.
“Saya berharap masjid bukan hanya sebagai tempat untuk salat, tapi juga mercusuar peradaban. Kalau masjid sudah berperan sebagai mercusuar peradaban, maka fungsi masjid menjadi optimal untuk problem solving kemasyarakatan,” katanya.
Area masjid UNISA sebagai tempat menebar manfaat
Penanaman bibit pohon juga dilakukan di sekitar halaman belakang Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta, mulai dari pohon mangga, alpukat, matoa, belimbing, kepel, hingga tanaman buah lain dan sayur-sayuran.
Program tersebut berfungsi untuk meningkatkan kualitas udara, menciptakan suasana teduh nan asri, serta membantu penyerapan air hujan. Menariknya lagi, air yang digunakan untuk menyiram tanaman di area masjid ini berasal dari air bekas wudu jamaah yang telah didaur ulang.
“Hal ini menjadi PR kami, bagaimana upaya konservasi air ini bisa ditiru oleh warga sekitar tak hanya berada di lingkungan Masjid Walidah Dahlan UNISA,” kata Nurdin.

Menurut Sarujo (58), petugas kebun yang telah bekerja di Taman Kebun buah UNISA sejak tahun 2019, program penanaman pohon di belakang masjid sudah berlangsung selama satu tahun.
“Sejauh ini sudah ada 90 bibit pohon yang ditanam. Karena perawatannya terbilang mudah, saya tinggal siram-siram di pagi hari, tapi beda ya kalau kemarau, harus setiap waktu: pagi, siang, malam,” tutur Sarujo yang sedang asyik menyirami tanaman di bawah terik sinar matahari.
Meski harus panas-panasan menyiram tanaman, Sarujo tetap senang melakoni pekerjaannya, sebab Rektor UNISA mengizinkannya untuk membagikan hasil panen buah kepada warga sekitar.
Arsitektur Masjid UNISA yang menyelamatkan iklim
Selain membagikan buah secara gratis, Masjid Walidah Dahlan UNISA juga memiliki program Sabtu Mengaji dan Berbagi (SANGAJI), yakni membagikan sayuran gratis dan sembako kepada jemaah serta masyarakat yang mengikuti kajian rutin di masjid.
Tak jarang, pengurus Masjid Walidah Dahlan UNISA mengundang narasumber yang ahli di bidang lingkungan hidup untuk menanamkan nilai-nilai Islam dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah.
Dengan banyaknya program penghijauan yang ada, maka arsitektur masjid setinggi 7 lantai itu pun dibangun dengan konsep ramah lingkungan (eco-green), modern, dan inklusif sejak awal pembangunannya di tahun 2021.
“Kami mengusung 4 karakter yakni masjid ramah perempuan, ramah anak, ramah difabel, serta ramah lingkungan,” kata Nurdin.

Karakter ramah lingkungan ini terpancar dari bangunan luar Masjid Walidah Dahlan UNISA yang menggunakan secondary skin serta kaca peredam panas. Aktivitas ibadah dari pagi hingga sore hari pun dapat berlangsung tanpa menggunakan penerangan lampu.
Dengan mengusung konsep terbuka yang memasang jendela di berbagai sisi, suasana masjid pun terasa sejuk alami tanpa penggunaan pendingin ruangan (AC), sehingga mengurangi jejak karbon dan menghemat listrik.
“Prinsipnya bahwa Islam itu harus rahmatan lil alamin yang membawa rahmat atau kebaikan. Jangan sampai kita praktik beragama, tapi mencederai dan merusak lingkungan,” tegas Nurdin
“Seperti dalam QS. Ar-Rum ayat 41 yang berbunyi ‘Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar),’.”
Tulisan ini merupakan bagian kedua dari Reportase Khusus Mojok.co Suara Bawah Tanah edisi “Jihad Ekologi dari Masjid di Jogja”
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
















