Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal

Dakwah Tauhid Lingkungan dari Masjid, Mempertanyakan Keimanan dari Kesadaran Menjaga Alam

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
26 Agustus 2026
A A
Beranda Liputan Suara Bawah Tanah
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tauhid lingkungan menjadi ajaran vital bagi umat Islam yang sayangnya selama ini belum menjadi topik arus utama. Imbasnya, perusakan alam—oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab—menjadi pemandangan lazim, padahal sangat bertentangan dengan kalam Allah Swt. Di titik inilah masjid seharusnya mengemban fungsinya untuk menumbuhkan kesadaran umat. 

***

Iklan

Pada mulanya kicau burung dan kawanan mereka yang melintasi pepohonan menjadi penanda pagi telah tiba. Itu menjadi pemandangan lazim Hening Purwati Parlan semasa kecilnya di sebuah desa di Wonogiri, Jawa Tengah. 

Lalu tiba masanya kicau burung dan kepak sayapnya tidak lagi menjadi bagian dari lingkungan rumah Hening. Udara sekitar pun seiring waktu terasa tidak sesejuk dulu. 

“Bapak sampai bilang, ‘Semakin ke sini semakin jarang ada burung. Gara-gara alamnya jadi rusak ini’,” ujar Hening menirukan ucapan sang bapak waktu itu, dalam perbincangan daring dengan Mojok, Selasa (18/8/2026) siang. 

Hening yang sejak kecil sudah akrab dengan ajaran keagamaan dari sang bapak kemudian merenungi, bukankah melalui firman-firman-Nya Allah Swt sudah sangat jelas melarang manusia berbuat kerusakan di muka bumi? 

Hening Purwati Parlan, Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia, Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, dan Wakil Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) PP Aisyiyah MOJOK.CO
Ilustrasi – Hening Purwati Parlan, Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia, Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, dan Wakil Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) PP Aisyiyah. (Suara Muhammadiyah)

Cara “membaca” alam sebagai ayat kauniyah Allah Swt

Kitab suci Al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad Saw sebenarnya memuat sangat banyak peringatan menjaga alam sekaligus larangan merusaknya. Hanya saja, sejauh ini, penyampaian ajaran Islam terkait lingkungan masih terbilang minim. Padahal, secara garis besar Islam mengajarkan hubungan manusia pada tiga hal: hablun min-Allah (hubungan dengan Allah), hablun min al-nas (hubungan dengan manusia), dan hablun min al-alam (hubungan dengan alam). 

“Dengan kata lain, merusak alam juga dihitung berdosa karena melanggar larangan Allah Swt,” ucap perempuan yang saat ini menjadi Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia dan Fasilitator Nasional Interfaith Rainforest Initiative Indonesia.

Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, dan Wakil Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) PP Aisyiyah itu. 

Lebih lanjut, Hening memaparkan, ayat-ayat Allah Swt tentang alam/lingkungan tidak berhenti sebagai ayat qauliyah (teks) belaka. Tetapi juga terejawantah sebagai ayat kauniyah (simbol kekuasaan Allah Swt) dalam rupa mata air hingga tetumbuhan yang bermanfaat bagi hajat hidup manusia: Di hamparan laut, manusia bisa mencari ikan. Dari tanah dan pepohonan, manusia bisa mendapat limpahan sumber pangan. Seperti termaktub dalam Q.S al-Jatsiyah ayat 12-13: 

 اَللّٰهُ الَّذِيْ سَخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ لِتَجْرِيَ الْفُلْكُ فِيْهِ بِاَمْرِهٖ وَلِتَبْتَغُوْا مِنْ فَضْلِهٖ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَۚ 

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مِّنْهُۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ 

Artinya: Allahlah yang telah menundukkan laut untukmu agar kapal-kapal dapat berlayar di atasnya dengan perintah-Nya, agar kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur. Dia telah menundukkan (pula) untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.

“Cara membacanya begini: kalau alam, bumi seisinya adalah kekuasaan atau milik Allah Swt, maka kita yang bukan pemilik ini harusnya menjaga sebaik-baiknya, bukan malah merusaknya,” beber Hening. 

Melalui ayat tersebut, Allah Swt memang mengizinkan manusia memanfaatkan sumber daya alam. Namun, Ia juga memberi garis batas yang sangat jelas dalam Q.S al-A’raf ayat 56: 

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ 

Artinya: Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur/diciptakan dengan baik (oleh Allah Swt). Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.

“Kewenangan menggunakan sumber daya alam itu ada banyak aturannya. Kita harus bersikap adil, kemudian mizan (seimbang)Artinya antara yang dikeruk atau diambil itu harus seimbang dengan apa yang akan diberikan lagi,” tegas Hening. 

Iklan

Tauhid lingkungan, mempertanyakan keimanan dari kesadaran menjaga alam

Maka, lanjut Hening: Bagi umat beragama, menjaga lingkungan bukan lagi soal kesadaran ekosentrisme semata. Tapi harus dilandasi pada tauhid (Hening menyebutnya tauhid lingkungan). 

Ketika umat Islam bersyahadat, bersaksi La ilaha illa-Allah, Muhammad Rasullah, itu artinya sudah berkomitmen untuk tegak lurus pada perintah dan menjauhi segenap yang dilarang. Dan di antaranya adalah perintah menjaga alam dan larangan agar tidak merusaknya. 

“Merusak alam itu menjadi bentuk kerusakan komitmen kita kepada Allah Swt dan Rasulullah Saw,” tegas Hening. Sehingga kalau ada orang mengaku beriman tapi suka merusak alam secara sewenang-wenang tanpa mengedepankan prinsip adil dan mizan, keimanannya patut dipertanyakan.  

Lebih-lebih, dalam keyakinan Islam, alam adalah makhluk hidup yang senantiasa bertasbih kepada Allah Swt. “Sekarang bayangkan, kalau mereka (pohon, laut, sungai, dan lain-lain) pada saat sedang menyebut asma Allah (bertasbih) tiba-tiba ditebang, dicemari, dirusak. Bagaimana pertanggungjawaban kita di hadapan Allah Swt?” kata Hening.

Jihad ekologi dari masjid ke masjid

Sayangnya, nilai Islam bagian ini masih belum terlalu populer, belum menjadi topik arus utama dalam dakwah-dakwah Islam. Maka dari itu, Hening menyebut, memang perlu “jihad ekologi”: berjuang menyadarkan umat perihal betapa krusialnya ngaji dengan tema-tema ekologi. 

Dalam hal ini, masjid menjadi ruang yang tepat untuk memulainya. Mengingat posisi masjid sebagai center of moslem community atau markaz al-hadharah al-islamiyah: pusat peradaban umat Islam. 

“Masjid harus didesain ramah lingkungan sebagai contoh. Kajian hingga khotbah yang dibawakan pun juga harus memasukkan aspek dakwah ekologi,” terang Hening. Eco-Masjid atau Green Masjid, begitulah konsep utamanya. 

Hening sendiri mulai ikut bergerak menggalakkan Eco-Masjid sejak masih menjadi pengurus di Majelis Ulama Indonesia (MUI). Saat itu program Eco-Masjid diluncurkan bersama oleh Kementerian Agama (Kemenag RI), MUI, dan Dewan Masjid Indonesia (DMI). 

Kemudian pada 2024, bersama Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PP Muhammadiyah, Hening menjadi koordinator program 1000 Cahaya. Yakni Green Movement dengan target menjadikan ranting, cabang, sekolah, pondok pesantren, masjid, rumah sakit, panti asuhan, dan Amal Usaha Muhammadiyah, untuk mulai mencari alternatif energi yang jauh lebih ramah lingkungan.

Masjid Muharram di Brajan, Bantul, dan Masjid Walidah Dahlan di Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta di Gamping, Sleman, yang diliput Mojok menjadi dua contoh nyata implementasi program tersebut. Dua masjid yang benar-benar didesain ramah lingkungan: tidak buang-buang air bekas wudu, asri, mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil, dan pengelolaan sampah agar tidak menjadi limbah yang mencemari lingkungan. 


Baca juga edisi sebelumnya:

  1. Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga
  2. Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA: Masjid sebagai Mercusuar Peradaban dan Konservasi Lingkungan

Vitalnya penguatan literasi ekologi oleh pemuka agama

Hal senada juga diungkapkan Plt Kasi Bidang Urusan Agama Islam Kantor Wilayah Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta, Nurhuda. Ia menjelaskan, di antara Astra Protas (8 program prioritas) Kementerian Agama penguatan ekoteologi. 

Dalam konteks masjid, Kemenag telah mendorong bagaimana masjid menjadi lebih ramah lingkungan. Misalnya dengan melakukan penghijauan di sekitarnya. 

“Di samping memberikan manfaat rindang, rimbun atau kemudian sejuk, penghijauan itu juga bisa memberikan support oksigen untuk manusia. Pohon juga membantu resapan air, jadi dengan semakin banyak pohon insyaallah ketersediaan air tercukupi,” beber Nurhuda saat ditemui di kantornya, Kamis (6/8/2026) siang. 

Dari masifnya gerakan ekoteologi di masjid, Nurhuda yakin, pelan-pelan jemaah pasti akan terpantik untuk memiliki kesadaran menjaga lingkungan. Sebab, bagi umat Islam, ajaran dari masjid adalah sumber kebenaran dari Allah Swt. 

“Untuk terus menggalakkan perspektif ini, kami di Kemenag juga harus bersinergi, berkolaborasi dengan stakeholders di masyarakat. Salah satunya dengan pemuka agama. Melalui mereka kita kuatkan lagi literasi ekologi kepada umat,” ucap Nurhuda. 

Lebih lanjut, Nurhuda mengatakan, agama Islam pada dasarnya tidak hanya berorienteasi kepada akhirat saja. Tapi juga memerintahkan untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan akhirat dan dunia. 

Sehingga dengan gerakan ekoteologi dan penguatan literasi ekologi di lingkungan masjid, harapannya bisa me-reaktualisasi dan meningkatkan peran masjid untuk mendukung terciptanya keseimbangan antara menjaga kehidupan dunia dan akhirat.

“Masjid tidak hanya jadi tempat ibadah untuk kebahagiaan akhirat saja, tetapi berorientasi juga bagaimana kita merawat lingkungan ini untuk hajat hidup di dunia,” pungkasnya.

Nurhuda, Plt Kasi Bidang Urusan Agama Islam Kanwil Kemenag DIY MOJOK.CO
Nurhuda, Plt Kasi Bidang Urusan Agama Islam Kanwil Kemenag DIY (Aly Reza/Mojok.co)

Green al-Maun dan kesinambungan masjid sebagai fungsi spiritual, sosial, dan ekonomi

Pada prinsipnya, seluruh pendekatan berbasis ekologi yang diterapkan di masjid pada akhirnya tidak hanya menjadikan masjid sebagai ruang spiritual semata. Tetapi juga memiliki fungsi sosial dan ekonomi. Sebab, dari sampah-sampah yang dikelola dengan tepat misalnya, ternyata bisa menjadi nilai ekonomi yang kemudian turut memberdayakan jemaah di sekitarnya. 

Dengan air bekas wudu yang dikelola secara semestinya, bekas air wudu tersebut bisa digunakan untuk menyirami tanaman-tanaman di sekitar masjid yang kemudian memberi kebermanfaatan secara lebih luas. Tidak hanya membuat masjid tampak asri, tapi juga turut menjaga kualitas udara hingga menumbuhkan tanaman produktif yang bisa dikonsumsi untuk jemaah. 

“Rasulullah sudah mencontohkannya. Beliau berhemat saat berwudu. Saat pertama kali tiba di Madinah (dalam perjalanan hijrah), hal berikutnya yang Beliau bangun setelah masjid adalah pasar. Ini kan mengintegrasikan masjid sebagai pusat spiritual dengan pemberdayaan sosial dan ekonomi masyarakat,” papar Hening. 

Kesinambungan itu, dalam perspektif Muhammadiyah disebut dengan Green al-Maun. Konsep ini pertama kali dicetuskan dalam Muktamar Muhammadiyah ke 46 di Yogyakarta bertepatan dengan 1 Abad Muhammadiyah tahun 2010 silam. Green Al Maun menjadi bagian dari agenda besar Muhammadiyah untuk mengintegrasikan ajaran Islam, khususnya prinsip-prinsip sosial dalam Q.S al-Maun, dengan tanggung jawab menjaga kelestarian alam. 

“Kalau dicermati, Q.S. al-Maun itu kan bicara soal tanggung jawab sosial. Menyantuni anak yatim hingga memberi makan fakir miskin. Bagaimana bisa memberi makan fakir miskin kalau pangan yang bersumber dari alam sudah nggak ada karena alamnya rusak?” tutup Hening. 

Tulisan ini merupakan bagian ketiga sekaligus terakhir dari Reportase Khusus Mojok.co Suara Bawah Tanah edisi “Jihad Ekologi dari Masjid di Jogja”

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Dalil Al-Qur’an-Hadis agar Tak Merusak Alam buat Gus Ulil, Menjaga Alam bukan Wahabi Lingkungan tapi Perintah Allah dan Rasulullah atau reportase khusus lainnya di rubrik Suara Bawah Tanah

 

Terakhir diperbarui pada 26 Agustus 2026 oleh

Tags: dalil menjaga alameco-masjidekoteologilarangan merusak alammasjid muhammadiyahmasjid ramah lingkunganmenjaga alammenjaga lingkunganpilihan redaksitauhid lingkungan
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026
Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta. MOJOK.CO

Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA: Masjid sebagai Mercusuar Peradaban dan Konservasi Lingkungan

22 Agustus 2026
Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik MOJOK.CO

Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik

26 Agustus 2026
Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026
Melalui hidangan Buntil Salmon, Sasanti Restaurant menghadirkan telisik gastronomi dan permakultur yang memberi pengalaman mengesankan dalam mengeksplorasi kekayaan kuliner Nusantara. (Nusaplant)

Melalui Buntil Salmon, Sasanti Restaurant Tak Hanya Bicara Rasa tapi Pertemuan Kekayaan Pangan dan Flora Nusantara

21 Agustus 2026
Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

22 Agustus 2026
Sisi lain blusukan kampung di Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Sisi Lain Tren Blusukan Kampung: Nggak Seru seperti di Medsos, Malah Dicurigai Pencuri dan Dianggap Tak Tau Adab

20 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.