Meski dari permukaan lapangan bola yang tidak rata, hampir tiga dekade salah satu SSB tertua di Kota Jogja menjadi wadah merawat bibit-bibit muda di Bumi Mataram.
***
Seorang bocah bertubuh mungil harus lari agak patah-patah saat mengejar bola umpan dari rekannya. Di atas kontur lapangan yang tidak rata, bola tidak bisa serta-merta menggelinding mulus dalam umpan datar. Bola memantul-mantul mengikuti gelombang tanah yang ia lewati.
Begitulah gambaran kondisi Lapangan Minggiran di Mantrijeron, Kota Jogja, sebagai homebase bagi salah satu Sekolah Sepak Bola (SSB) tertua di Kota Jogja: SSB Marsudi Agawe Santoso atau yang lebih akrab disebut SSB MAS.
Meski begitu, sesi mini game dalam latihan pada Senin (29/6/2026) sore itu menunjukkan betapa setiap elemen terlihat sangat sungguh-sungguh.
Meski hanya sesi latihan, tapi suasananya seperti sedang berada di tengah turnamen. Pelatih tidak henti-henti berteriak memberi instruksi hingga mengevaluasi. Anak-anak tampak kompetitif di dalam lapangan.
Sementara dari pinggir Lapangan Minggiran, Mantrijeron, para orang tua tidak mau sekadar datang untuk mengantar sang anak latihan: mereka turut bersorak dari pinggir lapangan, memberi dukungan.

SSB MAS: arisan cinta pada sepak bola di Kota Jogja sejak 1998
SSB MAS terbentuk sejak 1998. Zazuli Hasan (50), Direktur Teknik (Dirtek) SSB Mas bercerita, sekolah sepak bola tersebut tercetus atas inisiasi dari para mantan pemain Persatuan Sepak Bola Marsudi Agawe Santoso (PS MAS) yang sudah lebih dulu eksis sejak tahun 1960-an.
“Karena para pendahulu kami di PS MAS itu punya kecintaan pada sepak bola. Jadi ada keinginan lah untuk membina bibit-bibit muda di Jogja. Maka dibentuk lah SSB MAS,” jelas Zuli, sapaan akrabnya, saat ditemui di waktu senggangnya.
Sebagaimana nama persatuan sepak bolanya: Marsudi berarti kerukunan, Agawe berarti kerja keras, sementara Santoso artinya tenteram atau sejahtera. Tiga kata itu, jelas Zuli, mencerminkan visi dari terbentuknya PS MAS dan SSB MAS.
Dibangun untuk mempererat kerukunan antar insan sepak bola akar rumput, menjadikan kerja keras sebagai kunci untuk mencapai titik “sejahtera”—baik sebagai pemain profesional maupun lain-lain.

Ada beberapa nama yang turut membidani lahirnya SSB Mas, antara lain: almarhum H. Ruyono, Mbah Joyo, Maryono, dan H. Suharjiman—yang lebih akrab dengan nama Pak Pele—yang saat ini merupakan “Direktur Utama” SSB MAS.
“Kalau di jajaran pelatih dulu di awal-awal ada legenda Timnas Indonesia: Maman Suryaman hingga Iswadi Idris,” beber Zuli.
Zuli sendiri sebelum menjadi Dirtek SSB telah melalui banyak fase bersama Marsudi Agawe Santoso. Merantau dari Batu, Malang, untuk kuliah di Kota Jogja, alumnus Akademi Pariwisata (Akparda) Jogja itu pernah aktif sebagai pemain PS MAS pada 1996, kemudian berlanjut menjadi pelatih, dan sejak 1999—tidak lama setelah SSB MAS dibentuk—mendedikasikan diri untuk turut membina bibit-bibit muda di Kota Jogja hingga sekarang, dari masa lajang sampai berkeluarga.
“Bakat-bakat sepak bola dari akar rumput itu seperti tidak habis-habis. Anak-anak ini perlu jalan, perlu diantarkan ke panggung sepak bola profesional,” kata Zuli menjelaskan kenapa SSB MAS masih terus eksis hingga saat ini.
Lapangan tidak rata: antara tantangan dan motivasi
Ada tidak kurang dari 100 anak-anak yang ikut berlatih di SSB MAS, dari usia di bawah 12 tahun, 13 tahun, dan 14 tahun. Sementara untuk pelatih, total ada 13 orang yang mendedikasikan Senin, Rabu, dan Sabtu-nya untuk membina bibit-bibit muda tersebut.
Kata Zuli, relatif tidak sulit untuk mencari pelatih. Toh mayoritas pelatih di SSB MAS dulunya merupakan anak-anak didik Zuli sendiri. Tantangan paling nyata adalah kondisi lapangan yang tidak rata.
“Tadi ya, kontrol bola jadi lebih susah. Punya potensi cedera juga kalau kaki keperosok saat berlari,” tutur Zuli.
Kendati begitu, Zuli mencoba melihat sisi positif dari kondisi tersebut. Pertama, tentu masih bersyukur SSB MAS bisa mengakses lapangan bola secara gratis di tengah gempuran lapangan berbayar di Kota Jogja (seperti Lapangan Karang dan Mancasan).
Berikutnya, kondisi Lapangan Minggiran, Mantrijeron, yang tidak rata pada akhirnya membuat anak-anak harus berlatih lebih fokus dengan konsentrasi tinggi.

Tanpa SPP bulanan dan upaya merawat lapangan
Tidak ada biaya SPP bulanan di SSB MAS. Yang ada adalah iuran perdatang. Dalam sepekan SSB MAS menggelar sesi latihan sebanyak tiga kali (Senin, Rabu, dan Sabtu sore, dimulai pukul 15.30 WIB), di luar kompetisi atau turnamen tertentu yang tengah diikuti.
Lihat postingan ini di Instagram
Iuran perdatang latihan hanya dipatok Rp13 ribu. “Dibuat seperti itu biar kalau sedang berhalangan, tidak datang latihan, tidak bayar,” jelas Zuli.
Uang iuran itulah yang digunakan untuk operasional SSB MAS, dari perawatan rumput lapangan, melengkapi fasilitas penunjang latihan (seperti bola, cone dan marker, dan lain-lain), serta bisyarah untuk para pelatih yang tentu saja sepantasnya.
“Perawatan rumput itu ya misalnya kalau musim kemarau seperti ini, harus rutin disiram. Kalau lagi rimbun, harus rutin dipangkas,” beber Zuli. Dalam konteks perawatan Lapangan Minggiran, lanjut Zuli, memang baru itu yang bisa diupayakan oleh para pengurus SSB MAS.
Untuk diketahui, Lapangan Minggiran, Mantrijeron, Kota Jogja, berada di bawah kepemilikan Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja. Namun, untuk saat ini, pengelolaannya memang diserahkan kepada pengurus SSB MAS—yang kemudian dikelola secara swadaya.
Para pemain bola jebolan lapangan tidak rata di Kota Jogja
Namun, Zuli tidak memungkiri, dari lapangan tidak rata itulah SSB MAS menelurkan bibit-bibit muda bertalenta yang kemudian menorehkan namanya di panggung sepak bola profesional.
Sebut saja di antaranya Antoni Putro Nugroho yang sudah malang-melintang di sejumlah klub Liga 1 Indonesia. Di generasi muda ada nama si kembar Bagus Kafi dan Bagas Kaffa, Ronaldo Kwateh (yang ikut berlatih dari usia 9-12 tahun), serta yang paling baru adalah Savio Sheva—gelandang 25 tahun yang saat ini tercatat sebagai pemain PSIM Yogyakarta.
“Mimpi paling dekat anak-anak SSB di Jogja itu kan bisa bermain di PSIM Yogyakarta. Itu yang ingin kami wujudkan,” ucap Zuli dengan mata berbinar.
Sejak awal dibentuk, memang sudah tidak terhitung sejumlah prestasi dalam bentuk trofi yang ditorehkan SSB MAS di level regional maupun nasional, saking banyaknya. Namun, bagi Zuli dan para pelatih serta pengurus, prestasi terpenting sebenarnya bukan sebatas itu.
“Yang lebih penting adalah anak-anak bisa bertumbuh, punya progres bagus, baik kalau nantinya jadi pemain bola maupun di bidang lain,” terangnya.
Itulah kenapa, selain penguatan di aspek taktikal, variabel penting yang digembleng betul di SSB MAS adalah mental dan mindset: harus punya tekad kuat dan sungguh-sungguh jika ingin meraih cita-cita di masa depan. Apapun cita-citanya.

Menyiapkan jalan untuk cita-cita anak-anak Kota Jogja
Khusus dalam konteks sepak bola, Zuli menjelaskan, SSB MAS berusaha semaksimal mungkin menyiapkan jalan menuju ke panggung sepak bola profesional.
“PS MAS kan masih ada. Kan juga daftar Liga 4. Nah itu jadi wadah. Jadi habis dari SSB MAS, anak-anak bisa ke PS MAS untuk menjajal Liga 4,” papar Zuli.
Selain itu, Zuli juga mengoptimalkan keberadaan koneksi di Elite Pro Academy (EPA) hingga PSIM (dari tim junior-tim utama).
“Kami akan sangat bangga lah jika berhasil mengantar anak-anak kami di SSB MAS ke panggung sepak bola profesional,” tutur Zuli.
Terlebih, memang ada beberapa orang tua yang benar-benar menitipkan anaknya untuk digembleng secara serius. Bahkan, lanjut Zuli, ada orang tua yang sampai minta sesi privat khusus ke pelatih.

Di Bumi Mataram, mimpi pada bola masih menyala dari jalanan dan pelataran paving
Menjadi bagian dari PSIM Yogyakarta memang menjadi mimpi yang masih menyala di hati anak-anak Kota Jogja.
Dalam Suara Bawah Tanah edisi Kota Jogja, Kota Bola (?) ini, Mojok menemui bagaimana sepak bola terus dihidupkan. Di tengah komersialisasi lapangan bola, anak-anak akhirnya memanfaatkan sisa ruang kota yang tersedia.
Pada Kamis (9/6/2026) sore WIB, di salah satu sudut Ngampilan, Kota Jogja, Mojok menyaksikan bagaimana anak-anak kampung berlari riang dengan kulit bundar di jalanan kampung beraspal nan sempit. Mojok juga memotret gairah sepak bola anak-anak di pelataran paving Masjid Gedhe Kauman.

Lapangan tidak rata dan jalanan aspal barangkali bisa diromantisasi: bagaimana di ruang atau sudut yang terbatas, anak-anak masih bisa mengasah skill-nya mengolah si kulit bundar.
Hanya saja, merujuk temuan David Baker dan Jean Côté dalam Developmental Sport and Exercise Psychology: A Lifespan Perspective (Routledge, 2003): keberhasilan atlet elite tidak hanya bergantung pada bakat alami atau jam latihan, tetapi juga pada tersedianya fasilitas yang memadai sehingga latihan dapat berlangsung secara konsisten dan berkualitas.
Dalam konteks sepak bola, kualitas lapangan bahkan berkaitan langsung dengan proses belajar teknik dasar. FIFA Quality Programme for Football Turf Handbook (FIFA, edisi terbaru 2023) menjelaskan bahwa permukaan lapangan yang rata menghasilkan pantulan dan guliran bola yang konsisten.

Hal tersebut membuat pemain muda lebih mudah mengembangkan first touch, passing accuracy, hingga kemampuan menerima bola. Sebaliknya, permukaan yang tidak rata menyebabkan arah pantulan bola sulit diprediksi sehingga proses pembelajaran teknik dasar menjadi kurang optimal.
Oleh karena itu, keberadaan fasilitas lapangan bola yang tidak hanya memadai, tapi juga gratis, tetap menjadi sesuatu yang didambakan.
Tulisan ini merupakan bagian ketiga sekaligus terakhir dari Reportase Khusus Mojok.co Suara Bawah Tanah edisi “Kota Jogja, Kota Bola (?)”
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA: Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya atau reportase khusus Mojok lainnya di Suara Bawah Tanah













