Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Video

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Redaksi oleh Redaksi
7 Agustus 2026
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Delanggu dikenal sebagai salah satu daerah penghasil beras di Klaten. Sawah mudah ditemui, begitu pula petani yang menggantungkan hidup dari lahan pertanian. Namun, ada satu hal yang membuat Sari dan Iqbal cukup terkejut ketika mulai mendampingi warga di sana: masih ada keluarga petani yang justru harus membeli sayur dan beras untuk kebutuhan sehari-hari.

Masalahnya bukan semata-mata tidak punya lahan. Menurut Sari dan Iqbal, kemampuan masyarakat untuk menanam pangan bagi kebutuhan sendiri perlahan mulai hilang. Lahan pertanian lebih sering dipikirkan sebagai tempat menghasilkan uang, sementara kebutuhan dapur dipenuhi dengan membeli.

Iklan

Persoalan itu terasa semakin berat ketika panen gagal. Dalam dua tahun terakhir, hasil panen sebagian petani hanya sekitar 30–50 persen akibat serangan hama. Ketika hasil panen berkurang, petani harus mencari utang untuk kembali menanam sekaligus memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dari situ muncul gagasan yang sederhana: bagaimana kalau petani tidak hanya menanam untuk dijual, tetapi juga punya kebun untuk mengamankan kebutuhan dapurnya?

Mengamankan Dapur Sebelum Memikirkan Jualan

Sari dan Iqbal kemudian menjalankan program kebun pangan bersama warga di Dukuh Kaibon, Delanggu. Mereka melibatkan sekitar 40 ibu dari berbagai usia untuk mengelola kebun secara bersama-sama.

Warga menentukan sendiri apa yang ingin ditanam, membuat jadwal penyiraman, hingga mengelola hasil panennya. Hasil kebun sebagian digunakan untuk mendukung pemberian pangan sehat bagi balita melalui posyandu.

Sayuran dari kebun kemudian dilengkapi dengan bahan pangan dari peternak dan pekebun lokal. Harapannya, makanan bergizi tidak perlu selalu datang dari luar desa Klaten. Sebagian justru bisa diproduksi dari lingkungan sendiri.

“Tujuannya sebenarnya adalah untuk bisa sehat, murah, mudah karena berbasis pangan lokal,” ujar Sari.

Program tersebut juga mulai berkembang menjadi warung yang dibuka dua kali dalam sepekan. Warga dapat menjual hasil panen maupun makanan olahan dari rumah. Dengan begitu, kebun tidak hanya menjadi tempat menanam, tetapi juga mulai menjadi ruang bertemu dan menggerakkan ekonomi kecil warga.

Dari Kuli Bangunan Belajar Menjadi Petani

Salah satu yang ikut dalam program tersebut adalah Muhsin. Ia bukan petani. Sejak 2017, sehari-hari bekerja sebagai tukang bangunan.

Namun, bertani sebenarnya sudah menjadi cita-citanya. Ia kemudian mendapat kesempatan mengelola sebidang lahan yang disewa dan didampingi Sari serta Iqbal selama dua tahun.

Di lahan tersebut, Muhsin menanam padi sekaligus berbagai kebutuhan dapur seperti kangkung, bayam, pakcoy, labu, jagung, sorgum, kacang panjang, buncis, terong, tomat, dan cabai.

Hasilnya bukan untuk dijual. Untuk sementara, seluruhnya digunakan memenuhi kebutuhan keluarganya.

Sebelumnya, Muhsin harus membeli sekitar lima kilogram beras setiap minggu. Untuk sayuran, istrinya bisa menghabiskan Rp20.000–Rp30.000 setiap hari. Kini sebagian kebutuhan tersebut bisa dipanen dari kebunnya sendiri.

Bahkan sisa tanaman juga dimanfaatkan untuk pakan entok yang dipeliharanya.

Yang menarik, kebun tersebut dikelola secara organik. Pupuk dibuat dari bahan yang mudah ditemukan di sekitar, seperti gedebok pisang dan sisa rumah tangga. Pestisidanya pun diracik dari tanaman seperti serai, brotowali, kenikir, kemangi, dan sambiloto.

Setelah masa pendampingan selesai, Muhsin berencana menyewa lahan tersebut dengan uangnya sendiri.

“Saya dan istri terasa tercukupi dengan adanya sawah ini,” ujarnya.

Iklan

Bagi Sari dan Iqbal, perubahan kecil seperti itu justru yang mereka harapkan. Mereka tidak ingin membuat warga Klaten bergantung pada program. Sebaliknya, mereka ingin menunjukkan bahwa keluarga petani pun bisa mulai mengamankan kebutuhan pangan dari lahannya sendiri.

Tidak perlu menunggu program besar atau membangun proyek pertanian raksasa. Cukup dimulai dari sebidang lahan, beberapa jenis tanaman, dan kesediaan untuk belajar lagi.

Sebab sebelum memikirkan bagaimana hasil panen bisa dijual ke mana-mana, mungkin ada pertanyaan yang lebih dekat: sudahkah dapur sendiri aman?

Tags: hama pertaniankabupaten delanggukalcersokKetahanan Panganlahan pertanianpetani klaten


Terpopuler Sepekan

Gelandang Timnas Putri U-16 Indonesia Garuda Pertiwi Ayla Dva Khala Ahisma, Kepala Timnas Putri U-16 Indonesia Garuda Pertiwi Timo Scheunemann, Pelatih Kepala Timnas Putri U-16 Thailand Thidarat Wiwasukhu dan Kapten Timnas Putri U-16 Thailand Kawinthida Kukintod.

Di Lapangan Jadi Lawan, di Luar Jadi Teman: Ayla Bertukar Kaos, Kapten Thailand Bertukar Medsos

23 Agustus 2026
Saat Kemerdekaan RI Belum Bisa Dirasakan Buruh. MOJOK.CO

Saat Kemerdekaan Belum Bisa Dirasakan Kelompok Buruh dan Pekerja

17 Agustus 2026
Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
ilustrasi ketua pemuda

Jabatan Ketua Pemuda di Kampung itu Gagah, Tapi Ngenes Karena Dianggap Bisa Menyelesaikan Semua Masalah

20 Agustus 2026
fotografer wisuda

Suka Duka Fotografer Wisuda: Senang Mengabadikan Momen Bahagia Tapi Sial Karena ‘Harga Teman’

23 Agustus 2026
Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran .MOJOK.CO

Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran

20 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.