Delanggu dikenal sebagai salah satu daerah penghasil beras di Klaten. Sawah mudah ditemui, begitu pula petani yang menggantungkan hidup dari lahan pertanian. Namun, ada satu hal yang membuat Sari dan Iqbal cukup terkejut ketika mulai mendampingi warga di sana: masih ada keluarga petani yang justru harus membeli sayur dan beras untuk kebutuhan sehari-hari.
Masalahnya bukan semata-mata tidak punya lahan. Menurut Sari dan Iqbal, kemampuan masyarakat untuk menanam pangan bagi kebutuhan sendiri perlahan mulai hilang. Lahan pertanian lebih sering dipikirkan sebagai tempat menghasilkan uang, sementara kebutuhan dapur dipenuhi dengan membeli.
Persoalan itu terasa semakin berat ketika panen gagal. Dalam dua tahun terakhir, hasil panen sebagian petani hanya sekitar 30–50 persen akibat serangan hama. Ketika hasil panen berkurang, petani harus mencari utang untuk kembali menanam sekaligus memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dari situ muncul gagasan yang sederhana: bagaimana kalau petani tidak hanya menanam untuk dijual, tetapi juga punya kebun untuk mengamankan kebutuhan dapurnya?
Mengamankan Dapur Sebelum Memikirkan Jualan
Sari dan Iqbal kemudian menjalankan program kebun pangan bersama warga di Dukuh Kaibon, Delanggu. Mereka melibatkan sekitar 40 ibu dari berbagai usia untuk mengelola kebun secara bersama-sama.
Warga menentukan sendiri apa yang ingin ditanam, membuat jadwal penyiraman, hingga mengelola hasil panennya. Hasil kebun sebagian digunakan untuk mendukung pemberian pangan sehat bagi balita melalui posyandu.
Sayuran dari kebun kemudian dilengkapi dengan bahan pangan dari peternak dan pekebun lokal. Harapannya, makanan bergizi tidak perlu selalu datang dari luar desa Klaten. Sebagian justru bisa diproduksi dari lingkungan sendiri.
“Tujuannya sebenarnya adalah untuk bisa sehat, murah, mudah karena berbasis pangan lokal,” ujar Sari.
Program tersebut juga mulai berkembang menjadi warung yang dibuka dua kali dalam sepekan. Warga dapat menjual hasil panen maupun makanan olahan dari rumah. Dengan begitu, kebun tidak hanya menjadi tempat menanam, tetapi juga mulai menjadi ruang bertemu dan menggerakkan ekonomi kecil warga.
Dari Kuli Bangunan Belajar Menjadi Petani
Salah satu yang ikut dalam program tersebut adalah Muhsin. Ia bukan petani. Sejak 2017, sehari-hari bekerja sebagai tukang bangunan.
Namun, bertani sebenarnya sudah menjadi cita-citanya. Ia kemudian mendapat kesempatan mengelola sebidang lahan yang disewa dan didampingi Sari serta Iqbal selama dua tahun.
Di lahan tersebut, Muhsin menanam padi sekaligus berbagai kebutuhan dapur seperti kangkung, bayam, pakcoy, labu, jagung, sorgum, kacang panjang, buncis, terong, tomat, dan cabai.
Hasilnya bukan untuk dijual. Untuk sementara, seluruhnya digunakan memenuhi kebutuhan keluarganya.
Sebelumnya, Muhsin harus membeli sekitar lima kilogram beras setiap minggu. Untuk sayuran, istrinya bisa menghabiskan Rp20.000–Rp30.000 setiap hari. Kini sebagian kebutuhan tersebut bisa dipanen dari kebunnya sendiri.
Bahkan sisa tanaman juga dimanfaatkan untuk pakan entok yang dipeliharanya.
Yang menarik, kebun tersebut dikelola secara organik. Pupuk dibuat dari bahan yang mudah ditemukan di sekitar, seperti gedebok pisang dan sisa rumah tangga. Pestisidanya pun diracik dari tanaman seperti serai, brotowali, kenikir, kemangi, dan sambiloto.
Setelah masa pendampingan selesai, Muhsin berencana menyewa lahan tersebut dengan uangnya sendiri.
“Saya dan istri terasa tercukupi dengan adanya sawah ini,” ujarnya.
Bagi Sari dan Iqbal, perubahan kecil seperti itu justru yang mereka harapkan. Mereka tidak ingin membuat warga Klaten bergantung pada program. Sebaliknya, mereka ingin menunjukkan bahwa keluarga petani pun bisa mulai mengamankan kebutuhan pangan dari lahannya sendiri.
Tidak perlu menunggu program besar atau membangun proyek pertanian raksasa. Cukup dimulai dari sebidang lahan, beberapa jenis tanaman, dan kesediaan untuk belajar lagi.
Sebab sebelum memikirkan bagaimana hasil panen bisa dijual ke mana-mana, mungkin ada pertanyaan yang lebih dekat: sudahkah dapur sendiri aman?










