Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
31 Januari 2026
A A
guru, stem, guru honorer, pns.MOJOK.CO

Ilustrasi Guru (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Indonesia mengalami kondisi darurat kualitas guru dan “krisis talenta” STEM. Jika tak segera diatasi, ambisi negara untuk menikmati bonus demografi dan keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah hanya akan menjadi omon-omon.

***

Di tengah ambisi Indonesia untuk menjadi negara maju dan pemain utama dalam ekonomi global, sebuah peringatan keras muncul mengenai fondasi paling mendasar bangsa ini: kualitas sumber daya manusia.

Indonesia dinilai sedang menghadapi kondisi darurat dalam produksi talenta STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) dan krisis kualitas profesi guru yang serius.

Dalam sebuah diskusi mendalam di channel Youtube Gita Wirjawan, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said, menyoroti ketimpangan yang menganga antara Indonesia dan raksasa ekonomi dunia, Tiongkok.

Data menunjukkan bahwa ketertinggalan Indonesia dalam mencetak “otak” di balik inovasi teknologi sudah berada di tingkat yang mengkhawatirkan.

Kesenjangan yang Mencolok

Sudirman memaparkan data komparatif yang mengejutkan. Tiongkok, kata dia, saat ini mampu memproduksi sekitar 4,5 juta lulusan STEM (S1, S2, S3) setiap tahunnya.

Sebagai pembanding, India menghasilkan sekitar 2 hingga 2,5 juta lulusan, dan Amerika Serikat sekitar 800.000 lulusan.

“Sementara itu, Indonesia tertinggal jauh dengan hanya mencetak sekitar 250.000 lulusan STEM per tahun,” ujarnya, dikutip Jumat (30/1/2026).

Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi juga cerminan dari kemampuan sebuah bangsa untuk berinovasi. Tiongkok tidak lagi sekadar memproduksi barang, tetapi juga jasa yang sangat inovatif secara teknologi karena investasi masif mereka pada pendidikan berbasis STEM.

Hal ini berdampak langsung pada performa ekonomi. Dalam 30 tahun terakhir, pendapatan per kapita Tiongkok melonjak hingga 10 kali lipat, sementara kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, hanya tumbuh sekitar 2,7 kali lipat.

Sudirman menilai, penyebab utamanya adalah kurangnya investasi struktural pada kualitas pendidikan dan guru.

Guru: dari Profesi Terhormat Menjadi “Pilihan Terakhir”

Akar masalah dari defisit talenta ini bermuara pada bagaimana negara memperlakukan profesi guru. Gita Wirjawan mencatat fakta menyedihkan bahwa gaji guru di Indonesia seringkali berada di angka Rp2,8 juta per bulan, jumlah yang dinilai tidak mungkin mampu menarik talenta-talenta terbaik bangsa.

Sudirman menambahkan bahwa profesi guru dan dosen kini sering dianggap sebagai profesi “pilihan terakhir” (last resort) ketika seseorang gagal masuk ke sektor lain. Padahal, peran guru sangat krusial sebagai “eskalator sosial”.

Mengingat 88 persen kepala rumah tangga di Indonesia tidak memiliki pendidikan S1, satu-satunya harapan bagi anak-anak dari keluarga tersebut untuk memperbaiki nasib adalah dengan bertemu guru yang berkualitas di sekolah,.

Iklan

“Kita tidak pernah dengan serius menempatkan guru sebagai profesi paling utama,” ujar Sudirman, mengenang bagaimana di masa lalu seleksi masuk sekolah guru (SPG) seringkali menjadi opsi bagi mereka yang tidak diterima di SMA favorit atau STM.

Hal ini sangat kontras dengan era awal kemerdekaan atau sekolah kedinasan militer yang seleksinya sangat ketat dan bergengsi, sehingga menghasilkan pemimpin-pemimpin yang kompeten.

Desakan Reformasi Total Rekrutmen Guru

Untuk mengejar ketertinggalan ini, tidak cukup hanya dengan mengandalkan anggaran pendidikan 20 persen dari APBN yang selama ini lebih banyak terserap untuk infrastruktur fisik ketimbang investasi human capital. Menurut Sudirman, diperlukan sebuah “revolusi” dalam sistem rekrutmen dan insentif tenaga pendidik.

Gagasan yang mengemuka adalah perlunya menciptakan sekolah-sekolah guru yang sangat kompetitif, setara dengan gengsi akademi militer atau kedokteran di masa lalu.

Negara harus berani membiayai pendidikan calon guru terbaik dan menjamin kesejahteraan mereka agar profesi ini menjadi incaran “the core of the core” atau putra-putri terbaik bangsa.

Tanpa perbaikan fundamental pada kualitas guru dan peningkatan fokus pada pendidikan STEM, imbuh dia, ambisi Indonesia untuk menikmati bonus demografi dan keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap) dikhawatirkan hanya akan menjadi angan-angan belaka.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 31 Januari 2026 oleh

Tags: guruguru honorerkualitas guruSTEM
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Guru PPPK Paruh Waktu, honorer.MOJOK.CO
Sekolahan

Guru, Profesi yang Dihormati di Desa tapi Hidupnya Sengsara di Kota: Dimuliakan Seperti Nabi, Digaji Lebih Kecil dari Kuli

23 April 2026
Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Mencoba Menghabiskan Makanannya MOJOK.CO
Esai

Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Menghabiskan Makanannya

1 April 2026
guru BK.MOJOK.CO
Ragam

Menjadi Guru BK Capek Mental dan “Tak Menghasilkan”, Memilih Resign dan Kerja Kantoran Meski Harus Mengubur Cita-Cita

29 Januari 2026
Curhat Guru PPPK Paruh Waktu: Status ASN, Kontrak Setahun, Gaji Masih Teka-teki MOJOK.CO
Esai

Curhat Guru PPPK Paruh Waktu: Status ASN, Kontrak Setahun, Gaji Masih Teka-teki

23 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa UNJ lulus setelah gagal seleksi PTN jalur SNBT

Penyandang Disabilitas Gagal Diterima PTN Jalur SNBT, Kini Lulus Sarjana Pendidikan di UNJ Berkat “Antar Jemput” Ayah

19 April 2026
Menormalisasi pakai jasa porter di stasiun kereta api MOJOK.CO

Pakai Jasa Porter di Stasiun meski Bisa Bawa Barang Sendiri: Sadar 50 Ribu Itu Tak bikin Rugi, Tapi Justru Belum Seberapa

23 April 2026
Sewa iPhone biar dianggap keren daripada pengguna Android

iPhone XR, Bikin Menderita Orang Kota tapi Jadi Standard “Keren” Pemuda di Desa: Rela Gadaikan Barang demi Penuhi Gengsi

17 April 2026
Tapak Suci Unair. MOJOK.CO

Saat Pencak Silat Dianggap Biang Kerok, Saya Bersyukur Jadi Bagian Tapak Suci Unair yang Anti Tawuran

21 April 2026
Aksi tanam 100 pohon gayam di sekitar Candi Borobudur, Magelang. MOJOK.CO

Hubungan Istimewa di Balik Pohon Gayam sebagai “Tanaman Peneduh” dan Candi Borobudur

23 April 2026
Purwokerto .MOJOK.CO

Purwokerto Tempat Pensiun Terbaik, tapi Bukan untuk Semua Orang: Kamu Butuh 4 Skill Ini Buat “Survive”

18 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.